< <
4 / total: 19

Asal Usul Spesies Yang Sebenarnya

Ketika buku The Origin of Species Darwin terbit pada tahun 1859, dipercayai bahwa ia telah mengajukan sebuah teori yang dapat menjelaskan keanekaragaman luar biasa pada makhluk hidup. ia telah mengamati bahwa terdapat berbagai keragaman dalam satu spesies. Sebagai contoh, ketika berkeliling pasar ternak di Inggris, ia memperhatikan bahwa terdapat banyak ras sapi yang berbeda-beda, dan bahwa para peternak sapi tersebut memilih dan mengawinkan mereka sehingga menghasilkan ras baru. Mengambil contoh ini sebagai dasar, ia meneruskannya dengan penalaran bahwa "makhluk hidup secara alamiah dapat bervariasi dengan sendirinya," yang berarti bahwa dalam jangka waktu yang lama semua makhluk hidup bisa jadi berasal dari satu nenek moyang yang sama.

Namun, anggapan Darwin tentang "asal usul spesies" ini pada kenyataanya tidak mampu menjelaskan asal usul mereka sama sekali. Berkat perkembangan ilmu genetika, sekarang telah dipahami bahwa peningkatan keanekaragaman dalam satu spesies tidak akan pernah menuntun kepada kemunculan spesies baru. Apa yang diyakini Darwin sebagai "evolusi", sebenarnya adalah "variasi (keragaman)".

Makna Variasi

Variasi, sebuah istilah yang digunakan dalam genetika, berarti sebuah peristiwa genetik yang menyebabkan individu atau kelompok dari satu jenis atau spesies memiliki ciri yang berbeda satu sama lain. Misalnya, semua manusia di bumi pada dasarnya membawa informasi genetik yang sama, namun sebagian bermata sipit, sebagian berambut merah, sebagian berhidung mancung, dan sebagian lain bertubuh pendek, semua tergantung dari seberapa besar potensi keragaman dari informasi genetik ini.

Variasi bukan merupakan bukti bagi evolusi karena variasi tidak lain hanyalah perwujudan dari berbagai kombinasi dari informasi genetik yang telah ada, dan variasi tidak menambahkan ciri baru apapun pada informasi genetik tersebut. Kemudian, pertanyaan penting bagi teori evolusi adalah bagaimana informasi yang benar-benar baru dapat muncul untuk menghasilkan spesies yang baru pula.

Variasi selalu terjadi dalam batas informasi genetik [yang ada]. Dalam ilmu genetika, batasan ini disebut "koleksi gen." Semua sifat yang ada dalam koleksi gen suatu spesies mungkin akan muncul dalam berbagai bentuk karena variasi. Sebagai contoh, sebagai akibat dari variasi, jenis dengan ekor yang lebih panjang atau kaki lebih pendek mungkin akan muncul pada suatu spesies reptilia, karena informasi bagi kedua bentuk kaki-panjang dan kaki-pendek ada dalam kumpulan gen spesies tersebut. Akan tetapi, variasi tidak merubah reptilia menjadi burung dengan menambahkan sayap atau bulu pada mereka, atau dengan merubah metabolisme mereka. Perubahan seperti itu memerlukan penambahan pada informasi genetik makhluk hdup, yang tentunya tidak mungkin terjadi melalui variasi.

Darwin tidak menyadari kenyataan ini ketika ia merumuskan teorinya. Dia berpikir bahwa tidak ada batasan dalam variasi. Dalam sebuah makalah yang ditulisnya pada tahun 1844, ia menyatakan: "Adanya batasan dalam variasi di alam adalah anggapan dari sebagian besar penulis, namun saya tidak bisa menemukan satu kenyataan pun yang mendasari keyakinan ini."28 Dalam The Origin of Species ia menyebutkan berbagai contoh variasi sebagai bukti paling penting bagi teorinya.

Misalnya, menurut Darwin, para peternak yang mengawinkan berbagai ras sapi untuk menghasilkan ras baru yang menghasilkan susu lebih banyak, pada akhirnya akan mengubah mereka menjadi spesies yang berbeda. Gagasan Darwin tentang "variasi tak terbatas" sangat jelas terlihat pada kalimat dari The Origin of Species berikut ini:

Saya tidak melihat adanya masalah pada [gagasan tentang] suatu ras beruang yang berubah, oleh seleksi alam, menjadi lebih [cocok hidup di] laut dalam bentuk dan perilaku mereka, dengan mulut yang semakin melebar, sampai dihasilkan suatu makhluk sebesar paus.29

Alasan mengapa Darwin mengambil contoh yang tidak masuk akal ini adalah karena pemahaman ilmu pengetahuan yang masih kuno pada masanya. Setelah itu, pada abad ke-20, ilmu pengetahuan telah mengajukan prinsip "kestabilan genetik" (homeostasis genetik), berdasarkan hasil percobaan terhadap makhluk hidup. Prinsip ini menyatakan bahwa, karena semua usaha pengawinan untuk mengubah suatu spesies menjadi spesies lain tidak berhasil, terdapat batas tegas antar berbagai spesies makhluk hidup. Ini berarti mustahil bagi peternak untuk mengubah sapi menjadi spesies lain dengan mengawinkan ras-ras yang berbeda di antara mereka, sebagaimana dirumuskan Darwin.

