< <
3 / total: 10

MUKA TENTANG SITUS INI HUBUNGI KAMI
Al Quran Dan Sains - Harun yahya (Adnan Oktar)

Al Quran Dan Sains

   


BAB 2 AGAMA MEMBIMBING SAINS PADA JALAN YANG BENAR

Sains adalah penyelidikan terhadap dunia materi yang kita tinggali melalui pengamatan dan percobaan. Oleh karena itu, melalui aktivitas penyelidikan, sains akan menghasilkan berbagai kesimpulan berdasarkan informasi yang dikumpulkan lewat pengamatan dan percobaan. Akan tetapi, setiap disiplin ilmu juga mempunyai norma-norma tertentu yang harus diterima begitu saja tanpa verifikasi lebih lanjut. Dalam literatur ilmiah, norma-norma ini disebut “paradigma.”

Paradigma ini memetakan “arah” semua penyelidikan ilmiah yang terkait. Sebagaimana diketahui, langkah per-tama penyelidikan ilmiah adalah perumusan “hipotesis.” Untuk memulai topik penelitian, para ilmuwan harus mem-bentuk sebuah hipotesis, kemudian mengujinya secara ilmiah. Jika pengamatan dan eksperimen membenarkan hipotesis tersebut, maka “hipotesis” ini disebut “prinsip atau hukum.” Jika hipotesis tidak terbukti, maka hipotesis-hipotesis baru diuji dan proses berlanjut.

Perumusan hipotesis, yang merupakan langkah awal dalam proses ilmiah, amat bergantung pada sudut pandang sang ilmuwan. Sebagai contoh, jika para ilmuwan menganut suatu pandangan, mereka bisa mendasarkan pekerjaan pada hipotesis bahwa “materi mempunyai kecenderungan untuk mengatur diri tanpa keterlibatan perantara yang sadar.” Kemudian, mereka akan melakukan penelitian bertahun-tahun untuk memverifikasi hipotesis itu. Namun, karena materi tidak memiliki kemampuan tersebut, maka semua usaha mereka gagal. Lebih jauh, jika para ilmuwan ini bersikeras mempertahankan hipotesis mereka, penelitian mungkin akan berlanjut selama bertahun-tahun, dan bahkan  beberapa generasi. Namun, hasil akhirnya tetap saja suatu pemborosan waktu dan sumber daya yang sangat besar. 

Akan tetapi, jika titik asumsi adalah gagasan bahwa “mustahil bagi materi untuk mengatur dirinya sendiri tanpa perencanaan sadar,” penelitian ilmiah pasti akan mengikuti suatu jalan yang lebih produktif, cepat, dan efisien.

Masalah ini, yaitu penetapan hipotesis yang sesuai, memerlukan sumber yang sepenuhnya berbeda daripada data ilmiah semata-mata. Identifikasi tepat sumber ini sangat penting. Sebab, seperti yang diterangkan dalam contoh di atas, kesalahan dalam mengidentifikasi sumber dapat mengakibatkan kerugian waktu bertahun-tahun, berdekade-dekade bahkan berabad-abad, bagi dunia sains.

Sumber yang dicari adalah perwujudan kehendak Allah kepada manusia. Allah adalah Pencipta alam semesta, bumi dan semua makhluk hidup, oleh karena itu, pengetahuan yang paling akurat dan tak terbantahkan tentang hal ini berasal dari-Nya. Dalam hal ini, Allah telah mengungkapkan kepada kita informasi penting tersebut dalam Al Quran. Hal yang paling mendasar adalah:

1) Allah telah ciptakan alam semesta dari ketiadaan. Tidak ada satu pun yang terbentuk sebagai hasil kejadian acak, atau dengan kehendaknya sendiri. Oleh karenanya, tak ada kejadian acak yang tidak teratur di alam atau alam semesta. Yang ada hanyalah sebuah keteraturan sempurna yang diciptakan dengan rancangan cerdas.

 2) Materi alam semesta, dan terutama bumi yang kita tinggali, secara khusus telah dirancang untuk mendukung kehidupan manusia. Ada tujuan tertentu dalam pergerakan bintang, planet dan bulan, dalam hamparan geografis bumi, dan dalam sifat air atau atmosfer, yang memungkinkan ke-hidupan manusia berlangsung.

