Kemudian
mereka mengambil tuhan-tuhan selain dari pada-Nya (untuk disembah),
yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri
diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan
dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfa'atanpun
dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula)
membangkitkan.
(QS. Al Furqan, 25: 3) !
Ada beratus-ratus spesies laba-laba di dunia.
Hewan-hewan kecil ini terkadang nampak sebagai ahli konstruksi yang mampu
melakukan perhitungan untuk membangun sarangnya, terkadang sebagai desainer
interior yang sedang membuat rencana-rencana rumit, dan di waktu yang
lain sebagai ahli kimia yang sedang membuat benang yang sangat kuat dan
fleksibel, racun yang mematikan, serta asam-asam pelarut, dan kadang sebagai
pemburu yang menggunakan taktik-taktik yang sangat cerdik.
Meski begitu banyak karakteristik unggul yang
dimilikinya, tak seorang pun dalam kesehariannya pernah memikirkan betapa
khas-nya mahluk yang dinamai laba-laba ini. Karena anggapan sepele inilah
tidak ada perasaan takjub terhadap keberadaan laba-laba, atau pun terhadap
keberadaan mahluk kecil lainnya. Ini merupakan cara berpikir yang sungguh
keliru. Karena jika kita mulai mempelajari perihal laba-laba, juga mengenai
perilaku mahluk lainnya, misalnya dengan memperhatikan cara mereka berburu,
berkembang-biak, dan mempertahankan diri, kita akan menjumpai karakteristik-karakteristik
yang akan membuat kita terkagum-kagum.
Di alam ini, semua mahluk hidup mengambil pola-pola
perilaku yang membutuhkan kecerdasan agar bisa bertahan hidup. Pola-pola
perilaku ini, yang mendasari kecakapan, kepiawaian dan kemampuan-kemampuan
perencanaan unggul memiliki satu kesamaan. Masing-masing perilaku ini
mensyaratkan adanya kemampuan. Kecakapan yang hanya dapat dikuasai manusia
dengan cara belajar, latihan ulang dan pengalaman ini, telah ada pada
mahluk-mahluk hidup ini sejak pertama kali mereka lahir.
Bagian selanjutnya dari buku ini terdiri dari
pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab, yakni: bagaimana kemampuan-kemampuan
tersebut timbul, dan bagaimana mahluk-mahluk hidup ini belajar. Mahluk
yang beraksi dengan kecerdasan tinggi ini mampu berburu dengan perhitungan
yang cermat, dan jika perlu dapat bertindak sebagai insinyur-insinyur
kimia yang mengetahui material apa yang harus dihasilkan pada situasi
tertentu. Dan ini sungguh telah membuat ilmuwan yang mempelajarinya terkagum-kagum.
Hal demikian ini bahkan membuat para ilmuwan evolusionis mengakui bahwa
mahluk-mahluk hidup terpandai memiliki karakteristik-karakteristik yang
membutuhkan kecerdasan. Meskipun sebagai seorang evolusionis, ilmuwan
Richard Dawkins dalam bukunya Climbing Mount Improbable menguraikan perilaku
laba-laba dengan ungkapan sebagai berikut:
Dalam perjalanan, kami kadang
sempat memandangi jaring laba-laba - hasil karya berdaya guna yang dibuat
dengan kecerdasan tanpa sadar yang mengagumkan.1
Dengan berkata demikian, sebenarnya Dawkins
dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan "bagaimana perilaku cerdas tanpa
sadar dari hewan ini timbul, dan apa sumbernya?"; pertanyaan-pertanyaan
yang tidak dapat dijelaskan oleh teori evolusi dengan cara apapun. Sungguh,
pertanyaan seperti "Bagaimana mahluk-mahluk hidup bisa memiliki kecerdasan
ini, dan bagaimana mereka belajar menerapkannya?", merupakan pertanyaan-pertanyaan
yang tak dapat dijawab oleh para pembela teori evolusi secara terbuka
dan pasti.
Sampai di sini, argumen yang digunakan kaum
evolusionis dalam menjawab pertanyaan tentang perilaku cerdas (sadar)
dari hewan-hewan sudah waktunya untuk diuji. Mari kita lakukan dengan
menjelaskan arti dari istilah yang digunakan kaum evolusionis dalam pernyataan
mereka.
Dalam usaha mencari jawaban terhadap pertanyaan
"bagaimana mahluk-mahluk hidup bisa memiliki perilaku bertujuan", kaum
evolusionis menggunakan istilah "insting". Namun sama sekali tidak berhasil.