Norman Macbeth, yang menyanggah Darwinisme dalam bukunya Darwin Retried, menyatakan:

Inti permasalahannya adalah apakah makhluk hidup sungguh [mampu] berubah hingga tingkat tak terbatas… Spesies terlihat tetap. Kita semua telah mendengar kekecewaan pemulia yang telah bekerja keras hanya untuk mendapatkan hewan atau tumbuhannya kembali ke bentuk seperti di awal kerja mereka. Meskipun ada usaha keras selama dua atau tiga abad, tetap belum mungkin menghasilkan mawar berwarna biru atau tulip berwarna hitam.30

Luther Burbank, salah seorang pemulia paling ahli, menggambarkan kenyataan ini ketika ia berkata, "terdapat batasan untuk kemungkinan pengembangan, dan batasan ini mengikuti hukum tertentu."31 Dalam artikelnya berjudul "Some Biological Problems with the Natural Selection Theory (Beberapa Masalah Biologis atas Teori Seleksi Alam)," Jerry Bergman berkomentar dengan mengutip ahli biologi Edward Deevey yang menjelaskan bahwa variasi selalu terjadi dalam batas genetik yang tegas:

Deevey menyimpulkan, "Hal-hal luar biasa telah dihasilkan melalui "kawin silang"… tetapi gandum tetaplah gandum, dan bukan anggur, misalnya. Kita tidak mungkin menumbuhkan sayap pada babi sebagaimana juga membuat telur ayam seperti pipa." Contoh yang lebih baru adalah pertambahan rata-rata pada tinggi badan laki-laki yang telah terjadi sejak abad yang lalu. Melalui perawatan kesehatan yang lebih baik (dan mungkin juga seleksi seksual, karena beberapa wanita lebih menyukai pria tinggi sebagai pasangannya) laki-laki telah mencapai catatan tinggi badan dewasa tertinggi selama satu abad terakhir, tetapi pertambahan ini dengan cepat menghilang, menunjukkan bahwa kita telah mencapai batasan kita.32

Singkatnya, variasi hanya membawa perubahan yang tetap dalam batasan informasi genetik suatu spesies; mereka tidak pernah bisa menambahkan suatu data genetik baru kedalamnya. Untuk alasan ini, tidak ada variasi yang bisa dianggap sebagai contoh evolusi. Tidak peduli berapa sering Anda mengawinkan ras anjing atau kuda yang berbeda, hasil akhinya akan tetap anjing atau kuda, tanpa kemunculan spesies baru. Ilmuwan Denmark, W.L. Johansen, menyimpulkan permasalahan ini sebagai berikut:

Variasi yang ditekankan oleh Darwin dan Wallace tidak bisa secara selektif dipaksakan melampaui titik tertentu, dan variasi semacam ini tidak mengandung rahasia dari 'keberangkatan [menjadi spesies] mana saja.33

Pengakuan Tentang "Evolusi Mikro"

Seperti yang telah kita lihat, ilmu genetika telah menemukan bahwa variasi, yang pikir Darwin bisa menjelaskan "asal usul spesies", sebenarnya tidak seperti itu. Untuk alasan ini, ahli biologi evolusi dipaksa untuk memisahkan antara variasi dalam spesies dan pembentukan spesies baru, dan untuk mengajukan dua gagasan berbeda untuk hal yang berbeda ini. Keanekaragaman dalam satu spesies—yaitu, variasi—mereka sebut "evolusi mikro" dan hipotesis untuk perkembangan spesies baru disebut "evolusi makro."

Dua gagasan ini telah ada dalam buku biologi sejak lama. Tetapi, sebenarnya terdapat pengelabuan di sini, karena contoh variasi yang disebut sebagai "evolusi mikro" oleh ahli biologi evolusi sebenarnya tidak ada hubungannya dengan teori evolusi. Teori evolusi mengutarakan bahwa makhluk hidup bisa berkembang dan memperoleh data genetik baru melalui mekanisme mutasi dan seleksi alam. Namun, seperti yang baru saja kita lihat, variasi tidak pernah menciptkan informasi genetik baru, dan jadinya tidak bisa menyebabkan terjadinya "evolusi". Memberi nama variasi sebagai "evolusi mikro" sebenarnya hanyalah kecenderungan ideologis dari sebagian penganut biologi evolusi.

Kesan yang diberikan kaum biologi evolusi dengan menggunakan istilah "evolusi mikro" adalah penalaran salah: bahwa sejalan dengan waktu variasi dapat membentuk kelompok makhluk hidup baru. Dan banyak orang yang belum tercerahkan tentang hal tersebut berpikir dangkal bahwa "sejalan dengan perkembangannya, evolusi mikro bisa berubah menjadi evolusi makro." Kita seringkali melihat contoh pemikiran seperti itu. Beberapa evolusionis "amatir" mengajukan contoh penalaran semacam itu sebagai berikut: karena tinggi rata-rata manusia bertambah sekitar 2 sentimeter hanya dalam satu abad, ini berarti bahwa selama jutaan tahun bentuk evolusi apa saja bisa terjadi. Akan tetapi, seperti yang telah ditunjukkan di atas, semua variasi semacam perubahan tinggi rata-rata terjadi pada batasan genetik tertentu, dan merupakan kecenderungan yang tak berhubungan sama sekali dengan evolusi.

