< <
10 / total: 19

Dongeng Homologi

Siapa pun yang mempelajari pelbagai makhluk hidup di bumi ini mungkin mengamati bahwa ada sejumlah organ dan ciri yang serupa di antara spesies-spesies. Orang pertama yang menarik kesimpulan materialistik dari fakta ini, yang telah menarik perhatian para ilmuwan sejak abad ke-18, adalah Charles Darwin.

Darwin berpikir bahwa makhluk-makhluk hidup dengan organ serupa (homolog) saling berkaitan evolusi, dan bahwa organ-organ ini pasti telah diturunkan dari moyang bersama. Menurut dugaannya, merpati dan elang keduanya bersayap; karena itu, merpati, elang, dan tentunya burung-burung bersayap lainnya diduga telah berevolusi dari moyang bersama.

Homologi adalah sebuah pernyataan tautologis, dibangun bukan berdasarkan petunjuk apa pun selain kemiripan fisik yang terlihat. Pendapat ini tak pernah sekali saja diperkuat oleh penemuan nyata kapan pun sejak masa Darwin. Tak seorang pun di dunia ini tampil dengan sisa fosil dari moyang khayal makhluk-makhluk hidup berstruktur homolog. Lebih jauh lagi, butir-butir berikut memperjelas bahwa homologi tidak menyediakan petunjuk bahwa evolusi pernah terjadi.

  • 1. Orang menemukan organ homolog pada makhluk-makhluk hidup dari filum-filum yang sama sekali berbeda, yang kaitan evolusinya tidak dapat dibangun oleh para evolusionis;
  • 2. Kode-kode genetis beberapa makhluk hidup berorgan homolog sama sekali berbeda.
  • 3. Perkembangan embriologis organ homolog sama sekali berbeda pada makhluk-makhluk yang berbeda.

Sekarang, mari kita telaah satu per satu setiap butir bantahan ini.

Ketaksahihan Homologi Morfologis

Tesis homologi evolusionis didasarkan pada penalaran untuk membangun suatu kaitan evolusi di antara makhluk-makhluk hidup yang bermorfologi (berbentuk) mirip, padahal sejumlah organ homolog dimiliki bersama-sama oleh kelompok-kelompok yang sama sekali tak berhubungan. Sayap adalah satu contohnya. Selain burung, kita menemukan sayap pada kelelawar, yang adalah mamalia, dan serangga dan bahkan pada beberapa dinosaurus, yang merupakan reptil yang telah punah. Bahkan para evolusionis pun tidak mengajukan suatu kaitan evolusi atau kekerabatan di antara keempat kelompok hewan ini.

Contoh menyolok lainnya adalah kemiripan mencengangkan dan kesamaan struktur yang teramati pada mata dari makhluk-makhluk yang berbeda. Misalnya, gurita dan manusia adalah dua spesies yang sama sekali berbeda, tiada kaitan evolusi apa pun mungkin bahkan sekadar diusulkan, namun mata kedua spesies ini sangat mirip dalam struktur dan fungsi. Bahkan para evolusionis pun tak mencoba menjelaskan kemiripan mata gurita dan manusia dengan mengajukan suatu moyang bersama.

Ahtapotlar

Menurut “pohon kehidupan” yang diajukan oleh evolusionis, gurita termasuk makhluk yang terjauh dari manusia. Tetapi, mata gurita sebenarnya mempunyai struktur yang sama dengan mata kita. Inilah sebuah pertanda bahwa kesamaan struktur bukan petunjuk bagi evolusi.

Sebagai tanggapan, evolusionis mengatakan bahwa organ-organ ini bukan "homolog" (dengan kata lain, dari moyang bersama), tetapi "analog" (sangat mirip satu sama lain, sekalipun tak berkaitan evolusi). Misalnya, menurut pandangan mereka, mata manusia dan mata gurita adalah organ-organ analog. Akan tetapi, pertanyaan ke golongan manakah suatu organ akan mereka masukkan, homolog atau analog, dijawab sepenuhnya sesuai dengan prasangka teori evolusi. Dan ini menunjukkan bahwa pernyataan evolusionis yang didasarkan pada kemiripan sama sekali tak ilmiah. Satu-satunya yang dilakukan evolusionis adalah mencoba menafsirkan penemuan-penemuan baru dengan prasangka dogmatis evolusi.

Akan tetapi, tafsiran yang mereka ajukan sama sekali tidak benar. Sebab, organ-organ yang mereka anggap "analog" kadang-kadang memiliki kemiripan yang demikian dekat, padahal merupakan struktur yang sangat rumit, sehingga menyarankan bahwa kemiripan ini lahir berkat mutasi yang kebetulan sepenuhnya tidak taat azas. Jika sebiji mata gurita muncul semata-mata tak sengaja, sebagaimana dinyatakan evolusionis, lalu bagaimanakah mata vertebrata (hewan bertulang belakang) bisa muncul dengan ketaksengajaan yang sama? Evolusionis terkenal Frank Salisbury yang merasa pening karena memikirkan pertanyaan ini, menulis:

Bahkan sesuatu yang serumit mata telah muncul beberapa kali: misalnya, pada cumi-cumi, vertebrata, dan artropoda. Sudah cukup buruk [mencoba] menjelaskan asal usul hal-hal ini satu kali, dan membayangkan menghasilkannya berkali-kali sesuai dengan teori sintesis modern membuat kepala saya pening.282

Menurut teori evolusi, sayap muncul saling lepas sebanyak empat kali: pada serangga, reptil terbang, burung, dan mamalia terbang (kelelawar). Fakta bahwa sayap dengan struktur yang sangat mirip berkembang empat kali—yang tak bisa dijelaskan dengan mekanisme seleksi alam/mutasi—adalah kepeningan lain bagi para ahli biologi evolusi.

