Sesulit dan sesukar apa pun keadaannya, kita harus
selalu percaya kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya. Seperti
telah kita bahas pada bagian sebelumnya, Musa AS tidak pernah putus
asa ketika terdesak di antara tentara Firaun dan Laut Merah. Dia
tetap percaya kepada Allah. Yunus AS juga menjadi teladan untuk
sifat terpuji seperti itu.
Meskipun dia telah diutus oleh Allah untuk memperingatkan umatnya,
Yunus AS meninggalkan umatnya tanpa memperingatkan mereka. Oleh
karena itu, Allah mengujinya dengan beberapa cara: pertama, dia
dilemparkan ke laut dari kapal yang dinaikinya. Kemudian seekor
ikan raksasa menelannya. Akibatnya dia merasa sangat menyesal karena
perbuatannya. Dia meminta ampun kepada Allah, memohon perlindungan
dari-Nya dan berdoa kepada-Nya. Hal ini difirmankan dalam Al Qur'an
sebagai berikut:
Dan ingatlah kisah Dzun Nun (Yunus), ketika ia
pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan
menyulitkannya, maka ia berseru dalam keadaaan yang sangat gelap,
”Bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.
Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim.”
Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkanya
dari kedukaan. Dan begitulah Kami menyelamatkan orang-orang yang
beriman. (QS Al-Anbiya: 87-88)
Yunus
mula-mula dilemparkan dari kapal ke laut. Kemudian, seekor ikan
menelannya. Allah menyelamatkan Yunus AS dari keadaan yang sulit
itu.
Dalam Al Qur'an, Allah memfirmankan apa yang akan
terjadi kepada Yunus jika dia tidak percaya dan berdoa kepada Allah.
Maka seandainya dia tidak termasuk orang yang
banyak mengingat Allah, Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan
itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah
yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan kami tumbuhkan untuknya
sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus
ribu orang atau lebih. (QS Ash-Shaffat:143-147)
Allah telah menyelamatkan Yunus dari keadaan yang
sangat menyedihkan. Hal ini adalah bukti nyata bahwa kita tidak
pernah boleh putus asa dari pertolongan Allah. Pengalaman Yunus
AS merupakan pelajaran untuk semua orang beriman: Kita tidak boleh
lengah, dalam situasi sekeras apa pun yang kita hadapi, dan kita
harus selalu berdoa dan memohon pertolongan Allah.
Nabi Yusuf AS
Di dalam Al Qur'an, kita menemukan kisah terperinci
tentang pengalaman Yusuf AS. Di sini, kita akan membahasnya secara
singkat dan menyimak sifat terpuji Yusuf.
Yusuf adalah salah seorang putera Ya’kub AS. Ketika dia masih
kanak-kanak, saudara-saudaranya melemparkannya ke dalam sumur karena
iri kepada Yusuf, dan mereka berkata kepada ayahnya bahwa seekor
serigala telah memakan Yusuf. Para musafir menemukan Yusuf dalam
sumur dan menjualnya ke istana bangsawan di Mesir. Di Mesir, Yusuf
difitnah dan dimasukkan ke dalam penjara dan tetap berada di dalamnya
hingga bertahun-tahun.
Para
musafir menemukan Yusuf dalam sumur dan menjualnya ke istana
bangsawan Mesir.
Akhirnya Yusuf terbukti tidak bersalah dan dibebaskan.
Karena Yusuf sangat bijaksana dan dapat dipercaya, dan karena sangat
teliti, penguasa Mesir mempercayakan harta benda dan gudang pangan
di bawah pengawasan Yusuf. Akhirnya, Yusuf memaafkan saudara-saudaranya
yang telah berbuat kejam kepadanya dan membawa mereka semuanya beserta
ayah dan ibunya untuk tinggal bersamanya.
Yusuf AS memiliki sifat yang terpuji. Allah menguji Yusuf dengan
berbagai cara, menyelamatkannya dari sumur, padahal mustahil baginya
untuk keluar. Allah menyelamatkannya dari keadaan yang buruk dengan
memasukkannya ke dalam penjara dan kemudian menyelamatkannya dari
penjara dan mengembalikan nama baik Yusuf. Akhirnya, Allah menganugerahkan
kepadanya derajat yang tinggi. Dalam segala keadaan, Yusuf AS kembali
kepada Allah dan berdoa kepada-Nya. Meskipun dia tidak bersalah,
Yusuf tetap tinggal dalam penjara hingga beberapa tahun, namun ia
tidak pernah lupa bahwa ini merupakan cobaan dari Allah. Di dalam
penjara, ia selalu menyebut-nyebut kekuasaan dan keagungan Allah
kepada orang-orang di sekitarnya. Ketaatan dan keimanannya kepada
Allah dalam keadaan sulit seperti itu menunjukkan sifatnya yang
terpuji.
Nabi Ayub AS
Sabar
menghadapi apa pun yang terjadi merupakan sifat terpuji yang khas
pada umat Islam. Ayub AS diuji dengan hilangnya keluarga dan kekayaannya,
dan mengalami penyakit parah yang menyebabkannya sangat menderita.
