< <
13 / total: 19

Kerumitan Tak Teruraikan

Salah satu konsep terpenting yang harus dipakai seseorang ketika mempertanyakan teori Darwinis sesuai dengan penemuan-penemuan ilmiah adalah, tak diragukan, syarat yang dipakai Darwin sendiri. Di dalam buku The Origin of Species, Darwin meletakkan sejumlah syarat nyata yang menganjurkan cara menguji dan, jika diinginkan, membantah teorinya. Banyak kalimat di dalam bukunya dimulai dengan, "Jika teori saya benar," dan di dalamnya Darwin menguraikan penemuan-penemuan yang dibutuhkan teorinya. Salah satu syarat terpenting menyangkut fosil-fosil dan "bentuk-bentuk peralihan." Dalam bab-bab sebelumnya, kita telah mempelajari bagaimana ramalan-ramalan Darwin ini tidak terwujud, dan bagaimana, sebaliknya, catatan fosil membantah sepenuhnya Darwinisme.

Di samping itu, Darwin memberikan satu lagi syarat sangat penting untuk menguji teorinya. Syarat ini begitu penting, tulis Darwin, sehingga dapat menyebabkan teorinya mutlak runtuh:

Jika dapat dibuktikan bahwa ada organ rumit apa saja, yang tak mungkin terbentuk melalui perubahan-perubahan yang banyak, berlanjut, dan sedikit-sedikit, teori saya akan mutlak runtuh. Namun, saya tak mampu menemukan yang demikian.348

Kita harus menguji maksud Darwin di sini dengan sangat hati-hati. Seperti kita ketahui, Darwinisme menjelaskan asal usul kehidupan dengan dua mekanisme alam yang tak sadar: seleksi alam dan perubahan acak (dengan kata lain, mutasi). Menurut teori Darwinis, kedua mekanisme ini membawa kepada kemunculan struktur rumit sel hidup dan sistem-sistem anatomis makhluk hidup yang rumit, seperti mata, telinga, sayap, paru-paru, sonar kelelawar, serta jutaan rancangan sistem rumit lainnya.

Akan tetapi, bagaimana sistem-sistem ini, yang berstruktur luar biasa rumitnya, dapat dianggap hasil dua pengaruh alamiah yang tak sadar? Di sini, konsep yang diterapkan Darwinisme adalah konsep "keteruraian." Dikatakan bahwa semua sistem ini bisa diuraikan hingga keadaan yang amat dasar, dan karena itu berkembang secara bertahap. Setiap tahap memberi makhluk hidup sedikit tambahan kelebihan, dan karena itu, dipilih oleh seleksi alam. Lalu, belakangan, akan ada perkembangan kecil lain yang kebetulan, dan perkembangan itu juga disukai karena memberikan sebuah keuntungan, dan proses akan terus berlanjut dengan cara ini. Berkat proses ini, menurut pernyataan Darwinis, suatu spesies yang aslinya tak bermata akan bermata sempurna, dan spesies lain yang awalnya tak bisa terbang, akan menumbuhkan sayap dan bisa terbang.

Cerita ini dituturkan dengan cara yang sangat meyakinkan dan masuk akal di dalam buku-buku evolusionis. Tetapi, ketika orang membacanya lebih cermat, kekeliruan besar tampak. Segi pertama kekeliruan ini adalah masalah yang telah kita pelajari pada halaman-halaman sebelumnya buku ini. Mutasi bersifat merusak, bukan membangun. Dengan kata lain, mutasi acak yang terjadi pada makhluk hidup tidak memberikan "keuntungan" apa-apa bagi makhluk itu, dan lebih jauh lagi, gagasan bahwa makhluk hidup bermutasi ribuan kali, satu demi satu, adalah mimpi yang bertentangan dengan semua pengamatan ilmiah.

Namun, masih ada segi sangat penting lain dari kekeliruan ini. Teori Darwinis mensyaratkan masing-masing tahap dari satu titik ke titik lainnya harus "menguntungkan". Dalam sebuah proses evolusi dari A ke Z (misalnya, dari makhluk tak bersayap menjadi bersayap), semua tahap "peralihan" B, C, D, …V, W, X, dan Y haruslah memberikan keuntungan bagi makhluk bersangkutan. Karena tidak mungkin bagi seleksi alam dan mutasi secara sadar menentukan terlebih dulu sasaran-sasarannya, keseluruhan teori didasarkan pada hipotesis bahwa sistem-sistem hidup dapat diuraikan menjadi sifat-sifat kecil yang bisa ditambahkan ke organisme sedikit demi sedikit, setiap kali memberikan sedikit keuntungan selektif. Itulah mengapa Darwin mengatakan, "Jika dapat dibuktikan bahwa ada organ rumit apa saja, yang tak mungkin terbentuk melalui perubahan-perubahan yang banyak, berlanjut, dan sedikit-sedikit, teori saya akan mutlak runtuh."

Dengan taraf ilmu pengetahuan abad ke-19 yang masih sederhana, Darwin mungkin berpikir bahwa makhluk-makhluk hidup berstruktur yang teruraikan. Tetapi, penemuan-penemuan abad ke-20 telah menunjukkan bahwa banyak sistem dan organ pada makhluk hidup tak bisa diuraikan. Kenyataan ini, disebut "kerumitan yang tak teruraikan," dengan telak meruntuhkan Darwinisme, sebagaimana dikhawatirkan oleh Darwin sendiri.

Flagel Bakteri

bakteri kamçısı

Sebuah motor listrik–tetapi bukan dari salah satu perkakas rumah tangga atau kendaraan. Ini yang ada di dalam bakteri. Berkat motor ini, bakteri bisa menggerakkan organ-organ yang disebut "flagel" dan lalu berenang di air

Hal ini diketahui pada tahun 1970 dan sangat mengejutkan dunia ilmiah, sebab organ "rumit tak teruraikan" ini, yang tersusun dari 240 jenis protein, tak bisa dijelaskan dengan mekanisme kebetulan sebagaimana yang diusulkan Darwin.

Orang terpenting yang membawa konsep kerumitan tak teruraikan ke latar depan agenda ilmiah adalah ahli biokimia Michael J. Behe dari Lehigh University, Amerika Serikat. Di dalam bukunya Darwin's Black Box: The Biochemical Challenge to Evolution (Kotak Hitam Darwin: Tantangan Biokimiawi terhadap Evolusi), yang diterbitkan pada tahun 1996, Behe meneliti struktur rumit tak teruraikan sel dan sejumlah struktur biokimia lainnya, dan mengungkapkan bahwa semua itu mustahil dijelaskan oleh evolusi. Menurut Behe, penjelasan sejati tentang kehidupan adalah rancangan cerdas.