Salah satu contoh paling nyata rintangan di lintasan teori evolusi seperti itu dapat dilihat pada mamalia. Menurut pandangan biologi mutakhir yang diterima, semua mamalia termasuk ke dalam salah satu dari tiga kelompok dasar: plasental, marsupial, dan monotrem. Evolusionis menganggap pembedaan ini terjadi ketika mamalia kali pertama muncul, dan bahwa setiap kelompok menjalani sejarah evolusinya masing-masing yang sepenuhnya saling lepas. Tetapi, yang menarik adalah adanya "pasangan-pasangan" pada plasental dan marsupial yang hampir sama. Serigala, kucing, bajing, trenggiling, tikus tanah, dan tikus kecil plasental semuanya bermitra marsupial dengan morfologi yang amat mirip.283

Dengan kata lain, menurut teori evolusi, mutasi yang sepenuhnya saling lepas pasti telah menghasilkan makhluk-makhluk ini "secara kebetulan" dua kali! Keniscayaan ini adalah sebuah pertanyaan yang menghadirkan masalah bagi evolusionis yang lebih buruk daripada sakit kepala.

Salah satu kemiripan menarik antara mamalia plasental dan marsupial adalah antara serigala Amerika Utara dan serigala Tasmania. Yang pertama masuk kelompok plasental, yang kedua marsupial. Ahli biologi evolusi percaya bahwa kedua spesies ini bersejarah evolusi yang sama sekali berlainan.284 (Sejak benua Australia dan pulau-pulau di sekelilingnya terpisahkan dari Gondwanaland, alias benua raksasa yang diyakini sebagai cikal-bakal Afrika, Antartika, Australia dan Amerika Selatan, hubungan antara mamalia plasental dan marsupial dianggap terputus, dan saat itu serigala belum ada). Tetapi, yang menarik adalah struktur kerangka serigala Tasmania hampir sama dengan serigala Amerika Utara. Terutama tengkorak keduanya, sebagaimana ditunjukkan pada halaman sebelah, memiliki derajat kemiripan yang luar biasa.

kanatlar

Sayap pada reptil terbang, burung, dan kelelawar. Sayap-sayap ini, yang mungkin tak berkaitan evolusi, mempunyai kesamaan struktur.

kangurular

Dimulai dari kangguru, semua mamalia di benua Australia termasuk ke subkelas "hewan berkantung" atau marsupialia. Menurut evolusionis, semua makhluk ini tak berkaitan evolusi dengan mamalia plasental di belahan lain bumi.

Kemiripan-kemiripan luar biasa dan organ-organ serupa seperti ini, yang tak bisa diterima oleh para ahli biologi evolusi sebagai contoh-contoh “homologi,” menunjukkan bahwa homologi tidak membentuk petunjuk apa pun bagi tesis evolusi dari moyang bersama. Yang malah lebih menarik adalah keadaan yang persis bertolak belakang ini juga teramati pada makhluk-makhluk hidup lain. Dengan kata lain, ada makhluk-makhluk hidup yang sebagian organnya berstruktur sama sekali berbeda, walaupun dianggap sebagai kerabat dekat oleh para evolusionis. Misalnya, kebanyakan krustasea berstruktur mata “lensa bias.” Hanya pada dua spesies—udang karang (lobster) dan udang— terlihat jenis mata “pantul” yang sepenuhnya berbeda. (Lihat Bab 6 Kerumitan tak Teruraikan.)

Mammal Twins That Defy Homology

homoloji

Kehadiran spesies "kembar" antara mamalia-mamalia marsupial dan plasental melontarkan pukulan telak terhadap pernyataan homologi. Misalnya, serigala Tasmania yang marsupial (atas) dan serigala plasental yang ditemukan di Amerika Utara saling menyerupai dengan derajat yang luar biasa. Di samping, tampak tengkorak kedua hewan yang sangat mirip ini. Kemiripan sedemikian dekat di antara keduanya, yang tak bisa dikatakan memiliki "kaitan evolusi", membantah habis pernyataan homologi.

Dua Mamalia Punah Tak Berkerabat Dengan Gigi Raksasa

Contoh lain kemiripan luar biasa di antara "kembaran" mamalia plasental dan marsupial adalah antara mamalia punah Smilodon (kanan) dan Thylacosmilus (kiri), keduanya pemangsa bergigi depan sangat besar. Derajat kemiripan yang tinggi pada struktur tengkorak dan gigi di antara kedua mamalia yang tidak mungkin dibangun kaitan evolusinya, menjungkalkan pandangan homologis bahwa kemiripan struktur adalah petunjuk yang mendukung evolusi.

Tengkorak serigala Amerika Utara.

Tengkorak serigala Tasmania.

Kebuntuan Genetis Dan Embriologis Dari Homologi

Penemuan yang benar-benar menjungkalkan homologi adalah organ-organ yang dianggap "homolog" hampir semuanya dikendalikan oleh kode genetis yang sangat berbeda. Seperti yang kita ketahui, teori evolusi menyarankan bahwa makhluk hidup berkembang lewat perubahan-perubahan kecil yang tak sengaja di dalam gen-gennya, dengan kata lain, mutasi. Karena alasan ini, struktur genetis makhluk hidup yang terlihat sebagai kerabat dekat evolusi seharusnya saling mirip. Dan, khususnya, organ-organ serupa seharusnya dikendalikan oleh struktur genetis serupa. Akan tetapi, ternyata para peneliti genetika telah membuat berbagai penemuan yang membantah sepenuhnya tesis evolusi ini.

Organ-organ serupa biasanya diatur oleh kode-kode genetis (DNA) yang sangat berbeda. Lebih jauh lagi, kode genetis yang mirip pada DNA makhluk-makhluk yang berbeda seringkali berkaitan dengan organ-organ yang sama sekali berlainan. Bab berjudul "The Failure of Homology" (Kegagalan Homologi) di dalam buku Michael Denton Evolution: A Theory in Crisis memberikan sejumlah contoh, dan merangkum masalah ini sebagai berikut:

Struktur-struktur homolog seringkali ditentukan oleh sistem-sistem genetis yang tak homolog dan konsep homologi jarang bisa direntang mundur ke embriologi.285

Masalah genetis ini juga telah diangkat oleh seorang ahli biologi evolusi terkenal, Gavin de Beer. Di dalam bukunya Homology: An Unsolved Problem (Homologi: Sebuah Masalah yang tak Terpecahkan), yang diterbitkan pada tahun 1971, de Beer mengajukan analisis yang sangat luas terhadap masalah ini. Ia meringkaskan mengapa homologi itu sebuah masalah bagi teori evolusi sebagai berikut:

Mekanisme seperti apakah yang bisa menghasilkan organ-organ homolog, 'pola-pola' yang sama, sekalipun tidak dikendalikan oleh gen-gen yang sama? Saya mengajukan pertanyaan ini di tahun 1938, dan belum terjawab.286

Meskipun telah 30 tahun berlalu sejak de Beer menuliskannya, kata-kata itu masih belum menerima jawaban.

