< <
9 / total: 19

Biologi Molekuler Dan Asal Usul Kehidupan

Pada bab-bab sebelumnya, kami telah menunjukkan bagaimana catatan fosil membantah teori evolusi. Sebenarnya, tak perlu kami bercerita apa-apa soal fosil, sebab teori evolusi telah lama runtuh sebelum orang sampai ke pernyataan apa pun tentang petunjuk fosil. Perihal yang sedari awal menjadikan teori ini tidak bermakna adalah masalah cara kehidupan kali pertama muncul di muka bumi.

Ketika membahas masalah ini, teori evolusi menyatakan bahwa kehidupan berawal dari sebuah sel yang terbentuk secara kebetulan. Menurut skenario ini, empat miliar tahun yang lalu, berbagai macam senyawa kimia mengalami suatu reaksi di dalam atmosfer purba di bumi saat kekuatan petir dan tekanan atmosfer mendorong terbentuknya sel hidup pertama.

Hal pertama yang mesti dikatakan adalah pernyataan bahwa zat-zat mati bisa bergabung membentuk kehidupan sungguh sebuah pernyataan yang tak ilmiah, yang tak didukung oleh satu pun percobaan atau pengamatan. Kehidupan hanya bangkit dari kehidupan. Setiap sel hidup terbentuk dari penggandaan sel hidup lainnya. Tak seorang pun di dunia ini pernah berhasil membuat sebuah sel hidup dengan menggabungkan zat-zat mati, bahkan di laboratorium tercanggih sekalipun.

Teori evolusi menyatakan bahwa sebuah sel hidup—yang tak bisa dihasilkan bahkan dengan menyatukan segenap daya kecerdasan, ilmu pengetahuan, dan teknologi manusia—bagaimana juga berhasil dibentuk secara kebetulan di dalam lingkungan purba di bumi. Pada halaman-halaman berikut, kita akan menelaah mengapa pernyataan ini bertentangan dengan azas-azas paling dasar dari ilmu pengetahuan dan nalar.

Sebuah Contoh Cara Berpikir "Kebetulan"

Jika orang meyakini bahwa sebuah sel hidup bisa mewujud secara kebetulan, maka tidak ada yang menghalanginya dari memercayai cerita serupa yang akan kami uraikan berikut ini. Ini kisah sebuah kota.

Suatu hari, sebongkah tanah liat, yang terhimpit di antara bebatuan di sebidang lahan tandus, menjadi basah sehabis hari hujan. Tanah liat basah itu mengering dan mengeras ketika matahari bersinar, dan menjadi berbentuk kaku dan ulet. Setelah itu, bebatuan, yang juga bertindak sebagai cetakan, dengan suatu cara hancur berkeping-keping, dan lalu sebiji batu bata yang rapi, bagus bentuknya, dan kuat, muncul. Dalam keadaan alamiah yang sama, batu bata ini menunggu selama bertahun-tahun demi terbentuknya batu bata lain yang serupa. Ini terus berlanjut hingga ratusan bahkan ribuan batu bata terbentuk di lahan itu. Akan tetapi, secara kebetulan, tak satu pun batu bata yang sudah terbentuk rusak. Meskipun terpapar badai, hujan, angin, matahari yang membakar, dan dingin yang mencekam selama ribuan tahun, batu-batu bata ini tidak retak, pecah, atau tergeser, tetapi terus menunggu di tempat yang sama dengan ketabahan yang sama demi terbentuknya batu bata berikutnya.

Ketika jumlahnya telah mencukupi, batu-batu bata mendirikan sebuah gedung dengan saling menyusun diri ke samping dan ke atas, akibat terseret secara acak oleh kekuatan-kekuatan alam seperti angin, badai, atau tornado. Sementara itu, bahan-bahan seperti semen atau campuran tanah terbentuk di dalam "keadaan alamiah," pada waktu yang tepat, dan menyelusup di antara batu-batu bata, lalu merekatkan batu-batu itu. Selagi semua ini berlangsung, bijih besi di bawah tanah terbentuk di dalam "keadaan alamiah" dan meletakkan pondasi bagi gedung yang akan dibangun batu-batu bata itu. Pada tahap akhir proses ini, sebuah gedung yang utuh berdiri beserta segenap bahan-bahan, kusen-kusen kayu, dan perangkat-perangkatnya.

Ernst Haeckel

Pada masa Darwin, telah terpikir bahwa sel mempunyai struktur yang sangat sederhana. Pendukung kuat Darwin, Ernst Haeckel mengusulkan bahwa lumpur yang diangkat dari dasar laut pada gambar kanan dapat menghasilkan kehidupan dengan sendirinya.

Tentu saja, sebuah gedung tak hanya terdiri dari pondasi, batu bata, dan semen. Lalu, bagaimanakah bahan-bahan yang belum ada harus diperoleh? Jawabannya sederhana: pelbagai bahan yang dibutuhkan bagi pembangunan gedung ada di dalam bumi di tempatnya didirikan. Silikon untuk kaca, tembaga untuk kabel listrik, besi untuk pilar, tiang, pipa air, dan lain-lain. Semua ada di bawah tanah dengan jumlah yang melimpah. Hanya diperlukan keterampilan sang "keadaan alamiah" untuk membentuk dan menempatkan bahan-bahan ini di dalam gedung. Semua perangkat, kusen kayu, dan pernak-pernik ditempatkan di antara batu-batu bata dengan bantuan hembusan angin, hujan, dan gempa bumi. Semuanya berjalan begitu sempurna sehingga batu bata tersusun dengan cara yang menyisakan ruang bagi jendela, seakan mengetahui sesuatu yang disebut kaca nantinya akan dibentuk oleh keadaan alamiah. Terlebih lagi, batu-batu ini tak lupa menyisakan sedikit ruang untuk menyisipkan perangkat-perangkat air, listrik, dan sistem pemanas, yang nanti juga akan dibentuk oleh kebetulan. Semuanya berjalan demikian baik sehingga "kebetulan" dan "keadaan alamiah" menghasilkan sebuah rancangan yang sempurna.

Jika Anda sejauh ini berhasil mempertahankan keyakinan Anda terhadap cerita ini, seharusnya Anda tak menghadapi kesulitan memperkirakan bagaimana gedung-gedung lain, pabrik-pabrik, jalan-jalan raya, trotoar-trotoar, bangunan-bangunan penunjang, sistem-sistem perhubungan dan pengangkutan kota terwujud. Jika Anda berpengetahuan teknik dan fasih dalam masalah ini, Anda dapat menulis buku yang amat "ilmiah" beberapa jilid untuk menguraikan teori-teori Anda tentang "proses evolusi sistem pembuangan dan keserasiannya dengan bangunan-bangunan yang ada." Anda mungkin akan diberi penghargaan akademis bagi kajian yang Anda lakukan, dan boleh menganggap diri orang yang mumpuni yang memberi pencerahan tentang sifat kemanusiaan.

Teori evolusi, yang menyatakan bahwa kehidupan mewujud secara kebetulan, tak kurang ganjilnya dari kisah kami itu, sebab, dengan segenap sistem kerja, dan sistem-sistem perhubungan, pengangkutan, dan pengelolaan, sebuah sel tidak kalah rumitnya dari sebuah kota. Di dalam bukunya Evolution: A Theory in Crisis (Evolusi: Teori dalam Kegentingan), ahli biologi molekuler Michael Denton membahas struktur rumit sel:

Untuk memahami keniscayaan kehidupan sebagaimana diungkapkan oleh biologi molekuler, kita harus memperbesar sebuah sel ribuan juta kali hingga garis tengahnya mencapai 20 kilometer dan menyerupai sebuah kapal udara raksasa yang cukup besar untuk menutupi sebuah kota raya sekelas London atau New York. Yang akan kita lihat adalah sebuah benda dengan rancangan tiada tara rumitnya dan mudah menyesuaikan diri. Di permukaan sel, kita akan melihat jutaan celah, bak jendela-jendela di lambung kapal induk antariksa, membuka dan menutup untuk menjaga aliran zat keluar-masuk dengan sinambung. Bila kita masuki salah satu celah ini, akan kita dapati diri kita di dalam dunia berteknologi canggih dan kerumitan mencengangkan… Dapatkah dipercaya bahwa suatu proses yang acak telah membangun keniscayaan ini, yang unsur terkecilnya—sepotong protein atau gen fungsional—rumit di luar jangkauan pembayangan kita, keniscayaan yang bertolak belakang dengan kebetulan, yang dalam segala hal melampaui apa pun yang dihasilkan kecerdasan manusia? 237

Struktur Dan Sistem-Sistem Rumit Di Dalam Sel

Fred Hoyle

Fred Hoyle

Struktur rumit sel hidup tidak diketahui di zaman Darwin dan pada saat itu, mengasalkan kehidupan kepada "kebetulan dan keadaan alamiah" dipandang cukup meyakinkan oleh para evolusionis. Darwin menggagas bahwa sel pertama dapat dengan mudah terbentuk "di dalam suatu kolam kecil yang hangat."238 Seorang pendukung Darwin, ahli biologi Jerman Ernst Haeckel, meneliti di bawah mikroskop suatu campuran lumpur yang dikeruk dari dasar laut oleh sebuah kapal penelitian, dan menyatakan bahwa inilah zat-zat mati yang berubah menjadi hidup. Yang disebut "lumpur yang menjadi hidup" ini, dikenal sebagai Bathybius haeckelii (lumpur Haeckel dari kedalaman), adalah sebuah tanda betapa sederhananya kehidupan digagas oleh para pelopor teori evolusi.

Teknologi abad ke-20 telah menyelami hingga ke partikel terkecil kehidupan, dan mengungkapkan bahwa sel adalah sistem paling rumit yang pernah ditemukan manusia. Saat ini, kita mengetahui bahwa sel terdiri dari pembangkit-pembangkit daya yang menghasilkan tenaga untuk dipakai sel, pabrik-pabrik yang menghasilkan enzim dan hormon yang penting bagi kehidupan, sebuah bank data tempat menyimpan segenap informasi penting tentang semua yang harus dihasilkan, sistem-sistem dan pipa-pipa pengangkutan rumit yang menyalurkan bahan-bahan mentah dan hasil-hasil dari satu tempat ke tempat lainnya, laboratorium-laboratorium dan kilang-kilang canggih untuk menguraikan bahan-bahan mentah dari luar menjadi bagian-bagian yang berguna, dan protein-protein membran sel khusus untuk mengatur keluar-masuknya bahan. Dan semua ini membentuk hanya sebagian kecil dari sistem yang luar biasa rumit ini.

W.H. Thorpe, seorang ilmuwan evolusionis, mengakui bahwa "Jenis sel yang paling dasar membentuk sebuah 'mekanisme' yang tak terbayangkan lebih rumitnya daripada mesin apa pun yang pernah dipikirkan, apalagi yang dibuat, oleh manusia."239

Sel begitu rumit sampai-sampai bahkan taraf teknologi tinggi yang dicapai saat ini tak mampu menghasilkannya satu saja. Tak satu pun upaya menciptakan sel buatan pernah berhasil. Malah, semua upaya ke sana telah dihentikan.

Teori evolusi menyatakan bahwa sistem ini—yang manusia, dengan seluruh kecerdasan, pengetahuan, dan teknologi di tangannya, tak bisa berhasil menirunya—mewujud "secara kebetulan" di dalam keadaan-keadaan bumi purba. Sebenarnya, peluang terbentuknya satu sel secara kebetulan sama dengan peluang menghasilkan satu salinan sempurna sebuah buku selepas sebuah ledakan di suatu percetakan.

Pakar matematika sekaligus astronom Inggris, Sir Fred Hoyle, membuat perbandingan serupa dalam sebuah wawancara yang disiarkan majalah Nature terbitan 12 November 1981. Meskipun dirinya seorang evolusionis, Hoyle menyatakan bahwa kemungkinan munculnya suatu bentuk kehidupan tingkat tinggi dengan cara [kebetulan] ini dapat disamakan dengan kemungkinan sebuah tornado yang menyapu sebidang lahan pembuangan membentuk sebuah pesawat Boeing 747 dari bahan-bahan yang ada di sana.240 Berarti, sel tidak mungkin mewujud secara kebetulan, dan karena itu, sel semestinya "diciptakan."