Hal ini bisa dilihat dengan jelas melalui pemahaman yang lebih dalam terhadap
konsep "insting". Kaum evolusionis mengatakan bahwa hewan-hewan terikat
dengan hal-hal seperti pembaktian, perencanaan, taktik-taktik atau perilaku
yang membutuhkan kemampuan-kemampuan khusus, yang memerlukan kesadaran
dan kecerdasan berkat adanya "insting". Namun tentu saja pernyataan demikian
saja tidaklah cukup. Selain membuat pernyataaan tersebut, mereka juga
harus memberikan jawaban terhadap pertanyaan seperti bagaimana perilaku
ini pertama kali muncul, bagaimana hal ini diturunkan dari generasi ke
generasi, dan bagaimana konsep "insting" mampu memberikan kesadaran dan
kecerdasan kepada mahluk-mahluk hidup. Kaum evolusionis sama sekali tidak
memiliki jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini. Seorang pakar ilmu
genetika evolusionis, Rattray Taylor, mengatakan hal berikut ini tentang
insting:
Saat kami bertanya kepada diri
sendiri bagaimana pola perilaku instingtif muncul pertama kali dan kemudian
diwariskan secara tetap, kami tidak mendapatkan jawabannya.2
Evolusionis lain mengatakan bahwa perilaku mahluk-mahluk
hidup tidak lah berlandaskan pada insting melainkan pada pemrograman genetika.
Namun, dalam hal ini mereka harus menjelaskan siapa yang menuliskan program
tersebut serta memasangkannya pada mahluk-mahluk hidup. Kaum evolusionis
tidak mampu menjelaskannya. Sebagai sumber penggagas teori evolusi, Charles
Darwin sendiri mengakui dilema mereka dengan kata-kata berikut ini:
Kekaguman terhadap insting lebah
yang mampu membuat sel-sel sarangnya mungkin dialami juga oleh para pembaca,
sebagai hal pelik yang memadai untuk meruntuhkan teori saya secara keseluruhan.3
Jelaslah bahwa konsep semacam "insting" sama
sekali tidak memadai untuk menerangkan perilaku sadar dari mahluk-mahluk
hidup. Tentu saja ada sebuah kekuatan yang memrogram mahluk-mahluk hidup,
dan mengajari mereka harus berbuat apa. Namun ini bukan berasal dari "Induk
Alam" seperti yang mereka sebut, atau dari mahluk hidup itu sendiri, yang
membela masa mudanya dengan seluruh hidupnya sendiri, atau yang datang
kembali untuk mengelabui musuh dengan berbagai taktik untuk menyelamatkan
kehidupan anggota grupnya sendiri.
Kekuatan yang memberi mereka semua karakteristik
ini, yang menciptakan perilaku cerdas mereka dan yang menciptakan gerakan-gerakan
bertujuan ini adalah kekuatan Tuhan. Tuhan adalah satu-satunya penguasa
kecerdasan, yang dapat kita saksikan dalam berbagai mahluk hidup di alam
dalam jumlah yang tidak terhitung. Tuhan lah yang mengilhami mahluk-mahluk
hidup untuk melakukan apa yang mereka perbuat.
Mustahil sekali untuk menjelaskan perilaku mahluk
hidup manapun dengan menggunakan asas kebetulan, atau dengan mekanisme
lain atau dengan konsep lain yang menarik. Pernyataan-pernyataan semacam
ini tidak lebih dari sebuah penipuan. Semua ini dinyatakan dalam salah
satu ayat-ayatNya:
Katakanlah: 'Pernahkah engkau melihat sekutu-sekutumu
yang kamu seru selain Allah? Tunjukkanlah kepadaku bagian dari bumi yang
telah diciptakannya; ataukah mereka memiliki andil dalam penciptaan langit?'
Adakah Kami memberi kepada mereka sebuah kitab sehingga mereka mendapat
tanda-tanda yang jelas yang dapat diikutinya? Sama sekali tidak! Sungguh
orang-orang yang zalim itu sebahagian dari mereka tidak menjanjikan kepada
sebahagian lainnya selain tipuan belaka. (Surah Fatir: 40)
Mahluk hidup yang menjadi pokok bahasan buku ini, yakni laba-laba,
pola-pola perilakunya dan mekanisme tanpa cacat yang dimilikinya, merupakan
salah satu yang menyingkapkan kebohongan teori evolusi, atau lebih tegasnya
"meruntuhkan teori evolusi". Halaman-halaman berikut akan menunjukkan
salah satu dari keajaiban ciptaan Tuhan yang tak terhitung banyaknya,
yakni keajaiban laba-laba. Bersamaan dengan itu, uraian di dalamnya lagi-lagi
akan menunjukkan bahwa teori evolusi yang berlandaskan konsep kebetulan
sangat tidak berdaya dan menggelikan.