Bukti ketiga yang melemahkan pernyataan homologi adalah masalah perkembangan embriologis, yang kami sebutkan di muka. Supaya tesis evolusi tentang homologi dipandang dengan sungguh-sungguh, masa perkembangan embriologis struktur-struktur yang serupa—dengan kata lain, tahap-tahap perkembangan dalam telur atau rahim sang induk—harus bersamaan, yang pada kenyataannya, masa embriologis bagi struktur-struktur yang mirip ini amat berbeda pada tiap makhluk hidup. Pere Alberch, seorang ahli biologi perkembangan yang cemerlang, mencatat bahwa "struktur-struktur homolog terbentuk dari keadaan-keadaan awal yang berbeda jauh" adalah "lebih menjadi kaidah daripada perkecualian" 287

Kemunculan struktur-struktur yang mirip sebagai hasil proses-proses yang sama sekali berbeda ini sering terlihat pada tahap-tahap lanjutan dari masa perkembangan. Seperti yang kita ketahui, banyak spesies hewan mengalami tahap yang disebut "perkembangan tak langsung" (dengan kata lain, tahap larva), dalam perjalanan menuju kematangan. Misalnya, sebagian besar katak memulai kehidupannya sebagai berudu yang berenang dan berubah menjadi hewan berkaki empat pada tahap akhir metamorfosis. Namun, bersama dengan ini, ada beberapa spesies katak yang mengabaikan tahap larva dan berkembang langsung. Tetapi, individu dewasa spesies-spesies yang berkembang langsung ini hampir tak bisa dibedakan dengan yang mengalami tahap berudu. Gejala yang sama terlihat pada berangan air dan spesies serupa lainnya.288

Sebagai kesimpulan, kita bisa mengatakan bahwa penelitian genetis dan embriologis telah membuktikan bahwa konsep homologi yang diartikan Darwin sebagai "petunjuk evolusi makhluk hidup dari moyang bersama" tidak dapat dengan cara apa pun dipandang sebagai petunjuk. Ketakserasian homologi, yang tampak amat meyakinkan di permukaan, sangat jelas tersingkap ketika dipelajari lebih dalam.

Kejatuhan Homologi Di Kaki Tetrapoda

parmak yapısı

Fakta bahwa hampir semua vertebrata darat berstruktur tulang lima jari (pentadaktil) pada tangan dan kakinya telah bertahun-tahun disajikan sebagai “petunjuk kuat bagi Darwinisme” dalam penerbitan-penerbitan evolusionis. Akan tetapi, penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa struktur tulang ini diatur oleh gen-gen yang amat berbeda. Karena alasan ini, anggapan “homologi pentadaktilisme” telah runtuh.

Kita telah memeriksa pernyataan morfologis dari homologi—dengan kata lain, ketaksahihan pernyataan evolusionis yang didasarkan pada kesamaan bentuk pada makhluk-makhluk hidup—namun mempelajari satu contoh terkenal masalah ini sedikit lebih dalam akan sangat bermanfaat. Yakni, "kaki depan dan belakang tetrapoda (hewan berkaki empat)," yang disajikan sebagai bukti terang homologi dalam hampir setiap buku evolusi.

Hewan berkaki empat, alias vertebrata darat, berjari lima pada kaki depan dan belakangnya. Meskipun tak selalu terlihat seperti jari tangan atau kaki, semuanya dianggap "pentadaktili" (berjari lima) sesuai dengan struktur tulangnya. Tangan dan kaki seekor katak, kadal, bajing, atau monyet semuanya berstruktur sama. Bahkan struktur tulang burung dan kelelawar sesuai dengan rancangan dasar ini.

Evolusionis menyatakan bahwa semua makhluk hidup berasal dari moyang bersama, dan menyebut kaki pentadaktili sebagai petunjuknya. Namun, mereka mengetahui bahwa pernyataan ini sebenarnya tak memiliki kesahihan ilmiah.

Bahkan saat ini, evolusionis menerima ciri pentadaktilisme pada makhluk-makhluk hidup yang tak mampu mereka bangun kaitan evolusinya. Misalnya, dalam dua makalah ilmiah terpisah yang terbit tahun 1991 dan 1996, ahli biologi evolusi M. Coates mengungkapkan bahwa pentadaktilisme secara terpisah muncul dua kali, masing-masing saling lepas. Menurut Coates, struktur pentadaktili muncul saling lepas pada anthracosaurus dan amfibi.289

Penemuan ini adalah tanda bahwa pentadaktilisme bukan petunjuk bagi keberadaan "moyang bersama."

Masalah lain yang menimbulkan kesulitan bagi tesis evolusionis dalam hal ini adalah bahwa makhluk-makhluk ini berjari lima pada kaki depan dan belakang. Dalam kepustakaan evolusionis, tidak digagaskan bahwa kaki depan dan belakang berasal dari "kaki bersama," namun dianggap telah berkembang secara terpisah. Karena alasan ini, seharusnya diharapkan bahwa struktur kaki depan dan belakang berbeda, akibat mutasi-mutasi tak sengaja yang berbeda. Michael Denton mengatakan yang berikut akan hal ini:

Kaki depan semua vertebrata terbentuk menurut rancangan pentadaktili yang sama, dan ini dikatakan oleh ahli biologi evolusi sebagai menunjukkan bahwa semua makhluk diturunkan dari sumber moyang bersama. Namun, kaki belakang semua vertebrata juga sesuai dengan pola pentadaktili dan secara menyolok mirip dengan kaki bagian depan dalam hal struktur tulang dan rincian perkembangan embriologis. Namun, tak seorang pun evolusionis mengakui bahwa kaki belakang berevolusi dari kaki depan, atau bahwa kaki depan dan belakang telah berevolusi dari sumber yang sama… Pada akhirnya, sambil pengetahuan biologi berkembang, genealogi umum sebagai sebuah penjelasan bagi kemiripan ini cenderung kian melemah… Seperti demikian banyak "petunjuk" tak langsung lainnya bagi evolusi, petunjuk yang ditarik dari homologi tak meyakinkan karena melibatkan terlalu banyak perkecualian, terlalu banyak contoh yang menentang, amat terlalu banyak gejala yang sekadar tidak cocok dengan gambaran yang biasa.290

Tetapi, pukulan sesungguhnya terhadap pernyataan evolusionis tentang homologi pentadaktilisme datang dari biologi molekuler. Anggapan "homologi pentadaktilisme," yang telah lama dipertahankan dalam terbitan-terbitan evolusionis, dijungkirbalikkan ketika diketahui bahwa struktur-struktur kaki dikendalikan oleh gen yang sama sekali berlainan pada makhluk-makhluk hidup yang memiliki struktur pentadaktili ini. Ahli biologi evolusi William Fix menggambarkan keruntuhan tesis evolusionis tentang pentadaktilisme ini sebagai berikut:

Buku-buku acuan evolusi yang lama banyak membahas gagasan homologi, menunjuk kepada kemiripan menyolok di antara kerangka kaki hewan-hewan yang berbeda. Maka, pola kaki 'pentadaktili' [lima tulang] ini ditemukan pada lengan manusia, sayap burung, dan sirip ikan paus, dan kemiripan ini diyakini menandakan asal usul yang sama. Kini, jika berbagai struktur ini diturunkan oleh pasangan-pasangan gen yang sama, yang berubah dari waktu ke waktu karena mutasi dan terkena seleksi lingkungan, teori akan masuk akal. Sayangnya, tidak demikian yang terjadi. Kini diketahui bahwa organ-organ homolog dihasilkan oleh kelompok-kelompok gen yang sama sekali berbeda pada spesies yang berbeda. Konsep homologi menurut kemiripan gen yang diturunkan dari moyang bersama telah hancur.291

Pada pemeriksaan lebih dekat, William Fix mengatakan bahwa pernyataan-pernyataan evolusionis tentang "homologi pentadaktilisme" muncul di buku-buku acuan lama, namun pernyataan itu ditinggalkan setelah petunjuk molekuler muncul. Namun, sayangnya, sebagian buku evolusionis masih terus mengajukannya sebagai petunjuk utama bagi evolusi.

Dongeng Kemiripan Manusia-Simpanse Telah Mati

Dalam waktu yang cukup lama, kalangan evolusionis telah menyebarkan tesis yang tak terbukti bahwa antara manusia dan simpanse, ada perbedaan genetis yang sangat kecil. Dalam setiap pustaka evolusionis, Anda dapat membaca kalimat-kalimat semacam “kita 99 persen mirip simpanse” atau “hanya satu persen DNA yang menjadikan kita manusia.” Meskipun tiada pembandingan yang meyakinkan antara genom-genom manusia dan simpanse telah dilakukan, pemikiran Darwinis telah mendorong mereka beranggapan bahwa hanya ada sedikit perbedaan di antara kedua spesies.

Sebuah penelitian pada Oktober 2002 mengungkapkan bahwa propaganda evolusionis dalam hal ini, seperti hal-hal yang lain, keliru sama sekali. Manusia dan simpanse tak “mirip 99%” seperti yang didongengkan oleh para evolusionis. Kesamaan genetis tak lebih dari 95%. Sebuah kisah berita yang dilaporkan oleh CNN.com, berjudul “Humans, chimps more different than thought” (Manusia, simpanse lebih berbeda daripada yang disangka),” menuturkan yang berikut:

Antara manusia dan simpanse, ada lebih banyak perbedaan daripada yang pernah diyakini, menurut sebuah penelitian genetis terbaru.

Para ahli biologi telah lama berpandangan bahwa gen-gen simpanse dan manusia sama sekitar 98,5 persen. Tetapi Roy Britten, seorang ahli biologi pada California Institute of Technology, mengatakan dalam sebuah penelitian yang diterbitkan minggu ini bahwa suatu cara baru pembandingan gen menunjukkan kesamaan genetis antara manusia dan simpanse hanya sekitar 95 persen. Britten melakukannya dengan sebuah program komputer yang membandingkan 780 ribu dari 3 miliar pasang basa dalam heliks DNA manusia dengan yang dari simpanse. Ia menemukan lebih banyak perbedaan daripada para peneliti sebelumnya, dan menyimpulkan bahwa setidaknya 3,9 persen basa DNA berbeda.

Britten based this on a computer program that compared 780,000 of the 3 billion base pairs in the human DNA helix with those of the chimp. He found more mismatches than earlier researchers had, and concluded that at least 3.9 percent of the DNA bases were different.

Ini membawanya ke kesimpulan bahwa ada perbedaan genetis mendasar di antara kedua spesies kira-kira 5 persen.1

New Scientist, sebuah majalah ilmiah terkemuka dan pendukung kuat Darwinisme, melaporkan yang berikut tentang hal itu dalam sebuah artikel berjudul “Human-chimp DNA difference trebled” (Perbedaan DNA manusia-simpanse berlipat tiga):

Kita lebih unik daripada yang sebelumnya kita pikir, menurut pembandingan baru DNA manusia dan simpanse. Telah lama disangka bahwa kita memiliki 98,5 persen bahan genetik yang sama dengan kerabat terdekat kita. Kini, agaknya hal itu keliru. Ternyata, kita berbagi kurang dari 95 persen bahan genetik, suatu kenaikan berlipat tiga dalam perbedaan di antara kita dan simpanse.2

Ahli biologi Roy Britten dan para evolusionis lain terus mencoba mengkaji hasil ini menurut teori evolusi, tetapi sebenarnya tiada alasan ilmiah melakukannya. Teori evolusi tidak disokong baik oleh catatan fosil maupun data genetis atau biokimiawi. Sebaliknya, petunjuk-petunjuk memperlihatkan bahwa beraneka bentuk kehidupan muncul tiba-tiba di bumi tanpa adanya moyang evolusi dan bahwa sistem-sistem rumit kehidupan membuktikan keberadaan suatu “rancangan cerdas.”