Buku Behe adalah sebuah pukulan telak bagi Darwinisme. Malahan, Peter van Inwagen, profesor filsafat dari University of Notre Dame, menekankan pentingnya buku ini dengan cara berikut:

Jika kaum Darwinian menanggapi buku penting ini dengan mengabaikan, menyalah-artikan, atau mencemoohkannya, hal itu akan menjadi petunjuk yang menyokong kecurigaan luas saat ini bahwa Darwinisme berfungsi lebih sebagai sebuah ideologi daripada teori ilmiah. Jika mereka berhasil menjawab pandangan-pandangan Behe, hal itu akan menjadi petunjuk penting yang menyokong Darwinisme.349

Salah satu contoh menarik kerumitan tak teruraikan yang diberikan Behe di dalam bukunya adalah flagel bakteri. Flagel adalah organ mirip cambuk yang digunakan sebagian bakteri untuk bergerak di dalam lingkungan cair. Organ ini tertanam pada membran sel, dan memungkinkan bakteri bergerak ke arah yang dipilih dengan laju tertentu.

Para ilmuwan telah cukup lama mengenal flagel. Akan tetapi, struktur rincinya, yang hanya muncul pada akhir dasawarsa ini, datang sebagai kejutan besar bagi mereka. Telah ditemukan bahwa flagel bergerak dengan "motor organik" yang sangat rumit, bukan dengan mekanisme getar sederhana seperti yang diyakini sebelumnya. Mesin mirip baling-baling ini dibangun atas azas-azas mekanis yang sama dengan motor listrik. Ada dua bagian utama: bagian bergerak ("rotor") dan bagian bergeming ("stator").

Flagel bakteri berbeda dengan semua sistem organik yang menghasilkan gerak mekanis. Sel bakteri tidak memanfaatkan cadangan energi yang disimpan sebagai molekul ATP. Tetapi, flagel memiliki sumber energi khusus: bakteri menggunakan energi dari aliran ion yang melewati membran luar selnya. Struktur dalam dari motor ini sangat rumit. Sekitar 240 jenis protein menyusun flagel. Setiap protein berada pada tempat yang tepat. Para ilmuwan telah mengetahui bahwa semua protein ini membawa isyarat untuk menghidupkan dan mematikan motor penggerak, membentuk engsel-engsel untuk memudahkan gerakan di tingkat atom, dan menghidupkan protein-protein lain yang menghubungkan flagel ke membran sel. Model-model yang dibangun untuk merangkum cara kerja sistem ini cukup menggambarkan sifat rumitnya.

Struktur rumit flagel bakteri sendiri saja sudah cukup menghancurkan teori evolusi karena flagel berstruktur rumit yang tak teruraikan. Jika satu molekul pada struktur rumit yang menakjubkan ini hilang, atau cacat, flagel tak akan bekerja maupun berguna bagi bakteri. Flagel harus bekerja secara sempurna dari kali pertama keberadaannya. Fakta ini kembali mengungkapkan kehampaan pernyataan teori evolusi tentang "perkembangan langkah demi langkah." Malah, sejauh ini tak satu pun ahli biologi evolusi berhasil menjelaskan asal usul flagel bakteri walau segelintir orang mencobanya.

Flagel bakteri adalah petunjuk nyata bahwa bahkan pada makhluk yang dianggap "sederhana", ada rancangan yang luar biasa. Sambil manusia mempelajari lebih banyak rinciannya, kian bertambah jelas bahwa organisme-organisme yang dipandang sebagai yang tersederhana oleh para ilmuwan abad ke-19, termasuk Darwin, sebenarnya sama rumitnya dengan organisme-organisme lain.

Rancangan Mata Manusia

Mata manusia adalah sistem yang sangat rumit yang mencakup penggabungan halus sekitar 40 komponen terpisah. Amatilah satu saja dari komponen-komponen ini: misalnya, lensa. Kita biasanya tidak menyadari, namun yang membuat kita mampu melihat benda-benda dengan jelas adalah penyesuaian otomatis terus-menerus fokus lensa. Jika Anda kehendaki, Anda bisa melakukan sebuah percobaan kecil tentang hal ini: acungkan jari telunjuk Anda. Pandanglah ujung jari Anda, lalu pandanglah dinding di belakangnya. Setiap kali mengalihkan pandangan dari jari ke dinding, Anda akan merasakan suatu penyesuaian.

Penyesuaian ini dilakukan oleh otot-otot kecil di sekitar lensa. Setiap kali kita melihat pada sesuatu, otot-otot ini akan bekerja dan membuat kita mampu melihat dengan jelas apa yang sedang kita pandangi lewat mengubah-ubah ketebalan lensa dan menempatkannya pada sudut yang tepat terhadap cahaya. Lensa melakukan pengaturan ini setiap detik dalam kehidupan kita, dan tak pernah membuat kesalahan. Para fotografer melakukan pengaturan yang sama pada kamera mereka dengan tangan, dan kadang-kadang menemui kesulitan mendapatkan fokus yang tepat. Selama 10 sampai 15 tahun terakhir, teknologi maju telah menghasilkan kamera yang bisa memfokus otomatis, namun tiada kamera yang bisa memfokus secepat dan sebaik mata.

Supaya mata dapat melihat, ke-40 atau lebih komponen dasar yang menyusunnya harus ada pada saat bersamaan dan bekerjasama dengan sempurna. Lensa hanyalah salah satunya. Jika semua komponen lain, seperti kornea, selaput pelangi, orang-orangan, retina, dan otot-otot mata, semuanya hadir dan berfungsi sebagaimana mestinya, namun hanya kelopak mata yang tidak ada, maka mata akan segera mengalami kerusakan yang parah dan berhenti menjalankan fungsinya. Dengan cara serupa, jika semua subsistem ada, tetapi produksi air mata terhenti, maka mata akan mengering dan menjadi buta dalam beberapa jam.

Pernyataan teori evolusi tentang "keteruraian" kehilangan semua maknanya di hadapan struktur mata yang pelik. Alasannya adalah, agar mata bisa berfungsi, semua komponennya harus ada pada saat bersamaan. Tentunya, mustahil bagi mekanisme seleksi alam dan mutasi memunculkan lusinan subsistem mata jika tidak memberikan keuntungan sampai subsistem terakhir terwujud. Profesor Ali Demirsoy menerima kebenaran ini dengan mengatakan:

Agak sulit menjawab keberatan yang ketiga. Bagaimanakah mungkin bagi sebuah organ rumit muncul tiba-tiba meskipun membawa manfaat? Misalnya, bagaimanakah lensa, retina, syaraf penglihatan, dan semua bagian lain pada vertebrata yang berperan penting dalam penglihatan, tiba-tiba muncul? Karena seleksi alam tak bisa memilih secara terpisah antara syaraf penglihatan dan retina. Perkembangan yang bersamaan segenap struktur penglihatan tak bisa dielakkan. Karena bagian-bagian yang berkembang secara terpisah tak bisa digunakan, bagian-bagian ini akan tanpa makna, dan juga mungkin lenyap seiring dengan waktu. Pada saat bersamaan, perkembangan semua bagian secara bersama-sama membutuhkan penyatuan peluang-peluang yang kecilnya terbayangkan.350

Yang dimaksud dengan "peluang-peluang yang kecilnya tak terbayangkan" oleh Profesor Ali Demirsoy adalah pada dasarnya sebuah "kemustahilan." Jelas, sebuah kemustahilan bagi mata menjadi hasil kebetulan. Darwin juga menghadapi kesulitan besar dalam hal ini, dan mengakui, "Saya ingat betul saat-saat pikiran tentang mata membuat saya menggigil di sekujur tubuh."351