Salah satu alasan dasar mengapa teori evolusi tak bisa menjelaskan cara sel mewujud adalah "kerumitan tak teruraikan" di dalamnya. Sebuah sel hidup merawat dirinya dengan keserasian kerjasama berbagai organel. Jika satu organel saja tak berfungsi, sel tak dapat bertahan hidup. Sel tidak mempunyai kesempatan menunggu mekanisme-mekanisme tak sadar seperti seleksi alam atau mutasi mengizinkan organel itu berkembang. Karena itu, sel pertama di bumi harus sebuah sel utuh beserta semua organel dan fungsi yang dibutuhkannya, dan ini pastilah berarti sel itu harus diciptakan.

hücre

A. Rincian 1: Membran Plasma (Lapis Rangkap Lipida); Mengatur pertukaran zat antara bagian dalam dan luar sel.
B. Rincian 2: Selaput Inti; Melapis membran lapis rangkap fosfolipida yang memisahkan isi inti dari sitoplasma.
C. Rincian 3: Kerangka Sito; emberikan susunan struktural bagi sel.

1. Badan Golgi: Mengubah, menyebarkan, dan mengemas hasil-hasil yang dilepaskan.
2. Surface Membrane Protein
3. Glikoprotein
4. Integral Protein
5. Secretory Granule
6. Lisosom
7. Mikrotubula
10. Transfer vesicle
11. Peripheral Proteins
12. Phospholipid Molecule
13. Transmembrane Channel Protein
14. Cholestrol
15. Centrioles: Organelles containing 9 triplet bundles of microtubules. l Important role in cell division.
16. Nucleus: Contains chromosomal DNA packaged into chromation fiber. Plays central role in heredity. Controls cellular activity.
17. Nucleolus: Site where ribosomal RNA is assembled, processed and packaged with proteins into ribosomal subunits.
18. Nuclear Envelope: (Rincian 2: Selaput Inti)
19. Nuclear Pore: Special permeable sites on nuclear surface which allow certain macro-molecules to pass between nucleus and cytoplasm.
20. Mitochondrion: Power plant of the cell, Provides energy in the form of ATP through oxidative phosphorylation.
21. Outer&Inner Membrane of Mitochondrion
22. Matrix Space
23. Cristae
24. Basal Body of Flagellum; Identical in structure to a centriole.
25. Flagellum: Microtubular structure which grows from the basal body. Used for locomotion.
26. Plasma membrane
27. 9 + 2 pasang Mikrotubula
28. Lengan Dinein: Kegiatan enzimatis (protein) dinein melepaskan tenaga yang diperlukan untuk pergerakan dari ATP
29. Rough Endoplasmic Reticulum (RER): Segregation, modification & trans-portation of proteins & lysosomal enzymes. Ribosome studded membrane.
30. Ribosome: Contains high concentration of RNA. Important role in protein synthesis.
31. Smooth Endoplasmic Reticulum (SER), Synthesis of lipids, Role in detoxification. No ribosomes.
32. Granules of Nuclear Pore
33. Central Granule
34. Nuclear Pore
35. Golgi Saccule
36. Maturing Face of Golgi Apparatus
37. Golgi Saccule
38. Forming Face of Golgi Apparatus
39. Cytosol: Gel-like intracellular fluid where many of cell's chemical reactions occur.
40. Membran Plasma (Lihat Rincian 1)
41. Polysome
42. Mikrotubula
43. Benang Mikrotabekular
44. Mitochondrion

Masalah Asal Usul Protein

Sitokrom-C

Struktur rumit tiga dimensi protein sitokrom-C. Perbedaan kecil saja pada urutan asam aminonya, yang diwakili bola-bola kecil, akan membuat protein tak berfungsi.

Jangankan sel, evolusi bahkan tak mampu menjelaskan blok-blok pembangun sebuah sel. Pembentukan, di dalam keadaan alamiah, satu saja dari ribuan molekul protein rumit yang menyusun sel adalah mustahil.

Protein adalah molekul raksasa yang terdiri dari satuan-satuan lebih kecil yang disebut asam amino, yang ditata dalam urutan tertentu dengan jumlah dan struktur tertentu. Satuan-satuan ini membentuk blok-blok pembangun sebuah protein hidup. Protein paling sederhana terdiri dari 50 asam amino, namun beberapa protein berisi hingga ribuan asam amino.

Berikut ini sebuah hal yang amat penting. Ketiadaan, penambahan, atau penggantian satu asam amino di dalam struktur mengubah protein menjadi timbunan molekuler tak berguna. Setiap asam amino harus berada di tempat dan urutan yang tepat. Teori evolusi, yang menyatakan bahwa kehidupan muncul sebagai hasil kebetulan, sangat tak berdaya menghadapi masalah ini karena terlalu mencengangkan untuk dijelaskan dengan ketaksengajaan. (Lebih jauh lagi, teori evolusi bahkan tak bisa membuktikan pernyataan tentang pembentukan tak sengaja asam amino, sebagaimana nanti akan dibahas.)

Fakta bahwa sangat mustahil struktur fungsional seperti protein muncul secara kebetulan dapat dengan mudah dijelaskan bahkan melalui perhitungan peluang biasa yang dimengerti oleh siapa pun.

Misalnya, sebuah molekul protein ukuran rata-rata yang terdiri dari 288 buah asam amino dari 12 jenis, dapat dirangkaikan dengan 10300 cara berbeda. (Ini angka yang amat sangat besar, terdiri dari angka "1" yang diikuti oleh 300 angka "0".) Dari semua urutan yang mungkin ini, hanya satu yang membentuk molekul protein yang diinginkan. Sisanya adalah rantai-rantai asam amino yang tak berguna sama sekali, atau mungkin membahayakan makhluk hidup.

Dengan kata lain, peluang pembentukan hanya satu molekul protein adalah "1 per 10300." Peluang "1" ini sebenarnya boleh dianggap nol. (Pada praktiknya, peluang yang lebih kecil dari 1 per 1050 dianggap "peluang nol").

Lebih jauh lagi, sebuah molekul protein dengan 288 asam amino adalah sangat sederhana jika dibandingkan dengan beberapa molekul protein raksasa dengan ribuan asam amino. Jika menggunakan perhitungan peluang yang sama pada molekul raksasa ini, kita akan melihat bahwa bahkan kata "mustahil" pun tak cukup untuk menguraikan keadaan yang sebenarnya.

Saat maju selangkah lagi dalam ancangan kehidupan evolusi, kita mengamati bahwa protein tak berarti apa-apa jika berdiri sendiri. Salah satu bakteri terkecil yang pernah ditemukan, Mycoplasma hominis H39, mengandung 600 jenis protein. Dalam hal ini, kita harus mengulangi perhitungan peluang yang kita buat untuk satu protein di atas bagi tiap-tiap dari 600 jenis ini. Hasilnya menggerogoti bahkan konsep kemustahilan.

Sebagian orang yang membaca kalimat-kalimat ini dan sampai saat ini menerima teori evolusi sebagai suatu penjelasan ilmiah, mungkin menengarai bahwa angka-angka ini terlalu dibesar-besarkan dan tidak mencerminkan kebenaran sejati. Bukan demikian yang terjadi: inilah fakta-fakta yang nyata. Tak seorang evolusionis jua mampu membantah angka-angka ini.

Keadaan ini ternyata diakui oleh banyak evolusionis. Misalnya, Harold F. Blum, seorang ilmuwan evolusionis terkemuka, menyatakan bahwa "Pembentukan tiba-tiba suatu polipeptida seukuran protein terkecil yang diketahui tampak di luar semua kemungkinan."241

Kaum evolusionis menyatakan bahwa evolusi molekuler terjadi dalam waktu sangat lama dan membuat kemustahilan menjadi mungkin. Namun demikian, tak peduli berapa lama waktu yang dapat diberikan, mustahil bagi asam amino membentuk protein secara kebetulan. William Stokes, seorang ahli geologi Amerika, mengakui fakta ini di dalam bukunya Essentials of Earth History (Saripati Sejarah Bumi), dengan menulis bahwa peluangnya begitu kecil "sehingga tak akan terjadi selama miliaran tahun di miliaran planet, yang masing-masing diselimuti selapis larutan encer asam amino yang diperlukan."242

Jadi apakah arti semua ini? Perry Reeves, seorang profesor kimia, menjawab pertanyaan ini:

Jika orang meneliti besarnya jumlah struktur yang mungkin dihasilkan sebuah penggabungan acak asam amino di suatu kolam beruap purba, memercayai bahwa kehidupan telah muncul dengan cara ini adalah membingungkan. Lebih masuk akal bahwa diperlukan seorang Tukang yang Agung dengan sebuah rencana besar bagi tugas semacam itu.243

Jika pembentukan tak sengaja bahkan satu protein saja mustahil, miliaran kali "lebih mustahil" bagi sekitar sejuta protein itu bergabung secara kebetulan membentuk satu sel utuh manusia. Terlebih lagi, pastilah mustahil sel terdiri dari timbunan protein belaka. Di samping protein, sel juga mengandung asam nukleat, karbohidrat, lemak, vitamin, dan banyak lagi senyawa kimia seperti elektrolit-elektrolit yang diatur dengan kadar, keseimbangan, dan rancangan khusus, baik struktur maupun fungsinya. Setiap unsur ini berfungsi sebagai blok pembangun atau molekul mitra di dalam beraneka organel.

Robert Shapiro, seorang profesor kimia di New York University sekaligus pakar DNA, menghitung peluang pembentukan secara kebetulan dari dua ribu jenis protein yang ditemukan pada satu bakteri. (Ada 200 ribu jenis protein pada satu sel manusia.) Angka yang ditemukan adalah 1 per 1040,000.244 (Ini sebuah angka yang luar biasa yang didapat dengan meletakkan 40 ribu angka 0 setelah angka 1.)

Seorang profesor matematika terapan dan astronomi dari University College Cardiff di Wales, Chandra Wickramasinghe, mengulas:

Peluang terjadinya pembentukan seketika kehidupan dari benda mati adalah satu diikuti 40 ribu nol… Angka ini cukup besar untuk mengubur Darwin dan keseluruhan teori evolusi. Tiada kabut purba, baik di planet ini maupun di planet-planet lain; dan jika tidak acak, awal-awal kehidupan haruslah hasil kecerdasan yang bertujuan.245

Sir Fred Hoyle mengulas angka yang tak masuk akal ini:

Memang, teori seperti itu (bahwa kehidupan dirakit oleh suatu kecerdasan) demikian jelas sehingga orang bertanya-tanya mengapa teori tidak diterima luas sebagai terbukti langsung. Alasannya lebih psikologis daripada ilmiah.246

Sebuah artikel yang diterbitkan di dalam Science News terbitan Januari 1999 mengungkapkan bahwa belum ditemukan penjelasan tentang cara asam amino bisa berubah menjadi protein:

… tak seorang pun secara memuaskan pernah menjelaskan bagaimana bahan-bahan yang tersebar luas ini terangkai menjadi protein. Keadaan bumi purba sebagaimana yang diramalkan menggiring asam-asam amino ke keterkucilan yang sepi.247

Protein-Protein Tangan Kiri

Kini, marilah kita telaah lebih rinci mengapa skenario evolusionis tentang pembentukan protein itu mustahil. Urutan yang benar dari asam-asam amino yang tepat bahkan masih belum cukup bagi pembentukan sebuah molekul protein fungsional. Di samping syarat-syarat ini, tiap-tiap dari 20 jenis asam amino yang ada dalam susunan protein haruslah bertangan kiri. Ada dua jenis asam amino—sebagaimana molekul-molekul organik lainnya—yang disebut "tangan kiri" and "tangan kanan." Perbedaan di antara keduanya terletak pada simetri pantul struktur tiga dimensinya, yang mirip dengan tangan kanan dan kiri kita.