Mungkin ada pembaca yang berpikir bahwa pokok
bahasan buku ini tidak begitu menarik. Mereka mungkin berpendapat bahwa
buku tentang serangga kecil tidak akan ada artinya bagi mereka. Lagi pula,
kesibukan sehari-hari merintangi mereka untuk membaca buku semacam ini.
Namun di sisi lain, pembaca yang sama mungkin
berpendapat bahwa buku riset ekonomi atau politik, atau sebuah novel,
lebih menarik dan lebih "bermanfaat" bagi mereka. Atau buku-buku lain
malah lebih menarik lagi. Padahal sebenarnya, buku di tangan pembaca ini
jauh lebih "bermanfaat" di banding buku-buku tersebut, bahkan menyajikan
lebih banyak hal. Karena buku ini bukan sekedar sebuah teks biologi yang
mengulas informasi rinci mengenai hewan kecil yang disebut laba-laba.
Pokok bahasannya memang laba-laba, namun yang terpenting adalah hakikat
kehidupan yang diungkapkan dan pesan yang dibawanya.
Ibarat sebuah anak kunci Sebagai benda yang
berdiri sendiri, anak kunci sama sekali tidak lah penting. Jika Anda berikan
kepada seseorang yang belum pernah melihatnya, dan tidak mengetahui hubungan
antara anak kunci dan lubang-kunci, benda tersebut akan dianggapnya sebagai
logam yang tak berarti dan tak berguna. Pada fungsi yang sebenarnya, bergantung
pada apa yang ada di balik pintu, sebuah anak kunci bisa menjadi benda
paling berharga di dunia.
Buku ini tidak ditulis semata-mata untuk membicarakan
tentang laba-laba. Isi bahasannya akan digunakan sebagai "anak-kunci".
Karena dengan anak kunci inilah pintu realitas akan terbuka. Di balik
pintu ini, Anda akan menemukan kebenaran teragung di sepanjang hayat.
Buku ini akan menunjukkan betapa tidak berdasarnya teori evolusi yang
dikemukakan oleh mereka yang ingin menyangkal kebenaran. Buku ini juga
memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyan yang diajukan sejak permulaan
sejarah. Jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti
"Siapa aku ini?", "Bagaimana jagat raya dan aku diciptakan?", dan "Apa
tujuan serta arti dari kehidupan ini?" merupakan realitas di balik pintu
ini.
Jawabannya adalah: manusia, dan jagat raya yang
dihuninya, diciptakan hingga ke bagian yang terkecilnya oleh Sang Pencipta,
dan mereka ada untuk menunjukkan keberadaanNya serta untuk menyembahNya.
Sang Pencipta itu, yang tak memiliki cacat dan kelemahan sedikitpun serta
tidak terbatas kekuasaannya, adalah Tuhan. Seperti telah dinyatakan dalam
Al-Qur'an, alasan utama keberadaan manusia adalah agar memperhatikan tindak-lakunya
[?] serta penciptaan jagat raya, dan untuk mengabdi kepada Tuhan, Penguasa
seluruh alam.
Untuk memahami hal ini perlu ikhtiar. Sebagiannya
dengan melakukan pengamatan terhadap segala sesuatu yang ada, merenungkannya,
dan berusaha menangkap pesan di dalamnya. Karena segala sesuatu yang ada,
dan khususnya setiap mahluk hidup di alam, merupakan tanda keberadaan
Tuhan dan menjadi saksi atas keberadaanNya.
Tuhan mengajak kita merenungkan ayat Qur'an
berikut ini, yang disampaikanNya untuk menunjukkan jalan yang benar kepada
manusia yang diciptakanNya:
Dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian
malam dan siang, dan bahtera yang berlayar di lautan untuk kemaslahatan
manusia, dan air yang dikirimkan Tuhan dari langit - yang dengannya dihidupkanNya
bumi sesudah mati (kering) dan disebarkanNya berbagai jenis mahluk - dan
angin serta awan yang bergerak dengan patuhnya ke berbagai arah di antara
langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda bagi mereka yang menggunakan
akalnya. (Surat al-Baqarah: 164)
“Dan Kami tidak menciptakan langit
dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami
tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan
mereka tidak mengetahui.”
