< <
7 / total: 19

Ketidakabsahan Punctuated Equilibrium

Dalam bab sebelumnya, kita menelaah bagaimana rekaman fosil dengan jelas membantah hipotesis teori Darwinis. Kita melihat bahwa berbagai kelompok makhluk hidup muncul secara tiba-tiba dalam rekaman fosil, dan tetap sama selama jutaan tahun tanpa mengalami perubahan apapun. Penemuan besar paleontologi ini menunjukkan bahwa makhluk hidup ada tanpa proses evolusi sebelumnya.

Fakta ini telah diabaikan selama bertahun-tahun oleh ahli paleontologi, yang tetap berharap bahwa "bentuk peralihan" khayalan suatu hari akan ditemukan. Pada tahun 1970-an, beberapa ahli paleontolgi menyadari bahwa ini adalah harapan tanpa dasar dan "celah" yang ada dalam rekaman fosil harus diterima sebagai sebuah kenyataan. Namun demikian, karena para ahli paleontologi ini tidak mampu melepaskan teori evolusi, mereka mencoba menjelaskan kenyataan ini dengan mengubah teori tersebut. Dengan demikian lahirlah model evolusi "punctuated equilibrium (keseimbangan yang terganggu)", yang berbeda dari neo-Darwinisme dalam beberapa hal.

Model ini mulai dipromosikan secara gencar pada permulaan tahun 1970-an oleh ahli paleontoligi Stephen Jay Gould dari Harvard University dan Niles Eldredge dari American Museum of Natural History. Mereka menyimpulkan bahwa bukti yang dihadirkan oleh rekaman fosil menampakkan dua ciri dasar yaitu:

1. Stasis (Kesetimbangan)

2. Kemunculan tiba-tiba172

Untuk menjelaskan dua fakta ini dengan teori evolusi, Gould dan Eldredge menyarankan bahwa spesies hidup muncul tidak melalui serangkaian perubahan kecil, seperti yang dinyatakan Darwin, tetapi melalui perubahan yang besar dan tiba-tiba.

Teori ini sebenarnya sebuah bentuk modifikasi dari teori "Monster yang menjanjikan" yang diajukan oleh ahli paleontologi Jerman, Otto Schindewolf, pada tahun 1930-an. Schindewolf berpendapat bahwa makhluk hidup berevolusi, tidak seperti yang diajukan oleh neo-Darwinisme, secara bertahap melalui mutasi-mutasi kecil, tetapi secara tiba-tiba melaui mutasi raksasa. Ketika memberikan contoh bagi teorinya, Schindewolf menyatakan bahwa burung pertama dalam sejarah telah muncul dari sebuah telur reptil melalui mutasi yang sangat besar—dengan kata lain, melalui sebuah perubahan besar yang tidak disengaja dalam struktur genetis.173 Menurut teori ini, beberapa hewan darat mungkin secara tiba-tiba berubah menjadi paus raksasa melalui perubahan menyeluruh yang mereka alami. Teori Schindewolf yang fantastis ini telah diterima dan dipertahankan oleh ahli genetika di Berkeley University, Richard Goldschmidt. Tetapi teori ini sungguh tidak konsisten sehingga menyebabkannya dengan cepat diabaikan.

Faktor yang membuat Gould dan Eldredge mengambil kembali teori ini adalah, seperti yang telah kita buktikan, bahwa rekaman fosil tidak sesuai dengan gagasan Darwinistik tentang evolusi setahap demi setahap melalui perubahan kecil. Fakta adanya stasis dan kemunculan tiba-tiba dalam rekaman fosil didukung secara empiris dengan sungguh baik sehingga mereka terpaksa harus kembali ke versi yang lebih baik dari teori "monster yang menjanjikan" untuk menjelaskan keadaan tersebut. Artikel terkenal Gould berjudul "Kembalinya Monster yang Menjanjikan" adalah sebuah pernyataan atas kemunduran yang diharuskan ini.174