Ayub hanya memohon pertolongan dari Allah dan percaya kepada-Nya.
Allah menjawab doanya dan mengajarkan kepadanya bagaimana agar sembuh.
Sifat terpuji Ayub AS dan doa-doanya difirmankan di dalam Al Qur'an
sebagai berikut:
Dan ingatlah hamba Kami Ayub ketika menyeru Tuhannya,
”Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.”
Allah berfirman, ”Hantamkanlah kakimu. Inilah air yang sejuk
untuk mandi dan minum.”
... Sesungguhnya kami melihat Ayub adalah hamba Kami yang sabar.
Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat kepada Tuhannya.
(QS Shaad: 41-44)
Begitu kita mengalami penyakit, kekerasan, atau kesulitan,
kita sering putus asa. Bahkan ada orang yang menjadi ingkar kepada
Allah. Padahal, sikap-sikap ini tidak diridhai oleh Allah. Seperti
yang ditunjukkan oleh contoh tentang Ayub ini, Allah mungkin akan
menimpakan kesukaran kepada hamba-hamba-Nya, tetapi penderitaan
demi penderitaan akan mendewasakan orang-orang beriman dan menguji
pengabdian mereka kepada Allah.
Dalam menghadapi penderitaan yang kita alami, kita harus berdoa
kepada Allah dan mempercayai-Nya. Kita harus sabar seperti Ayub
AS dan kembali kepada Allah. Hanya dengan begitulah, Allah akan
melonggarkan kesulitan kita dan memberi kita pahala di dunia dan
di akhirat nanti.
Nabi Isa AS
Allah telah menciptakan Isa AS dengan cara yang unik.
Seperti halnya Nabi Adam, Allah telah menciptakan Isa tanpa seorang
ayah. Ini difirmankan dalam Al Qur'an sebagai berikut:
Sesungguhnya penciptaan Isa di sisi Allah, adalah
seperti penciptaan Adam, Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian
Allah berfirman kepadanya, “Jadilah” (seorang manusia),
maka jadilah dia. (QS Ali-Imran: 59)
Dalam Al Qur'an, Isa AS disebut sebagai ”Putera
Maryam”. Maryam adalah seorang perempuan terhormat yang dijadikan
oleh Allah sebagai teladan bagi semua perempuan. Dia adalah perempuan
suci dan hamba yang tunduk kepada Allah. Allah mengaruniakan Isa
untuknya melalui malaikat Jibril, secara ajaib tanpa ayah, dan memberi
kabar gembira kepadanya bahwa puteranya akan menjadi seorang nabi.
Allah menjadikan Isa seorang nabi dan menurunkan untuknya kitab
Injil, salah satu kitab wahyu dari Allah untuk umat manusia. (Setelah
Isa tidak ada, Injil juga telah diubah-ubah oleh manusia. Saat ini,
kita tidak menemukan kitab Injil yang asli, dan kitab suci orang
Kristen yang disebut Alkitab sebenarnya tidaklah bisa dipercaya
seluruhnya.) Allah memerintahkan Isa untuk mengajak manusia ke jalan
yang benar dan menganugerahkan kepadanya banyak mukjizat. Dia berbicara
ketika masih berada dalam buaian dan menyampaikan kepada manusia
tentang Allah. Isa juga memberi kabar gembira tentang Muhammad (Ahmad)
SAW, utusan Allah yang akan datang setelahnya, yang difirmankan
di dalam Al Qur'an sebagai berikut:
Dan ingaatlah ketika Isa putra Maryam berkata,
”Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah untukmu.
(Aku) membenarkan kitab yang turun sebelumku, yaitu Taurat, dan
memberi kabar gembira tentang seorang rasul yang akan datang sesudahku,
yang bernama Ahmad (Muhammad). Maka ketika rasul itu datang kepada
mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ”Ini
adalah sihir yang nyata.” (QS Ash-Shaff: 6)
Dalam
masa kehidupan Isa, sangat sedikit orang yang beriman kepada Isa
dan membantunya. Musuh-musuh Isa berusaha membunuhnya. Mereka mengira
bahwa mereka telah menangkap dan menyalib Isa. Padahal, dalam Al
Qur'an Allah berfirman kepada kita bahwa mereka tidaklah membunuh
Isa:
Dan karena ucapan mereka, ”Sesungguhnya
kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, rasul Allah.”
Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi
yang mereka bunuh adalah orang yang dijadikan serupa dengan Isa
dalam pandangan mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih
paham tentang pembunuhan Isa, benar-benar ragu tentang yang dibunuh
itu.Mereka tidak yakin tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali dengan
prasangka belaka. Mereka juga tidak yakin bahwa yang mereka bunuh
itu adalah Isa. (QS An-Nisaa: 157)
Setelah Isa AS tidak ada lagi, musuh-musuhnya mencoba
untuk mengubah wahyu yang dibawanya. Mereka mulai menggambarkan
Isa dan Maryam sebagai makhluk yang memiliki kekuatan gaib, bahkan
dianggap sebagai “tuhan-tuhan”. Saat ini pun, masih
ada yang mempercayai keimanan palsu ini. Allah memberi tahu kita
dalam Al Qur'an, melalui perkataan Isa sendiri, bahwa semua ini
adalah keimanan yang keliru:
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Hai
Isa putera Maryam, apakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah
aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?’” Isa menjawab,
“Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang
bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka
tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang
ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri
Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara gaib. Aku tidak
pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan
kepadaku (mengatakannya), yaitu, ‘Sembahlah Allah, Tuhanku
dan Tuhanmu, dan aku adalah saksi untuk mereka selama aku berada
di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang
mengawasi mereka. Dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.”