Di dalam The Origin of Species, Darwin mengalami sebuah kesulitan besar di hadapan rancangan rumit mata. Satu-satunya pemecahan yang diperolehnya adalah menunjuk ke struktur mata yang lebih sederhana yang ditemukan pada beberapa makhluk hidup sebagai asal usul mata rumit yang ditemukan pada makhluk lainnya. Ia berhipotesis bahwa mata yang lebih rumit berkembang dari mata yang lebih sederhana. Akan tetapi, pernyataan ini tidak mencerminkan kebenaran. Paleontologi menunjukkan bahwa makhluk-makhluk hidup muncul di bumi dengan struktur utuh yang sangat rumit. Sistem penglihatan tertua yang dikenal adalah mata trilobita. Struktur mata majemuk yang berumur 530 juta tahun ini, yang kita singgung pada bab sebelumnya, adalah sebuah "keajaiban penglihatan" yang bekerja dengan sistem lensa ganda. Fakta ini sama sekali membantah anggapan Darwin bahwa mata rumit berevolusi dari mata "sederhana."

insan gözü

Mata manusia bekerja dengan berfungsinya bersama-sama sekitar 40 bagian berbeda. Jika satu saja bagian tidak ada, mata tak akan berfungsi. Masing-masing dari 40 bagian ini berstruktur rumit. Misalnya, retina di belakang mata, tersusun dari 11 lapisan (kanan atas), masing-masing berfungsi tersendiri. Teori evolusi tak bisa menjelaskan perkembangan organ rumit seperti ini.

Struktur tak Teruraikan dari Mata "Sederhana"

Tetap dikatakan bahwa organ-organ yang digambarkan Darwin sebagai mata "sederhana" sebenarnya berstruktur rumit dan tak teruraikan yang tak akan pernah bisa dijelaskan dengan ketaksengajaan. Bahkan pada bentuk yang tersederhana pun, untuk bisa melihat, sebagian sel makhluk hidup harus peka terhadap cahaya—yakni, sel-sel itu perlu memiliki kemampuan menghantarkan kepekaan terhadap cahaya ini menjadi isyarat-isyarat listrik; suatu jaringan syaraf dari sel-sel ini menuju otak haruslah ada; dan sebuah pusat penglihatan di otak untuk mengolah informasi harus terbentuk. Sangat tak beralasan jika mengusulkan bahwa semua ini mewujud secara kebetulan, pada saat bersamaan, dan pada makhluk hidup yang sama. Di dalam bukunya yang ditulis untuk membela teori evolusi, Evrim Kurami ve Bagnazlik (Teori Evolusi dan Kefanatikan), penulis evolusionis Cemal Yildirim mengakui fakta ini sebagai berikut:

Sejumlah besar mekanisme harus bekerjasama demi penglihatan: sebagaimana mata dan mekanisme-mekanisme di dalamnya, kita bisa menyebutkan hubungan antara pusat-pusat khusus di otak dan mata. Bagaimanakah penciptaan sistem yang rumit ini terjadi? Menurut ahli biologi, tahap pertama kemunculan mata selama proses evolusi adalah lahirnya suatu daerah kecil yang peka cahaya di permukaan kulit beberapa makhluk hidup sederhana. Namun, keuntungan apakah yang bisa diberikan oleh perkembangan kecil ini bagi makhluk hidup dalam seleksi alam? Sama dengan ini, diperlukan suatu pusat penglihatan yang terbentuk di otak dan sebuah sistem syaraf yang terhubung dengannya. Selama mekanisme yang amat rumit ini tidak saling terhubung, kita tak bisa mengharapkan yang kita sebut "penglihatan" mewujud. Darwin percaya bahwa variasi terjadi secara kebetulan. Jika ini masalahnya, tidakkah kemunculan semua variasi yang dibutuhkan penglihatan di berbagai bagian tubuh organisme pada saat bersamaan dan bekerja bersama menjadi teka-teki yang ajaib?... Akan tetapi, sejumlah perubahan yang saling melengkapi dan bekerjasama secara serasi dan saling membantu dibutuhkan demi penglihatan… Beberapa mata moluska memiliki retina, kornea, dan sebuah lensa dari jaringan selulosa sama seperti mata kita. Sekarang, bagaimanakah bisa kita menjelaskan proses evolusi dari dua jenis yang sangat berbeda ini dengan serangkaian peristiwa kebetulan hanya karena seleksi alam? Menjadi bahan perdebatan apakah Darwinis mampu memberikan sebuah jawaban yang memuaskan bagi pertanyaan ini…352

Masalah ini begitu besar dari sudut pandang evolusionis sehingga semakin kita cermati rincian-rinciannya, semakin parah kebingungan yang dialami teori ini. Satu "rincian" penting yang perlu ditelaah adalah pernyataan tentang "sel yang menjadi peka terhadap cahaya." Kaum Darwinis menjelaskan hal ini dengan mengatakan,"Penglihatan mungkin dimulai oleh satu sel yang menjadi peka terhadap cahaya." Namun, rancangan seperti apakah yang diharapkan dimiliki struktur seperti itu?

Proses Kimiawi Penglihatan

Di dalam bukunya Darwin's Black Box, Michael Behe menekankan bahwa struktur sel hidup dan semua sistem biokimia lainnya merupakan "kotak hitam" yang tak diketahui bagi Darwin dan orang-orang yang sezaman dengannya. Darwin menganggap bahwa kotak-kotak hitam ini berstruktur sangat sederhana dan dapat mewujud secara kebetulan. Akan tetapi, saat ini, biokimia mutakhir telah membuka kotak-kotak hitam ini dan mengungkapkan struktur rumit kehidupan yang tak teruraikan. Behe menyatakan bahwa ulasan-ulasan Darwin tentang lahirnya mata terlihat begitu meyakinkan karena taraf ilmu pengetahuan abad ke-19 yang masih sederhana:

Darwin meyakinkan sebagian besar orang bahwa mata yang maju berevolusi perlahan-lahan dari struktur yang lebih sederhana, namun tidak berupaya menjelaskan di mana titik awalnya—daerah peka cahaya yang agaknya sederhana—berasal. Sebaliknya, Darwin mengabaikan pertanyaan tentang asal usul paling awal mata… Ia beralasan kuat menolak pertanyaan ini, sebab, sepenuhnya di luar jangkauan ilmu pengetahuan abad ke-19. Cara mata bekerja—yakni, apakah yang terjadi ketika sebutir foton cahaya kali pertama mencapai retina—tak bisa diterangkan saat itu.353

Jadi, bagaimanakah sebenarnya sistem ini, yang disamarkan Darwin sebagai sebuah struktur sederhana, bekerja? Bagaimanakah sel-sel pada lapisan retina mata mengesani berkas cahaya yang jatuh padanya?

Jawaban pertanyaan ini amat pelik. Ketika mengenai sel-sel retina, foton-foton membangkitkan aksi berantai, yang agak mirip sebuah efek domino. Kartu domino pertama adalah molekul yang disebut "11-cis-retinal" yang peka terhadap foton. Ketika terkena foton, molekul ini berubah bentuk, yang lalu mengubah bentuk sebuah protein yang disebut "rodopsin" yang terikat kuat kepadanya. Rodopsin mengambil bentuk yang memungkinkannya melekat ke protein diam lain di dalam sel yang disebut "transdusin."