Tentunya, Gould dan Eldredge tidak mengulang begitu saja teori fantastis Schindewolf. Untuk memberikan penampilan yang "ilmiah" bagi teori ini, mereka mencoba mengembangkan semacam mekanisme bagi lompatan evolusi yang tiba-tiba ini. (Istilah yang menarik, "punctuated equilibrium," yang mereka pilih untuk teori ini adalah sebuah tanda dari perjuangan untuk memberikan teori ini pulasan ilmiah) Pada tahun-tahun berikutnya, teori Gould dan Eldredge diterima dan disebarluaskan oleh beberapa ahli paleontologi yang lain. Akan tetapi, teori evolusi punctuated equilibrium ini berlandaskan pada hal yang lebih bertentangan dan tidak konsisten daripada teori evolusi neo-Darwinis.

hopeful monster

Mekanisme Punctuated Equilibrium

Teori evolusi punctuated equilibrium ini, dalam bentuknya yang kini, beranggapan bahwa populasi makhluk hidup tidak menunjukkan adanya perubahan dalam jangka waktu yang lama, tetapi tetap dalam semacam kesetimbangan. Menurut sudut pandang ini, perubahan evolusi terjadi dalam rentang waktu yang singkat dan dalam populasi yang sangat terbatas—artinya, kesetimbangan ini terbagi menjadi beberapa perioda yang terpisah atau, dengan kata lain, "terganggu." Karena populasi tersebut sangat kecil, mutasi besar terpilih oleh seleksi alam dan alhasil memungkinkan munculnya spesies baru.

Sebagai contoh, menurut teori ini, satu spesies reptilia bertahan hidup selama jutaan tahun, tanpa mengalami perubahan. Tetapi satu kelompok kecil reptilia ini entah bagaimana meninggalkan spesiesnya dan mengalami serangkaian mutasi besar, dengan penyebab yang tidak begitu jelas. Mutasi-mutasi yang menguntungkan dengan cepat menyebar dalam kelompok terbatas ini. Kelompok ini berevolusi dengan cepat, dan dalam waktu singkat berubah menjadi spesies reptilia yang lain, atau bahkan mamalia. Karena proses ini terjadi sangat cepat, dan dalam populasi yang kecil, sangat sedikit fosil bentuk peralihan yang tersisa, atau mungkin tidak ada.

Jika melihat lebih dekat, teori ini sebenarnya diajukan untuk mengembangkan sebuah jawaban bagi pertanyaan berikut, "Bagaimana bisa seseorang membayangkan sebuah jangka evolusi yang begitu cepat sehingga tidak meninggalkan satu fosil pun?" Ada dua hipotesa dasar yang diterima ketika mengembangkan jawaban ini:

1. bahwa mutasi makro—mutasi berskala luas yang membawa pada perubahan besar dalam susunan genetis makhluk hidup—membawa keuntungan dan menghasilkan informasi genetis baru; dan

2. bahwa populasi hewan yang kecil memiliki potensi yang lebih besar bagi perubahan genetis.

Akan tetapi, kedua hipotesa ini jelaslah tidak sesuai dengan pengetahuan ilmiah.

Stephen Jay Gould, Niles Eldredge

Dua tokoh terkenal pendukung model evolusi bersela: Stephen Jay Gould dan Niles Eldredge

Kekeliruan tentang Mutasi Mak

Hipotesis pertama—bahwa mutasi makro terjadi dalam jumlah yang besar, dan memungkinkan kemunculan spesies baru—bertentangan dengan fakta genetis yang telah diketahui.

Satu kaidah, yang diajukan oleh R. A. Fisher, salah satu ahli genetika terkenal abad yang lalu, dan berdasarkan pengamatan, dengan jelas membantah hipotesis ini. Fisher menyatakan dalam bukunya The Genetical Theory of Natural Selection bahwa kemungkinan satu mutasi tertentu akan menetap dalam sebuah populasi adalah berbanding terbalik dengan pengaruhnya pada fenotipe.175 Atau, dengan kata lain, semakin besar mutasi, semakin kecil kemungkinan mutasi itu menjadi satu sifat tetap dalam kelompok tersebut.

Tidak sulit untuk melihat alasan bagi hal ini. Mutasi, seperti yang telah kita lihat dalam bab-bab sebelumnya, terdiri atas perubahan-perubahan serba kebetulan dalam kode genetik, dan tidak pernah memberi pengaruh menguntungkan bagi data genetis organisme. Malah sebaliknya: individu yang termutasi akan menderita penyakit dan kecacatan yang serius. Karenanya, semakin termutasi suatu individu, semakin sedikit kesempatannya untuk bertahan hidup.

