< <
15 / total: 19

Teori Informasi dan Akhir Dari Materialisme

Filsafat materialis terletak di dasar teori evolusi. Materialisme bersandar pada anggapan bahwa segala sesuatu yang ada adalah materi. Menurut filsafat ini, materi telah ada sejak kapan pun, akan terus ada selamanya, dan tak ada apa pun selain materi. Untuk memberikan dukungan bagi pernyataan mereka, para materialis memakai satu penalaran yang disebut "reduksionisme." Inilah gagasan bahwa benda-benda yang tak bisa diamati dapat juga dijelaskan dengan azas-azas materi.

Untuk menjernihkan masalah, mari kita ambil contoh pikiran manusia. Jelas bahwa pikiran tak bisa disentuh atau dilihat. Lebih jauh lagi, tidak ada pusat di otak manusia. Keadaan ini tak bisa dipungkiri membawa kita kepada kesimpulan bahwa pikiran adalah sebuah konsep di luar materi. Oleh karena itu, wujud yang kita rujuk sebagai "saya," yang berpikir, mencintai, takut, khawatir, dan merasa senang atau sedih, bukanlah suatu wujud materi seperti halnya seperangkat sofa, sebilah meja, atau sebongkah batu.

Akan tetapi, para materialis menyatakan bahwa pikiran "bisa diuraikan menjadi materi." Menurut pernyataan materialis, berpikir, mencintai, mencemaskan dan semua kegiatan mental kita tak lain reaksi-reaksi kimia yang terjadi di antara atom-atom di dalam otak. Mencintai seseorang adalah suatu reaksi kimia pada beberapa sel dalam otak kita, dan takut adalah reaksi yang lain. Seorang filsuf materialis terkenal Karl Vogt menjadi kondang karena pernyataannya bahwa "otak melepaskan gagasan sama seperti hati melepaskan empedu."384 Akan tetapi, empedu itu materi, sementara tiada petunjuk bahwa gagasan juga materi.

Reduksionisme adalah adalah penyimpulan yang nalar. Akan tetapi, suatu penyimpulan yang nalar dapat didasarkan pada pijakan yang kuat maupun yang rapuh. Karena alasan ini, pertanyaan yang harus kita ajukan adalah: apakah yang terjadi ketika reduksionisme dibandingkan dengan data ilmiah?

Para ilmuwan dan pemikir materialis abad ke-19 beranggapan bahwa jawabannya adalah ilmu pengetahuan akan membenarkan reduksionisme. Akan tetapi, ilmu pengetahuan abad ke-20 telah mengungkapkan suatu gambaran yang amat berbeda.

Salah satu ciri paling menonjol dari gambaran ini adalah "informasi," yang hadir di alam dan tak bisa diuraikan menjadi materi.

Perbedaan Antara Materi Dan Informasi

DNA

Mustahil informasi di dalam DNA muncul karena proses kebetulan dan alamiah.

Sebelumnya kami menyebutkan bahwa ada informasi yang luar biasa lengkap terkandung di dalam DNA makhluk-makhluk hidup. Sesuatu yang panjangnya sekecil seperseratus ribu milimeter berisi sejenis "bank data" yang menentukan semua rincian fisik dari tubuh makhluk hidup. Terlebih lagi, tubuh juga berisi suatu sistem yang membaca informasi ini, menerjemahkannya, dan menjalankan "produksi" berdasarkan data itu. Pada setiap sel hidup, informasi di dalam DNA "dibaca" oleh berbagai macam enzim, lalu protein-protein dihasilkan. Sistem ini memungkinkan pembuatan jutaan protein dalam setiap detik, sesuai dengan yang dibutuhkan tepat di tempatnya diperlukan di dalam tubuh kita. Dengan cara ini, sel-sel mata yang mati digantikan oleh yang hidup, dan sel-sel darah yang tua oleh yang baru.

Di sini, mari kita renungkan pernyataan materialisme: apakah mungkin informasi di dalam DNA dapat diuraikan menjadi materi, seperti yang digagas kaum materialis? Atau, dengan kata lain, bisakah diterima bahwa DNA hanyalah sekumpulan materi, dan informasi yang dikandungnya muncul sebagai hasil percampuran acak serpih-serpih materi?