3) Semua bentuk kehidupan ada karena diciptakan Allah. Allah menciptakan semua makhluk hidup. Lebih dari itu, semua makhluk berperilaku berdasarkan inspirasi dari Allah, seperti yang dikutip dalam ayat Al Quran yang mengambil contoh lebah madu. Ayat tersebut dimulai dengan, “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah….” (QS. An- Nahl, 16: 68)

Ini adalah kebenaran absolut yang disampaikan Allah kepada manusia dalam Al Quran. Pendekatan sains yang di-dasari fakta ini tak pelak lagi akan mengarah pada kemajuan luar biasa dan memberikan keuntungan bagi umat manusia. Banyak contoh hal ini dalam sejarah. Dengan menempatkan sains pada posisi yang benar, barulah ilmuwan muslim — yang pada saat itu membentuk peradaban terbesar di dunia — dimungkinkan dapat menyumbangkan keberhasilan besar pada abad ke-9 dan ke-10. Di Barat, pelopor dalam seluruh bidang sains dari fisika, ki-mia, astronomi hingga biologi dan paleonto-logi, adalah para ilmuwan besar yang per-caya kepada Tuhan, dan yang melaku-kan peneli-tian untuk menye-lidiki apa yang di-ciptakan Allah.

Einstein juga menya-takan bahwa ilmuwan ha-rus bersandar pada sumber religius ketika mengembang-kan tujuan mereka:

Meskipun agama mungkin yang menentukan tujuan, namun ia telah belajar dari sains — dalam pengertian yang paling luas — apa yang akan berperan untuk pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Tetapi sains hanya dapat diciptakan oleh mereka yang secara menyeluruh diilhami dengan cita-cita ke arah kebenaran dan pemahaman. Ternyata, sumber perasaan ini muncul dari lingkungan agama… saya tak bisa menyebut-kan ilmuwan sejati yang tidak memiliki keimanan mendalam.11

Akan tetapi, sejak pertengahan abad ke-19, masyarakat ilmiah telah memisahkan diri dari sumber ilahiah, dan berada di bawah pengaruh filosofi materialis.

Materialisme, gagasan yang berasal dari kebudayaan Yunani Kuno, mempertahankan pendapat bahwa keberadaan materi itu absolut dan mengingkari Tuhan. Pandangan materialisme lambat laun memengaruhi masyarakat ilmiah. Dimulai pada pertengahan abad ke-19, sejumlah besar penyelidikan ilmiah telah diadakan untuk mendukungnya. Untuk tujuan ini, banyak teori dirumuskan, seperti “model alam semesta tanpa batas”, yang menyatakan bahwa alam semesta ada sejak waktu tanpa batas; teori evolusi Darwin yang meyakini bahwa kehidupan terjadi secara kebetulan, atau pandangan Freud yang mempertahankan pendapat bahwa pemikiran manusia terdiri dari otak saja.

Setelah merenungkan semua itu, kita melihat bahwa klaim yang di-ajukan materialisme tidak lain adalah suatu pemborosan waktu sains. Selama beberapa dekade, banyak ilmuwan mengerahkan usaha terbaik mereka untuk membuktikan satu di antara klaim-klaim tersebut, tetapi hasilnya selalu membuktikan mereka salah. Temuan-temuan membenar-kan pernyataan Al Quran bahwa alam semesta telah diciptakan dari ke-tiadaan, bahwa ia khusus dirancang untuk kehidupan manusia, dan bahwa mustahil kehidupan untuk ada dan berkembang secara kebetulan.

Sekarang, mari kita pikirkan fakta ini satu per satu.

Kerugian Sains yang Disebabkan Obsesi Materialisme dengan Model “Alam Semesta Tanpa Batas”           

Sampai awal abad ke-20, pendapat konvensional masyarakat ilmiah, yang saat itu di bawah pengaruh materialis, adalah bahwa alam semesta mempunyai dimensi tanpa batas, bahwa ia sudah ada sejak waktu tanpa batas, dan akan terus ada selamanya. Menurut pandangan ini, yang disebut “model alam semesta statis”, alam semesta tidak memiliki permulaan maupun akhir, dan hanya me-rupakan timbunan ma-teri tak terbatas. Ber-lawanan dengan fakta bahwa alam semesta te-lah diciptakan, pandan-gan ini merupakan da-sar bagi filosofi mate-rialis.

Ilmuwan yang mengejar tujuan yang salah, menyebabkan usaha terbuang sia-sia dalam sains.

Banyak ilmuwan yang mendukung ma-terialisme, atau cende-rung terhadap filosofi seperti itu, menetapkan “alam semesta tanpa batas” sebagai model dasar bagi penelitian ilmiah mereka. Aki-batnya, semua peneliti-an tentang astronomi dan fisika bergantung pada hipotesis bahwa materi ada tanpa batas waktu. Selama beberapa waktu, banyak ilmuwan bekerja susah payah tanpa hasil. Akhirnya sains terbukti telah meninggalkan gagasan yang salah itu.


Dengan teleskop raksasa ini, Hubble menemukan bahwa bintang bergerak menjauh, tidak hanya dari kita tetapi juga dari sesama bintang.