Sebelum bereaksi dengan rodopsin, transdusin terikat ke molekul yang disebut GDP. Ketika berhubungan dengan rodopsin, transdusin melepaskan molekul GDP dan terikat ke molekul baru yang disebut GTP. Itulah mengapa susunan baru yang mengandung dua protein (rodopsin dan transdusin) dan sebuah molekul kecil (GTP) disebut "GTP-transdusin-rodopsin."

Tetapi, prosesnya baru saja dimulai. Susunan baru GTP-transdusin-rodopsin kini bisa dengan cepat terikat ke protein lain yang tinggal di dalam sel yang disebut "fosfodiesterase." Senyawa ini membuat protein fosfodiesterase mampu memotong molekul lain di dalam sel yang disebut cGMP. Karena proses ini terjadi pada jutaan protein di dalam sel, kadar cGMP mendadak menurun.

Bagaimanakah semua ini membantu penglihatan? Unsur terakhir dari reaksi berantai ini memberikan jawabannya. Penurunan kadar cGMP mempengaruhi saluan-saluran ion di dalam sel. Yang disebut saluran ion adalah suatu struktur yang tersusun dari protein-protein yang mengatur jumlah ion natrium di dalam sel. Dalam keadaan normal, saluran ion membiarkan ion natrium masuk ke sel sementara molekul lain melepaskan kelebihannya untuk menjaga keseimbangan. Ketika jumlah molekul cGMP menurun, jumlah ion natrium ikut menurun. Ini menyebabkan ketakseimbangan muatan di seluruh membran, yang merangsang sel syaraf yang terhubung ke sel, membentuk yang kita sebut "impuls listrik." Syaraf membawa impuls ini ke otak dan "melihat" terjadi di sana.354

Singkatnya, sebutir foton membentur satu sel, dan lewat sederetan reaksi berantai, sel menghasilkan impuls listrik. Kekuatan rangsangan ini dipengaruhi oleh energi foton—yakni, tingkat terang dari cahaya. Fakta lain yang mengagumkan adalah bahwa semua proses yang sejauh ini diuraikan terjadi tak lebih dari satu milidetik. Segera setelah reaksi berantai ini selesai, protein-protein khusus lain di dalam sel mengubah unsur-unsur seperti 11-cis-retinal, rodopsin, dan transdusin kembali ke keadaan awalnya. Mata terus-menerus berada di bawah siraman foton, dan reaksi-reaksi berantai di dalam sel-sel mata yang peka membuatnya mampu mengenali setiap foton.

Proses melihat sebenarnya jauh lebih rumit daripada garis besar yang dituliskan di sini. Akan tetapi, bahkan uraian sesingkat ini sudah cukup menunjukkan sifat luar biasa sistem ini. Ada rancangan yang sangat rumit dan cermat pada mata yang membuat tak masuk akal pernyataan bahwa sistem seperti ini bisa muncul secara kebetulan. Sistem ini berstruktur yang sama sekali tak teruraikan. Jika satu saja dari banyak bagian molekuler yang terlibat dalam reaksi berantai ini hilang, atau tak berstruktur yang tepat, maka sistem ini tak akan berfungsi sama sekali.

Jelaslah bahwa sistem ini melontarkan pukulan telak terhadap penjelasan kehidupan karena "kebetulan"-nya Darwin. Michael Behe mengulas yang berikut tentang proses kimiawi mata dan teori evolusi:

Kini setelah kotak hitam penglihatan terbuka, sudah tidak memadai bagi penjelasan evolusi yang setaraf itu memikirkan hanya struktur anatomis keseluruhan mata, sebagaimana dilakukan Darwin di abad ke-19 (dan seperti yang diteruskan oleh para penganjur nevolusi hari ini). Masing-masing langkah dan struktur anatomis yang dikira Darwin demikian sederhana sebenarnya melibatkan proses biokimia yang menggetarkan rumitnya yang tidak bisa ditutupi kata-kata muluk.355

Struktur mata yang rumit tak teruraikan tak hanya dengan tegas membantah teori Darwinis, tetapi juga menunjukkan bahwa kehidupan diciptakan dengan rancangan yang hebat.

Mata Udang Karang

ıstakoz

Ada banyak jenis mata di dunia kehidupan. Kita terbiasa dengan mata jenis kamera pada vertebrata. Struktur ini bekerja dengan azas pembiasan cahaya yang jatuh ke lensa dan dipusatkan ke satu titik di belakang lensa di bagian dalam mata.

Akan tetapi, mata yang dimiliki oleh makhluk-makhluk lain bekerja dengan cara yang sangat berbeda. Satu contohnya adalah udang karang. Mata udang karang bekerja dengan azas pemantulan, bukan pembiasan.

Sifat paling mengagumkan dari mata udang karang adalah permukaannya, yang tersusun dari banyak persegi. Sebagaimana ditunjukkan di dalam gambar, persegi-persegi ini ditempatkan dengan sangat teliti. Sebagaimana diulas seorang astronom di dalam Science: "Udang karang adalah hewan paling tidak bersudut yang pernah saya lihat. Namun, di bawah mikroskop, sebiji mata udang karang terlihat bagaikan kertas grafik* yang sempurna."356 (Catatan: kertas grafik berisi kumpulan persegi sama luas; biasa dipakai menggambarkan, misalnya, cetakbiru suatu rancangan).

Persegi-persegi yang tersusun rapi ini sebenarnya ujung dari tabung-tabung persegi halus yang membentuk sebuah struktur mirip sarang lebah. Pada pandangan sekilas, sarang lebah tampak seperti tersusun dari astakona (segi delapan), meskipun sebenarnya itu sisi depan prisma-prisma astakona. Pada mata udang karang, persegi menggantikan astakona.

Malah yang lebih merangsang keingintahuan adalah sisi-sisi setiap tabung persegi ini bagaikan cermin-cermin yang memantulkan cahaya masuk. Cahaya yang terpantulkan ini dipusatkan ke retina dengan sempurna. Sisi tabung-tabung di dalam mata disisipkan pada sudut-sudut yang tepat sehingga semuanya memusat ke satu titik.

Sifat luar biasa rancangan sistem ini amat tidak terbantahkan. Semua tabung persegi yang sempurna ini memiliki lapisan yang bekerja bak cermin. Lebih jauh lagi, masing-masing sel ini ditempatkan dengan penyelarasan geometris yang cermat, sehingga semuan memusatkan cahaya ke satu titik.