Semua penelitian, percobaan, dan pengamatan ilmiah yang dilakukan pada abad ke-20 menunjukkan bahwa jawaban pertanyaan adalah tegas-tegas "tidak." Pemimpin German Federal Physics and Technology Institute, Profesor Werner Gitt, mengatakan yang berikut:

Sistem pengodean selalu melibatkan proses cerdas nonmateri. Suatu materi fisik tak bisa menghasilkan suatu kode informasi. Segenap pengalaman menunjukkan bahwa setiap serpih informasi kreatif mewakili sejumlah upaya mental dan dapat ditelusuri ke penggagas pribadi yang menjalankan kehendaknya sendiri, dan yang dianugerahi pikiran cerdas… Tidak ada hukum alam yang diketahui, tidak ada proses yang diketahui, dan tidak ada urutan kejadian yang diketahui, yang bisa menyebabkan informasi memunculkan dirinya di dalam materi…385

Kata-kata Werner Gitt merangkum kesimpulan-kesimpulan "teori informasi" yang telah dikembangkan sejak 50 tahun terakhir dan diterima sebagai bagian dari termodinamika. Teori informasi menyelidiki asal usul dan sifat informasi di alam semesta. Kesimpulan yang dicapai oleh para ahli teori informasi sebagai hasil penelitian-penelitian panjang adalah bahwa "informasi itu sesuatu yang berbeda dengan materi. Informasi tak akan pernah bisa diuraikan menjadi materi. Asal usul informasi dan materi fisik harus diselidiki secara terpisah."

Misalnya, mari kita renungi sumber sebuah buku. Sebuah buku terdiri dari kertas, tinta, dan informasi yang dikandungnya. Kertas dan tinta adalah unsur materi. Sumber keduanya juga materi. Kertas terbuat dari selulosa, dan tinta dari aneka bahan kimia. Akan tetapi, informasi di dalam buku bukan materi, dan tentu saja tak memiliki sumber material. Sumber informasi pada setiap buku adalah pikiran orang yang menulisnya.

Terlebih lagi, pikiran ini menentukan cara kertas dan tinta digunakan. Sebuah buku awalnya dibentuk di pikiran penulisnya. Sang penulis membangun serangkaian nalar dalam pikirannya, dan lalu mengurutkan kalimat-kalimatnya. Sebagai langkah kedua, ia menaruhnya ke dalam bentuk materi, atau dengan kata lain, menerjemahkan informasi di dalam pikirannya menjadi huruf-huruf, menggunakan sebuah pena, mesin ketik atau komputer. Kemudian, tulisan-tulisan ini dicetak pada sebuah penerbitan dan mengambil bentuk sebuah buku dari kertas dan tinta.

Oleh karena itu, kita bisa mengatakan kesimpulan umum ini: jika materi fisik mengandung informasi, maka materi itu pastilah telah dirancang oleh suatu pikiran yang memiliki informasi tersebut. Pertama, harus ada pikiran. Lalu, pikiran itu menerjemahkan informasi yang dimilikinya menjadi materi, yang berarti tindakan merancang.

Asal Usul Informasi Di Alam

Ketika kita menerapkan batasan ilmiah informasi di alam, suatu hasil yang sangat penting terjadi. Ini karena alam dibanjiri oleh kumpulan informasi yang besar sekali (sebagaimana, misalnya, pada hal DNA), dan selama tak bisa diuraikan menjadi materi, tentunya informasi ini berasal dari suatu sumber di luar materi.

Seorang pendukung utama teori evolusi, George C. Williams, mengakui kenyataan ini, yang sebagian besar materialis dan evolusionis enggan melihatnya. Williams telah membela mati-matian materialisme selama bertahun-tahun, tetapi di dalam sebuah artikel yang ditulisnya pada tahun 1995, ia menyatakan kekeliruan pendekatan materialis (reduksionis) yang menyatakan segala sesuatu itu materi.

Ahli biologi evolusi telah gagal menyadari bahwa mereka bekerja dengan dua domain yang kurang lebih tak bisa dibandingkan: domain informasi dan domain materi… Kedua domain ini tak akan pernah disatukan menurut pemikiran apa pun seperti yang biasanya disiratkan oleh istilah "reduksionisme." … Gen adalah sebuah kemasan informasi, bukan sebuah benda.. Dalam biologi, ketika Anda berbicara tentang hal-hal seperti gen dan genotip dan kelompok gen, Anda berbicara tentang informasi, bukan kenyataan fisik sebenarnya… Ketiadaan istilah bersama ini membuat materi dan informasi sebagai dua domain keberadaan yang terpisah, yang harus dibahas terpisah, menurut kaidah masing-masing.386

Oleh karena itu, bertentangan dengan anggapan materialis, sumber informasi di alam bukan materi itu sendiri. Sumber informasi bukan materi, tetapi suatu Kebijaksanaan Ulung di luar materi. Kebijaksanaan ini ada mendahului materi. Pemilik Kebijaksanaan ini adalah Allah, Tuhan Semesta Alam. Materi diwujudkan, diberi bentuk, dan disusun olehNya.