Ilmuwan Belgia,  Georges Lemaître, merupakan orang pertama yang menyadari ketidaktepatan model “alam se-mesta tanpa batas”, dan mendalilkan alternatif ilmiah untuk itu. Berdasarkan perhitungan Ilmuwan Rusia, Alexandre Friedmann, Lemaître mengumumkan bahwa  alam semesta benar-benar mempunyai awal, dan bahwa ia berkembang sejak awal kejadian. Dia juga menyatakan bahwa sisa-sisa radiasi dari awal kejadian dapat dideteksi.

Di sini, harus dicatat bahwa Georges Lemaître adalah juga seorang pendeta. Lemaître betul-betul percaya bahwa “alam semesta telah diciptakan Allah dari ketiadaan.” Oleh karena itu, pendekatannya terhadap sains sangat berbeda dengan para penganut materialisme.

Tahun-tahun berikutnya, ketepatan asumsi yang diajukan Lemaître terbukti. Mula-mula, astronom Amerika  bernama Edwin Hubble, dengan teropong bintang raksasanya menemukan bahwa bintang bergerak menjauh, bukan hanya dari kita namun juga antar-bintang itu sendiri. Ini berarti bahwa alam semesta mengembang dan tidaklah statis seperti diasumsikan para materialis.

Sebetulnya, jauh sebelum itu, Albert Einstein telah memperhitung-kan secara teoretis bahwa alam semesta tidak mungkin statis. Namun, dia menyimpan teori itu, karena perhitungannya tidak sejalan dengan “model alam semesta statis” yang sedang secara luas diakui masa itu. Bahkan, ilmuwan genius terbesar abad itu merasa terintimidasi oleh dogmatisme pandangan materialis, sehingga memilih untuk tidak mengungkapkan penemuan penting. Di kemudian hari, Einstein menyatakan pilihannya itu sebagai “kekeliruan terbesar dalam kariernya”.

Ada kebenaran penting lainnya yang ditunjukkan oleh perluasan alam semesta: jika alam semesta menjadi lebih besar sejalan dengan waktu, maka mundur dalam waktu berarti alam semesta menjadi lebih kecil. Ber-arti, jika kita kembali ke masa lalu cukup jauh, segalanya akan menyusut dan memusat ke sebuah titik tunggal. Perhitungan menunjukkan bahwa titik tunggal ini harus memiliki volume nol. Alam semesta terbentuk sebagai hasil ledakan dari titik ini, sebuah ledakan yang kemudian dikenal dengan nama  “Big Bang.”

Pengacuan pada ledakan titik yang mempunyai volume nol tidak lain hanyalah suatu istilah teoretis. Istilah volume nol adalah kata lain dari  “ketiadaan.” Keseluruhan alam semesta telah diciptakan dari  “tidak ada apa-apa.”

Teori Ledakan Dahsyat (Big Bang) dengan jelas menunjukkan bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan. Meskipun demikian, bukti ilmiah lebih lanjut diperlukan agar teori tersebut dapat diterima secara luas. Pada tahun 1948, George Gamov mengemukakan bahwa jika alam semesta terbentuk dari ledakan Big Bang — seperti diusulkan Lemaître — maka harus ada sejumlah tertentu radiasi yang tertinggal setelah ledakan tersebut, dan bahwa radiasi ini harus seragam di seluruh alam semesta.

Konfirmasi ilmiah dari dalil Gamov muncul kemudian. Tahun 1965, dua peneliti bernama Arno Penzias dan Robert Wilson menemukan sisa radiasi itu yang disebut “radiasi latar belakang kosmik.” Radiasi tersebut tidak hanya di satu tempat tetapi terbagi rata di seluruh alam semesta. Segera disadari bahwa radiasi ini merupakan gaung peristiwa “Big Bang,” dan masih bergema sejak awal le-dakan besar itu. Penzias dan Wilson meraih hadiah Nobel un-tuk penemuan mereka.


Dalam waktu singkat, satelit COBE menemukan bukti yang membenarkan hipotesis “Big Bang”.

Tahun 1989, Badan Antarik-sa dan Penerbangan Amerika (NASA), meluncurkan satelit bernama COBE ke ruang angkasa untuk meneliti radiasi latar belakang kosmik. Dalam beberapa menit, pemindai satelit yang sen-sitif memberikan pembenaran atas pengukuran Penzias dan Wilson.

Penemuan bukti yang mene-gaskan alam semesta tercipta dari ketiadaan dalam "Big Bang" meng-guncang ilmuwan materialis. Mereka menyaksikan runtuhnya penelitian, hipotesis dan teori tanpa dasar mereka satu demi satu. Ahli filsafat ateis yang terkenal, Antony Flew, memberi komentar mengenai situasi ini:

Jelas sekali, pengakuan itu baik bagi jiwa. Oleh karena itu, saya akan mulai dengan mengakui bahwa penganut ateis Stratonis harus merasa malu dengan konsensus kos-mologis mutakhir ini. Sebab tampaknya para ahli kosmo-logi menyediakan bukti ilmiah untuk apa yang dianggap St. Thomas tidak terbukti secara filosofis; yaitu, bahwa alam semesta mempunyai awal mula. Selama alam se-mesta dapat dianggap tidak hanya tanpa akhir, namun juga tanpa permulaan, akan tetap mudah untuk mendesak bahwa keberadaannya yang tiba-tiba, dan apa pun yang ditemukan menjadi ciri-cirinya yang paling mendasar, harus diterima sebagai penjelasan akhir. Meskipun saya memercayai bahwa teori itu (alam semesta tanpa batas) masih benar, tentu saja tidak mudah atau nyaman untuk mempertahankan posisi ini di hadapan kisah “Big Bang.”12

Seperti dijelaskan pada contoh di atas, jika seseorang secara membuta meyakini materialisme, dia enggan meng-akui bukti apa pun yang tidak mendukungnya. Walau  harus mengakui fakta, dia tetap memegang teguh komit-mennya terhadap materialisme.

Pada sisi lain, banyak ilmuwan — yang tidak bertekad mutlak menyangkal keberadaan Tuhan — saat ini mengakui bahwa Allah Yang Mahakuasa, menciptakan alam semesta. Sebagai contoh adalah seorang ilmuwan Amerika, William Lane Craig, yang dikenal untuk penelitiannya mengenai “Big Bang”:


Alam semesta terjadi melalui ledakan dari titik massa tunggal yang memiliki volume nol. Ledakan yang disebut Big Bang ini menunjukkan secara nyata bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan. Hal ini, untuk selamanya, menghancurkan klaim kaum materialis mengenai alam semesta tanpa batas.

Tentu saja, mengingat kebenaran peribahasa ex nihilo nihil fit (dari kekosongan, muncul kekosongan), Big Bang memerlukan penyebab supranatural. Karena singularitas kosmologis awal menunjukkan terminus (batas akhir) dari semua trayek ruang dan waktu, tidaklah mungkin ada penyebab fisik Big Bang. Penyebabnya tentulah melampaui ruang fisik dan waktu: ia tentulah independen dari alam semesta, dan mahakuat tak terkira. Dan tentulah penyebabnya adalah zat tunggal, berkemauan bebas...  Penyebab alam semesta tentulah pencipta tunggal, yang pada sekian waktu lalu telah menghadirkan alam semesta dengan kehendak-Nya sendiri.13

Kesimpulan penting lain yang dapat ditarik dari teori Ledakan Dahsyat (Big Bang) adalah, seperti yang telah dise-butkan sebelumnya, bahwa suatu pendekatan ilmiah yang didasarkan pada pengetahuan ilahiah akan berhasil me-ngungkapkan misteri alam semesta. Ilmuwan yang berpijak pada filosofi materialis dan mengajukan model  “alam se-mesta tanpa batas”, tak mampu membuktikan teori itu, mes-kipun sudah mengerahkan seluruh upaya terbaik mereka.

Namun, teori Ledakan Dahsyat yang dikembangkan Georges Lemaître, dan yang didasarkan pada sumber ilahiah, mendukung ke-majuan ilmiah dan membantu menyingkap asal-usul sejati alam semesta. Akhirnya, sains menyajikan bukti ilmiah dari apa yang telah didukung sejak semula oleh sumber religius.

Kalau kita menengok sejarah sains abad ke-20, kita akan melihat kejadian serupa pada bidang lain pula.

Kerugian Sains yang Disebabkan oleh Klaim bahwa “Tidak Ada Rancangan di Alam”

Materialis tidak hanya mengusulkan bahwa alam semesta ada sejak waktu tak terbatas, tetapi juga mengklaim bahwa tidak ada rancangan atau tujuan di alam semesta. Mereka berargumentasi bahwa seluruh keseimbangan, keselarasan, dan keteraturan di alam semesta hanyalah kebetulan. Klaim ini, yang mendominasi dunia sains sejak paro kedua abad ke-19, menentukan arah penyelidikan ilmiah.

Sebagai contoh, beberapa ilmuwan tertentu mengajukan sebuah asumsi yang disebut “teori kekacauan” (chaos theory) untuk menunjukkan bahwa tidak ada rancangan di alam semesta. Menurut teori ini, keteraturan dapat secara spontan terbentuk dari kekacauan, dan sejumlah studi ilmiah dilakukan untuk mendukung klaim itu. Perhitungan ma-tematika, pengkajian ilmu fisika teoretis, percobaan fisik dan kimia, semua dilakukan untuk menemukan jawaban bagi pertanyaan, “bagaimana kita dapat menunjukkan bahwa alam semesta adalah produk kekacauan?”