Kenyataannya, saat ini bahkan para pakar evolusionis pun menerima bahwa variasi yang mereka sebut "evolusi mikro" tidak bisa membawa kepada terbentuknya kelompok baru makhluk hidup—dengan kata lain, kepada "evolusi makro". Pada artikel tahun 1996 dalam Jurnal terkemuka Developmental Biology, ahli biologi evolusi S.F. Gilbert, J.M. Optiz, dan R.A. Raff menjelaskan permasalahan ini sebagai berikut:

[Teori] Sintesa Modern adalah pencapaian yang mengagumkan. Akan tetapi, dimulai sejak tahun 1970-an, banyak ahli biologi mulai mempertanyakan kelengkapan informasi ini dalam menjelaskan evolusi. Genetika mungkin memadai untuk menjelaskan evolusi mikro, tetapi perubahan melalui evolusi mikro pada frekuensi gen tidak terlihat mampu merubah reptilia menjadi mamalia atau untuk merubah ikan menjadi amfibia. Evolusi mikro melihat pada penyesuaian diri yang berhubungan dengan kelangsungan hidup [spesies] yang paling cocok, bukan kemunculan yang paling cocok. Seperti yang dikatakan Goodwin, "asal usul spesies—permasalahan Darwin—tetap tidak terpecahkan."34

Kenyataan bahwa "evolusi mikro" tidak bisa menghantarkan kita ke "evolusi makro", atau dengan kata lain bahwa variasi tidak memberikan penjelasan bagi asal usul spesies, telah diterima juga oleh ahli biologi evolusi lainnya. Seorang penulis terkenal sekaligus pakar ilmu pengetahuan, Roger Lewin, menggambarkan hasil dari simposium empat hari di Chicago Museum of Natural History pada November 1980, yang dihadiri oleh 150 evolusionis:

Pertanyaan utama dalam konferensi di Chicago itu adalah apakah mekanisme yang menyebabkan evolusi mikro dapat dipakai untuk menjelaskan fenomena evolusi makro.. Jawabannya dapat diberikan dengan sangat jelas, Tidak.35

Kita dapat meringkas permasalahan ini sebagai berikut: Variasi, yang dilihat Darwin sebagai "bukti evolusi" selama beberapa ratus tahun, sebenarnya tidak memiliki hubungan sama sekali dengan "asal usul spesies." Sapi bisa dikawinkan satu sama lain selama jutaan tahun, dan ras sapi yang berbeda mungkin muncul. Tetapi sapi tidak akan pernah berubah menjadi spesies yang berbeda—misalnya jerapah atau gajah. Dengan cara yang sama, perbedaan yang terdapat pada burung pipit yang dilihat Darwin di kepulauan Galapagos adalah contoh lain dari variasi yang bukan merupakan bukti bagi "evolusi." Penelitian terbaru telah mengungkapkan bahwa burung pipit ini tidak mengalami variasi tanpa batas seperti yang diajukan teori Darwin. Lebih jauh lagi, kebanyakan dari berbagai burung finch yang menurut Darwin mewakili 14 spesies yang berbeda sebenarnya [mampu] kawin satu sama lain, yang berarti bahwa mereka hanyalah variasi dari satu spesies yang sama. Pengamatan ilmiah menunjukkan bahwa paruh burung pipit, yang telah melegenda dalam hampir semua sumber evolusionis, pada kenyataannya adalah satu contoh dari "variasi"; karenanya hal ini bukanlah merupakan bukti bagi teori evolusi. Sebagai contoh, Peter dan Rosemary Grant, yang menghabiskan waktu bertahun-tahun mengamati keanekaragaman burung pipit di kepulauan Galapagos untuk mencari bukti bagi evolusi Darwin, terpaksa menyimpulkan bahwa "populasi ini, dihadapkan pada seleksi alam, berayun maju mundur," sebuah kenyataan yang secara tidak langsung menunjukkan tidak ada "evolusi" yang membawa pada kemunculan sifat-sifat baru yang pernah terjadi.36

Jadi untuk alasan ini, evolusionis masih belum bisa memecahkan permasalahan Darwin tentang "asal usul spesies".

gaga

Paruh-paruh kutilang (finch) yang diamati Darwin di Kepulauan Galapagos dan disangkanya sebagai petunjuk bagi teorinya, sebenarnya sebuah contoh keanekaragaman genetis, bukan petunjuk evolusi makro.