Asam-asam amino dari kedua jenis dapat saling mengikat dengan mudah. Tetapi, satu fakta mencengangkan yang telah diungkapkan oleh penelitian adalah semua protein pada tumbuhan dan hewan di planet ini, dari organisme tersederhana hingga terrumit, disusun dari asam amino tangan kiri. Jika ada satu saja asam amino tangan kanan terikat ke struktur sebuah protein, protein itu akan tidak berguna. Dalam serangkaian percobaan, bakteri yang terpapar asam-asam amino tangan kanan dengan mengejutkan segera menguraikan asam-asam amino itu. Dalam beberapa kejadian, bakteri menghasilkan asam amino tangan kiri yang berguna dari komponen-komponen hasil penguraian.

amino asit, izomer

L – Asam amino tangan kiri
D – Asam amino tangan kanan
Isomer tangan kiri (L) dan kanan (D) protein yang sama. Protein pada makhluk hidup hanya mengandung asam amino tangan kiri.

Mari untuk sementara kita anggap bahwa kehidupan muncul secara kebetulan sebagaimana dinyatakan oleh evolusionis. Dalam hal ini, asam-asam amino tangan kanan dan tangan kiri yang tak sengaja terbentuk seharusnya secara umum tersedia dalam kadar yang sama di alam. Karena itu, semua makhluk hidup seharusnya memiliki kedua jenis asam amino di dalam tubuhnya, sebab secara kimiawi tidak mustahil bagi kedua jenis asam amino saling mengikat. Akan tetapi, seperti yang kita ketahui, di dunia nyata, protein-protein pada semua organisme hidup hanya tersusun dari asam-asam amino tangan kiri.

Pertanyaan tentang cara protein dapat memilih hanya yang tangan kiri dari semua asam amino, dan mengapa tak satu pun asam amino tangan kanan terlibat di dalam proses kehidupan, adalah sebuah masalah yang masih membingungkan kaum evolusionis. Seleksi khusus dan sadar seperti itu membentuk salah satu kebuntuan terbesar yang dihadapi teori evolusi.

Terlebih lagi, tabiat protein ini membuat masalah yang dihadapi evolusionis dengan "kebetulan" malah lebih buruk. Supaya sebuah protein "berguna" dihasilkan, tak cukup bagi asam-asam amino ada dalam jumlah dan urutan tertentu, dan bergabung dengan rancangan tiga dimensi yang tepat. Di samping itu, semua asam amino ini harus tangan kiri: tak satu pun yang tangan kanan. Dan tiada mekanisme seleksi alam yang dapat mengenali bahwa suatu asam amino tangan kanan telah dimasukkan ke dalam urutan dan mengetahui bahwa asam amino ini harus dicopot dari rangkaian. Keadaan ini sekali lagi melenyapkan untuk selamanya peluang bagi ketaksengajaan dan coba-coba.

The Britannica Science Encyclopedia, yang merupakan pembela evolusi yang lantang, menyatakan bahwa asam amino semua organisme hidup di bumi, dan blok-blok pembangun polimer rumit seperti protein, memiliki asimetri tangan kiri yang sama. Buku ini menambahkan bahwa hal ini mirip dengan melontarkan sekeping koin jutaan kali dan selalu mendapatkan sisi muka. Ensiklopedi yang sama menyebutkan bahwa mustahil memahami mengapa molekul menjadi tangan kiri atau tangan kanan, dan bahwa pilihan ini secara mencengangkan terkait dengan asal mula kehidupan di muka bumi.248

Jika sekeping koin selalu menampakkan sisi muka ketika dilontarkan jutaan kali, lebih masuk akalkah menghubungkannya dengan kebetulan, atau sebaliknya, menerima bahwa campur tangan yang sadar berlangsung? Jawabannya seharusnya sudah jelas. Akan tetapi, walaupun jelas, para evolusionis masih berlindung di balik kebetulan, sekadar karena tak ingin menerima adanya campur tangan yang sadar.

Keadaan yang serupa dengan kekirian asam amino juga terjadi pada nukleotida, satuan terkecil asam nukleat, DNA dan RNA. Berbeda dengan protein, yang hanya memilih asam amino tangan kiri, pada asam nukleat, bentuk yang lebih disukai komponen-komponen nukleotida selalu tangan kanan. Inilah fakta lain yang tak akan pernah bisa dijelaskan dengan kebetulan.

Sebagai kesimpulan, telah dibuktikan tanpa sedikit pun keraguan melalui peluang-peluang yang telah kita telaah bahwa asal mula kehidupan tak bisa dijelaskan dengan kebetulan. Jika kita berupaya menghitung peluang sebuah protein berukuran rata-rata yang tersusun dari 400 asam amino yang semuanya tangan kiri, kita akan sampai ke peluang 1 per 2400, atau 10120. Sekadar perbandingan, ingatlah bahwa jumlah elektron di alam semesta diperkirakan sekitar 1079, yang meskipun sangat besar, tetap sebuah angka yang jauh lebih kecil. Peluang asam-asam amino membuat urutan dan bentuk berguna yang diperlukan akan menghasilkan angka yang jauh lebih besar. Jika kita tambahkan semua peluang ini, dan terus menghitung peluang protein-protein dengan jenis dan jumlah asam amino yang lebih banyak, perhitungannya menjadi tak terbayangkan.

Keharusan Ikatan Peptida

Kesulitan-kesulitan yang tak bisa diatasi teori evolusi tentang perkembangan satu protein tak terbatas pada yang kami sampaikan sejauh ini. Tak cukup bagi asam-asam amino sekadar tersusun dalam jumlah, urutan, dan struktur tiga dimensi yang benar. Pembentukan sebuah protein juga mensyaratkan molekul-molekul asam amino dengan lebih dari satu lengan saling terikat dengan cara tertentu saja. Ikatan itu disebut "ikatan peptida." Asam amino dapat membentuk beraneka ikatan, tetapi protein terbentuk dari—dan hanya dari—asam-asam amino yang disatukan oleh ikatan-ikatan peptida.

Sebuah perbandingan akan menjelaskan hal ini. Anggaplah semua bagian mobil tersedia dan dirakit dengan benar, dan satu-satunya pengecualian adalah salah satu rodanya terpasang tidak dengan mur dan baut yang biasa, melainkan seutas kawat, dengan suatu cara sehingga sumbunya tegak lurus ke tanah. Mustahil bagi mobil itu menempuh bahkan jarak terpendek, secanggih apa pun teknologinya atau setangguh apa pun mesinnya. Kali pertama, semuanya terlihat ada di tempat yang benar, tetapi kekeliruan pemasangan satu saja roda membuat keseluruhan mobil tak berguna. Dengan cara yang sama, pada sebuah molekul protein, gabungan bahkan satu asam amino dengan yang lain dengan ikatan yang bukan ikatan peptida membuat keseluruhan molekul tak berguna.

Penelitian telah menunjukkan bahwa asam amino yang berikatan secara acak akan berikatan peptida hanya dalam 50 persen kejadian, dan selebihnya muncul ikatan lain yang tak dikenal di dalam protein. Agar berguna selayaknya, setiap asam amino yang menyusun protein harus digabungkan dengan asam-asam amino lain hanya dengan ikatan peptida, sama seperti asam amino harus dipilih hanya dari bentuk-bentuk tangan kiri.

Peluang hal ini terjadi sama dengan peluang setiap protein menjadi tangan kiri. Oleh karena itu, ketika kita memikirkan sebuah protein dengan 400 asam amino, peluang semua asam amino saling berikatan hanya dengan ikatan peptida adalah 1 per 2399.

Adakah Mekanisme Coba-Coba Di Alam?

Akhirnya, kita bisa menyimpulkan satu butir amat penting terkait dengan penalaran dasar dari perhitungan peluang, yang beberapa contohnya telah kita lihat. Kami telah menunjukkan bahwa perhitungan peluang yang dibuat di atas mencapai tingkat astronomis, dan bahwa kejanggalan-kejanggalan astronomis ini tak berpeluang untuk benar-benar terjadi.

Namun demikian, ada lebih banyak fakta penting dan menghancurkan yang menghadang evolusionis di sini. Dalam keadaan-keadaan alamiah, bahkan masa untuk coba-coba tak dapat dimulai, lepas dari kejanggalan-kejanggalan astronomisnya, sebab tiada mekanisme coba-coba di alam dari mana protein bisa muncul.

Perhitungan yang kami berikan di atas menunjukkan peluang pembentukan suatu molekul protein dengan 500 asam amino berlaku hanya untuk sebuah lingkungan coba-coba ideal, yang sebenarnya tak ada di dalam kehidupan nyata. Yakni, peluang mendapat satu protein fungsional adalah "1" berbanding 10950 hanya jika kita menganggap bahwa ada mekanisme khayalan di dalam mana sebuah tangan gaib menyatukan 500 asam amino secara acak dan lalu, melihat hasilnya bukan gabungan yang benar, melepaskan asam-asam itu satu demi satu, lalu menyusun kembali secara berbeda, dan begitu seterusnya. Dalam tiap percobaan, asam amino harus dilepaskan satu per satu, dan disusun kembali dengan cara baru. Sintesis seharusnya berhenti setelah asam amino ke-500 ditambahkan, dan harus dipastikan bahwa tak satu pun asam amino tambahan terlibat. Penggabungan seharusnya dihentikan untuk melihat apakah protein yang berfungsi telah terbentuk, dan, jika terjadi kegagalan, semuanya harus dicopot dan dicoba kembali dengan urutan lain. Di samping itu, dalam tiap percobaan, tak satu pun zat asing boleh terlibat. Yang juga penting adalah rantai yang terbentuk selama coba-coba seharusnya tidak diuraikan dan dihancurkan sebelum mencapai ikatan ke-499. Syarat seperti ini berarti bahwa peluang yang telah kami sebutkan di atas hanya bisa terjadi dalam suatu lingkungan yang terkendali dengan sebuah mekanisme sadar yang mengarahkan awal, akhir, dan setiap tahap peralihan proses itu, dan hanya "asam amino pilihan" yang mendapat kesempatan. Sudah jelas tak mungkin ada lingkungan seperti itu di dalam keadaan-keadaan alamiah. Oleh karena itu, pembentukan suatu protein di lingkungan alamiah secara nalar dan teknis tak mungkin.

Karena tak bisa melihat gambaran besar masalah ini, namun mendekatinya dari sudut pandang dangkal dan menganggap pembentukan protein adalah reaksi kimia sederhana, sebagian orang mungkin menarik kesimpulan tak wajar seperti "asam amino bergabung lewat reaksi dan lalu membentuk protein." Namun demikian, reaksi-reaksi kimia yang kebetulan terjadi pada struktur mati ini hanya bisa membawa ke perubahan sederhana dan mendasar. Jumlahnya telah diketahui dan terbatas. Untuk bahan kimia yang agak lebih rumit, pabrik-pabrik raksasa, kilang-kilang kimia, dan laboratorium-laboratorium harus dilibatkan. Obat-obatan dan banyak senyawa kimia yang kita gunakan sehari-hari dibuat dengan cara ini. Protein berstruktur lebih rumit daripada senyawa kimia yang dihasilkan industri. Karena itu, mustahil bagi protein, yang masing-masing merupakan keajaiban rancangan dan rekayasa, yang setiap bagiannya menempati tempatnya dalam urutan yang pasti, bermula sebagai hasil reaksi kimia yang serampangan.

Mari sejenak kita kesampingkan semua kemustahilan yang telah kami utarakan sejauh ini, dan anggaplah bahwa suatu molekul protein yang berguna masih berevolusi tiba-tiba "secara kebetulan." Walaupun demikian, evolusi lagi-lagi tak memiliki jawaban, sebab agar bisa bertahan, protein ini harus tersekat dari lingkungan alamiahnya dan terlindung di bawah keadaan yang sangat khusus. Jika tidak, protein akan hancur karena pengaruh keadaan alamiah bumi, atau bersatu dengan asam, asam amino, atau senyawa kimia lain, dan dengan begitu kehilangan sifat-sifat khususnya dan mengubahnya menjadi zat yang sama sekali lain dan tak berguna.

Yang telah kita bahas sejauh ini adalah kemustahilan kemunculan hanya satu protein secara kebetulan. Akan tetapi, dalam tubuh manusia saja ada sekitar 100 ribu protein yang berfungsi. Lebih-lebih, ada sekitar 1,5 juta spesies yang sudah dikenali, dan diperkirakan masih 10 juta yang belum. Walau banyak protein yang mirip digunakan dalam banyak bentuk kehidupan, diperkirakan bahwa setidaknya ada 100 juta atau lebih jenis protein di dunia tumbuhan dan hewan. Dan jutaan spesies yang telah punah tidak tercakup di dalam perhitungan ini. Dengan kata lain, ratusan juta kode protein telah ada di dunia. Jika seseorang menyadari bahwa tak satu pun dari protein ini bisa dijelaskan dengan kebetulan, jelaslah apa makna ratusan juta jenis protein.