Akan tetapi, setiap penemuan baru semakin menolak “teori kebetulan dan kekacauan”, dan mengungkap bahwa ada rancangan mahabesar di alam semesta. Penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960 secara konsisten menunjukkan bahwa semua keseimbangan fisik di alam semesta dirancang dengan rumit demi kelangsungan hidup di dalammya. Ketika penelitian dilanjutkan, ditemukan bahwa semua hukum fisika, kimia, dan biologi, dari gaya fundamental seperti gravitasi dan elektromagnetisme, serta dari detail struktur atom dan unsur-unsur alam semesta, telah dirancang dengan tepat sehingga manusia dapat hidup di dalamnya. Ilmuwan merujuk rancangan luar biasa ini sebagai  “Prinsip Antropik”. Dengan prinsip ini, setiap detail alam semesta secara cermat diatur untuk memungkinkan kehidupan manusia.

Hanya orang dengan kecerdasan tinggi yang dapat merekonstruksi kepingan puzzle Albert Einstein seperti terlihat di sini. Jadi, jelaslah bahwa sistem yang jauh lebih rumit dan sempurna — daripada puzzle ini — di alam semesta dirancang oleh Allah, Pemilik pengetahuan dan kebijakan tanpa batas..

Dengan temuan-temuan ini, aturan yang semula ditekankan kepada masyarakat ilmiah oleh filosofi materialis, yang menggembar-gemborkan bahwa “alam semesta adalah setumpuk materi tanpa arti dan tujuan yang terjadi secara kebetulan”, terungkap sebagai pemikiran keliru dan tak ilmiah. Ahli biologi molekular yang terkemuka, Michael Denton, menyatakan komentar berikut dalam bukunya,  Nature's Destiny: How the Laws of Biology Reveal Purpose in the Universe:


Seperti halnya ideologi rasialis yang membawa kehancuran bagi umat manusia dengan Perang Dunia II, ideologi materialisme membawa dunia sains ke dalam kegelapan.

Gambaran baru yang muncul dalam astronomi abad ke-20, menyajikan tantangan dramatis bagi kepercayaan yang dianggap lazim dalam lingkungan ilmiah selama empat abad terakhir: bahwa kehidupan adalah fenomena sepele dan semata-mata peristiwa kebetulan dalam skema kosmik... Bukti yang disajikan oleh kosmologi modern dan ilmu fisika adalah bukti yang sama yang dicari para teologis alami pada abad ketujuh belas tetapi gagal menemukannya dalam sains di zaman mereka. 14

“Teologis alami” (natural theologians) yang disebutkan di atas adalah ilmuwan yang taat beragama dari abad ke-17 dan ke-18 yang berusaha keras untuk meruntuhkan ateisme dengan alasan ilmiah, yaitu membuktikan keberadaan Tuhan. Namun, seperti yang dinyatakan pula pada kutipan di atas, karena pengetahuan ilmiah pada waktu itu ber-derajat rendah, sulit bagi mereka membuktikan kebenaran yang mereka yakini. Dan materialisme dengan dukungan sains tingkat primitif yang sama, mengembangkan otoritas dalam dunia ilmiah. Namun, sains abad ke-20 telah mem-balikkan haluan, dan menyajikan bukti nyata bahwa alam semesta diciptakan oleh Allah.

Dalam hal ini, masalah nyata yang harus diper-timbangkan adalah jumlah waktu luar biasa yang disia-siakan dalam penelitian untuk membuktikan khayalan materialis bahwa, “tidak ada tujuan dan rancangan di alam semesta”. Semua teori, rumusan, penelitian dalam ilmu fisika teoretis, persamaan matematika, dan sebagainya, pada akhirnya terbukti merupakan usaha yang tidak berharga dan sia-sia. Sama seperti ideologi rasisme yang membawa bencana bagi umat manusia dengan mendorong  pecahnya Perang Dunia II, demikian juga ideologi materialis menyeret dunia ilmu pengetahuan ke dalam kegelapan.

Namun, andaikan masyarakat ilmiah dahulu men-dasarkan usahanya bukan pada konsep materialisme, me-lainkan pada kenyataan bahwa alam semesta diciptakan oleh Allah, penelitian ilmiah tentu melaju ke arah yang benar.

Kerugian Sains yang Disebabkan oleh Usaha Sia-sia untuk Membuktikan Teori Evolusi

Contoh yang paling informatif dari kesalahan orientasi dalam sains adalah penerimaan Teori Evolusi Darwin. Sejak diperkenalkan dalam agenda studi ilmiah sekitar 140 tahun lalu, teori ini benar-benar merupakan kesalahan terbesar yang dilakukan dalam sejarah sains.

Teori evolusi menekankan bahwa kehidupan berasal dari konfigurasi materi tak-hidup melalui peristiwa ke-betulan. Lebih jauh, teori tersebut mengklaim bahwa organisme yang telah terbentuk secara kebetulan berevolusi menjadi makhluk lain, lagi-lagi secara kebetulan. Usaha bersama mencari pembenaran ilmiah untuk skenario ini menjadi pusat perhatian selama satu setengah abad terakhir. Namun demikian, ironisnya, hasil yang diperoleh membuktikan sebaliknya. Bukti ilmiah telah menunjukkan bahwa evolusi itu tidak pernah terjadi, bahwa perubahan bentuk yang berangsur-angsur dari satu jenis ke jenis lain adalah tidak mungkin, dan bahwa  setiap jenis makhluk hidup telah diciptakan dengan unik dan dalam bentuknya yang sekarang ini.