Ernst Mayr, penentang Darwinisme, membuat komentar berikut ini:

Jelaslah bahwa mutasi tidak bisa menghasilkan perkembangan evolusi, dan fakta ini menempatkan baik neo-Darwinisme dan teori evolusi punctuated equilibrium dalam kesulitan yang luar biasa. Karena mutasi merupakan suatu mekanisme yang merusak, maka mutasi makro yang disampaikan oleh para pendukung teori punctuated equilibrium seharusnya memiliki pengaruh merusak yang "makro." Beberapa evolusionis menempatkan harapan mereka pada mutasi pada gen-gen pengatur dalam DNA. Tetapi sifat merusak yang berlaku pada mutasi lain, berlaku juga di sini, Permasalahannya adalah bahwa mutasi adalah sebuah perubahan acak: setiap perubahan acak pada struktur sekompleks data genetik akan menghasilkan sesuatu yang membahayakan.

Dalam buku mereka, The Natural Limits to Biological Change, ahli genetika Lane Lester dan ahli biologi populasi Raymond Bohlin menggambarkan alur [pikiran] membuta yang diperlihatkan oleh gagasan makromutasi:

Faktor umum yang muncul lagi dan lagi adalah bahwa mutasi tetaplah sumber utama dari semua variasi genetik dalam model evolusi manapun. Setelah tidak puas dengan prospek akumulasi mutasi-mutasi kecil, banyak orang beralih ke mutasi makro untuk menjelaskan asal usul sifat baru secara evolusi. Monster yang menjanjikan dari Goldschmidt telah benar-benar kembali. Akan tetapi, walaupun mutasi makro dari berbagai varietas menghasilkan perubahan besar, sebagian besar tidak akan mampu bertahan hidup, apalagi menunjukkan tanda-tanda pertambahan kompleksitas. Jika mutasi gen-gen struktural tidak memadai karena ketidakmampuan mereka mengahasilkan perubahan yang cukup berarti, maka mutasi [pada gen-gen] pengatur dan pertumbuhan bahkan terlihat lebih tidak bermanfaat karena kemungkinan munculnya dampak yang tidak adaptif atau bahkan merusak akan lebih besar… Tetapi satu hal yang terlihat pasti: pada saat ini, gagasan bahwa mutasi, besar ataupun kecil, bisa menghasilkan perubahan biologi yang tidak terbatas adalah lebih seperti sebuah keyakinan daripada fakta.177

Observation and experiment both show that mutations do not enhance genetic data, but rather damage living things. Therefore, it is clearly irrational for proponents of the punctuated equilibrium theory

Baik penelitian maupun percobaan keduanya menunjukkan bahwa mutasi tidak memperbaiki data genetik, tetapi malah merusaknya. Oleh karena itu, jelas tidak masuk akal jika para pendukung teori punctuated equilibrium mengharapkan sukses dari "mutasi" yang lebih besar daripada yang telah diharapkan oleh neo-Darwinis.

to expect greater success from "mutations" than the mainstream neo-Darwinists have found.

Kesalahpahaman Tentang Populasi Terbatas

Richard Dawkins

Richard Dawkins, sibuk mencuci otak kaum muda lewat propaganda Darwinis.

Konsep kedua yang ditekankan oleh para pendukung teori punctuated equilibrium adalah "populasi terbatas." Dengan ini, yang mereka maksudkan adalah bahwa kemunculan spesies baru terjadi dalam komunitas yang sangat sedikit jumlah tumbuhan atau hewannya. Menurut pernyataan ini, populasi besar hewan tidak menunjukkan perkembangan evolusi dan menjaga "stasis" mereka. Tetapi kelompok-kelompok kecil biasanya terpisah dari komunitas ini, dan kelompok "terisolasi" ini hanya kawin di antara mereka sendiri. (Hal ini diduga biasanya disebabkan oleh keadaan geografis.) Mutasi makro diharapkan paling efektif dalam kelompok kecil, yang saling kawin antar sesamanya semacam itu, dan seperti itulah bagaimana "pembentukan spesies" yang cepat dapat terjadi.