Michael Land, seorang ilmuwan dan peneliti pada University of Sussex di Inggris, adalah orang pertama yang meneliti struktur mata udang karang secara rinci. Land mengatakan bahwa struktur mata ini memiliki rancangan yang paling menakjubkan.357

Sudah jelas bahwa rancangan pada mata udang karang menyajikan suatu kesulitan besar bagi teori evolusi. Yang terpenting, struktur ini mencontohkan konsep "kerumitan tak teruraikan." Jika saja salah satu ciri—seperti faset-faset (permukaan) mata, yang berbentuk persegi sempurna, sisi-sisi pantul setiap faset, atau lapisan retina di bagian belakang—dihilangkan, mata tak akan pernah berfungsi. Oleh karena itu, mustahil mengatakan bahwa mata berevolusi tahap demi tahap. Secara ilmiah, tak dapat dibenarkan mendebat bahwa rancangan yang sempurna seperti ini dapat mewujud secara serampangan. Amat jelas bahwa mata udang karang telah diciptakan sebagai sistem yang menakjubkan.

Orang bisa menemukan ciri-ciri lebih jauh mata udang karang yang menihilkan pernyataan-pernyataan evolusionis. Mata pantul, yang salah satu contohnya adalah mata udang karang, ditemukan hanya pada satu kelompok krustasea, yang disebut dekapoda bertubuh panjang. Keluarga ini mencakup udang karang dan udang.

Anggota lain dari kelas Crustacea memperlihatkan "struktur mata bias," yang bekerja dengan azas yang sama sekali berbeda dengan mata pantul. Pada jenis ini, mata tersusun dari ratusan sel seperti sebuah sarang lebah. Tak seperti sel-sel persegi pada mata udang karang, sel-sel ini berbentuk astakona atau bundar. Lebih jauh lagi, bukannya memantulkan cahaya, lensa-lensa kecil di dalam sel membiaskan cahaya ke titik pusat retina.

Sebagian besar krustasea berstruktur mata bias. Menurut anggapan evolusionis, semua makhluk yang termasuk di dalam kelas Crustacea seharusnya telah berevolusi dari moyang yang sama. Oleh karena itu, evolusionis menyatakan bahwa mata pantul telah berevolusi dari mata bias, yang jauh lebih umum di kalangan krustasea dan rancangan yang secara mendasar lebih sederhana.

Akan tetapi, penalaran demikian itu mustahil, sebab kedua struktur mata berfungsi sempurna dengan sistem masing-masing dan tidak menyisakan ruang bagi tahap "peralihan" apa pun. Seekor krustasea akan tanpa penglihatan dan tersisihkan oleh seleksi alam jika lensa bias harus dihilangkan dan digantikan permukaan pantul.

Oleh karena itu, jelaslah bahwa kedua struktur mata ini dirancang dan diciptakan secara terpisah. Ada kecermatan geometris yang demikian canggih pada kedua mata ini sehingga menimbang-nimbang peluang "kebetulan" sekadar menggelikan.

ıstakoz gözü kare prizmalar

1. Keping pantul
2. Retina

Mata udang karang tersusun dari banyak persegi. Persegi-persegi yang tersusun rapi ini sebenarnya ujung dari tabung-tabung persegi halus. Sisi-sisi tiap tabung persegi ini bagaikan cermin untuk memantulkan cahaya yang datang. Cahaya yang terpantulkan dipusatkan ke retina dengan sempurna. Sisi tabung-tabung di dalam mata disisipkan pada sudut-sudut yang tepat sehingga semuanya memusat ke satu titik.

Rancangan pada Telinga

Contoh menarik lainnya dari organ rumit yang tak teruraikan pada makhluk hidup adalah telinga manusia.

Sebagaimana diketahui, proses mendengar dimulai dari getaran-getaran di udara. Getaran-getaran ini diperkuat di telinga luar. Penelitian telah menunjukkan bahwa bagian dari telinga luar yang disebut konkha bekerja seperti semacam pengeras suara, dan gelombang suara diperkuat di saluran telinga luar. Dengan cara ini, kekerasan gelombang suara amat meningkat.

Suara yang diperkuat dengan cara ini memasuki saluran telinga luar. Ini adalah daerah dari telinga luar hingga gendang telinga. Satu ciri menarik saluran telinga, yang panjangnya sekitar tiga setengah sentimeter, adalah lilin yang terus-menerus dihasilkannya. Lilin ini mengandung sifat antiseptik yang mencegah bakteri dan serangga masuk. Lebih jauh lagi, sel-sel pada permukaan saluran telinga ini disusun berbentuk spiral yang diarahkan langsung ke luar, sehingga lilin ini selalu mengalir keluar telinga ketika dilepaskan.

Getaran-getaran suara yang melewati saluran telinga dengan cara ini mencapai gendang telinga. Membran ini begitu peka sampai bisa mengenali bahkan getaran-getaran di tingkat molekul. Berkat kepekaan gendang telinga yang sangat hebat, Anda dapat mendengar dengan mudah seseorang yang berbisik-bisik dari beberapa meter jauhnya. Atau mendengar getaran-getaran yang dihasilkan ketika Anda menggesek-gesekkan dua jari secara perlahan. Ciri luar biasa lainnya dari gendang telinga adalah bahwa setelah menerima satu getaran, ia kembali ke keadaan awalnya. Perhitungan-perhitungan telah menyingkapkan bahwa setelah menerima getaran terhalus, gendang telinga kembali bergeming lagi kurang dari 4 milidetik. Jika gendang telinga tidak bergeming secepat itu, setiap suara yang kita dengar akan bergema di telinga kita.

Gendang telinga memperkuat getaran-getaran yang diterimanya, dan mengirimkannya ke daerah tengah telinga. Di sini, ada tiga tulang yang satu sama lain dalam keseimbangan yang sangat peka. Ketiga tulang ini disebut tulang martil, landasan, dan sanggurdi; ketiganya berfungsi memperkuat getaran yang diterima dari gendang telinga.

Namun, telinga tengah juga memiliki semacam "penyangga" untuk mengurangi getaran suara yang sangat tinggi. Fungsi ini dilakukan oleh dua dari otot-otot tubuh terkecil, yang mengendalikan tulang-tulang martil, landasan dan sanggurdi. Otot-otot ini memungkinkan suara yang terlalu keras diredam sebelum mencapai telinga dalam. Berkat mekanisme ini, kita mendengar suara yang cukup keras untuk mengguncang sistem pada tingkat yang telah diredam. Otot-otot ini otot tak sadar, dan bekerja otomatis sedemikian sehingga bahkan jika kita tertidur dan lalu ada suara keras di samping kita, otot-otot ini segera mengerut dan mengurangi kekuatan getaran yang mencapai telinga dalam.

Telinga tengah, yang memiliki rancangan sesempurna ini, perlu mempertahankan sebuah keseimbangan penting. Tekanan udara di dalam telinga tengah harus sama dengan tekanan di luar gendang telinga, yakni, sama dengan tekanan udara atmosfer. Namun, keseimbangan ini telah dipikirkan, dan sebuah saluran antara telinga tengah dan dunia luar yang memungkinkan pertukaran udara telah dibangun. Saluran ini adalah saluran eustakhius, sebuah rongga yang merentang dari telinga dalam sampai rongga mulut.

kulak

1. Tulang-tulang martil, landasan, dan sanggurdi
2. Saluran-saluran setengah lingkaran
3. Syaraf vestibular
4. Rumah siput (kokhlea)
5. Saluran eustakhius
6. Gendang telinga
7. Saluran telinga luar

Telinga Dalam

Yang kita uraikan sejauh ini tampaknya baru mencakup getaran-getaran di telinga luar dan tengah. Getaran terus-menerus dilewatkan, tetapi sejauh ini belum ada sesuatu selain gerakan mekanis. Dengan kata lain, belum ada suara.