Namun, sekalipun semua bukti berbicara lain, evolusionis tetap melakukan studi dan eksperimen tak terhitung banyaknya, menulis buku berjilid-jilid yang melulu berisi pemikiran keliru dan kesalahan, men-dirikan institusi, mengadakan konferensi, dan mengudarakan program televisi, untuk membuktikan evolusi. Eksploitasi ribuan ilmuwan serta uang dan sumber daya yang tak terukur untuk pernyataan yang tidak dapat dibuktikan, jelas merupakan kerugian serius bagi umat manusia. Kalau saja sumber daya ini diarahkan dengan baik, kerugian seperti itu tidak akan jadi terjadi. Alih-alih, langkah besarlah yang dicapai, dan hasil nyata diperoleh pada bidang studi ilmiah yang lebih relevan.

Pada sisi lain, sejumlah ilmuwan atau pemikir sudah menyadari betapa seriusnya kesalahan teori evolusi. Sebagai contoh, ahli filsafat Inggris, Malcolm Muggeridge, berkomentar sebagi berikut: 


           Saya sendiri yakin bahwa teori evolusi, terutama sejauh mana teori tersebut diterapkan, akan menjadi salah satu lelucon besar dalam buku sejarah di masa datang. Generasi mendatang akan terheran-heran betapa sebuah hipotesis yang begitu lemah dan meragukan dapat diterima begitu saja.15

Ilmuwan Scandinavia, SøRen Løvtrup, menyatakan komentar berikut dalam bukunya Darwinism: The Refutation of a Myth:

Saya kira tidak ada orang yang menyangkal betapa ruginya jika seluruh cabang ilmu pengetahuan menjadi kecanduan teori palsu. Tetapi inilah yang telah terjadi dalam biologi. Sudah lama orang-orang mendiskusikan masalah evolusi dengan kosakata khas Darwinian 'adaptasi', 'tekanan seleksi', 'seleksi alam', dan lain-lain sampai-sampai mereka percaya bahwa istilah-istilah itu benar-benar menjelaskan peristiwa alam. Sesungguhnya tidak… Saya percaya bahwa suatu hari Mitos Darwin akan digolongkan sebagai penipuan terbesar di dalam sejarah ilmu pengetahuan.16

Bahkan sejumlah ilmuwan evolusioner telah menyadari bahwa teori yang mereka dukung tidak sesuai dengan fakta, dan merasa tak nyaman karenanya. “Menghidupkan terus teori (evolusi) masa kini sebagai dogma tidak akan mendorong kemajuan ke arah penjelasan yang lebih memuaskan tentang fenomena alam yang diamati”17, ujar ilmuwan evo-lusionis Paul R. Ehrlich dalam suatu wawancara dengan  Science. Meski-pun secara tidak langsung, dia mengakui bahwa ketaatan buta pada teori evolusi membahayakan sains.

Sekarang, mari kita lihat usaha sia-sia yang dilakukan untuk men-dukung klaim teori evolusi yang tidak ilmiah, yang tidak memberi sains apa-apa kecuali kerugian besar dalam waktu dan sumber daya.            

Kerugian Sains yang Disebabkan oleh Klaim bahwa “Materi Tak-Hidup Dapat Membentuk Kehidupan”

Apa asal mula kehidupan? Apa yang membedakan burung atau jerapah dari batu, air, bumi, yang merupakan benda mati?

Jawaban dari pertanyaan ini telah membuat penasaran orang sejak zaman dahulu. Ada dua pendapat utama. Gagasan pertama adalah, ada garis pemisah sangat halus tetapi mudah ditembus antara benda hidup dan benda mati, dan bahwa kehidupan dapat secara sontan muncul dari benda mati. Dalam literatur ilmiah, pandangan ini disebut “abiogenesis”.

Gagasan kedua menyatakan bahwa ada pembatas yang tak bisa ditembus antara benda hidup dan benda mati. Menurut pandangan ini, organisme hidup mustahil dapat berkembang dari benda mati, dan suatu bentuk kehidupan dapat muncul hanya dari bentuk kehidupan lain. Pandangan ini yang diringkas menjadi “kehidupan hanya berasal dari kehidupan” disebut “biogenesis”.

Yang menarik adalah, gagasan “abiogenesis” dihubungkan dengan filosofi materialis, sedangkan gagasan “biogenesis” berasal dari sumber religius. Filosofi materialis selalu berargumentasi bahwa benda mati dapat menjadi organisme hidup. Ahli filsafat Yunani percaya, bentuk kehidupan yang sederhana berasal dari benda mati.