Dengan mengingat kebenaran ini, bisa dipahami secara jernih bahwa konsep-konsep seperti "kebetulan" dan "coba-coba" tak berkaitan apa pun dengan keberadaan makhluk hidup.

The Evolutionary Argument about the Origin of Life

protein sentezi

1.Asam amino
2. RNA transfer
3. Kodon
4. RNA kurir
5. Ribosom
6. Urutan protein
a. Val –Valin
b. Sis –Sistin
c. Ala –Alanin

Sintesis Protein

Ribosom membaca RNA kurir (mRNA), dan menyusun asam amino menurut informasi yang diterimanya di sini. Pada gambar, urutan berturut-turut asam-asam amino valin, sistein, dan alanin yang disusun oleh ribosom dan RNA transfer (tRNA) dapat terlihat. Semua protein di alam dihasilkan melalui proses rumit ini. Tak ada protein yang muncul karena “ketaksengajaan.”

Di atas segalanya, ada satu hal penting yang harus diperhatikan: jika sembarang tahap dalam proses evolusi terbukti mustahil, sudah cukup membuktikan bahwa keseluruhan teori ini sepenuhnya keliru dan tidak sahih. Misalnya, dengan membuktikan bahwa pembentukan protein secara serampangan mustahil, semua pernyataan lain tentang langkah-langkah selanjutnya juga terbantahkan. Setelah ini, mengambil beberapa tengkorak manusia dan kera dan terlibat dalam tebak-menebak tengkorak-tengkorak itu menjadi tanpa makna.

Cara organisme hidup mewujud dari zat mati adalah sebuah persoalan yang bahkan tak diinginkan evolusionis disebut-sebut untuk waktu lama. Akan tetapi, masalah ini, yang terus-menerus dihindari, akhirnya harus ditanggapi, dan upaya-upaya menyelesaikannya dilakukan dengan sederet percobaan di perempat kedua abad ke-20.

Pertanyaan utama adalah: bagaimanakah sel hidup pertama muncul dalam keadaan atmosfer bumi di purba? Dengan kata lain, penjelasan seperti apakah yang bisa ditawarkan evolusionis?

Orang pertama yang memberikan perhatian pada masalah ini adalah seorang ahli biologi Rusia, Alexander I. Oparin, penemu konsep “evolusi kimia.” Sekalipun didukung semua kajiannya teoretisnya, Oparin tak mampu menghasilkan apa pun yang memberikan setitik cahaya tentang asal usul kehidupan. Ia mengatakan yang berikut di dalam bukunya The Origin of Life (Asal Usul Kehidupan) yang diterbitkan di tahun 1936:

Akan tetapi, sayangnya, masalah asal usul sel mungkin titik tersuram dalam keseluruhan kajian tentang evolusi organisme.250

Sejak Oparin, kaum evolusionis telah melakukan tak terhitung percobaan, melaksanakan penelitian, dan membuat pengamatan untuk membuktikan bahwa satu sel bisa terbentuk secara kebetulan. Akan tetapi, setiap upaya semacam itu hanya membuat kerumitan rancangan sel kian jelas, dan malah kian membantah hipotesis evolusionis. Profesor Klaus Dose, presiden Institute of Biochemistry di University of Johannes Gutenberg, menyatakan:

Lebih dari 30 tahun percobaan tentang asal usul kehidupan di bidang kimia dan evolusi molekuler telah membawa kita ke penghayatan lebih baik atas besarnya masalah asal usul kehidupan di bumi, bukan pemecahannya. Saat ini, semua pembahasan tentang teori dan percobaan utama di bidang ini berakhir dengan kebuntuan atau pengakuan akan kebodohan.251

Di dalam bukunya The End of Science (Akhir Ilmu Pengetahuan), penulis ilmiah evolusi John Horgan mengatakan tentang asal usul kehidupan, “Sejauh ini, inilah pegas terlemah dari rangka (sasis) biologi mutakhir.”252

Pernyataan berikut dari ahli geokimia Jeffrey Bada, dari Scripps Institute yang berpangkalan di San Diego, membuat ketakberdayaan evolusionis makin jelas:

Saat ini, selagi meninggalkan abad ke-20, kita masih menghadapi masalah tak terpecahkan yang terbesar yang kita miliki ketika memasuki abad ke-20: bagaimanakah kehidupan berasal di bumi?”253

Sekarang, mari kita lihat lebih rinci "masalah tak terpecahkan yang terbesar" dari teori evolusi. Pokok pertama yang harus kita perhatikan adalah percobaan Miller yang tersohor.

Percobaan Miller

Stanley Miller

Stanley Miller dengan peralatan percobaannya.

Kajian yang paling terpandang tentang asal usul kehidupan adalah percobaan Miller yang dilakukan oleh Stanley Miller, seorang peneliti Amerika, pada tahun 1953. (Percobaan ini juga disebut "percobaan Urey-Miller" karena sumbangan dosen Miller di University of Chicago, Harold Urey.) Percobaan ini satu-satunya "petunjuk" yang dimiliki kaum evolusionis untuk katanya membuktikan "tesis evolusi kimia;" mereka mengajukannya sebagai tahap awal proses evolusi yang diperkirakan yang mengantarkan ke kehidupan. Meskipun hampir setengah abad berlalu, dan berbagai kemajuan teknologi telah dicapai, tak seorang pun membuat kemajuan lebih jauh. Walau demikian, percobaan Miller masih digunakan di dalam buku-buku acuan sebagai penjelasan evolusi generasi pertama makhluk hidup. Itu karena para peneliti evolusionis, yang menyadari fakta bahwa kajian-kajian semacam itu bukan mendukung, tetapi malah membantah tesis mereka, sengaja menghindari terlibat dalam percobaan-percobaan sejenis.

Tujuan Stanley Miller adalah menunjukkan lewat percobaan bahwa asam-asam amino, unsur penyusun protein, bisa mewujud "secara kebetulan" di bumi yang tanpa kehidupan miliaran tahun yang lalu. Dalam percobaannya, Miller menggunakan campuran gas yang diperkirakannya ada pada keadaan bumi purba (yang kemudian terbukti tidak mendekati kenyataan), terdiri dari amonia, metana, hidrogen dan uap air. Karena dalam keadaan alamiah gas-gas ini tak saling bereaksi, ia menambahkan energi ke campuran itu untuk memulai reaksi di antara gas-gas. Dengan menganggap bahwa energi mungkin datang dari petir dalam atmosfer purba, Miller menggunakan arus listrik untuk tujuan ini.

Miller memanaskan campuran gas ini pada 100° C selama sepekan dan menambahkan arus listrik. Di akhir pekan, ia menganalisis senyawa-senyawa kimia yang terbentuk di dasar tabung, dan mengamati bahwa 3 dari 20 asam amino yang menyusun unsur-unsur dasar protein telah terbentuk.

Percobaan ini menimbulkan kegembiraan besar di kalangan evolusionis, dan disiarkan sebagai keberhasilan luar biasa. Terlebih lagi, dalam kegembiraan yang memuncak, beraneka media cetak menurunkan kepala berita seperti "Miller menciptakan kehidupan." Akan tetapi, yang telah dihasilkan Miller hanyalah sebagian kecil dari molekul mati.

Disemangati oleh percobaan ini, para evolusionis segera membuat skenario baru. Tahap-tahap berikutnya perkembangan asam amino segera disusun. Diperkirakan, asam-asam amino lalu bergabung dengan urutan yang benar secara kebetulan untuk membentuk protein. Sebagian protein yang muncul secara kebetulan ini menggabungkan diri menjadi struktur mirip membran sel yang "entah bagaimana" mewujud dan membentuk suatu sel sederhana. Lalu, seiring dengan waktu, sel-sel ini diperkirakan bergabung membentuk organisme hidup bersel banyak. Akan tetapi, percobaan Miller sejak itu terbukti keliru dalam berbagai segi.

Empat Fakta Yang Membantah Percobaan Miller

Miller deneyi

Atmosfer buatan yang dibuat oleh Miller dalam percobaannya sebenarnya tak mirip sama sekali dengan atmosfer bumi purba.

Percobaan Miller mencoba membuktikan bahwa asam amino bisa terbentuk sendiri dalam keadaan-keadaan bumi purba, tetapi mengandung ketidakserasian di beberapa bidang:

1-Dengan menggunakan suatu mekanisme yang disebut "perangkap dingin," Miller memisahkan asam-asam amino dari lingkungannya sesaat setelah terbentuk. Jika saja ia tidak melakukannya, keadaan-keadaan lingkungan tempat asam-asam amino terbentuk akan segera menghancurkan molekul-molekul ini.

Tak pelak lagi, mekanisme pemisahan seperti ini tidak ada dalam keadaan bumi purba. Tanpa mekanisme demikian, bahkan jika satu asam amino diperoleh, zat-zat itu akan segera dihancurkan. Ahli kimia Richard Bliss mengutarakan pertentangan ini dengan mengamati bahwa "Sebenarnya, tanpa perangkap ini, hasil-hasil kimia akan dihancurkan oleh sumber energi."254 Dan, cukup pasti, dalam percobaan-percobaan sebelumnya, Miller tak mampu membuat bahkan satu asam amino menggunakan bahan yang sama tanpa mekanisme perangkap dingin.

2- Atmosfer purba yang direkacipta Miller dalam percobaannya tidak wajar. Pada tahun 1980-an, para ilmuwan setuju bahwa nitrogen dan karbon dioksida seharusnya dipakai dalam lingkungan buatan ini, bukannya metana dan amonia.

Jadi, mengapa Miller bersikukuh dengan gas-gas ini? Jawabannya sederhana: tanpa amonia, tak mungkin menyusun asam amino apa pun. Kevin McKean berbicara tentang hal ini dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam majalah Discover:

Miller dan Urey meniru atmosfer kuno di bumi dengan mencampurkan metana dan amonia. ..Akan tetapi dalam penelitian-penelitian terbaru, diketahui bahwa pada masa itu bumi sangat panas, dan mengandung lelehan nikel dan besi. Oleh karena itu, susunan senyawa kimia di atmosfer pada masa itu seharusnya sebagian besar nitrogen (N2), karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O). Akan tetapi, gas-gas ini tidak selayak metana dan amonia bagi pembentukan molekul-molekul organik.255

Ilmuwan Amerika JP Ferris dan CT Chen mengulangi percobaan Miller dengan lingkungan atmosfer yang mengandung karbon dioksida, nitrogen, dan uap air, dan tidak mampu mendapatkan bahkan satu saja molekul asam amino.256

3-Hal penting lainnya yang membantah percobaan Miller adalah bahwa tersedia cukup oksigen untuk menghancurkan semua asam amino di atmosfer pada masa ketika senyawa-senyawa ini diperkirakan terbentuk. Fakta ini, yang diabaikan oleh Miller, disingkapkan oleh jejak-jejak besi teroksidasikan yang ditemukan di bebatuan yang ditaksir berumur 3,5 miliar tahun.257

Stanley Miller

Saat ini, Miller juga mengakui bahwa percobaannya di tahun 1953 sangat jauh dari menerangkan asal usul kehidupan.

Masih ada temuan-temuan lain yang menunjukkan bahwa jumlah oksigen di atmosfer pada masa itu lebih tinggi daripada yang awalnya dinyatakan oleh para evolusionis. Beraneka penelitian juga menunjukkan bahwa jumlah radiasi sinar ultra-ungu yang dipaparkan ke bumi adalah 10 ribu kali yang diperkirakan para evolusionis. Tak bisa dipungkiri, radiasi kuat ini telah membebaskan oksigen dengan menguraikan uap air dan karbon dioksida di atmosfer.