Proses tempat gerakan mekanis mulai berubah menjadi suara diawali di dalam daerah yang disebut telinga dalam. Di telinga dalam, ada organ berbentuk spiral yang berisi sejenis cairan. Organ ini disebut rumah siput (kokhlea).

Bagian terakhir telinga tengah adalah tulang sanggurdi, yang dihubungkan dengan rumah siput oleh suatu membran. Getaran-getaran mekanis di telinga tengah diteruskan ke cairan di telinga dalam lewat hubungan ini.

Getaran yang mencapai cairan di telinga dalam menimbulkan pengaruh gelombang pada cairan. Dinding-dinding sebelah dalam rumah siput ditutupi oleh struktur-struktur halus mirip rambut, disebut stereosilia, yang peka terhadap pengaruh gelombang. Rambut-rambut halus ini bergerak sesuai dengan gerak cairan. Jika suara keras dipancarkan, maka lebih banyak rambut akan merunduk dengan lebih kuat. Setiap frekuensi berbeda dari dunia luar menimbulkan pengaruh berbeda pada rambut-rambut ini.

Tetapi, apakah arti pergerakan rambut ini? Apakah kaitan gerakan rambut halus pada rumah siput di telinga dalam dengan mendengarkan suatu konser musik klasik, mengenali suara seorang teman, mendengar suara sebuah mobil, atau membedakan jutaan jenis suara lainnya?

Jawabannya sangat menarik, dan sekali lagi mengungkapkan kerumitan rancangan pada telinga. Setiap rambut halus yang menutupi dinding sebelah dalam rumah siput sebenarnya sebuah mekanisme yang berdiri di atas 16 ribu sel rambut. Ketika merasakan sebuah getaran, rambut-rambut ini bergerak dan saling mendorong, mirip seperti kartu domino. Gerakan ini membuka saluran pada membran sel-sel yang terletak di bawah rambut. Dan hal ini memungkinkan arus masuk ion ke dalam sel. Ketika rambut bergerak ke arah yang berlawanan, saluran ini kembali menutup. Maka, gerakan rambut yang terus-menerus menyebabkan perubahan terus-menerus keseimbangan kimiawi pada sel-sel di bawahnya, yang lalu membuat sel-sel menghasilkan isyarat listrik. Isyarat listrik ini diteruskan ke otak oleh syaraf, dan otak lalu mengolahnya, mengubahnya menjadi suara.

Ilmu pengetahuan masih belum mampu menjelaskan semua rincian teknis sistem ini. Sambil membangkitkan isyarat-isyarat listrik, sel-sel pada telinga dalam juga berhasil menyalurkan frekuensi, kekuatan, dan irama yang datang dari luar. Prosesnya begitu rumit sehingga sejauh ini masih belum dipastikan oleh ilmu pengetahuan apakah sistem pembeda frekuensi terjadi di telinga dalam atau di otak.

Kini, ada fakta menarik yang harus kita pikirkan tentang gerakan rambut halus pada sel-sel telinga dalam. Sejak awal, kami mengatakan bahwa rambut-rambut bergoyang maju-mundur, saling mendorong bak kartu domino. Tetapi, biasanya gerakan rambut-rambut halus ini sangat halus. Penelitian telah menunjukkan bahwa satu gerakan rambut yang sejauh satu atom saja sudah cukup menimbulkan reaksi di dalam sel. Para pakar yang telah meneliti masalah ini memberikan contoh sangat menarik untuk menggambarkan kepekaan rambut-rambut ini: jika kita bayangkan sehelai rambut sama tingginya dengan Menara Eiffel, pengaruh ke sel yang melekat padanya dimulai dengan sebuah gerakan yang sejauh hanya 3 sentimeter dari puncak menara.358

iç kulak

1. Utrikulus
2. Common crus
3. Saluran setengah lingkaran belakang
4. Saluran setengah lingkaran samping
5. Ampula
6. Saluran setengah lingkaran belakang
7. Jendela lonjong
8. Saluran vestibula
9. Cochlea
10. Syaraf vestibular
11. Terowongan rumah siput
12. Saluran timpanis
13. Vestibular nerve
14. Sakulus

Struktur rumit pada telinga dalam. Pada struktur tulang yang rumit ini, terletak sistem yang menjaga keseimbangan kita dan juga sistem pendengaran yang sangat peka yang mengubah getaran menjadi suara.

Sama menariknya adalah pertanyaan berapa sering rambut-rambut halus ini mampu bergerak per detiknya. Kemampuan ini sesuai dengan frekuensi suara. Semakin tinggi, jumlah gerakan rambut-rambut ini mencapai tingkat yang tak terbayangkan: misalnya, suara berfrekuensi 20 MHz menyebabkan rambut-rambut halus ini bergerak 20 ribu kali per detik.

Semua yang telah kita telaah sejauh ini menunjukkan bahwa telinga memiliki sebuah rancangan luar biasa. Pada pengamatan lebih dekat, ternyata rancangan ini rumit tak teruraikan, sebab, untuk bisa mendengar, semua komponen sistem pendengaran mesti ada dan dalam keadaan utuh yang siap bekerja. Hilangkan satu saja—misalnya, tulang martil di telinga tengah—atau rusak strukturnya, dan Anda tidak lagi bisa mendengar apa-apa. Supaya Anda bisa mendengar, beraneka unsur seperti gendang telinga, tulang-tulang martil, landasan, dan sanggurdi, membran telinga dalam, rumah siput, dan cairan di dalam rumah siput, rambut-rambut halus yang meneruskan getaran dari cairan ke sel-sel indera di bawahnya, sel-sel indera itu sendiri, jaringan syaraf yang menghubungkannya ke otak, dan pusat pendengaran di otak semuanya harus ada dalam keadaan utuh yang siap bekerja. Sistem ini tak bisa dikembangkan secara "bertahap" karena tahap-tahap peralihan tak berguna sama sekali.

Dinding-dinding sebelah dalam rumah siput ditutupi oleh rambut-rambut halus. Rambut-rambut ini bergerak searah dengan gerak gelombang yang terbentuk di cairan pada telinga dalam akibat getaran yang datang dari luar. Dengan cara ini, keseimbangan listrik sel-sel yang melekat ke rambut-rambut itu berubah, dan membentuk isyarat-isyarat yang kita kenali sebagai "suara."