1. http://www.cnn.com/2002/TECH/science/09/24/humans.chimps.ap/index.html
2. http://www.newscientist.com/news/news.jsp?id=ns99992833

Ketaksahihan Homologi Molekuler

kromozom

Pembandingan jumlah kromosom dan struktur DNA menunjukkan bahwa tiada kaitan evolusi di antara spesies hidup yang berbeda.

Pengajuan homologi sebagai petunjuk bagi evolusi oleh para evolusionis tidak sahih bukan hanya di tingkat morfologis, namun juga molekuler. Evolusionis mengatakan bahwa kode-kode DNA, atau struktur-struktur protein yang terkait, dari spesies-spesies hidup yang berbeda adalah mirip, dan bahwa kemiripan ini merupakan petunjuk bahwa spesies-spesies ini telah berevolusi dari moyang bersama, atau berevolusi dari satu ke yang lain. Misalnya, sering diutarakan dalam kepustakaan evolusionis bahwa "ada kemiripan yang besar antara DNA manusia dengan kera," dan kesamaan ini dijadikan petunjuk bagi pernyataan evolusionis bahwa ada suatu kaitan evolusi antara manusia dan kera.

Kita harus menjernihkan sedari awal bahwa bukan kejutan jika makhluk-makhluk hidup di bumi mesti berstruktur DNA yang sangat mirip. Proses-proses kehidupan dasar makhluk-makhluk hidup adalah sama, dan karena memiliki tubuh yang hidup, manusia tak bisa diharapkan berstruktur DNA yang berbeda dari makhluk lain. Seperti makhluk-makhluk hidup lain, manusia tumbuh dengan makan karbohidrat, lemak, dan protein, oksigen beredar melalui darah di dalam tubuhnya, dan tenaga dihasilkan setiap detik di setiap sel tubuhnya akibat penggunaan oksigen ini.

Karena alasan ini, fakta bahwa makhluk-makhluk hidup memiliki kesamaan genetis bukan bukti pernyataan evolusionis bahwa mereka telah berevolusi dari moyang bersama. Jika ingin membuktikan teori evolusi dari moyang bersama, evolusionis harus menunjukkan bahwa makhluk-makhluk yang disangka sebagai moyang bersama masing-masing memiliki garis keturunan langsung dalam struktur molekulernya; Akan tetapi, nyatanya, seperti yang akan segera kita pelajari, tiada penemuan nyata yang menunjukkan hal seperti itu.

Pertama-tama, mari kita tangani masalah "kemiripan antara DNA manusia dan simpanse." Penelitian terbaru dalam masalah ini telah mengungkapkan bahwa propaganda evolusionis tentang "98%" atau "99%" kesamaan antara manusia dan simpanse sama sekali keliru.

Jika penelitian yang sedikit lebih luas tentang hal ini dilakukan, dapat dilihat bahwa DNA makhluk-makhluk yang jauh lebih mengherankan mirip dengan manusia. Salah satu kemiripan ini adalah antara manusia dan cacing-cacing dari filum nematoda. Misalnya, analisis genetis yang diterbitkan majalah New Scientist telah mengungkapkan bahwa "hampir 75% gen manusia memiliki kesamaan dengan nematoda—cacing-cacing tanah yang panjangnya beberapa milimeter."292 Ini tentunya bukan berarti bahwa hanya ada 25% pebedaan antara manusia dan cacing-cacing itu! Menurut pohon kekerabatan yang dibuat oleh evolusionis, filum Chordata, yang manusia termasuk di dalamnya, dan filum Nematoda sudah berbeda bahkan sejak 530 juta tahun yang lalu.

Keadaan ini dengan jelas mengungkapkan bahwa kesamaan antara rantai-rantai DNA dua kelompok kehidupan ini bukanlah petunjuk bagi pernyataan bahwa makhluk-makhluk ini berevolusi dari moyang bersama.

Nyatanya, ketika hasil-hasil analisis DNA dari spesies-spesies dan kelas-kelas berbeda dibandingkan, terlihat jelas bahwa urut-urutan DNA tidak cocok dengan pohon kekerabatan evolusionis mana pun. Menurut tesis evolusionis, makhluk hidup pastilah mengalami kenaikan kerumitan yang bertambah, dan, bersamaan dengan itu, dapat diharapkan bahwa jumlah gen yang menyusun data genetisnya juga perlahan-lahan meningkat. Namun, data yang diperoleh menunjukkan bahwa tesis ini hasil berkhayal.

DNA
mikroskop

Di tingkat molekuler, antara satu organisme dan organisme lainnya tiada hubungan "moyang", atau yang satu lebih "kuno" atau "maju" daripada yang lain.

 

DNA

Ilmuwan Rusia Theodosius Dobzhansky, seorang ahli teori evolusi paling terkenal, sekali waktu menyatakan bahwa hubungan yang tidak beraturan antara makhluk hidup dan DNAnya merupakan sebuah masalah besar yang tak bisa dijelaskan evolusi:

Organisme yang lebih rumit biasanya memiliki lebih banyak DNA per sel daripada organisme sederhana, namun, kaidah ini memiliki pengecualian yang menyolok. Manusia tidak berada di puncak daftar, karena diungguli oleh Amphiuma (sejenis amfibi), Protopterus (sejenis ikan berparu), dan bahkan katak atau kodok biasa. Mengapa ini harus demikian telah lama menjadi teka-teki.293

Pembandingan-pembandingan lain di tingkat molekuler menghasilkan contoh-contoh lain ketakserasian yang membuat pandangan evolusionis kehilangan makna. Ketika benang protein berbagai makhluk hidup dianalisis di laboratorium, hasil-hasil yang muncul sama sekali di luar dugaan dari sudut pandang evolusionis, dan beberapa di antaranya benar-benar mencengangkan. Misalnya, protein sitokrom-C pada manusia berbeda 14 asam amino dari kuda, namun hanya 8 dari kangguru. Ketika untai yang sama diteliti, kura-kura terlihat lebih dekat ke manusia daripada ke reptil seperti ular derik. Ketika keadaan ini diamati dari sudut pandang evolusionis, hasil yang tanpa makna akan muncul, misalnya, kura-kura lebih dekat berkerabat dengan manusia daripada dengan ular.