Keadaan ini membantah sepenuhnya percobaan Miller, yang mengabaikan oksigen sama sekali. Jika oksigen digunakan di dalam percobaan, metana akan diuraikan menjadi karbon dioksida dan air, dan amonia menjadi nitrogen dan air. Di sisi lain, di dalam suatu lingkungan yang tidak ada oksigen, seharusnya juga tidak ada lapisan ozon; maka, asam amino akan langsung dihancurkan karena terpapar sinar ultra-ungu yang paling kuat tanpa perlindungan lapisan ozon. Dengan kata lain, dengan atau tanpa oksigen di zaman bumi purba, hasilnya tetap lingkungan maut bagi asam amino.

4- Pada akhir percobaan Miller, banyak asam organik juga terbentuk dengan sifat-sifat yang merusak bagi struktur dan fungsi makhluk hidup. Jika asam-asam amino tidak dipisahkan dan dibiarkan di lingkungan yang sama dengan senyawa-senyawa kimia ini, kehancuran atau perubahan menjadi senyawa lain melalui reaksi kimia tidak terelakkan.

Lebih-lebih, percobaan Miller juga menghasilkan asam amino tangan kanan.258 Keberadaan asam-asam amino membantah teori evolusi bahkan menurut kaidah-kaidahnya sendiri, sebab asam amino tangan kanan tak berfungsi dalam susunan organisme hidup. Kesimpulannya, keadaan-keadaan di dalam mana asam amino terbentuk pada percobaan Miller tidak layak bagi kehidupan. Nyatanya, medium ini berbentuk campuran asam yang menghancurkan dan membakar molekul-molekul berguna yang dihasilkan.

Semua fakta ini mengarah ke satu kebenaran yang kokoh: percobaan Miller tak bisa menyatakan telah membuktikan bahwa makhluk hidup terbentuk secara kebetulan di dalam keadaan yang mirip bumi purba. Keseluruhan percobaan tak lebih dari percobaan laboratorium yang sengaja dan terkendali untuk mensintesis asam amino. Jumlah dan jenis gas yang digunakan dalam percobaan secara ideal diarahkan agar memungkinkan asam amino terbuat. Jumlah energi yang dipasok ke sistem tak terlalu banyak dan tak terlalu sedikit, namun diatur dengan tepat supaya reaksi-reaksi penting dapat berlangsung. Peralatan percobaan disekat sehingga tak memungkinkan kebocoran unsur-unsur yang membahayakan, merusak, atau lainnya yang menghalangi pembentukan asam amino. Tiada unsur, mineral, atau senyawa yang mungkin ada pada masa bumi purba, namun bisa mengubah jalannya reaksi, dilibatkan di dalam percobaan. Oksigen, yang bisa mencegah pembentukan asam amino lewat oksidasi, adalah salah satu unsur merusak ini. Bahkan, dalam keadaan ideal laboratorium seperti itu, asam amino yang dihasilkan mustahil bertahan dan menghindari kerusakan tanpa mekanisme "perangkap dingin."

Nyatanya, dengan percobaannya, Miller menghancurkan pernyataan evolusi bahwa "kehidupan muncul sebagai hasil kebetulan yang tak sadar." Yakni, jika percobaan ini membuktikan sesuatu, itulah bahwa asam amino hanya bisa dihasilkan dalam suatu lingkungan laboratorium yang terkendali dengan semua syarat dirancang khusus oleh campur-tangan yang sadar.

Saat ini, percobaan Miller diabaikan sama sekali bahkan juga oleh para ilmuwan evolusionis. Pada terbitan Februari 1998 majalah ilmiah evolusionis Earth, pernyataan berikut muncul pada sebuah artikel berjudul "Life's Crucible" (Periuk Kehidupan):

Ahli geologi kini berpikir bahwa kandungan utama atmosfer purba adalah karbon dioksida dan nitrogen, gas-gas yang kurang reaktif daripada yang dipakai dalam percobaan tahun 1953. Dan bahkan jika atmosfer Miller memang benar ada, bagaimanakah Anda bisa memperoleh molekul-molekul sederhana seperti asam amino lewat perubahan-perubahan kimia yang diperlukan yang akan mengubahnya menjadi senyawa yang lebih rumit, atau polimer, seperti protein? Miller sendiri angkat tangan pada kepingan teka-teki yang satu ini: “Ini sebuah masalah, “ ia menarik napas panjang dengan putus asa. “Bagaimanakah Anda membuat polimer? Itu tidak mudah.”259

Sebagaimana terlihat, bahkan Miller sendiri telah menerima bahwa percobaannya tidak mengantarkan ke sebuah penjelasan tentang asal usul kehidupan. Pada terbitan Maret 1998, National Geographic, dalam artikel berjudul “The Emergence of Life on Earth” (Kemunculan Kehidupan di Bumi) ulasan berikut muncul:

Many scientists now suspect that the early atmosphere was different to what Miller first supposed. They think it consisted of carbon dioxide and nitrogen rather than hydrogen, methane, and ammonia.

Banyak ilmuwan kini menengarai bahwa atmosfer awal berbeda dengan yang dulu diperkirakan Miller. Mereka berpikir bahwa atmosfer itu mengandung karbon dioksida dan nitrogen, bukan hidrogen, metana dan amonia. Itu berita buruk bagi ahli kimia. Ketika mencoba menyalakan karbon dioksida dan nitrogen, mereka mendapatkan sedikit sekali molekul organik—setara dengan melarutkan setetes pewarna makanan ke dalam air satu kolam renang. Para ilmuwan merasa sulit membayangkan kehidupan muncul dari sup encer seperti itu.260

Singkatnya, baik percobaan Miller maupun percobaan serupa lainnya yang telah diupayakan, tak bisa menjawab pertanyaan tentang cara kehidupan muncul di bumi. Semua penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kehidupan mustahil mewujud secara kebetulan, dan karenanya membenarkan bahwa kehidupan itu diciptakan. Alasan mengapa para evolusionis tak menerima kenyataan yang jelas ini adalah ketaatan buta mereka pada prasangka yang sama sekali tak ilmiah. Cukup menarik, Harold Urey, yang menyelenggarakan percobaan Miller bersama mahasiswanya Stanley Miller, membuat pengakuan berikut tentang hal ini:

Semua kita yang mempelajari asal usul kehidupan menemukan bahwa kian kita selami, kian kita merasa bahwa kehidupan terlalu rumit untuk berevolusi di mana pun. Kita semua percaya sebagai sebuah keyakinan yang mendalam bahwa kehidupan berevolusi dari benda mati di planet ini. Hanya saja kerumitannya begitu besar, sukar bagi kita membayangkan [evolusi] itu terjadi.261

Atmosfer Purba Dan Protein

Buku-buku evolusionis menggunakan percobaan Miller, sekalipun dengan semua ketimpangannya, untuk mencoba menyamarkan masalah asal usul asam amino. Dengan memberikan kesan bahwa masalah ini telah lama dipecahkan oleh percobaan tidak sah itu, mereka mencoba menambal celah pada teori evolusi.

Akan tetapi, untuk menjelaskan tahap kedua asal usul kehidupan, evolusionis menghadapi suatu masalah yang justru lebih besar daripada pembentukan asam amino—yakni, asal usul protein, blok pembangun kehidupan, yang terdiri dari ratusan jenis asam amino yang saling terikat dengan susunan tertentu.

Menyatakan bahwa protein terbentuk secara kebetulan dalam keadaan alamiah lebih tidak wajar dan tidak beralasan daripada bahwa asam amino terbentuk secara kebetulan. Di halaman-halaman sebelumnya, melalui perhitungan peluang kita telah melihat kemustahilan matematis dari penggabungan serampangan asam amino ke dalam urutan yang tepat untuk membentuk protein. Kini, kita akan menelaah kemustahilan protein untuk dihasilkan secara kimiawi di dalam keadaan-keadaan bumi purba.

Masalah Sintesis Protein di dalam Air

Sebagaimana kita lihat sebelumnya, ketika bergabung membentuk protein, asam-asam amino saling membentuk ikatan khusus yang disebut ikatan peptida. Sebuah molekul air dilepaskan selama pembentukan ikatan peptida ini.

Fakta ini dengan tegas menyangkal penjelasan evolusionis bahwa kehidupan purba bermula di air, sebab menurut "azas Le Châtelier" dalam ilmu kimia, mustahil sebuah reaksi yang melepaskan air (reaksi kondensasi) berlangsung di suatu lingkungan berair. Kemungkinan jenis reaksi ini berlangsung di suatu lingkungan berair dikatakan "berpeluang terjadi paling kecil" dari semua reaksi kimia.

Oleh karena itu, lautan, yang dikatakan sebagai tempat kehidupan bermula dan asam amino berasal, pasti bukan lingkungan yang pas bagi asam amino untuk membentuk protein.262 Di sisi lain, seharusnya tak masuk akal bagi para evolusionis untuk mengubah pemikiran mereka dan menyatakan bahwa kehidupan berasal dari daratan, sebab satu-satunya lingkungan tempat asam amino bisa terlindung dari radiasi ultra-ungu adalah samudra dan lautan. Di daratan, asam amino akan dihancurkan oleh sinar ultra-ungu. Di sisi lain, Azas Le Châtelier, membatalkan pernyataan pembentukan kehidupan di laut. Inilah dilema lain yang menghadang evolusi.

Percobaan Fox

Tertantang oleh dilema di atas, para evolusionis mulai menciptakan skenario-skenario tak wajar yang didasarkan pada "masalah air" ini yang demikian tegas menyangkal teori mereka. Sydney Fox adalah salah seorang yang paling terkenal dari para peneliti ini. Fox mengajukan teori berikut untuk memecahkan masalah. Menurutnya, asam amino pertama telah dipindahkan ke lereng-lereng dekat gunung berapi sesaat setelah terbentuk di samudra purba. Air yang dikandung campuran yang berisi asam amino ini pasti telah menguap ketika suhu meningkat di atas titik didih pada lereng-lereng itu. Asam-asam amino yang "mengering" ini, lalu dapat bergabung membentuk protein.

Akan tetapi cara "rumit" ini tak diterima oleh banyak orang di bidang ini karena asam amino tak bisa menahan suhu setinggi itu. Penelitian membenarkan bahwa asam-asam amino akan segera hancur pada suhu yang sangat tinggi.

Tetapi Fox tidak menyerah. Ia menggabungkan asam-asam amino yang dimurnikan di laboratorium, "dengan syarat-syarat sangat khusus," lewat memanaskannya di suatu lingkungan kering. Asam-asam amino bersatu, namun belum juga protein dihasilkan. Yang sebenarnya diperoleh Fox adalah simpul-simpul asam amino yang sederhana dan tak teratur, bergabung acak satu sama lain, dan simpul-simpul ini jauh dari menyerupai protein hidup mana pun. Lebih jauh lagi, jika Fox menyimpan asam-asam amino pada suatu suhu tetap, maka simpul-simpul tak berguna ini juga akan terurai.

Masalah lain yang menihilkan percobaan ini adalah bahwa Fox tidak memakai hasil-hasil akhir tak berguna yang diperoleh percobaan Miller; malahan Fox menggunakan asam-asam amino murni dari organisme hidup. Akan tetapi, percobaan ini, yang dimaksudkan menjadi kelanjutan percobaan Miller, seharusnya berangkat dari hasil-hasil percobaan yang dilakukan Miller. Namun, baik Fox maupun para peneliti lain, tidak memakai asam-asam amino tak berguna yang dihasilkan Miller.

Percobaan Fox bahkan tidak diterima di kalangan evolusionis, sebab sudah jelas bahwa rantai-rantai asam amino tak berguna yang diperoleh Fox (yang disebutnya "proteinoid") mustahil terbentuk di dalam keadaan alamiah. Lebih-lebih, protein, satuan dasar kehidupan, masih belum bisa dihasilkan. Masalah asal usul protein masih belum terpecahkan. Dalam sebuah artikel majalah ilmiah populer, Chemical Engineering News, yang muncul di tahun 1970-an, percobaan Fox disebutkan sebagai berikut:

Sydney Fox dan para peneliti lainnya berhasil menggabungkan asam-asam amino dalam bentuk "proteinoid" menggunakan teknik-teknik pemanasan khusus di dalam keadaan yang ternyata tidak terjadi sama sekali pada tahap-tahap purba bumi. Juga, asam-asam ini sama sekali tak serupa dengan protein yang ada pada makhluk hidup sekarang. Molekul-molekul ini tak lebih dari regen-regen kimia tak berguna dan tak teratur. Bahkan dijelaskan bahwa jika telah terbentuk di masa-masa awal, molekul-molekul seperti itu pasti akan dihancurkan.263

Malah, proteinoid yang dihasilkan Fox berbeda sama sekali dengan protein yang sebenarnya, baik struktur maupun fungsi. Perbedaan antara protein dan proteinoid ini sebesar perbedaan antara sepotong perangkat canggih dan seonggok besi yang belum diolah.