Asal Usul Telinga Menurut Evolusionis

Sistem rumit yang tak teruraikan pada telinga adalah sesuatu yang tak pernah bisa dijelaskan dengan memuaskan oleh evolusionis. Ketika melihat pada teori-teori yang jarang-jarang diajukan evolusionis, kita akan bertemu dengan sebuah pemikiran yang meremehkan dan dangkal. Misalnya, seorang penulis Veysel Atayman, yang menerjemahkan ke bahasa Turki buku Im Anfang War der Wasserstoff (Awalnya adalah Hidrogen) karya ahli biologi Jerman Hoimar von Ditfurth, dan yang telah dihormati sebagai "pakar evolusi" oleh media Turki, merangkum teori "ilmiah" nya tentang asal usul telinga dan petunjuknya sebagai berikut:

Organ pendengaran kita, telinga, muncul sebagai hasil evolusi lapisan-lapisan endoderm dan eksoderm, yang kita sebut kulit. Satu bukti bagi hal ini adalah kita merasakan suara-suara rendah di kulit perut kita!359

Dengan kata lain, Atayman berpikir bahwa telinga berevolusi dari kulit biasa di bagian lain tubuh kita, dan menganggap penginderaan suara rendah pada kulit kita sebagai buktinya.

Marilah kita terima dulu 'teori' Atayman, lalu 'bukti' yang diajukannya. Kita baru saja melihat bahwa telinga adalah suatu struktur rumit yang tersusun dari lusinan bagian. Mengatakan bahwa struktur ini muncul melalui "evolusi lapisan kulit" adalah, singkatnya, membangun istana di udara. Mutasi atau pengaruh seleksi alam apakah yang bisa menyebabkan evolusi seperti ini terjadi? Bagian mana dari telinga yang terbentuk pertama? Bagaimanakah bagian itu, sebagai hasil ketaksengajaan, telah dipilih oleh seleksi alam sekalipun tak berfungsi? Bagaimanakah kebetulan melahirkan semua keseimbangan mekanis yang peka pada telinga: gendang telinga, tulang-tulang martil, landasan dan sanggurdi, otot-otot yang mengendalikannya, telinga dalam, rumah siput, cairan di dalamnya, rambut-rambut halus, sel-sel yang peka gerakan, sambungan syarafnya, dan lain-lain?

Tidak ada jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan ini. Malah, menggagaskan bahwa semua struktur rumit ini hanyalah "kebetulan" sebenarnya sebuah penghinaan atas kecerdasan manusia. Akan tetapi, menurut kata-kata Michael Denton, bagi para Darwinis, "gagasan ini diterima tanpa sekelumit pun keraguan—kerangka berpikir adalah lebih utama!"360

Di luar mekanisme seleksi alam dan mutasi, evolusionis sangat percaya pada sebuah "tongkat ajaib" yang melahirkan rancangan-rancangan terumit ini secara kebetulan.

"Bukti" yang disediakan Atayman untuk teori khayalan ini malah lebih menarik. Ia mengatakan, "kita merasakan suara-suara rendah di kulit kita adalah buktinya." Yang kita sebut suara sebenarnya terdiri dari getaran-getaran di udara. Karena suatu akibat fisik, getaran tentu saja bisa dirasakan oleh indera peraba kita. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika kita mampu merasakan suara tinggi dan rendah secara fisik. Lebih jauh lagi, suara juga mempengaruhi tubuh secara fisik. Pecahan kaca berkekuatan suara tinggi di dalam ruangan adalah sebuah contohnya. Yang menarik adalah bahwa penulis evolusionis Atayman bisa-bisanya berpikir bahwa akibat-akibat ini bukti evolusi telinga. Jalan pikiran Atayman adalah sebagai berikut: "Telinga merasakan gelombang-gelombang suara, kulit kita terpengaruh oleh getaran-getaran ini, oleh karena itu, telinga berevolusi dari kulit." Jika mengikuti pemikiran Atayman, seseorang juga bisa mengatakan, "Telinga menerima gelombang-gelombang suara, kaca juga terpengaruh oleh gelombang-gelombang ini, oleh karena itu, telinga berevolusi dari kaca." Sekali seseorang meninggalkan batas-batas akal sehat, tiada "teori" yang tak bisa diajukan.

Skenario-skenario lain yang diajukan evolusionis tentang asal usul telinga secara mengherankan bertentangan. Evolusionis menyatakan bahwa semua mamalia, termasuk manusia, berevolusi dari reptil. Tetapi, sebagaimana sudah kita lihat, struktur telinga reptil sangat berbeda dengan mamalia. Semua mamalia berstruktur telinga tengah yang tersusun dari tiga tulang yang baru saja diuraikan di atas, sementara hanya ada satu tulang di telinga tengah semua reptil. Sebagai tanggapan terhadap hal ini, evolusionis menyatakan bahwa empat tulang terpisah pada rahang reptil berubah kedudukan secara kebetulan dan "berpindah" ke telinga tengah, dan juga secara kebetulan berubah menjadi tulang-tulang landasan dan sanggurdi. Menurut skenario khayalan ini, tulang tunggal pada telinga tengah reptil berubah bentuk dan menjadi tulang martil, dan keseimbangan sangat peka di antara ketiga tulang telinga tengah terbentuk secara kebetulan.361

Pernyataan mencengangkan ini, yang sama sekali tak didasarkan pada penemuan ilmiah (tanpa kaitan apa pun dalam catatan fosil), sangat bertentangan sendiri. Pokok terpenting di sini adalah perubahan khayalan seperti itu akan membuat tuli makhluk hidup. Secara alamiah, makhluk hidup tak bisa terus mendengar jika tulang rahangnya perlahan-lahan memasuki telinga dalamnya. Spesies seperti itu akan dirugikan jika dibandingkan dengan makhluk hidup lain dan tersisih, menurut yang diyakini oleh evolusionis sendiri.

Di sisi lain, makhluk hidup yang tulang-tulang rahangnya bergerak ke arah telinganya akhirnya akan memiliki rahang yang cacat. Kemampuan mengunyah makhluk seperti itu menurun tajam, dan bahkan hilang sama sekali. Ini juga merugikan makhluk itu, dan berakibat pada ketersisihannya.

Singkatnya, hasil-hasil yang muncul ketika seseorang meneliti struktur-struktur telinga dan asal usulnya tegas-tegas membantah anggapan-anggapan evolusionis. Sebuah buku evolusionis, Grolier Encyclopedia, membuat pengakuan bahwa "asal usul telinga diselubungi oleh ketidakpastian."362 Sebenarnya, setiap orang yang mempelajari sistem pada telinga dengan akal sehat bisa dengan mudah melihat bahwa telinga adalah hasil sebuah penciptaan yang sadar.

Perkembangbiakan Rheobatrachus Silus

kurbağa

Betina dari spesies ini menyembunyikan anaknya di dalam perut selama masa pengeraman, dan lalu melahirkan lewat mulutnya. Tetapi, supaya semua ini bisa terjadi, sejumlah penyesuaian harus dilakukan, semuanya terjadi bersamaan dan tanpa satu pun kesalahan: struktur telur harus disesuaikan, asam lambung harus dinetralkan, dan sang induk harus mampu hidup berminggu-minggu tanpa makan.

Kerumitan tak teruraikan bukanlah satu ciri yang hanya kita lihat pada tingkat biokimiawi atau dalam organ-organ yang rumit. Banyak sistem kehidupan yang dimiliki makhluk-makhluk hidup merupakan kerumitan yang tak teruraikan, dan karena itu membantah teori evolusi. Cara berkembang biak luar biasa Rheobatrachus silus, satu spesies katak yang hidup di Australia, merupakan sebuah contohnya.