(QS. Ad Dhukhaan, 44: 38-39) !
Jika diperhatikan, pernyataan ayat Qur'an di
atas nampak sebagai peristiwa yang sangat biasa bagi kebanyakan orang.
Pergantian malam dan siang, bahtera yang terapung bukannya tenggelam,
hujan yang memberi kehidupan kepada tanah, pergerakan angin dan awan
Manusia moderen berpendapat bahwa semuanya ini dapat dijelaskan dengan
sains dan dengan menggunakan logika mekanis. Karenanya, dia berpendapat
bahwa semuanya itu tidak mengherankan sedikitpun. Namun demikian, sains
hanya membahas kebenaran-kebenaran material semata, dan tak pernah mampu
memberikan jawaban terhadap pertanyaan "Mengapa?". Kondisi jahiliyah yang
menyebar karena dominasi tatanan sosial tak beragama lah yang menghalangi
orang untuk memperhatikan ayat-ayat ini, serta untuk memahami makna lain
di baliknya. Sungguh, Qur'an sendiri mengatakan bahwa hakikat ayat-ayat
tersebut hanya dapat difahami oleh "orang-orang yang berpikir".
Bagi "orang yang berpikir", setiap bagian alam
merupakan sebuah tanda/ayat, atau dengan kata lain sebagai sebuah kunci
bagi pintu kebenaran. Karena alam dapat dibagi kedalam bagian yang lebih
kecil secara tak berhingga, maka jumlah pintu dan kunci pun menjadi tak
berhingga pula. Namun membuka satu pintu saja terkadang cukup bagi seseorang
untuk sampai kepada kebenaran. Dengan hanya mengambil satu bagian dari
alam, misalnya, satu tumbuhan atau seekor hewan, akan membimbing pencari-kebenaran
kepada pemahaman terhadap seluruh jagat raya. Untuk alasan inilah Tuhan
menyatakan di dalam Qur'an bahwa "Tuhan tidak malu untuk membuat perumpamaan
dengan seekor nyamuk atau yang lebih rendah dari itu", karena "bagi mereka
yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu adalah kebenaran dari
Tuhan mereka." (Surat Al-Baqarah:26)
Mahluk yang begitu kecil seperti nyamuk, juga
laba-laba, disebut-sebut dalam ayat-ayat Tuhan. Namun seperti halnya terhadap
nyamuk, orang-orang pada umumnya menganggap bahwa laba-laba bukan sesuatu
hal yang penting. Hanya "orang-orang yang berpikir" saja yang dapat melihat
keajaiban yang disampaikan ayat-ayat ini. Hewan-hewan kecil ini dapat
dilihat sebagai kunci, yang dapat membuka pintu untuk melihat kesempurnaan
ciptaan Tuhan. Buku ini akan menguraikan tentang karakteristik laba-laba
yang menakjubkan dan luarbiasa, yang hanya diketahui oleh sedikit orang.
Dalam uaraiannya, akan dibahas pula pertanyaan "bagaimana?" dan "mengapa?"-nya
untuk menyingkap pintu kebenaran tersebut. Untuk alasan ini saja, buku
ini menjadi lebih berarti dibanding kebanyakan buku yang telah Anda baca.
Karena bagi manusia, menjadi salah satu dari "orang-orang yang berpikir"
adalah lebih penting dibanding hal lainnya.
Dan Dia lah yang membuat segala yang di
langit dan segala yang di bumi tunduk kepadamu. Itu semua dari Dia. Sungguh
pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasan Tuhan) bagi orang-orang
yang berpikir. (Surat Al-Jasiyah: 13)
1. Richard Dawkins,
Climbing Mount Improbable, W.W. Norton & Company,1996, p. 4 2.Gordon Rattray Taylor, The Great Evolution Mystery,
Harper and Row Publishers, 1983, p.222 3. Charles Darwin, The Origin of Species: A Facsimile
of the First Edition, Harvard University Press, 1964, p. 233
Versi online dari buku-buku Harun Yahya yang telah diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia sedang dalam persiapan.
Untuk sementara Anda dapat mengunjungi halaman Download
untuk mendownload versi teks atau pdf yang tersedia dari buku-buku tersebut