(QS Al-Maidah: 116-117)
Setelah Isa menghilang, jumlah orang-orang yang beriman
kepadanya meningkat pesat, tetapi saat ini mereka berada di jalan
yang sesat karena mereka mengikuti Alkitab, yang telah diubah-ubah
dengan tambahan-tambahan dan pengurangan-pengurangan. Satu-satunya
jalan yang lurus saat ini adalah jalan Nabi Muhammad SAW, yang disampaikan
kepada kita, yang disebutkan dalam Al Qur'an, karena inilah satu-satunya
wahyu Allah yang belum berubah.
Utusan Allah: Muhammad SAW
Kita banyak mengenal Rasulullah, Muhammad SAW, karena
beliau adalah nabi terakhir dan hidup baru sekitar 1.400 tahun yang
lalu. Manusia mengubah-ubah dan mengaburkan agama yang diwahyukan
oleh Allah sebelum beliau. Inilah sebabnya kitab terakhir (yang
akan dipertanggungjawabkan oleh manusia di Hari Pembalasan) diwahyukan
kepada nabi kita. Kitab ini memperbaiki semua kekeliruan yang diada-adakan
dalam agama-agama sebelumnya. Allah menyampaikan bahwa Allah memberi
perintah untuk hamba-hambanya melalui Al Qur'an.
Nabi SAW juga menghadapi banyak kesulitan ketika menyampaikan wahyu
Allah kepada umatnya. Banyak tuduhan yang tak beralasan kepada beliau,
meskipun beliau tidak meminta upah dari umatnya dan tidak mempunyai
niat-niat duniawi.
Beliau terpaksa pindah dari Mekah, kota kelahiran
beliau. Orang-orang Islam pertama yang mengikutinya juga dizalimi,
beberapa di antara mereka bahkan disiksa dan mengalami perlakuan
kejam. Tetapi Allah tidak membiarkan orang-orang yang tidak beriman
membahayakan agama Islam, yang tetap tidak berubah hingga hari ini.
Sesuai dengan janji Allah, setiap kata dalam Al Qur'an tetap sepenuhnya
tidak berubah.
Seruan Nabi Muhammad SAW juga ditujukan kepada seluruh manusia yang
hidup saat ini. Allah memerintahkan seluruh manusia untuk menghormati
rasul-rasulnya. Dalam banyak ayat, Allah menegaskan bahwa menghormati
para rasul berarti menghormati Allah. Oleh karena itu, menghormati
nabi adalah salah satu hal yang terpenting dan utama dalam Islam.
Ketaatan hati kepada perintah Nabi SAW tentu merupakan bentuk ketaatan
kepada Allah.
Dalam Al Qur'an, Allah menyampaikan kepada kita tentang sifat-sifat
utama Nabi kita, yang menjadi teladan bagi semua manusia.
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul
dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, (dan ia)
sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, (serta) amat
mengasihi dan menyayangi Kaum Mukmin.” (QS At-Taubah:128)
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di
antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.
Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS Al-Ahzab:
40)
Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang
beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari
golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat
Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka
Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi)
itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS Ali Imran:
164)
Dengan ayat-ayat yang dimulai dengan kata, ”Katakanlah...,”
Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyampaikan wahyu Allah.
Melalui ayat-ayat ini dan semua ayat lainnya, Nabi SAW menyampaikan
wahyu-wahyu Allah kepada manusia. Istri beliau, A’isyah RA
berkata, ”Akhlak beliau adalah Al Qur'an.” Maksud A’isyah
adalah, Nabi SAW benar-benar menjadikan Al Qur'an sebagai pedoman
dalam segala perbuatannya, dan kita tahu bahwa hadits beliau adalah
cara kita untuk menghormati Al Qur'an. Dalam salah satu ayat, Allah
menyatakan bahwa hamba-hamba-Nya yang takut kepada Allah dan ingin
mendapatkan pengampunan haruslah menghormati Rasulullah SAW:
Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai
Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali Imran: 31)
Seperti disebutkan dalam ayat di atas, jika kita ingin
agar Allah mencintai kita, kita harus patuh kepada seruan nabi dan
dengan seksama mengamalkannya.
Versi online dari buku-buku Harun Yahya yang telah diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia sedang dalam persiapan.
Untuk sementara Anda dapat mengunjungi halaman Download
untuk mendownload versi teks atau pdf yang tersedia dari buku-buku tersebut