Misalnya, ayam dan ular laut berbeda 17 asam amino dalam 100 kodon, serta kuda dan ikan hiu sebanyak 16, lebih besar daripada antara anjing dan lalat daging, yang bahkan berlainan filum dan berbeda hanya 15 asam amino.

Fakta-fakta serupa telah ditemukan tentang hemoglobin. Protein hemoglobin yang ditemukan pada manusia berbeda dengan yang ditemukan pada kukang sebanyak 20 asam amino, namun dengan babi hanya sebanyak 14. Keadaan ini lebih kurang sama bagi protein-protein lain.294

Karena hal ini terjadi, para evolusionis seharusnya sampai kepada kesimpulan bahwa, menurut evolusi, manusia lebih berkerabat dengan kangguru daripada kuda, atau dengan babi daripada kukang. Namun, hasil-hasil ini bertentangan dengan semua rencana "pohon kekerabatan evolusi" yang telah lama diterima. Kemiripan protein terus menghasilkan kejutan-kejutan yang mencengangkan. Misalnya:

Adrian Friday dan Martin Bishop dari Cambridge telah manganalisis data urutan protein yang tersedia dari tetrapoda… Mengejutkan mereka, pada hampir setiap kejadian, manusia (mamalia) dan ayam (burung) dipasangkan sebagai kerabat terdekat, dengan buaya sebagai yang terdekat berikutnya…295

Lagi-lagi, ketika didekati dari sudut pandang penalaran evolusionis, kemiripan-kemiripan ini membawa kita kepada kesimpulan yang menggelikan bahwa kerabat terdekat evolusi manusia adalah ayam. Paul Erbrich menekankan fakta bahwa analisis molekuler memberikan hasil-hasil yang menunjukkan kelompok-kelompok makhluk hidup yang sangat berbeda berkerabat sangat dekat dengan cara berikut:

Protein-protein yang berstruktur dan fungsi sama (protein-protein homolog) ditemukan dengan jumlah yang kian bertambah dalam kelompok-kelompok (takson) yang berbeda secara filogenetis, bahkan sangat mudah dibedakan (misalnya, hemoglobin pada vertebrata, pada beberapa invertebrata, dan bahkan pada tetumbuhan tertentu).296

Dr. Christian Schwabe, seorang peneliti biokimia dari Fakultas Kedokteran University of South Carolina, adalah seorang ilmuwan yang menghabiskan bertahun-tahun mencoba menemukan petunjuk bagi evolusi di bidang molekul. Pertama, ia mencoba membangun kaitan evolusi di antara makhluk-makhluk hidup dengan melakukan penelitian pada protein seperti insulin dan relaksin. Namun, Schwabe beberapa kali terpaksa mengakui bahwa ia tidak mampu menemukan petunjuk apa pun bagi evolusi dalam penelitiannya. Ia mengatakan yang berikut ini dalam sebuah artikel majalah Science:

Evolusi molekuler akan diterima sebagai cara yang lebih unggul daripada paleontologi bagi penemuan kaitan evolusi. Sebagai seorang evolusionis molekuler, saya seharusnya berbesar hati. Sebaliknya, rasanya risih melihat banyak pengecualian bagi kemajuan beraturan spesies sebagaimana yang ditentukan oleh homologi molekuler: nyatanya, demikian banyak sampai-sampai saya berpikir bahwa pengecualian, kejanggalan-kejanggalan, mungkin membawa pesan yang lebih penting.297

Penelitian Schwabe pada relaksin memberikan hasil yang sangat menarik:

Berlatar belakang keanekaragaman yang tinggi di antara relaksin dari spesies-spesies yang terlihat berkerabat dekat, relaksin babi dan ikan paus persis sama. Molekul-molekul yang diambil dari tikus, marmut, manusia, dan babi sama jauhnya satu sama lain (sekitar 55%) sebagaimana juga relaksin semua ikan bertulang rawan. …Akan tetapi, insulin membawa manusia dan babi secara filogenetis lebih dekat daripada simpanse dan manusia.298

Schwabe menghadapi kenyataan yang sama ketika membandingkan susunan protein-protein lain di samping insulin dan relaksin. Schwabe mengatakan yang berikut tentang protein-protein lain yang membentuk pengecualian-pengecualian bagi perkembangan molekuler beraturan sebagaimana yang diajukan evolusionis:

Keluarga relaksin dan insulin tak berdiri sendiri sebagai pengecualian bagi tafsiran beraturan atas evolusi molekuler menurut monofiletik yang biasa. Dianjurkan agar melihat contoh-contoh tambahan evolusi protein yang terlihat menyimpang dan memperhatikan bahwa penjelasan-penjelasan yang diperbolehkan dalam teori-teori jam molekuler mencakup serangkaian penjelasan khusus yang tampaknya dibatasi hanya oleh daya khayal.299

Schwabe mengungkapkan bahwa pembandingan susunan lisosom, sitokrom, serta berbagai hormon dan asam amino menunjukkan "hasil yang tidak diharapkan dan penyimpangan" dari sudut pandang evolusi. Berdasarkan pada semua petunjuk ini, Schwabe bersikukuh bahwa semua protein mendapatkan bentuknya yang sekarang sedari awal, tak mengalami evolusi apa pun, dan tak ada bentuk peralihan telah ditemukan di antara molekul-molekul ini, dengan cara yang sama dengan fosil.