Sebaliknya, sumber religius menyatakan bahwa satu-satunya kuasa yang dapat memberikan kehidupan pada benda mati hanyalah daya cipta Allah. Dalam ayat Al Quran dinyatakan:

“Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikan ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (QS. Al An'aam, 6: 95) !

“Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Hadiid, 57: 2) !

Dalam pemahaman sains Abad Pertengahan, orang mengira bahwa makhluk hidup dapat muncul dari benda mati. Contohnya, belatung yang berkembang pada daging terbuka muncul secara spontan. Namun gagasan ini dipadamkan oleh penemuan F. Redi, kemudian oleh penemuan L. Pasteur.

Pada Abad Pertengahan, ketika pengetahuan manusia tentang alam masih sangat terbatas, pandangan “abio-genesis” berlaku karena suatu kesalahan pengamatan. Me-reka yang melihat belatung berkembang di atas daging yang terbuka, berpikir bahwa kejadian ini “spontan”. Mereka juga mengira bahwa tikus-tikus keluar secara spontan dari gandum di lumbung. Kepercayaan ini, yang juga disebut “generasi spontan”, secara luas diterima sampai abad ke-17.

Namun, eksperimen yang dilakukan oleh dua ilmuwan penting mengubur gagasan “generasi spontan”. Orang per-tama dari mereka adalah Francisco Redi. Dengan ekspe-rimen yang dilakukannya pada tahun 1668, Redi menunjuk-kan bahwa belatung yang tampak di atas daging tidak ter-bentuk secara spontan, tetapi berasal dari lalat yang bertelur di atas daging. Dengan penemuan ini, pendukung paham “abiogenesis” mundur dan menyatakan bahwa yang diha-silkan dari benda mati bukanlah organisme berukuran besar seperti belatung atau kodok, melainkan mikroba yang tak kasat mata. Debat tentang hal ini berlangsung terus selama dua abad berikutnya. Ahli biologi Prancis, Louis Pasteur, akhirnya menunjukkan me-lalui suatu rangkaian eksperimen, bahwa mikroba tidak dapat berkembang dari benda mati pula. Pasteur meringkas kesimpulannya dalam  kata-kata berikut:

Dapatkah materi mengatur dirinya sendiri? Dengan kata lain, dapat-kah organisme hadir ke dunia tanpa orang tua, tanpa nenek moyang? Itu pertanyaan yang harus dipecahkan…. Tidak ada keadaan yang diketahui saat ini di mana seseorang dapat menyatakan bahwa makhluk mikroskopis muncul tanpa sel.18

Redi dan Pasteur memiliki satu kesamaan. Kedua ilmuwan itu percaya akan keberadaan Tuhan, dan bahwa hidup itu diciptakan oleh-Nya. Kepercayaan mereka berperan penting dalam kesadaran mereka akan kejanggalan gagasan abiogenesis. Meskipun sejumlah ilmuwan yang berada di bawah pengaruh materialisme (evolusionis seperti Darwin, Haeckel, dll.) menganut pandangan abiogenesis, namun ilmuwan-ilmuwan lain yang mendekati sains dengan wawasan yang benar, menyadari fakta “biogenesis”.


Louis Pasteur

Namun, ilmuwan evolusionis terus menentang kenya-taan yang sudah jelas ini. Ketaatan buta mereka pada filosofi materialis menarik mereka ke dalam pergulatan sia-sia yang berlangsung seabad. Dua ilmuwan materialis, Alexander Oparin dan J. B. Haldane, memperkenalkan gagasan “evolusi kimia”. Menurut Oparin dan Haldane, abiogenesis tidak terjadi dalam waktu singkat, tetapi dalam periode yang lama. Karena bertentangan dengan hukum-hukum ilmiah tertentu, terutama Hukum Kedua Termodinamika, klaim ini membawa dunia sains ke dalam kemacetan dan kerugian waktu.

Sepanjang abad, sejumlah ilmuwan melakukan eksperimen yang berbasis hipotesis evolusi kimia, atau berupaya keras untuk mendukung klaim tersebut dengan teori baru. Pelbagai laboratorium raksasa, institusi besar, dan divisi universitas dikerahkan untuk itu. Namun, semua usaha ini berakhir dalam kegagalan. Prof. Klaus Dose, evolusionis terkenal yang menjabat Direktur Institut Biokimia di Universitas Johannes-Gutenberg mengakui, semua usaha untuk membuktikan klaim bahwa benda mati memproduksi benda hidup tidak berhasil:

Lebih dari 30 tahun percobaan mengenai asal usul kehidupan dalam bidang evolusi kimia dan molekular, telah menghasilkan persepsi lebih baik tentang besarnya permasalahan tentang asal kehidupan di bumi alih-alih solusinya. Sekarang ini semua diskusi tentang teori prinsip dan eksperimen dalam bidang itu berakhir pada jalan buntu atau pengakuan ketidaktahuan.19