Betina-betina spesies ini menggunakan cara yang mengagumkan untuk menjaga telur setelah pembuahan. Para induk ini menelan telur-telurnya. Berudu tinggal dan tumbuh di dalam perut selama enam minggu pertama setelah menetas. Bagaimanakah mungkin berudu bisa tinggal di dalam perut induknya demikian lama tanpa tercernakan?

Sebuah sistem tanpa cela telah diciptakan untuk membuat katak ini mampu melakukannya. Pertama, betina berhenti makan dan minum selama enam minggu itu, yang berarti perut disisihkan hanya untuk berudu-berudu. Akan tetapi, bahaya lain adalah pelepasan berkala asam klorida dan pepsin di dalam perut. Senyawa-senyawa kimia ini biasanya dengan cepat membunuh para cikal-bakal. Akan tetapi, hal ini dicegah dengan perhitungan yang sangat khusus. Cairan-cairan di dalam perut induk dinetralkan oleh zat mirip hormon prostaglandin E2, yang dilepaskan kali pertama oleh cangkang telur dan lalu oleh berudu. Oleh karena itu, sang cikal-bakal tumbuh sehat, meskipun berenang di kolam asam.

Bagaimanakah berudu mencari makan di dalam perut yang kosong? Pemecahan masalah ini tentunya telah juga dipikirkan. Telur-telur spesies ini lebih besar secara menyolok daripada spesies-spesies katak lain, sebab mengandung kuning telur yang amat kaya protein dan cukup memberi makan berudu selama enam minggu. Waktu kelahiran juga dirancang secara sempurna. Kerongkongan katak betina mengembang selama melahirkan, persis seperti vagina mamalia selama persalinan. Setelah sang anak muncul, baik kerongkongan maupun perut kembali ke keadaan sebelumnya, dan si betina mulai mencari makan lagi.363

Keajaiban sistem perkembangbiakan Rheobatrachus silus terang-terangan membantah teori evolusi, karena keseluruhan sistem ini sebuah kerumitan tak teruraikan. Setiap tahap harus terjadi lengkap supaya katak bisa bertahan. Induk harus menelan telurnya, dan berhenti makan sama sekali selama enam minggu. Telur harus melepaskan zat mirip hormon yang menetralkan asam lambung. Penambahan kuning telur yang lebih kaya protein adalah syarat lainnya. Pelebaran kerongkongan betina tak bisa kebetulan. Jika semua ini gagal terjadi dengan urutan yang benar, katak-katak kecil tak akan bertahan hidup, dan spesies ini akan menghadapi kepunahan.

Oleh karena itu, sistem ini tak mungkin telah berkembang tahap demi tahap, seperti yang dinyatakan teori evolusi. Spesies telah ada dengan seluruh sistemnya utuh sejak anggota-anggota pertamanya terwujud. Cara lain mengatakannya adalah spesies ini diciptakan.

Kesimpulan

Pada bab ini, kita mempelajari hanya sedikit contoh konsep kerumitan tak teruraikan. Sebenarnya, kebanyakan organ dan sistem pada makhluk hidup berciri demikian. Pada tingkat biokimia khususnya, sistem-sistem berfungsi dengan kerjasama sejumlah bagian terpisah dan tak bisa dengan cara apa pun diuraikan menjadi lebih sederhana. Fakta ini membantah Darwinisme, yang mencoba menjelaskan rancangan pada kehidupan oleh kekuatan-kekuatan alamiah. Darwin mengatakan bahwa "Jika dapat dibuktikan bahwa ada organ rumit apa saja, yang tak mungkin terbentuk melalui perubahan-perubahan yang banyak, berlanjut, dan sedikit-sedikit, teori saya akan mutlak runtuh." Saat ini, biologi mutakhir telah mengungkapkan tak terhitung contohnya. Maka, orang hanya bisa menyimpulkan bahwa Darwinisme telah "mutlak" runtuh.

 

Catatan Kaki

341 Charles Darwin, The Origin of Species: A Facsimile of the First Edition, Harvard University Press, 1964, p. 189. (emphasis added)

342 Peter van Inwagen, Review about Michael Behe's Darwin's Black Box.

343 Prof. Dr. Ali Demirsoy, Kalitim ve Evrim (Inheritance and Evolution), Meteksan Publications, Ankara, p. 475. (emphasis added)

344 Norman Macbeth, Darwin Retried: An Appeal to Reason, Harvard Common Press, 1971, p. 131.

345 Cemal Yildirim, Evrim Kurami ve Bagnazlik (Theory of Evolution and Bigotry), Bilgi Publications, January 1989, pp. 58-59. (emphasis added)

346 Michael J. Behe, Darwin's Black Box, The Free Press, New York, 1996, p. 18.

347 Michael J. Behe, Darwin's Black Box, The Free Press, New York, 1996, pp. 18-21.

348 Michael J. Behe, Darwin's Black Box, The Free Press, New York, 1996, p. 22. (emphasis added)

349 J. R. P. Angel, "Lobster Eyes as X-ray Telescopes," Astrophysical Journal, 1979, No. 233, pp. 364-373. See also B. K. Hartline (1980), "Lobster-Eye X-ray Telescope Envisioned," Science, No. 207, p. 47, cited in Michael Denton, Nature's Destiny, The Free Press, 1998, p. 354.

350 M. F. Land, "Superposition Images are Formed by Reflection in the Eyes of Some Oceanic Decapod Crustacea," Nature, 1976, vol. 263, pp. 764-765.

351 Jeff Goldberg, "The Quivering Bundles That Let Us Hear," Seeing, Hearing, and Smelling the World, A Report from the Howard Hughes Medical Institute, p. 38.

352 Veysel Atayman, "Maddeci 'Madde', Evrimci Madde" (Materialist 'Matter', Evolutionist Matter), Evrensel News Paper, 13 June 1999. (emphasis added)

353 Michael Denton, Evolution: A Theory in Crisis, Burnett Books, London, 1985, p. 351.

354 Duane T. Gish, "The Mammal-like Reptiles," Impact, no. 102, December 1981.

355 "Ear / Evolution of the Ear" Grolier Academic Encyclopedia,1986, p. 6. (emphasis added)

356 William E. Duruelleman & Linda Trueb, "The Gastric Brooding Frog," Megraw-Hill Book com., 1986.

13 / total 19
Anda dapat membaca buku Harun Yahya Darwinisme Terbantahkan secara online, berbagi pada jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter, download di komputer Anda, menggunakannya untuk pekerjaan rumah Anda dan tesis, dan mempublikasikan, menyalin atau memperbanyak pada website atau blog Anda sendiri tanpa perlu membayar biaya hak cipta apapun, selama Anda mengakui situs ini sebagai referensi.
Presentasi| tentang situs ini | Buat homepage Anda | tambahkan ke favorit | RSS Feed
Semua materi dapat dikopi,dicetak, dan didistribusikan berdasarkan situs ini
(c) All publication rights of the personal photos of Mr. Adnan Oktar that are present in our website and in all other Harun Yahya works belong to Global Publication Ltd. Co. They cannot be used or published without prior consent even if used partially.
© 1994 Harun Yahya. www.harunyahya.com
page_top