Lebih jauh lagi, rantai-rantai asam amino yang acak ini bahkan tidak memiliki kesempatan bertahan dalam keadaan atmosfer purba. Pengaruh fisik dan kimia yang berbahaya dan merusak yang disebabkan oleh paparan berkelanjutan sinar ultra-ungu dan keadaan alam lainnya yang tidak mantap akan membuat proteinoid ini terurai. Karena azas Le Châtelier, asam amino juga mustahil berikatan di dalam air, tempat sinar ultra-ungu tak bisa menjangkau. Karena hal ini, gagasan bahwa proteinoid itu dasar kehidupan akhirnya kehilangan dukungan dari kalangan ilmuwan.

proteinoid proteinoid

"Proteinoid" Fox

Sydney Fox, yang terpengaruh oleh skenario Miller, membentuk molekul-molekul di atas, yang disebutnya “proteinoid,” dengan menggabungkan asam-asam amino. Akan tetapi, ikatan asam amino yang tak berfungsi ini tak memiliki kesamaan dengan protein sebenarnya yang membangun tubuh organisme hidup. Sesungguhnya, semua usaha ini tak hanya menunjukkan bahwa kehidupan bukan hanya tak muncul secara kebetulan, tetapi juga tak dapat dikembangbiakkan di lingkungan laboratorium.

Asal Usul Molekul DNA

Telaah kita sejauh ini telah menunjukkan bahwa teori evolusi berada dalam kebingungan yang parah di tingkat molekul. Kaum evolusionis belum sama sekali menerangkan pembentukan asam amino. Di sisi lain, pembentukan protein adalah teka-teki tersendiri.

Namun, masalahnya bahkan tak terbatas pada asam amino dan protein saja: ini hanya permulaan. Selain keduanya, struktur sel yang luar biasa rumit membawa evolusionis ke kebuntuan lain lagi. Alasannya adalah sel bukan hanya kumpulan protein yang tersusun dari asam amino, melainkan juga sebuah sistem paling rumit yang pernah dihadapi manusia.

Sementara teori evolusi mempunyai kesulitan sedemikian untuk menyediakan penjelasan yang masuk akal bagi keberadaan molekul yang merupakan dasar struktur sel, perkembangan-perkembangan dalam ilmu genetika dan penemuan asam-asam nukleat (DNA dan RNA) menghasilkan masalah-masalah yang benar-benar baru bagi teori. Pada tahun 1953, James Watson dan Francis Crick membuka sejarah baru dalam biologi dengan karya mereka tentang struktur DNA.

Molekul yang disebut DNA, yang ditemukan pada inti setiap sel yang berjumlah 100 triliun dalam tubuh kita, mengandung cetakbiru lengkap bagi pembentukan tubuh manusia. Informasi tentang semua sifat setiap orang, dari penampakan fisik hingga struktur organ-organ dalam terekam di DNA di dalam urutan empat basa khusus yang menyusun molekul raksasa ini. Basa-basa ini dikenal sebagai A, T, G, dan C, menurut huruf pertama nama masing-masing. Semua perbedaan struktural di antara manusia bergantung pada keragaman urutan huruf-huruf ini. Di samping ciri-ciri seperti tinggi, mata, rambut, dan warna kulit, DNA pada sebuah sel juga mengandung rancangan 206 tulang, 600 otot, dan 100 miliar sel syaraf (neuron), 1,000 triliun sambungan antara neuron dan otak, 97 ribu kilometer pembuluh darah, dan 100 triliun sel pada tubuh manusia. Jika kita menulis semua informasi yang dikodekan dalam DNA, kita harus menghimpun sebuah perpustakaan besar yang berisi 900 buku masing-masing 500 halaman tebalnya. Namun, informasi yang ditampung perpustakaan yang luar biasa ini terkodekan di dalam molekul DNA pada inti sel, yang jauh lebih kecil daripada sel yang panjangnya 1/100 milimeter itu sendiri.

Watson, Crick

Ketika menemukan struktur DNA, Watson dan Crick menunjukkan bahwa kehidupan lebih rumit daripada yang pernah terpikirkan.

DNA Tidak Bisa Dijelaskan Dengan Selain Rancangan

Kini, sebuah rincian penting patut diperhatikan. Satu kesalahan dalam urutan nukleotida yang menyusun suatu gen akan menyebabkan gen sama sekali tak berguna. Dengan menimbang bahwa ada 200 ribu gen dalam tubuh manusia, kian jelaslah bahwa mustahil bagi jutaan nukleotida yang menyusun semua gen ini terbentuk dengan urutan yang benar secara kebetulan. Ahli biologi evolusi, Frank Salisbury, mengulas kemustahilan ini:

Sebuah protein menengah mungkin mencakup kira-kira 300 asam amino. Gen DNA yang mengendalikannya bisa memiliki kira-kira 1,000 nukleotida dalam rantainya. Karena ada empat macam nukleotida dalam satu rantai DNA, rantai yang mengandung 1,000 mata rantai bisa terwujud dengan 41,000 cara. Dengan menggunakan sedikit aljabar (logaritma), kita mendapatkan bahwa 41,000 = 10600. Sepuluh dikalikan dengan dirinya sendiri sebanyak 600 kali atau digambarkan dengan angka 1 yang diikuti 600 angka nol! Ini angka yang sepenuhnya di luar pemahaman kita.264

Angka 41,000 setara dengan 10600. Ini berarti angka 1 yang diikuti 600 angka nol. Sebagaimana 1 diikuti 12 angka nol menunjukkan satu triliun, 600 angka nol merupakan angka yang tak terbayangkan.

Kemustahilan pembentukan RNA dan DNA oleh penimbunan nukleotida secara kebetulan diutarakan oleh ilmuwan Perancis, Paul Auger, sebagai berikut:

Kita harus membedakan dengan jelas dua tahap dalam pembentukan tak sengaja molekul-molekul rumit seperti nukleotida oleh peristiwa-peristiwa kimia. Pembentukan nukleotida satu per satu—yang tidak mustahil—dan penggabungannya menurut urutan yang sangat khusus. Yang kedua mutlak mustahil.265

Selama beberapa tahun, Francis Crick memercayai teori evolusi molekuler, namun pada akhirnya ia sendiri harus mengakui bahwa molekul serumit itu tak mungkin muncul tiba-tiba secara kebetulan sebagai hasil proses evolusi:

Seorang yang jujur, yang dibekali dengan semua ilmu pengetahuan yang kini tersedia, hanya dapat mengatakan bahwa, dengan pemahaman tertentu, asal usul kehidupan saat ini hampir suatu keajaiban.266

Evolusionis Turki, Profesor Ali Demirsoy terpaksa membuat pengakuan berikut tentang hal ini:

Nyatanya, kemungkinan pembentukan satu protein dan satu asam nukleat (DNA-RNA) adalah sebuah kemungkinan yang di luar perkiraan. Lebih jauh lagi, kemungkinan munculnya rantai protein tertentu demikian kecil sehingga dikatakan astronomis.267

DNA

Kode-kode DNA dari gen beta-globin. Kode-kode ini menyusun salah satu bagian hemoglobin yang mengangkut oksigen dalam darah. Yang penting adalah jika ada satu saja kesalahan pada kode-kode ini, protein yang dihasilkan akan sama sekali tak berguna.

Sebuah paradoks yang sangat menarik muncul di sini. Ketika DNA hanya bisa menggandakan diri dengan bantuan protein khusus (enzim), sintesis protein ini hanya bisa terwujud dengan informasi yang terkodekan dalam DNA. Karena saling bergantung, keduanya harus ada pada saat bersamaan untuk penggandaan. Seorang penulis ilmiah, John Horgan, menjelaskan dilema ini sebagai berikut:

DNA tak bisa melakukan tugasnya, termasuk membentuk lebih banyak DNA, tanpa bantuan protein katalis, atau enzim. Singkatnya, protein tak bisa terbentuk tanpa DNA, dan DNA juga tak bisa terbentuk tanpa protein.268

Keadaan ini meruntuhkan sekali lagi skenario bahwa kehidupan muncul secara kebetulan. Homer Jacobson, seorang guru besar kehormatan ilmu kimia, mengulas:

Petunjuk-petunjuk bagi penggandaan rencana, bagi energi dan pemilahan unsur-unsur dari lingkungan saat ini, bagi urutan pertumbuhan, dan bagi mekanisme efektor yang menerjemahkan perintah menjadi pertumbuhan—semuanya harus ada bersamaan pada saat itu [ketika kehidupan dimulai]. Gabungan peristiwa ini tampaknya suatu kebetulan yang luar biasa mustahil…269

Kutipan di atas ditulis dua tahun setelah penemuan struktur DNA oleh Watson dan Crick. Tetapi, sekalipun dengan semua perkembangan ilmu pengetahuan, masalah bagi evolusionis ini masih belum terpecahkan. Inilah mengapa ahli biokimia Jerman Douglas R. Hofstadter mengatakan:

>‘Bagaimanakah Kode Genetis, bersama dengan mekanisme penerjemahannya (molekul ribosom dan RNA), berasal?’ Untuk saat ini, kita harus memuaskan diri dengan rasa takjub dan tercengang, ketimbang sebuah jawaban.270

Sahabat dekat Stanley Miller dan Francis Crick dari University of San Diego, California, evolusionis tersohor Dr. Leslie Orgel mengatakan dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada tahun 1994:

Sangat mustahil bahwa protein dan asam nukleat, yang keduanya secara struktur rumit, muncul tiba-tiba di tempat dan waktu yang sama. Namun, juga mustahil salah satunya ada tanpa yang lain. Maka, pada pandangan pertama, orang mungkin harus menyimpulkan bahwa kehidupan tidak pernah, senyatanya, bermula dengan cara-cara kimia.271

Di samping semua ini, secara kimiawi tak mungkin bagi asam nukleat seperti DNA dan RNA, yang memiliki rangkaian informasi yang pasti, muncul secara kebetulan, atau bahkan salah satu nukleotida yang menyusunnya mewujud kebetulan, bertahan hidup, dan menjaga kemurniannya di lingkungan bumi purba. Bahkan majalah terkenal Scientific American, yang mengikuti garis evolusionis, terpaksa mengakui keraguan para evolusionis tentang hal ini:

Bahkan molekul-molekul yang lebih sederhana dihasilkan hanya dalam jumlah sedikit pada percobaan-percobaan wajar yang meniru keadaan bumi purba yang mungkin. Lebih buruk lagi, molekul-molekul ini umumnya unsur-unsur kecil aspal: masih bermasalah bagaimana molekul-molekul bisa dipilah dan dimurnikan lewat proses-proses geokimia yang pengaruh umumnya membuat campuran organik makin campur aduk. Dengan molekul yang agak lebih rumit ini, kesulitan-kesulitan meningkat cepat. Khususnya, suatu asal usul nukleotida (satuan pembentuk DNA dan RNA) yang murni geokimiawi menghadirkan kesulitan besar.272

Tentunya, pernyataan "sangat mustahil bagi kehidupan muncul dengan cara-cara kimiawi" sekadar berarti bahwa kehidupan adalah hasil suatu rancangan cerdas. "Evolusi kimia" yang telah dibicarakan oleh evolusionis sejak permulaan abad lalu ini tak pernah terjadi, dan tak lebih dari sebuah dongeng.