Seandainya dunia sains tidak terobsesi dengan gagasan “abiogenesis” dan pemikiran keliru materialis, semua usaha yang dilakukan atas nama “evolusi kimia” itu dapat disalurkan ke bidang yang lebih produktif.  Seandainya masyarakat ilmiah memulai dengan kesadaran bahwa kehidupan diciptakan oleh Allah, dan hanya Allah yang berkuasa untuk memberikan kehidupan,  maka semua waktu, uang dan sumber daya manusia yang terbuang itu dapat dihindarkan. Dan dengan demikian, sains dapat berkonsentrasi pada penelitian dan penemuan baru yang berguna bagi umat manusia, daripada berusaha membuktikan mitos Yunani Kuno.

Kini, masyarakat ilmiah telah menunjukkan bahwa benda mati tidak dapat mengatur diri melalui peristiwa acak, dan kemudian bergabung dengan benda mati lainnya untuk membentuk sel kompleks dan sempurna. Sudah jelas pula bahwa jutaan bentuk kehidupan yang kita lihat di sekitar kita tidak mungkin terbentuk dari sel-sel yang bergabung secara kebetulan, seperti yang diklaim evolusionis. Tentu saja mawar, merak, harimau, semut, dan semua makhluk hidup lainnya, mustahil muncul oleh kehendak sel-sel tak sadar yang tersusun dari kombinasi atom tak sadar.

Seorang ilmuwan yang melakukan studi mendalam tentang hal ini tidak mungkin merupakan hasil keputusan umum yang diambil oleh atom-atom tak sadar. Mustahil bagi atom-atom tak sadar untuk mengem-bangkan seorang manusia berkesadaran  penuh.

Dalam hal ini, ratusan tahun lalu telah dinyata-kan dalam Al-Quran bahwa kehidupan telah dicipta-kan oleh Allah dari “tidak ada apa-apa”, bahwa Allah-lah satu-satunya yang menghidupkan, dan tidak ada selain Allah yang berkuasa “memberikan kehidupan”. Jika sains menemukan implikasi dari fakta yang disampaikan Allah kepada umat manusia, ia tidak mungkin “membuang-buang waktu” dalam penelitian yang tidak menentu selama itu.

Kini, masyarakat ilmiah telah menunjukkan bahwa benda mati tidak dapat mengatur diri melalui peristiwa acak, dan kemudian bergabung dengan benda mati lainnya untuk membentuk sel kompleks dan sempurna. Allah, Tuhan semesta alam, menciptakan segalanya, dan hanya Dia yang memiliki kekuasaan untuk menghidupkan.
 
   
    

11. Albert Einstein, Science, Philosophy, And Religion: A Symposium, 1941, ch1.3
12. Henry Margenau, Roy Abraham Vargesse. Cosmos, Bios, Theos. La Salle IL: Open Court Publishing, 1992, p. 241
13. William Lane Craig, Cosmos and Creator, Origins & Design, Spring 1996, vol. 17, p. 18
14. Michael Denton, Nature's Destiny: How the Laws of Biology Reveal Purpose in the Universe, The New York: The Free Press, 1998, p. 14-15
15. Malcolm Muggeridge, The End of Christendom, Grand Rapids: Eerdmans, 1980, p. 59
16. Søren Løvtrup , Darwinism: The Refutation of A Myth, New York: Croom Helm, 1987, p.422
17. Paul R. Ehrlich and Richard W. Holm, Patterns and Populations, Science, vol 137 (August, 31, 1962), p. 656-7
18. Sidney Fox, Klaus Dose,. Molecular Evolution and The Origin of Life,. New York: Marcel Dekker, 1977. p. 2
19. Klaus Dose, The Origin Of Life: More Questions Than Answers, Interdisciplinary Science Reviews, vol. 13, no.4, 1988, p. 348


3 / total 10
Anda dapat membaca buku Harun Yahya AL QURAN DAN SAINS secara online, berbagi pada jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter, download di komputer Anda, menggunakannya untuk pekerjaan rumah Anda dan tesis, dan mempublikasikan, menyalin atau memperbanyak pada website atau blog Anda sendiri tanpa perlu membayar biaya hak cipta apapun, selama Anda mengakui situs ini sebagai referensi.
Presentasi| tentang situs ini | Buat homepage Anda | tambahkan ke favorit | RSS Feed
Semua materi dapat dikopi,dicetak, dan didistribusikan berdasarkan situs ini
(c) All publication rights of the personal photos of Mr. Adnan Oktar that are present in our website and in all other Harun Yahya works belong to Global Publication Ltd. Co. They cannot be used or published without prior consent even if used partially.
© 1994 Harun Yahya. www.harunyahya.com
page_top