Tetapi mengapa para pendukung teori punctuated equilibrium begitu bersikeras pada konsep populasi terbatas? Alasannya jelas. Tujuan mereka adalah untuk memberikan penjelasan atas ketiadaan bentuk peralihan dalam rekaman fosil.

Akan tetapi, percobaan dan pengamatan ilmiah yang dilakukan dalam tahun-tahun belakangan ini telah mengungkap bahwa berada dalam populasi yang terbatas bukanlah suatu keuntungan dari sudut pandang genetika, tetapi malah suatu kerugian. Alih-alih berkembang sedemikian rupa untuk memunculkan spesies baru, populasi kecil malah membawa pada kerusakan genetik yang serius. Alasannya adalah bahwa dalam populasi terbatas individu haruslah terus menerus kawin dalam keragaman genetik yang sempit. Dengan alasan ini, individu yang biasanya heterzigot menjadi semakin homozigot. Ini berarti bahwa gen cacat yang biasanya resesif menjadi dominan, dan hasilnya adalah meningkatnya kecacatan dan penyakit genetik dalam populasi.178

Untuk menguji permasalahan ini, sebuah studi selama 35 tahun telah dilakukan pada populasi kecil ayam yang saling kawin antar sesamanya. Diitemukan bahwa individu-individu ayam menjadi semakin lemah dari sisi genetik dari waktu ke waktu. Produksi telur mereka menurun dari 100 ke 80 persen individu, dan kesuburan mereka menurun dari 93 menjadi 74 persen. Tetapi ketika ayam-ayam dari kelompok lain ditambahkan ke dalam populasi ini, kecenderungan genetik yang melemah ini menjadi terhenti dan bahkan berbalik. Dengan pemasukan gen-gen baru dari luar kelompok terbatas tersebut, akhirnya indikator kesehatan populasi menjadi kembali normal.179

Penelitian ini dan penemuan-penemuan serupa lainnya dengan jelas telah mengungkap bahwa pernyataan oleh para pendukung teori punctuated equilibrium bahwa populasi-populasi kecil adalah sumber evolusi, tidak memiliki kekuatan ilmiah.

Kesimpulan

Philip Johnson

Penemuan-penemuan ilmiah tidak mendukung pernyataan teori evolusi punctuated equilibrium. Pernyataan bahwa organisme dalam populasi kecil bisa berevolusi dengan cepat melalui mutasi makro sebenarnya bahkan kurang meyakinkan daripada model evolusi yang diajukan oleh kebanyakan neo-Darwinis.

Lalu, mengapa teori ini menjadi begitu populer dalam tahun-tahun belakangan? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan melihat pada perdebatan di antara komunitas Darwinis. Hampir semua pendukung teori evolusi punctuated equilibrium adalah ahli paleontologi. Kelompok ini, dipimpin oleh beberapa ahli paleontologi terkenal semacam Steven Jay Gould, Niles Eldredge, dan Steven M. Stanley, yang melihat dengan jelas bahwa rekaman fosil menyangkal teori evolusi. Akan tetapi, mereka teah mengkondisikan diri mereka sendiri untuk percaya pada evolusi, apapun masalahnya. Jadi dengan alasan ini mereka beralih kepada teori punctuated equilibrium sebagai satu-satunya cara untuk menjelaskan, meskipun hanya sebagian, fakta-fakta rekaman fosil.

Di sisi lain, ahli genetika, ahli zoologi, dan anatomi melihat bahwa tidak terdapat mekanisme di alam yang bisa menghasilkan adanya "punctuatios (gangguan)," dan dengan alasan ini mereka bersikeras mempertahankan model evolusi bertahap Darwinis. Ahli zoologi dari Oxford University, Richard Dawkins, mengkritik dengan keras para pendukung model evolusi punctuated equilibrium, dan menuduh mereka telah "menghancurkan kredibilitas teori evolusi."