Asal-Usul Spesies Dalam Rekaman Fosil

Pernyataan evolusionis adalah bahwa setiap spesies di bumi berasal dari satu nenek moyang yang sama melalui perubahan sedikit demi sedikit. Dengan kata lain, teori ini menganggap kehidupan sebagai sebuah peristiwa yang berkelanjutan, tanpa ada pengelompokan tetap atau yang telah ditentukan sebelumnya. Akan tetapi, pengamatan di alam dengan jelas tidak mengungkap gambaran berkelanjutan semacam itu. Apa yang muncul dari dunia kehidupan adalah bahwa bentuk kehidupan benar-benar terpisah dalam kelompok-kelompok yang benar-benar berbeda. Robert Carrol, seorang evolusionis yang berpengaruh, mengakui kenyataan ini dalam bukunya Patterns and Processes of Vertebrate Evolution (Pola dan Proses Evolusi Vertebrata):

Walaupun jumlah spesies yang hidup di bumi saat ini hampir tidak bisa dibayangkan, mereka tidak membentuk sebuah rantai dengan sambungan yang hampir tidak bisa dibedakan. Malahan, hampir semua spesies bisa dikenali sebagai anggota kelompok-kelompok besar yang sangat berbeda dan terbatas jumlahnya, sangat sedikit yang menggambarkan bentuk atau cara hidup peralihan.37

Oleh karena itu, evolusionis beranggapan bahwa bentuk kehidupan "peralihan" yang menjadi penghubung antar makhluk hidup pernah hidup di masa lalu. Inilah sebabnya mengapa disadari bahwa ilmu pengetahuan dasar yang bisa memecahkan persoalan ini adalah paleontologi, ilmu yang mempelajari fosil-fosil. Evolusi dikatakan sebagai sebuah proses yang terjadi di masa lalu, dan satu-satunya sumber ilmiah yang bisa memberi kita informasi tentang sejarah kehidupan hanyalah penemuan fosil. Berkenaan dengan hal ini, ahli paleontologi Perancis, Pierre-Paul Grasse, berkata:

Para Naturalis harus ingat bahwa proses evolusi hanya terungkap melalui bentukan fosil… hanya paleontologi yang bisa menyediakan bukti evolusi bagi mereka dan mengungkap tata cara atau jalannya.38

Supaya rekaman fosil bisa memperjelas persoalan ini, kita hendaknya membandingkan hipotesis teori evolusi dengan temuan-temuan fosil.

fosil-aramak

Cabang ilmu pengetahuan terpenting untuk menerangkan asal usul kehidupan di bumi adalah paleontologi atau ilmu fosil. Lapisan-lapisan fosil, yang telah dipelajari dengan ketekunan tinggi selama sekurang-kurang 200 tahun terakhir, menyingkapkan gambaran yang berbeda sama sekali dengan teori Darwin. Spesies muncul tidak melalui himpunan perubahan-perubahan kecil, melakukan tiba-tiba dan terbentuk sempurna.

Menurut teori evolusi, setiap spesies muncul dari satu pendahulu. Satu spesies yang telah ada sebelumnya berubah menjadi spesies lain sejalan dengan waktu, dan semua spesies telah mewujud dengan cara ini. Menurut teori ini, perubahan bentuk ini berlangsung secara bertahap selama jutaan tahun.

Jika demikian kejadiannya, maka seharusnya telah hidup spesies peralihan yang tak terhitung jumlahnya selama masa panjang ketika perubahan bentuk ini dianggap sedang berlangsung. Sebagai contoh, seharusnya telah hidup di masa lalu makhluk setengah ikan-setengah reptilia yang yang telah memperoleh beberapa ciri reptilia sebagai tambahan atas ciri ikan yang telah mereka miliki. Atau seharusnya telah hidup makhluk reptilia-burung, yang telah memperoleh ciri burung sebagai tambahan atas ciri reptilia yang telah mereka miliki. Evolusionis menyebut makhluk khayalan ini, yang mereka percaya pernah hidup di masa lampau, sebagai "bentuk-bentuk peralihan."

Jika hewan semacam itu benar-benar ada, seharusnya terdapat jutaan, bahkan milyaran, dari mereka. Lebih penting lagi, sisa-sisa dari makhluk khayalan ini seharusnya ada dalam rekaman fosil. Jumlah bentuk peralihan ini seharusnya lebih besar daripada spesies yang ada, dan sisa-sisa mereka seharusnya ditemukan di seluruh penjuru dunia. Dalam The Origin of Species, Darwin menerima kenyataan ini dan menjelaskan:

Jika teori saya benar, pasti pernah terdapat jenis-jenis peralihan yang tak terhitung jumlahnya, yang mengaitkan semua spesies dari kelompok yang sama… Sudah tentu bukti keberadaan mereka di masa lalu hanya dapat ditemukan pada peninggalan fosil."39

Bahkan Darwin sendiri menyadari ketiadaan bentuk-bentuk peralihan tersebut. Ia berharap mereka akan ditemukan di masa mendatang. Di balik harapan besarnya, ia sadar bahwa ketiadaan bentuk peralihan ini adalah rintangan utama bagi teorinya. Itulah mengapa dalam buku The Origin of Species, pada bab "Difficulties of The Theory" ia menulis:

… Mengapa, jika suatu spesies memang berasal dari spesies lain melalui perubahan sedikit demi sedikit, kita tidak melihat sejumlah besar bentuk peralihan di manapun? Mengapa semua makhluk tidak dalam keadaan [pengelompokan yang] membingungkan, tetapi justru seperti yang kita lihat, spesies berada dalam bentuk-bentuk tertentu yang jelas?...Tetapi menurut teori ini bentuk peralihan yang tak terhitung jumlahnya seharusnya ada, mengapa kita tak menemukan mereka dalam jumlah yang tak terhitung terkubur dalam kerak bumi?... Dan pada daerah peralihan, yang memiliki lingkungan hidup peralihan, mengapa sekarang tidak kita temukan jenis-jenis peralihan yang saling berhubungan erat? Permasalahan ini, telah lama, sangat membingungkan saya.40

Satu-satunya penjelasan yang dapat diajukan Darwin untuk menghadapi keberatan ini adalah bahwa rekaman fosil saat ini belum lengkap. Ia menyatakan bahwa ketika rekaman fosil telah dipelajari secara teliti, mata rantai yang hilang akan ditemukan.

Pertanyaan Tentang Bentuk Peralihan Dan Stasis

Mempercayai ramalan Darwin, para ahli paleontologi evolusi telah menggali fosil-fosil dan mencari mata rantai yang hilang ini diseluruh dunia sejak pertengahan abad ke-19. Meskipun dengan upaya terbaik mereka, belum ada bentuk peralihan yang ditemukan. Bertentangan dengan kepercayaan evolusionis, semua fosil yang ditemukan dalam penggalian menunjukkan bahwa kehidupan muncul di bumi secara tiba-tiba dan dalam bentuk lengkap.

Robert Carrol, seorang pakar paleontologi vertebrata yang juga seorang evolusionis, memberikan pengakuan bahwa harapan Darwinis tidak terpuaskan dengan penemuan fosil:

Meski ada upaya keras mengumpulkan [fosil] lebih dari seratus tahun sejak masa kematian Darwin, rekaman fosil masih belum menghasilkan gambaran adanya bentuk-bentuk peralihan tak terkira jumlahnya yang ia harapkan.41

Ahli paleontologi yang lain, K. S. Thomson, menyatakan bahwa kelompok baru organisme muncul dengan sangat tiba-tiba dalam rekaman fosil:

Ketika sebuah kelompok besar organisme muncul dan muncul pertama kali dalam rekaman fosil, ia terlihat muncul lengkap dengan sejumlah sifat-sifat baru yang tidak terlihat pada kelompok terkait, yang diduga sebagai pendahulunya. Perubahan besar dan cepat dalam bentuk dan fungsi ini sepertinya muncul dengan sangat cepat…42

Ahli biologi Francis Hitching, dalam bukunya The Neck of the Giraffe: Where Darwin Went Wrong (Leher Jerapah: Tempat Darwin Melakukan Kesalahan), menyatakan:

Jika kita menemukan fosil, dan jika teori Darwin benar, kita bisa memperkirakan apa yang seharusnya terkandung di bebatuan; fosil-fosil yang menunjukkan perubahan bertahap dari satu kelompok makhluk hidup ke yang lain dengan tingkat kerumitan lebih tinggi. "Perubahan kecil" dari generasi ke generasi seharusnya dapat terfosilkan juga sebagaimana spesies itu sendiri. Akan tetapi, sepertinya bukan ini yang terjadi. Kenyataannya, kebalikannyalah yang benar, sebagaimana dikeluhkan Darwin; "Bentuk peralihan yang tak terhitung jumlahnya seharusnya ada, mengapa kita tak menemukan mereka dalam jumlah yang tak terhitung terkubur dalam kerak bumi?" Darwin merasa bahwa "ketidaksempurnaan nyata" rekaman fosil hanyalah masalah penggalian lebih banyak fosil. Tetapi setelah semakin banyak fosil tergali, terlihatlah bahwa hampir semuanya, tanpa pengecualian, sangat mirip dengan binatang yang hidup sekarang.43

Rekaman fosil mengungkap bahwa spesies muncul secara tiba-tiba, dan dengan bentukan yang sama sekali berbeda, dan tetap tak berubah dalam masa geologis terpanjang. Stephen Jay Gould, seorang ahli paleontologi di Harvard University dan evolusionis terkemuka, mengakui kenyataan ini pada akhir 70-an:

Sejarah dari hampir semua fosil spesies mempunyai dua ciri yang tidak bersesuaian dengan perubahan bertahap: 1) Stasis – sebagian besar spesies menunjukkan tidak adanya perubahan terarah selama masa hidup mereka di bumi. Mereka muncul dalam rekaman fosil dengan penampakan sangat mirip dengan ketika mereka menghilang; perubahan bentuk biasanya terbatas dan tidak terarah; 2) Kemunculan tiba-tiba – dalam setiap daerah kecil, suatu spesies tidak muncul secara bertahap melalui perubahan kecil terus-menerus dari pendahulunya; mereka muncul begitu saja dan dengan "bentuk yang sempurna."44

Penelitan lebih jauh hanya memperkuat kenyataan stasis dan kemunculan tiba-tiba ini. Stephen Jay Gould dan Niles Eldredge pada tahun 1993 menulis bahwa "sebagian besar spesies, selama sejarah geologis mereka, tidak mengalami perubahan yang berarti, atau jika tidak, mereka mengalami sedikit perubahan dalam bentuk, tanpa arah yang jelas."45 Robert Carrol pada tahun 1997 terpaksa menyetujui bahwa "sebagian besar kelompok utama sepertinya muncul dan menjadi beragam dalam masa geologis yang sangat pendek, dan tetap ada selama masa yang jauh lebih lama tanpa perubahan bentuk atau kelompok yang berarti."46