Tentang temuan-temuan di bidang biologi molekuler ini, Dr. Michael Denton mengulas:

Setiap kelas pada tingkat molekuler adalah unik, terpisah, dan tak terhubung dengan bentuk peralihan. Maka, molekul-molekul ini, seperti fosil, telah gagal memberikan bentuk peralihan yang pandai bersembunyi dan telah demikian lama dicari biologi evolusi… Di tingkat molekuler, tiada organisme yang "moyang" atau "sederhana" atau "maju" dibandingkan dengan kerabat-kerabatnya… Ada sedikit keraguan bahwa jika petunjuk molekuler ini tersedia seabad yang lalu… gagasan evolusi organik mungkin tak akan pernah diterima.300

"Pohon Kehidupan" Sedang Tumbang

Pembandingan-pembandingan yang telah dilakukan di antara protein, rRNA, dan gen mengungkapkan bahwa makhluk yang diduga berhubungan dekat menurut teori evolusi, sebenarnya sama sekali berbeda antara satu dan lainnya. Berbagai penelitian menyatukan kelinci dengan primata, bukannya rodensia, dan sapi dengan ikan paus, bukannya kuda.

Di tahun 1990-an, penelitian ke dalam kode-kode genetis makhluk hidup memperburuk kebingungan yang dihadapi oleh teori evolusi tentang hal ini. Dalam percobaan-percobaan ini, tidak seperti pembandingan-pembandingan sebelumnya yang dibatasi pada urutan protein, urutan "RNA ribosom" (rRNA) dibandingkan. Dari temuan-temuan ini, ilmuwan evolusionis mencoba membangun sebatang "pohon evolusi." Akan tetapi, mereka dikecewakan oleh hasil-hasilnya.

Menurut sebuah artikel tahun 1999 karangan dua ahli biologi Perancis, Hervé Philippe and Patrick Forterre, "dengan semakin banyak urutan tersedia, ternyata sebagian besar filogeni protein saling bertentangan sebagaimana pohon rRNA."301

Di samping perbandingan rRNA, kode-kode DNA di dalam gen-gen makhluk hidup juga diperbandingkan, namun hasil-hasilnya telah berkebalikan dengan "pohon kehidupan" yang sudah dipersangkakan oleh evolusi. Para ahli biologi molekuler, James A. Lake, Ravi Jain dan Maria C. Rivera merinci hal ini dalam sebuah artikel di tahun 1999:

…Para ilmuwan mulai menganalisis beraneka ragam gen dari organisme-organisme yang berbeda dan menemukan bahwa hubungan di antara mereka bertentangan dengan pohon kehidupan evolusi yang diturunkan hanya dari analisis rRNA.302

Baik pembandingan-pembandingan yang dilakukan pada protein, maupun pada rRNA atau gen, tidak menegaskan dasar-dasar pemikiran teori evolusi. Carl Woese, seorang ahli biologi yang ternama dari University of Illinois, mengakui bahwa konsep "filogeni" telah kehilangan arti pentingnya di hadapan temuan-temuan molekuler dengan cara berikut:

Tiada filogeni organisme yang tetap telah muncul dari berbagai filogeni protein yang dihasilkan sejauh ini. Ketidakselarasan filogenetis dapat dilihat di mana-mana pada pohon semesta, dari akar sampai ke cabang-cabang utama, di dalam dan di antara berbagai [kelompok] sampai ke susunan kelompok-kelompok utama sendiri.303

Fakta bahwa hasil-hasil pembandingan molekuler tidak menyokong, tetapi cenderung menentang, teori evolusi juga diakui di dalam sebuah artikel berjudul "Is it Time to Uproot the Tree of Life?" (Inikah Saatnya Mencabut Pohon Kehidupan?) yang diterbitkan Science pada tahun 1999. Artikel oleh Elizabeth Pennisi ini menyatakan bahwa analisis dan pembandingan genetik yang dilakukan oleh para ahli biologi Darwinis untuk menjelaskan "pohon kehidupan" sebenarnya memberikan hasil-hasil yang bertolak belakang, dan selanjutnya dengan mengatakan bahwa "data baru sedang mengeruhkan lukisan evolusi."

Setahun yang lalu, para ahli biologi yang memeriksa urutan genom-genom yang baru dirangkaikan dari selusin lebih mikroorganisme, berpikir bahwa data ini mungkin mendukung alur-alur cerita sejarah awal kehidupan yang telah diterima. Namun, yang mereka lihat membingungkan mereka. Pembandingan genom-genom yang saat itu tersedia bukan hanya tidak menjelaskan gambaran bagaimana kelompok-kelompok utama kehidupan berevolusi, namun malah mengacaukannya. Dan sekarang, dengan tambahan delapan urutan genom mikroba di tangan, keadaan bahkan kian lebih membingungkan… Banyak ahli biologi evolusi telah berpikir bahwa mereka bisa secara kasar melihat awal kehidupan dari tiga kerajaan (kingdom) hewan… Ketika urutan lengkap DNA membuka jalan untuk membandingkan jenis-jenis lain gen, para peneliti berharap bahwa urutan-urutan ini akan sekadar menambahkan rincian ke pohon ini. Namun, "tiada yang lebih jauh dari kebenaran," kata Claire Fraser, kepala TIGR (The Institute for Genomic Research) di Rockville, Maryland. Sebaliknya, pembandingan-pembandingan telah menghasilkan banyak macam pohon kehidupan yang berbeda dari pohon rRNA dan juga saling bertentangan…304

Singkatnya, sambil biologi molekuler berkembang, konsep homologi kian kehilangan pijakan. Pembandingan-pembandingan yang telah dilakukan atas protein, rRNA, dan gen mengungkapkan bahwa makhluk-makhluk yang disangka kerabat dekat menurut teori evolusi sebenarnya sama sekali berbeda satu sama lain. Sebuah penelitian tahun 1996 menggunakan 88 urutan protein mengelompokkan kelinci ke dalam primata, bukan rodensia; analisis tahun 1998 terhadap 13 gen pada 19 spesies hewan menempatkan bulu babi ke dalam Chordata; dan penelitian lain di tahun 1998 pada 12 protein menempatkan sapi lebih dekat ke ikan paus daripada kuda.