Hasil dari dialog orang-orang tuli ini adalah krisis ilmiah yang kini dihadapi teori evolusi. Kita berurusan dengan mitos evolusi yang tidak sesuai dengan pengamatan atau penelitian, dan penemuan-penemuan paleontologis. Setiap penggagas evolusionis mencoba mencari dukungan bagi teori ini dari bidang keahlian masing-masing, tetapi kemudian menemui pertentangan dengan penemuan-penemuan dari cabang ilmu pengetahuan yang lain. Beberapa orang mencoba memoles kebingungan ini dengan komentar-komentar dangkal semacam "ilmu pengetahuan berkembang melalui pertentangan akdemis semacam ini." Akan tetapi, permasalahannya bukanlah bahwa semangat pertarungan para pelaku perdebatan ini dibawa untuk menemukan teori ilmiah yang benar, tetapi permasalahan adalah bahwa spekulasi diutamakan secara dogmatis dan tidak masuk akal untuk mempertahankan secara keras kepala teori yang jelas sekali salah.

Namun demikian, penggagas teori punctuated equilibrium tanpa disadari telah membuat suatu peran penting bagi ilmu pengetahuan: Mereka telah menunjukkan dengan jelas bahwa rekaman fosil bertentangan dengan konsep evolusi. Philip Johnson, salah satu pengkritik teori evolusi terkemuka di dunia, telah menggambarkan Stephen Jay Gould, salah satu penggagas terpenting teori punctuated equilibrium, sebagai "Gorbachev-nya Darwinisme."180 Gorbachev berpikir bahwa ada kecacatan dalam sistem tata negara Komunis Uni Soviet dan mencoba "mereformasi" sistem tersebut. Akan tetapi, masalah yang Ia pikir cacat sebenarnya fundamental bagi sistem itu sendiri. Itulah sebabnya mengapa komunisme runtuh di tangannya.

Nasib yang sama akan segera terjadi pada Darwinisme dan model evolusi yang lain.

 

Catatan Kaki

173 Stephen Jay Gould, "Evolution's Erratic Pace," Natural History, vol. 86, May 1977, p. 14.

174 Stephen M. Stanley, Macroevolution: Pattern and Process, W. H. Freeman and Co., San Francisco, 1979, pp. 35, 159.

175 S. J. Gould, "Return of the Hopeful Monster," The Panda's Thumb, W. W. Norton Co., New York, 1980, pp. 186-193.

176 R. A. Fisher, The Genetical Theory of Natural Selection, Oxford University Press, Oxford, 1930.

177 Ernst Mayr, Populations, Species, and Evolution, Belknap Press, Cambridge, 1970, p. 235.

178 Lane P. Lester, Raymond G. Bohlin, The Natural Limits to Biological Change, Probe Books, Dallas, 1989, pp. 141-142. (emphasis added)

179 M. E. Soulé and L. S. Mills, "Enhanced: No need to isolate genetics," Science, 1998, vol. 282, p. 1658.

180 R. L. Westemeier, J. D. Brawn, J. D. Brawn, S. A. Simpson, T. L. Esker, R. W. Jansen, J. W. Walk, E. L. Kershner, J. L. Bouzat, and K. N. Paige, "Tracking the long-term decline and recovery of an isolated population", Science, 1998, vol. 282, p. 1695.

181 Phillip Johnson, Objections Sustained, Intervarsity Press, Illinois, 1998, pp. 77-85.

7 / total 19
Anda dapat membaca buku Harun Yahya Darwinisme Terbantahkan secara online, berbagi pada jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter, download di komputer Anda, menggunakannya untuk pekerjaan rumah Anda dan tesis, dan mempublikasikan, menyalin atau memperbanyak pada website atau blog Anda sendiri tanpa perlu membayar biaya hak cipta apapun, selama Anda mengakui situs ini sebagai referensi.
Presentasi| tentang situs ini | Buat homepage Anda | tambahkan ke favorit | RSS Feed
Semua materi dapat dikopi,dicetak, dan didistribusikan berdasarkan situs ini
(c) All publication rights of the personal photos of Mr. Adnan Oktar that are present in our website and in all other Harun Yahya works belong to Global Publication Ltd. Co. They cannot be used or published without prior consent even if used partially.
© 1994 Harun Yahya. www.harunyahya.com
page_top