Pada titik ini, perlu diperjelas apa sebenarnya makna dari gagasan "bentuk peralihan" ini. Bentuk antara yang diharapkan oleh teori evolusi adalah makhluk hidup yang berada di antara dua spesies, tetapi memiliki organ yang kurang sempurna atau setengah berkembang. Namun kadang kala gagasan bentuk antara ini salah dipahami, dan makhluk hidup yang tidak memiliki ciri dari bentuk peralihan malah diperlihatkan memiliki ciri seperti itu. Sebagai contoh, jika satu kelompok makhluk hidup memiliki ciri-ciri yang dimiliki oleh yang lain, ini bukanlah ciri bentuk antara. Platipus, mamalia yang hidup di Australia, berkembang biak dengan bertelur seperti reptilia. Sebagai tambahan, ia memiliki paruh seperti bebek. Para ilmuwan menggambarkan makhluk seperti platipus ini sebagai "makhluk mosaik." Bahwa makhluk mosaik bukanlah bentuk antara juga diterima oleh ahli paleontologi terkemuka seperti Stephen Jay Gould dan Niles Eldredge.47

Kemacetan Dalam Catatan Fosil

Jika evolusi benar-benar terjadi, maka semua makhluk hidup seharusnya muncul lewat perubahan-perubahan bertahap dan terus berubah sepanjang waktu, padahal catatan fosil menunjukkan kenyataan yang sebaliknya. Kelompok-kelompok berbeda makhluk hidup tiba-tiba muncul tanpa moyang yang mirip sebelumnya, dan tetap demikian selama jutaan tahun, tidak mengalami perubahan apa pun.

fosil

Tiada perkembangan bertahap pada catatan fosil seperti yang diperkirakan Darwin. Spesies-spesies muncul seketika, dengan struktur khas tubuh masing-masing.

Fosil "kepiting tapal kuda" dari masa Ordovisium. Fosil yang berumur 450 juta tahun ini tak berbeda dengan spesimen yang hidup sekarang.

fosil

Fosil tiram dari Zaman Ordovisium, tak berbeda dengan tiram masa kini.
nautilus
Amonit muncul sekitar 350 juta tahun lalu dan punah 65 juta tahun lalu. Struktur yang tampak pada fosil di atas tak berubah selama 300 juta tahun.

bakteri fosilleri

Fosil bakteri berumur 1,9 juta tahun dari West Ontario, Amerika Serikat. Fosil ini berstruktur sama dengan bakteri yang hidup sekarang.

fosil

Fosil bintang laut yang berumur 100-150 juta tahun.
s

Kecukupan Bukti Dari Rekaman Fosil

Sekitar 140 tahun yang lalu Darwin mengajukan alasan berikut ini: "Saat ini tidak ada bentuk peralihan, tetapi penelitian lebih lanjut akan mengungkap keberadaannya." Apakah alasan ini masih berlaku sekarang? Dengan kata lain, mengingat kesimpulan dari semua rekaman fosil, haruskah kita menerima bahwa bentuk peralihan tidak pernah ada, atau kita harus menunggu hasil-hasil penelitian baru?

Banyaknya rekaman fosil yang ada tentunya akan bisa menjawab pertanyaan ini. Ketika kita melihat penemuan-penemuan kepurbakalaan, kita dapati fosil-fosil yang berlimpah. Milyaran fosil telah ditemukan di seluruh dunia.48 Berdasarkan fosil-fosil ini, 250,000 spesies berbeda telah dikenali, dan mereka memiliki kesamaan dengan 1,5 juta spesies yang telah dikenal yang hidup di muka bumi.49 (Dari 1,5 juta spesies ini, 1 juta-nya adalah serangga.) Meskipun sumber fosil melimpah, tidak satu pun bentuk peralihan yang telah ditemukan, dan sepertinya tidak akan ditemukan bentuk peralihan sebagai hasil dari penggalian baru.

Seorang professor paleontologi dari Glasgow University, T. Neville George, mengakui kenyataan ini beberapa tahun yang lalu:

Kita tidak perlu beralasan lebih lama lagi atas miskinnya rekaman fosil. Dalam beberapa hal ia telah sedemikian banyak sehingga sukar diatasi dan penemuannya pun melebihi pemahamannya… Meskipun demikian rekaman fosil utamanya terus terdiri atas celah-celah.50

Dan Niles Eldredge, seorang paleontologi terkemuka yang juga pekerja pada American Museum of Natural History, menggambarkan ketidakabsahan pernyataan Darwin bahwa ketidaklengkapan rekaman fosil menjadi alasan mengapa tidak ada bentuk peralihan yang telah ditemukan sebagai berikut:

Rekaman fosil berloncatan [tidak bersambungan], dan semua bukti menunjukkan bahwa rekaman fosil adalah nyata: celah yang kita lihat mencerminkan kejadian nyata dalam sejarah kehidupan – bukan jejak dari miskinnya rekaman fosil.51