Tetapi, sebagian besar evolusionis meyakini dongeng ini dan dongeng-dongeng tak ilmiah sejenisnya seakan benar, sebab menerima gagasan rancangan cerdas berarti menerima penciptaan—dan mereka telah menyiapkan diri untuk tidak menerima kebenaran ini. Seorang ahli biologi terkenal dari Australia, Michael Denton, membahas masalah ini di dalam bukunya Evolution: A Theory in Crisis:

Bagi yang tidak percaya, gagasan bahwa program genetik organisme tingkat tinggi, yang mencakup kira-kira 100 juta keping informasi, setara dengan urutan huruf dalam sebuah perpustakaan kecil dengan 1,000 buku, yang menyimpan berbentuk kode tak terhitung ribuan algoritma yang mengendalikan, menentukan, serta menata pertumbuhan dan perkembangan bermiliar-miliar sel menjadi sebentuk organisme rumit, disusun oleh suatu proses yang murni acak, benar-benar pelecehan terhadap akal sehat. Namun, bagi para Darwinis, gagasan ini diterima tanpa sekelumit jua keraguan—kerangka berpikir lebih diutamakan!273

Beta-globin, dna

Informasi luar biasa yang disimpan di dalam DNA ini membuktikan bahwa kehidupan tak muncul secara kebetulan, namun sengaja dirancang. Tiada proses alamiah yang dapat menjadi asal usul DNA.

Ketaksahihan Dunia RNA

Penemuan di tahun 1970-an bahwa gas-gas yang awalnya ada pada atmosfer purba bumi membuat sintesis asam amino mustahil merupakan pukulan telak bagi teori evolusi molekuler. Evolusionis kemudian harus menghadapi fakta bahwa "percobaan atmosfer purba" oleh Stanley Miller, Sydney Fox, Cyril Ponnamperuma, dan lain-lainnya tidak sahih. Karena alasan ini, pada tahun 1980-an, para evolusionis mencoba lagi. Sebagai hasilnya, hipotesis "Dunia RNA" diajukan. Skenario ini mengusulkan bahwa bukan protein, tetapi molekul RNA yang mengandung informasi bagi protein, yang lebih dulu terbentuk.

Menurut skenario ini, yang diajukan pada tahun 1986 oleh Walter Gilbert, seorang ahli kimia Harvard, dan diilhami penemuan "ribozim" oleh Thomas Cech, miliaran tahun yang lalu, suatu molekul RNA yang mampu menggandakan diri terbentuk dengan suatu cara secara kebetulan. Lalu, molekul RNA ini mulai menghasilkan protein, setelah dirangsang oleh pengaruh luar. Setelah itu, menyimpan informasi ini ke sebuah molekul kedua menjadi penting, dan dengan suatu cara molekul DNA muncul untuk melakukannya.

Tersusun dari rantai kemustahilan di setiap tahap, skenario yang sulit dipercaya ini, yang jauh dari memberikan penjelasan apa pun tentang asal usul kehidupan, hanya memperbesar masalah dan menimbulkan banyak pertanyaan yang tak terjawab:

1. Karena mustahil menerima pembentukan tak sengaja bahkan satu nukleotida saja yang menyusun RNA, bagaimanakah mungkin nukleotida khayalan membentuk RNA dengan bergabung bersama dalam urutan tertentu? Evolusionis John Horgan, mengakui kemustahilan pembentukan RNA ini:

Sambil para peneliti terus mempelajari lebih dalam konsep Dunia RNA, lebih banyak masalah muncul. Bagaimanakah RNA kali pertama muncul? RNA dan unsur-unsurnya sulit disintesis pada sebuah laboratorium dengan keadaan terbaik, apalagi pada keadaan wajar.274

2. Bahkan jika kita menganggap bahwa RNA terbentuk secara kebetulan, bagaimanakah RNA ini, yang hanya terdiri dari satu rantai nukleotida, "memutuskan" untuk menggandakan diri, dan dengan mekanisme seperti apakah RNA ini melakukan proses penggandaan dirinya? Di manakah RNA dapat menemukan nukleotida yang dipakai melakukan penggandaan diri? Bahkan dua ahli mikrobiologi evolusionis Gerald Joyce dan Leslie Orgel, menguraikan keputus-asaan ini di dalam buku mereka In the RNA World (Di Dunia RNA):

Pembahasan ini… sedikit-banyak, telah dipusatkan kepada suatu kepura-puraan: dongeng molekul RNA yang dapat menggandakan diri yang bangkit sejak awal dari adonan polinukleotida acak. Tak hanya gagasan seperti itu tidak wajar menurut pemahaman kita tentang kimia sebelum kehidupan, tetapi juga mengekang kecenderungan percaya bahkan dari mereka yang optimis terhadap daya katalitis RNA.275

3. Bahkan jika kita menganggap bahwa memang ada RNA yang dapat menggandakan diri di masa bumi purba, bahwa tersedia sejumlah besar asam amino dari aneka jenis yang siap digunakan RNA, dan bahwa dengan suatu cara semua kemustahilan ini terjadi, semua itu masih belum mampu membawa ke pembentukan satu protein saja karena RNA hanya mengandung informasi tentang struktur protein. Di sisi lain, asam amino adalah bahan mentah. Meskipun begitu, tidak ada mekanisme untuk pembentukan protein. Menganggap keberadaan RNA cukup bagi pembentukan protein sama tak masuk akalnya dengan mengharapkan sebuah mobil merakit dirinya sendiri sekadar dengan melemparkan cetakbiru ke atas setumpukan suku cadang. Suatu cetakbiru tak bisa menghasilkan sebuah mobil dengan sendirinya tanpa pabrik dan pekerja yang merakitnya sesuai dengan perintah di dalam cetakbiru itu; dengan cara yang sama, cetakbiru yang terkandung dalam RNA tak bisa menghasilkan protein dengan sendirinya tanpa kerjasama unsur-unsur sel yang mematuhi perintah di dalam RNA itu.

Protein dihasilkan di pabrik ribosom dengan bantuan berbagai macam enzim, dan sebagai hasil proses di dalam sel yang luar biasa rumit. Ribosom adalah sebuah organel sel yang rumit dan tersusun dari protein. Maka, ini membawa ke perkiraan lain yang tak masuk akal—bahwa ribosom juga seharusnya mewujud secara kebetulan pada saat bersamaan. Bahkan peraih hadiah Nobel Jacques Monod, salah seorang pembela paling fanatik evolusi—dan ateisme—menjelaskan bahwa sintesis protein sama sekali tak bisa dianggap hanya bergantung kepada informasi di dalam asam nukleat:

Kode-kode itu tak bermakna kecuali diterjemahkan. Perangkat penerjemahan dari sel mutakhir terdiri atas setidaknya 50 unsur molekul makro, yang turut terkodekan di dalam DNA: kode-kode itu tidak dapat diterjemahkan kecuali oleh hasil-hasil penerjemahan itu sendiri. Inilah ungkapan mutakhir dari omne vivum ex ovo (kehidupan berasal dari telur). Kapankah dan bagaimanakah daur ini menjadi tertutup? Ini sangat sulit dibayangkan.276

Bagaimanakah satu rantai RNA di dunia purba mengambil keputusan yang demikian, dan cara apakah yang dipakainya untuk mewujudkan produksi protein dengan melakukan sendiri pekerjaan 50 partikel khusus? Evolusionis tak mempunyai jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan ini. Salah satu tulisan di dalam majalah ilmiah terkenal Nature memperjelas bahwa konsep "RNA yang dapat menggandakan diri" sepenuhnya hasil berkhayal, dan bahwa sebenarnya RNA semacam itu belum pernah dihasilkan dalam percobaan mana pun:

Penggandaan DNA sangat rentan keliru sehingga membutuhkan keberadaan enzim-enzim protein untuk meningkatkan kecermatan penyalinan sepotong DNA seukuran gen. “Dilema,” kata Maynard Smith dan Szathmary. Maka, bergulirlah RNA beserta sifat-sifatnya yang baru dikenali, yakni, menjalankan baik kegiatan informasional maupun enzimatis, yang mendorong kedua penulis untuk berkata: “Intinya, molekul-molekul RNA pertama tidak memerlukan suatu polimerase protein untuk menggandakan diri; mereka melakukannya sendiri.” Apakah ini sebuah fakta atau harapan? Saya pikir ada sangkut-pautnya untuk menunjukkan kepada “para ahli biologi secara umum” bahwa tak satu pun RNA yang dapat menggandakan

Dr. Leslie Orgel, seorang sejawat Stanley Miller dan Francis Crick dari University of California di San Diego, menggunakan istlah "skenario" bagi kemungkinan "awal kehidupan lewat dunia RNA." Orgel menggambarkan ciri-ciri apa saja yang harus dimiliki RNA ini dan betapa mustahilnya hal itu dalam karangannya "The Origin of Life" (Asal Usul Kehidupan) yang diterbitkan Scientifc American Oktober 1994:

Kami mencatat bahwa skenario ini mungkin terjadi jika RNA sebelum kehidupan memiliki dua unsur yang tidak tampak saat ini: kemampuan menggandakan diri tanpa bantuan protein dan kemampuan mempercepat setiap tahap sintesis protein.278

Sebagaimana kini telah jelas, mengharapkan kedua proses yang rumit dan luar biasa penting ini dari sebuah molekul seperti RNA bertentangan dengan pemikiran ilmiah. Di sisi lain, fakta-fakta ilmiah nyata menegaskan bahwa hipotesis dunia RNA, yang merupakan sebuah model baru yang diajukan bagi pembentukan kehidupan secara kebetulan, sama tak masuk akalnya dengan fabel (dongeng tentang hewan).

John Horgan, di dalam bukunya The End of Science, menuturkan bahwa Stanley Miller memandang teori-teori yang kemudian diajukan tentang asal usul kehidupan sebagai amat tidak bermakna. (Anda akan ingat bahwa Miller adalah perintis percobaan Miller yang terkenal itu, yang belakangan terungkap tak sahih):

Ternyata, hampir 40 tahun setelah percobaan aslinya, Miller berkata kepada saya bahwa memecahkan teka-teki asal usul kehidupan telah menjadi lebih sulit daripada yang pernah dibayangkannya dan orang-orang… Miller tampak tidak terkesan dengan satu pun pandangan tentang asal usul kehidupan, dan merujuk ke pandangan-pandangan itu sebagai "omong kosong" atau "kimia kertas." Ia demikian jijik kepada sebagian hipotesa sampai-sampai, ketika kuminta pendapatnya, hanya menggeleng-gelengkan kepala, menarik napas panjang, dan menyeringai—seakan terpana pada kebodohan manusia. Teori otokatalis Stuart Kauffman termasuk ke dalam golongan ini. "Menjalankan persamaan di sebuah komputer tidak membangun sebuah percobaan," Miller mendengus. Ia mengakui bahwa para ilmuwan mungkin tidak akan pernah mengetahui persis kapan dan di mana kehidupan muncul.279

Pernyataan ini, yang dikemukakan seorang perintis perjuangan untuk menemukan sebuah penjelasan evolusi bagi asal usul kehidupan, mencerminkan dengan gamblang keputus-asaan di kalangan ilmuwan evolusionis terhadap jalan buntu tempat mereka menemukan diri berada.

Bisakah Rancangan Dijelaskan dengan Kebetulan?

Sejauh ini, kita telah menelaah betapa mustahil pembentukan kehidupan secara kebetulan. Marilah kita abaikan sekali lagi kemustahilan ini sejenak. Anggaplah bahwa jutaan tahun yang lalu, sebuah sel terbentuk dan memperoleh semua yang dibutuhkan bagi kehidupan, dan karena itu "menjadi hidup." Evolusi sekali lagi runtuh di sini. Sebab, sekalipun bertahan selama beberapa saat, sel ini akhirnya akan mati dan setelah kematiannya, tidak ada yang tersisa, dan semuanya akan kembali ke titik awal. Ini karena sel hidup pertama tersebut, yang tidak memiliki informasi genetis, tak mampu menggandakan diri dan memulai sebuah generasi baru. Kehidupan akan berakhir bersama dengan kematian sel ini.

Sistem genetis tak hanya terdiri dari DNA. Unsur-unsur berikut juga harus ada di lingkungan yang sama: enzim yang membaca kode di dalam DNA, RNA kurir yang dihasilkan setelah pembacaan kode itu, ribosom tempat melekatnya RNA kurir sesuai dengan kodenya, RNA pemindah yang memindahkan asam amino ke ribosom untuk dipakai dalam produksi, dan enzim yang amat rumit untuk melakukan sejumlah besar proses perantara. Lingkungan seperti itu tak mungkin ada di suatu tempat yang terpisah dari lingkungan yang terkucil dan terkendali sepenuhnya sebagaimana halnya sel, tempat semua bahan mentah penting dan sumber energi tersedia.