Pengakuan-Pengakuan Materialis

Kami telah menggambarkan bagaimana salah satu azas mendasar yang membangun kehidupan adalah "pengetahuan," dan sudah jelas bahwa pengetahuan ini membuktikan keberadaan Pencipta Yang Cerdas. Teori evolusi, yang mencoba menjelaskan kehidupan sebagai hasil kebetulan di dunia yang murni materi, dan filsafat materialis tempatnya berpijak, amat tak berdaya di hadapan kenyataan ini.

Ketika membaca tulisan-tulisan evolusionis, kadang-kadang kita melihat bahwa ketakberdayaan ini diakui secara terbuka. Seorang berwibawa yang terang-terangan tentang hal ini adalah ahli zoologi terkenal Perancis Pierre-Paul Grassé. Ia seorang materialis sekaligus evolusionis, meskipun terkadang mengakui secara terbuka kebuntuan-kebuntuan yang dihadapi teori Darwinis. Menurut Grassé, kebenaran terpenting yang membantah penjelasan Darwinis adalah pengetahuan yang membangkitkan kehidupan:

Setiap makhluk hidup memiliki jumlah "kecerdasan" yang luar biasa, yang lebih dari cukup untuk membangun katedral-katedral yang paling hebat. Saat ini, "kecerdasan" ini disebut informasi, tetapi pada dasarnya tetap benda yang sama. Kecerdasan tidak diprogramkan seperti pada komputer, tetapi dimampatkan pada taraf molekul di dalam DNA kromosom atau setiap organel lain pada setiap sel. "Kecerdasan" ini adalah sine qua non [tak bisa tidak]-nya kehidupan. Dari manakah kecerdasan datang?... Inilah masalah yang memrihatinkan para ahli biologi dan filsafat, dan, saat ini, ilmu pengetahuan tampak tak mampu memecahkannya.387

Alasan mengapa Pierre-Paul Grassé mengatakan, "ilmu pengetahuan tak mampu memecahkannya," adalah bahwa ia tak menginginkan penjelasan nonmaterialis apa pun dipikirkan sebagai "ilmiah." Akan tetapi, ilmu pengetahuan itu sendiri membantah hipotesis-hipotesis filsafat materialis, dan membuktikan keberadaan sesosok Pencipta. Grassé dan para "ilmuwan" materialis lain mengabaikan kenyataan ini, atau mengatakan "Ilmu pengetahuan tidak menjelaskan hal ini." Mereka melakukannya karena mereka materialis lebih dulu dan ilmuwan kemudian, dan terus memercayai materialisme, bahkan jika ilmu pengetahuan menunjukkan yang sebaliknya.

Karena alasan ini, supaya memiliki sikap ilmiah yang benar, orang harus membedakan antara ilmu pengetahuan dan filsafat materialis.

 

Catatan Kaki

377 Encyclopædia Britannica, "Modern Materialism." (emphasis added)

378 Werner Gitt, In the Beginning Was Information, CLV, Bielefeld, Germany, pp. 107, 141. (emphasis added)

379 George C. Williams, The Third Culture: Beyond the Scientific Revolution, Simon & Schuster, New York, 1995, pp. 42-43. (emphasis added)

380 Gerald Schroeder, The Hidden Face of God: Science Reveals the Ultimate Truth, Touchstone, New York, 2001, p. xi.

381 Pierre P. Grassé, The Evolution of Living Organisms, 1977, p. 168.

15 / total 19
Anda dapat membaca buku Harun Yahya Darwinisme Terbantahkan secara online, berbagi pada jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter, download di komputer Anda, menggunakannya untuk pekerjaan rumah Anda dan tesis, dan mempublikasikan, menyalin atau memperbanyak pada website atau blog Anda sendiri tanpa perlu membayar biaya hak cipta apapun, selama Anda mengakui situs ini sebagai referensi.
Presentasi| tentang situs ini | Buat homepage Anda | tambahkan ke favorit | RSS Feed
Semua materi dapat dikopi,dicetak, dan didistribusikan berdasarkan situs ini
(c) All publication rights of the personal photos of Mr. Adnan Oktar that are present in our website and in all other Harun Yahya works belong to Global Publication Ltd. Co. They cannot be used or published without prior consent even if used partially.
© 1994 Harun Yahya. www.harunyahya.com
page_top