Sambil kehidupan diselidiki pada taraf molekul, hipotesis homologi teori evolusi runtuh satu persatu. Ahli biologi molekuler, Jonathan Wells, menyimpulkan keadaan ini pada tahun 2000 sebagai berikut:

Ketakseragaman di antara pohon-pohon [kehidupan] menurut pelbagai molekul, dan pohon-pohon ganjil yang dihasilkan sejumlah analisis molekuler, telah menceburkan filogeni molekuler ke dalam krisis.305

Tetapi, dalam hal itu, penjelasan ilmiah seperti apakah yang bisa diberikan bagi struktur-struktur yang mirip pada makhluk-makhluk hidup? Jawaban pertanyaan itu telah diberikan sebelum teori evolusi Darwin muncul menguasai dunia ilmu pengetahuan. Tokoh ilmu pengetahuan seperti Carl Linnaeus dan Richard Owen, yang kali pertama mengangkat masalah organ-organ yang mirip pada makhluk-makhluk hidup, melihat organ-organ ini sebagai contoh-contoh "rancangan bersama." Dengan kata lain, organ-organ yang mirip atau gen-gen yang mirip bukanlah karena telah berevolusi secara kebetulan dari satu moyang bersama, tetapi karena telah sengaja dirancang untuk melakukan fungsi-fungsi khusus.

Penemuan-penemuan ilmiah mutakhir menunjukkan pernyataan bahwa kemiripan pada makhluk hidup disebabkan pewarisan dari "moyang bersama" tidak sahih, dan satu-satunya penjelasan yang masuk akal bagi kemiripan-kemiripan itu adalah "rancangan bersama."

 

Catatan Kaki

275 Frank Salisbury, "Doubts About the Modern Synthetic Theory of Evolution," American Biology Teacher, September 1971, p. 338. (emphasis added)

276 Dean H. Kenyon, Percival Davis, Of Pandas and People: The Central Question of Biological Origins, Haughton Publishing, Dallas, 1993, p. 33.

277 Dean H. Kenyon, Percival Davis, Of Pandas and People: The Central Question of Biological Origins, Haughton Publishing, Dallas, 1993, p. 117.

278 Michael Denton, Evolution: A Theory in Crisis, Burnett Books, London, 1985, p. 145.

279 Gavin De Beer, Homology: An Unsolved Problem, Oxford University Press, London, 1971, p. 16.

280 Pere Alberch, "Problems with the Interpretation of Developmental Sequences," Systematic Zoology, 1985, vol. 34 (1), pp. 46-58.

281 Raff, Rudolf A., The Shape of Life: Genes, Development, and the Evolution of Animal Form, The University of Chicago Press, Chicago, 1996.

282 Coates M., "New paleontological contributions to limb ontogeny and phylogeny," In: J. R. Hinchcliffe (ed.), Developmental Patterning of the Vertebrate Limb, Plenum Press, New York, 1991, 325-337; Coates M. I., The Devonian tetrapod Acanthostega gunnari Jarvik: postcranial anatomy, basal tetrapod interrelationships and patterns of skeletal evolution, transactions of the Royal Society of Edinburgh, 1996, vol. 87, pp. 363-421.

283 Michael Denton, Evolution: A Theory in Crisis, Adler & Adler, Bethesda, MA, 1985, pp. 151, 154. (emphasis added)

284 William Fix, The Bone Peddlers: Selling Evolution, Macmillan Publishing Co., New York, 1984, p. 189. (emphasis added)

285 Karen Hopkin, "The Greatest Apes," New Scientist, vol. 62, issue 2186, 15 May 1999, p. 27.

286 Theodosius Dobzhansky, Genetics of the Evolutionary Process, Columbia University Press, New York & London, 1970, pp. 17-18.

287 Pierre Paul Grassé, Evolution of Living Organisms, Academic Press, New York, 1977, p. 194.

288 Mike Benton, "Is a Dog More Like Lizard or a Chicken?," New Scientist, vol. 103, August 16, 1984, p. 19. (emphasis added)

289 Paul Erbrich, "On the Probability of the Emergence of a Protein with a Particular Function," Acta Biotheoretica, vol. 34, 1985, p. 53.

290 Christian Schwabe, "On the Validity of Molecular Evolution," Trends in Biochemical Sciences, vol. 11, July 1986, p. 280. (emphasis added)

291 Christian Schwabe, "Theoretical Limitations of Molecular Phylogenetics and the Evolution of Relaxins," Comparative Biochemical Physiology, vol. 107B, 1974, pp.171-172. (emphasis added)

292 Christian Schwabe and Gregory W. Warr, "A Polyphyletic View of Evolution," Perspectives in Biology and Medicine, vol. 27, Spring 1984, p. 473. (emphasis added)

293 Michael Denton, Evolution: A Theory in Crisis, Burnett Books, London, 1985, pp. 290-291. (emphasis added)

294 Hervé Philippe and Patrick Forterre, "The Rooting of the Universal Tree of Life is Not Reliable," Journal of Molecular Evolution, vol 49, 1999, p. 510.

295 James Lake, Ravi Jain ve Maria Rivera, "Mix and Match in the Tree of Life," Science, vol. 283, 1999, p. 2027.

296 Carl Woese, "The Universel Ancestor," Proceedings of the National Academy of Sciences, USA, 95, (1998) p. 6854.

297 Elizabeth Pennisi, "Is It Time to Uproot the Tree of Life?" Science, vol. 284, no. 5418, 21 May 1999, p. 1305.

298 Jonathan Wells, Icons of Evolution, Regnery Publishing, 2000, p. 51.

10 / total 19
Anda dapat membaca buku Harun Yahya Darwinisme Terbantahkan secara online, berbagi pada jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter, download di komputer Anda, menggunakannya untuk pekerjaan rumah Anda dan tesis, dan mempublikasikan, menyalin atau memperbanyak pada website atau blog Anda sendiri tanpa perlu membayar biaya hak cipta apapun, selama Anda mengakui situs ini sebagai referensi.
Presentasi| tentang situs ini | Buat homepage Anda | tambahkan ke favorit | RSS Feed
Semua materi dapat dikopi,dicetak, dan didistribusikan berdasarkan situs ini
(c) All publication rights of the personal photos of Mr. Adnan Oktar that are present in our website and in all other Harun Yahya works belong to Global Publication Ltd. Co. They cannot be used or published without prior consent even if used partially.
© 1994 Harun Yahya. www.harunyahya.com
page_top