Akibatnya, bahan organik dapat menggandakan diri hanya jika berada di dalam sel yang berkembang sempurna, bersama dengan segenap organelnya. Ini berarti sel pertama di bumi terbentuk "seketika," bersama dengan struktur rumitnya yang luar biasa.

Maka, jika sebuah struktur rumit mewujud secara tiba-tiba, apakah artinya?

Mari kita ajukan pertanyaan ini dengan sebuah contoh. Anggaplah sebuah sel sama dengan sebuah mobil berteknologi canggih yang setara kerumitannya. (Dalam kenyataan, sel itu sistem yang jauh lebih rumit dan maju daripada mobil.) Kini, mari kita ajukan pertanyaan berikut: apakah yang Anda pikirkan jika sedang berjalan di hutan belantara dan menemukan sebuah mobil baru di antara pepohonan? Dapatkah Anda bayangkan bahwa berbagai macam unsur yang ada di hutan telah selama jutaan tahun bergabung dan menghasilkan kendaraan semacam itu? Semua bagian pada mobil itu terbuat dari produk-produk besi, tembaga, dan karet—bahan-bahan mentah yang semuanya dapat ditemukan di perut bumi—namun, apakah fakta ini membuat Anda berpikir bahwa bahan-bahan itu telah disintesis "secara kebetulan" dan lalu bergabung serta merakit sebuah mobil?

Tak pelak lagi bahwa setiap orang yang berakal sehat akan menyadari bahwa mobil itu hasil suatu rancangan cerdas—dengan kata lain, sebuah pabrik—dan bertanya-tanya apakah yang dilakukannya di tengah-tengah hutan. Kemunculan tiba-tiba suatu struktur rumit dalam bentuk yang sempurna, tanpa pertanda apa pun, menunjukkan bahwa struktur ijtu karya suatu rancangan cerdas.

Memercayai bahwa kebetulan semata bisa menghasilkan rancangan sempurna adalah di luar batas akal sehat. Namun, setiap "penjelasan" yang diajukan oleh teori evolusi menyangkut asal usul kehidupan adalah seperti itu. Salah seorang tokoh yang blak-blakan tentang hal ini ialah ahli zoologi Perancis yang terkenal Pierre-Paul Grassé, mantan presiden French Academy of Sciences. Grassé seorang evolusionis, namun mengakui bahwa teori Darwinis tak mampu menjelaskan kehidupan dan membuat satu ulasan tentang penalaran "ketaksengajaan," yang merupakan tulang punggung Darwinisme:

Kemunculan tak sengaja mutasi-mutasi yang membuat hewan atau tumbuhan memenuhi kebutuhannya agaknya sulit dipercaya. Namun teori Darwinian meminta lebih banyak lagi: sebatang tumbuhan, seekor hewan akan memerlukan beribu-ribu peristiwa mujur dan tepat. Oleh karena itu, keajaiban menjadi keharusan: peristiwa-peristiwa dengan peluang sangat kecil tak boleh gagal terjadi… Tiada hukum yang melarang bermimpi indah, namun ilmu pengetahuan tak boleh terlena olehnya.280

Semua makhluk hidup di dunia ini, semua yang merupakan contoh nyata perencanaan cerdas yang baru saja kita bahas, pada saat bersamaan adalah petunjuk hidup bahwa ketaksengajaan tidak bisa berperan dalam keberadaan mereka. Tiap-tiap unsur makhluk hidup—tidak usah keseluruhannya—mengandung struktur-struktur dan sistem-sistem yang begitu rumit sehingga semua itu tidak mungkin hasil karya kebetulan. Kita tidak melangkah lebih jauh dari tubuh kita sendiri untuk menemukan contohnya.

Salah satu contoh adalah mata kita. Mata manusia melihat karena kerjasama sekitar 40 bagian terpisah. Jika satu bagian saja tidak ada, mata akan tidak berguna. Masing-masing dari 40 bagian ini memiliki rancangan rumit sendiri. Retina di belakang mata, misalnya, tersusun dari 11 lapisan. Setiap lapisan berfungsi sendiri-sendiri. Proses kimia yang terjadi di dalam retina begitu rumit sehingga hanya bisa dijelaskan dengan halaman-halaman yang penuh rumus dan gambar.

Teori evolusi tak mampu menjelaskan kemunculan secara "kebetulan" bahkan struktur yang tanpa cela dan rumit seperti sebiji mata, apalagi kehidupan itu sendiri, atau manusia.

Jadi, apakah yang dibuktikan kepada kita oleh rancangan yang luar biasa ini tentang asal usul kehidupan? Seperti yang kami jelaskan di bagian pendahuluan buku ini, hanya dua macam cerita yang bisa diberikan tentang asal usul kehidupan. Yang pertama adalah evolusi, yang lain penciptaan cerdas. Karena pernyataan evolusi itu mustahil, maka penemuan-penemuan ilmiah membuktikan kebenaran penciptaan. Kebenaran ini mungkin mengejutkan sebagian ilmuwan, yang sejak abad ke-19 sampai kini memandang konsep "penciptaan" itu tidak ilmiah, namun, ilmu pengetahuan hanya bisa maju dengan mengatasi kejutan-kejutan seperti ini dan menerima kebenaran. Chandra Wickramasinghe menguraikan kenyataan yang dihadapinya sebagai seorang ilmuwan yang telah dicekoki seumur hidupnya bahwa kehidupan muncul sebagai akibat peristiwa-peristiwa kebetulan:

Sejak pelatihan pertama sebagai ilmuwan, saya telah dicuci otak dengan sangat kuat untuk meyakini bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa sejalan dengan macam apa pun penciptaan yang sengaja. Gagasan itu harus dengan menyakitkan dilepaskan. Saat ini, saya tak bisa menemukan satu pun pendapat yang masuk akal untuk memukul rubuh pandangan yang menyokong keberpalingan kepada Tuhan. Kami terbiasa berpikiran terbuka; kini kami menyadari bahwa satu-satunya jawaban yang nalar bagi kehidupan adalah penciptaan—dan bukan kocokan acak yang tak sengaja.281

 

Catatan Kaki

238 Michael Denton, Evolution: A Theory in Crisis, Burnett Books, London, 1985, pp. 328, 342.

239 Charles Darwin, Life and Letter of Charles Darwin, vol. II, From Charles Darwin to J. Do Hooker, March 29, 1863

240 W. R. Bird, The Origin of Species Revisited, Thomas Nelson Co., Nashville, 1991, pp. 298-99.

241 "Hoyle on Evolution," Nature, vol. 294, November 12, 1981, p. 105.

242 Fred Hoyle, Chandra Wickramasinghe, Evolution from Space, Simon & Schuster, New York, 1984, p. 130. (emphasis added)

243 Fabbri Britannica Bilim Ansiklopedisi (Fabbri Britannica Science Encyclopaedia), vol. 2, no. 22, p. 519.

244 Alexander I. Oparin, Origin of Life, Dover Publications, New York, 1936, 1953 (reprint), p. 196.

245 Klaus Dose, "The Origin of Life: More Questions Than Answers," Interdisciplinary Science Reviews, vol. 13, no. 4, 1988, p. 348. (emphasis added)

246 Horgan, John, The End of Science, M. A. Addison-Wesley, 1996, p. 138. (emphasis added)

247 Jeffrey Bada, Earth, "Life's Crucible," February 1998, p. 40. (emphasis added)

248 Richard B. Bliss, Gary E. Parker, Duane T. Gish, Origin of Life, C.L.P. Publications, 3rd ed., California, 1990, pp. 14-15.

249 Kevin Mc Kean, Bilim ve Teknik (Science and Technology), no. 189, p. 7.

250 J. P. Ferris, C. T. Chen, "Photochemistry of Methane, Nitrogen, and Water Mixture As a Model for the Atmosphere of the Primitive Earth," Journal of American Chemical Society, vol. 97:11, 1975, p. 2964.

251 "New Evidence on Evolution of Early Atmosphere and Life," Bulletin of the American Meteorological Society, vol. 63, November 1982, pp. 1328-1330.

252 Richard B. Bliss & Gary E. Parker, Duane T. Gish, Origin of Life, C.L.P. Publications, 3rd ed., California, 1990, p. 16.

253 "Life's Crucible," Earth, February 1998, p. 34. (emphasis added)

254 "The Rise of Life on Earth," National Geographic, March 1998, p. 68. (emphasis added)

255 W. R. Bird, The Origin of Species Revisited, Thomas Nelson Co., Nashville, 1991, p. 325.(emphasis added)

256 Richard Dickerson, "Chemical Evolution," Scientific American, vol. 239:3, 1978, p. 75. Chemist Richard Dickerson explains the reason for this in this way: "If polymeric chains of proteins and nucleic acids are to be forged out of their precursor monomers, a molecule of water must be removed at each link in the chain. It is therefore hard to see how polymerization could have proceeded in the aqueous environment of the primitive ocean, since the presence of water favors depolymerization rather than polymerization."

257 S. W. Fox, K. Harada, G. Kramptiz, G. Mueller, "Chemical Origin of Cells," Chemical Engineering News, June 22, 1970, p. 80.

258 Paul Auger, De La Physique Theorique a la Biologie, 1970, p. 118.

259 Francis Crick, Life Itself: It's Origin and Nature, New York, Simon & Schuster, 1981, p. 88. (emphasis added)

260 Ali Demirsoy, Kalitim ve Evrim (Inheritance and Evolution), Meteksan Publishing Co., Ankara, 1984, p. 39.

261 John Horgan, "In the Beginning," Scientific American, vol. 264, February 1991, p. 119. (emphasis added)

262 Homer Jacobson, "Information, Reproduction and the Origin of Life," American Scientist, January 1955, p. 121.

263 Douglas R. Hofstadter, Gödel, Escher, Bach: An Eternal Golden Braid, Vintage Books, New York, 1980, p. 548. (emphasis added)

264 Leslie E. Orgel, "The Origin of Life on Earth," Scientific American, vol. 271, October 1994, p. 78. (emphasis added)

265 Cairns-Smith, Alexander G., "The First Organisms," Scientific American, 252: 90, June 1985. (emphasis added)

266 Michael Denton, Evolution: A Theory in Crisis, London: Burnett Books, 1985, p. 351.

267 John Horgan, "In the Beginning," Scientific American, vol. 264, February 1991, p. 119.

268 G. F. Joyce, L. E. Orgel, "Prospects for Understanding the Origin of the RNA World," In the RNA World, Cold Spring Harbor Laboratory Press, New York, 1993, p. 13.

269 Jacques Monod, Chance and Necessity, New York, 1971, p. 143. (emphasis added)

270 Dover, Gabby L., Looping the Evolutionary loop, review of the origin of life from the birth of life to the origin of language, Nature, 1999, vol. 399, p. 218. (emphasis added)

271 Leslie E. Orgel, "The Origin of Life on the Earth," Scientific American, October 1994, vol. 271, p. 78.

272 Horgan, John, The End of Science, M. A. Addison-Wesley, 1996, p. 139.

273 Pierre-P Grassé, Evolution of Living Organisms, Academic Press, New York, 1977, p. 103. (emphasis added)

274 Chandra Wickramasinghe, Interview in London Daily Express, August 14, 1981.

9 / total 19
Anda dapat membaca buku Harun Yahya Darwinisme Terbantahkan secara online, berbagi pada jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter, download di komputer Anda, menggunakannya untuk pekerjaan rumah Anda dan tesis, dan mempublikasikan, menyalin atau memperbanyak pada website atau blog Anda sendiri tanpa perlu membayar biaya hak cipta apapun, selama Anda mengakui situs ini sebagai referensi.
Presentasi| tentang situs ini | Buat homepage Anda | tambahkan ke favorit | RSS Feed
Semua materi dapat dikopi,dicetak, dan didistribusikan berdasarkan situs ini
(c) All publication rights of the personal photos of Mr. Adnan Oktar that are present in our website and in all other Harun Yahya works belong to Global Publication Ltd. Co. They cannot be used or published without prior consent even if used partially.
© 1994 Harun Yahya. www.harunyahya.com
page_top