<p>Sarjana Amerika yang lain, Robert Wesson, menyatakan dalam bukunya Beyond Natural Selection pada tahun 1991, bahwa “celah dalam rekaman fosil adalah nyata dan bermakna.” Ia menguraikan pernyataannya ini sebagai berikut:</p>

Namun, celah dalam rekaman fosil adalah nyata. Tak adanya rekaman dari percabangan penting sungguh luar biasa. Spesies biasanya tetap, atau hampir-hampir demikian, dalam waktu lama, spesies jarang dan genus tidak pernah menunjukkan evolusi menjadi spesies atau genus baru melainkan penggantian satu dengan yang lainnya, dan perubahan lebih kurang adalah tiba-tiba.52

Keadaan seperti ini menyanggah alasan di atas, yang telah dinyatakan oleh Darwinisme selama 140 tahun. Rekaman fosil sudah cukup lengkap bagi kita untuk memahami asal usul kehidupan, dan secara nyata mengungkap bahwa berbagai spesies muncul di bumi secara tiba-tiba, dengan segala bentuk khas mereka.

yusufçuk fosili
Fosil capung yang berumur 140 juta tahun di Bavaria, Jerman. Sama dengan capung hidup.

böcek fosili
Fosil serangga dalam ambar, berumur sekitar 170 juta tahun, ditemukan di pesisir Laut Baltik. Fosil ini tak berbeda dengan mitra masa kininya.

termit fosili
Fosil rayap di dalam ambar yang berumur 25 juta tahun. Mirip dengan rayap hidup masa kini.
karides fosili
Fosil udang yang berumur 170 juta tahun dari masa Jura. Tak berbeda dengan udang hidup.

sinek fosili
Lalat yang berumur 35 juta tahun. Berstruktur tubuh sama dengan lalat masa kini.

akrep fosili
Fosil kalajengking tertua yang diketahui, ditemukan di East Kirkton, Skotlandia. Spesies ini, dinamai Pulmonoscorpius kirktoniensis, berumur 320 juta tahun, dan tak berbeda dengan kalajengking masa kini.

Kebenaran Yang Terungkap Oleh Rekaman Fosil

Tetapi dari manakah hubungan antara "evolusi-paleontologi", yang tanpa disadari telah mengakar dalam masyarakat selama beberapa dasawarsa, sebenarnya berasal? Mengapa kebanyakan orang memiliki kesan bahwa terdapat hubungan positif antara teori Darwin dengan rekaman fosil kapan saja yang terakhir ini disebutkan? Jawaban dari pertanyaan ini tersedia dalam sebuah artikel pada jurnal terkemuka Science :

Sejumlah besar ilmuwan berpengalaman di luar biologi evolusi dan paleontologi sayangnya mempunyai bayangan bahwa rekaman fosil jauh lebih [menunjukkan] Darwinisme daripada yang sebenarnya. Hal ini mungkin datang dari penyederhanaan berlebihan yang tak terhindarkan dalam sumber-sumber kedua: buku acuan tingkat-dasar, artikel semipopuler, dan semacamnya. Juga, kemungkinan terdapat beberapa khayalan yang dimasukkan di dalamnya. Dalam tahun-tahun setelah Darwin, pendukungnya berharap menemukan kemajuan [perubahan spesies] yang teramalkan. Secara umum hal ini masih belum ditemukan namun harapan ini belumlah mati, dan akhirnya beberapa khayalan murni telah menyusup ke dalam buku-buku acuan.53

N. Eldredge dan I. Tattersall juga membuat komentar penting:

That individual kinds of fossils remain recognizably the same throughout the length of their occurrence in the fossil record had been known to paleontologists long before Darwin published his Origin. Darwin himself, ...prophesied that future generations of paleontologists would fill in these gaps by diligent search ...One hundred and twenty years of paleontological research later, it has become abundantly clear that the fossil record will not confirm this part of Darwin's predictions. Nor is the problem a miserably poor record. The fossil record simply shows that this prediction is wrong.

The observation that species are amazingly conservative and static entities throughout long periods of time has all the qualities of the emperor's new clothes: everyone knew it but preferred to ignore it. Paleontologists, faced with a recalcitrant record obstinately refusing to yield Darwin's predicted pattern, simply looked the other way.54

Demikian juga, ahli paleontologi Amerika Steven M. Stanley menggambarkan bagaimana dogma Darwinis, yang telah merajai dunia ilmu pengetahuan, telah mengabaikan kenyataan yang ditunjukkan oleh rekaman fosil ini:

Rekaman fosil yang telah diketahui tidak, dan tidak akan pernah, cocok dengan gagasan perubahan bertahap. Yang luar biasa adalah bahwa, melalui berbagai peristiwa sejarah, bahkan sejarah pertentangan ini telah dikaburkan. … 'Sebagian besar ahli paleontologi merasa bahwa bukti yang mereka temukan jelas bertentangan dengan penitikberatan Darwin pada perubahan kecil, lambat dan bertahap yang membawa pada perubahan spesies.' …cerita mereka telah ditutupi.55

Sekarang mari kita kaji sedikit lebih rinci, kenyataan-kenyataan rekaman fosil yang telah dibungkam sekian lama. Untuk melakukan hal ini, kita akan memikirkan sejarah alam dari masa lampau hingga sekarang, setahap demi setahap.

 

Catatan Kaki

28 Loren C. Eiseley, The Immense Journey, Vintage Books, 1958, p. 186.; cited in Norman Macbeth, Darwin Retried: An Appeal to Reason, Harvard Common Press, Boston, 1971, p. 30.

29 Charles Darwin, The Origin of Species: A Facsimile of the First Edition, Harvard University Press, 1964, p. 184.

30 Norman Macbeth, Darwin Retried: An Appeal to Reason, Harvard Common Press, Boston, 1971, pp. 32-33.

31 Norman Macbeth, Darwin Retried: An Appeal to Reason, Harvard Common Press, Boston, 1971, p. 36.

32 Jerry Bergman, Some Biological Problems With the Natural Selection Theory, The Creation Research Society Quarterly, vol. 29, no. 3, December 1992.

33 Loren Eiseley, The Immense Journey, Vintage Books, 1958. p 227., cited in Norman Macbeth, Darwin Retried: An Appeal to Reason, Harvard Common Press, Boston, 1971, p. 33.

34 Scott Gilbert, John Opitz, and Rudolf Raff, "Resynthesizing Evolutionary and Developmental Biology", Developmental Biology, 173, Article no. 0032, 1996, p. 361. (emphasis added)

35 R. Lewin, "Evolutionary Theory Under Fire", Science, vol. 210, 21 November, 1980, p. 883.

36 H. Lisle Gibbs and Peter R. Grant, "Oscillating selection on Darwin's finches," Nature, 327, 1987, pp. 513; For more detailed information, please see Jonathan Wells, Icons of Evolution, 2000, pp. 159-175.

37 Robert L. Carroll, Patterns and Processes of Vertebrate Evolution, Cambridge University Press, 1997, p. 9

38 Pierre Grassé, Evolution of Living Organisms, Academic Press, New York, 1977, p. 82.

39 Charles Darwin, The Origin of Species: A Facsimile of the First Edition, Harvard University Press, 1964, p. 179.

40 Charles Darwin, The Origin of Species by Means of Natural Selection, The Modern Library, New York, p. 124-125. (emphasis added)

41 Robert L. Carroll, Patterns and Processes of Vertebrate Evolution, Cambridge University Press, 1997, p. 25.

42 K. S. Thomson, Morphogenesis and Evolution, Oxford, Oxford University Press, 1988, p. 98.

43 Francis Hitching, The Neck of the Giraffe: Where Darwin Went Wrong, Tichnor and Fields, New Haven, 1982, p. 40.

44 S.J. Gould, "Evolution's Erratic Pace", Natural History, vol. 86, May 1977. (emphasis added)

45 Stephen Jay Gould and Niles Eldredge, "Punctuated Equilibria: The Tempo and Mode of Evolution Reconsidered", Paleobiology, 3 (2), 1977, p. 115.

46 Robert L. Carroll, Patterns and Processes of Vertebrate Evolution, Cambridge University Press, 1997, p. 146.

47 S. J. Gould & N. Eldredge, Paleobiology, vol. 3, 1977, p. 147.

48 Duane T. Gish, Evolution: Fossils Still Say No, CA, 1995, p. 41

49 David Day, Vanished Species, Gallery Books, New York, 1989.

50 T. Neville George, "Fossils in Evolutionary Perspective," Science Progress, vol. 48, January 1960, pp. 1, 3. (emphasis added)

51 N. Eldredge and I. Tattersall, The Myths of Human Evolution, Columbia University Press, 1982, p. 59. (emphasis added)

52 R. Wesson, Beyond Natural Selection, MIT Press, Cambridge, MA, 1991, p. 45.

53 Science, July 17, 1981, p. 289. (emphasis added)

54 N. Eldredge, and I. Tattersall, The Myths of Human Evolution, Columbia University Press, 1982, pp. 45-46. (emphasis added)

55 S. M. Stanley, The New Evolutionary Timetable: Fossils, Genes, and the Origin of Species, Basic Books Inc., N.Y., 1981, p. 71. (emphasis added)

4 / total 19
Anda dapat membaca buku Harun Yahya Darwinisme Terbantahkan secara online, berbagi pada jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter, download di komputer Anda, menggunakannya untuk pekerjaan rumah Anda dan tesis, dan mempublikasikan, menyalin atau memperbanyak pada website atau blog Anda sendiri tanpa perlu membayar biaya hak cipta apapun, selama Anda mengakui situs ini sebagai referensi.
Presentasi| tentang situs ini | Buat homepage Anda | tambahkan ke favorit | RSS Feed
Semua materi dapat dikopi,dicetak, dan didistribusikan berdasarkan situs ini
(c) All publication rights of the personal photos of Mr. Adnan Oktar that are present in our website and in all other Harun Yahya works belong to Global Publication Ltd. Co. They cannot be used or published without prior consent even if used partially.
© 1994 Harun Yahya. www.harunyahya.com
page_top