< <
17 / total: 19

Kesimpulan

Sepanjang buku ini kita telah menelaah petunjuk ilmiah bagi asal usul kehidupan, dan apa yang muncul dengan jelas menunjukkan bahwa kehidupan bukanlah hasil kebetulan, sebagaimana secara umum dinyatakan oleh Darwinisme dan filsafat materialis. Makhluk-makhluk hidup tak mungkin berevolusi dari satu bentuk ke bentuk lain melalui serangkaian kebetulan. Sebaliknya, semua makhluk hidup diciptakan sendiri-sendiri dan tanpa cela. Sambil abad ke-21 menjelang, ilmu pengetahuan memberikan hanya satu jawaban bagi pertanyaan asal usul kehidupan: Penciptaan.

Hal yang penting adalah ilmu pengetahuan telah menegaskan kebenaran yang disaksikan oleh agama dari sejak awal sejarah hingga sekarang. Allah menciptakan alam semesta dan semua makhluk hidup di dalamnya dari ketiadaan. Dan Allah juga menciptakan manusia dari ketiadaan dan memberkatinya dengan tak terhitung sifat. Kebenaran ini telah disampaikan kepada manusia sejak zaman dahulu oleh para nabi, dan diungkapkan di dalam kitab-kitab suci. Setiap nabi telah mengabarkan kepada umatnya bahwa Allah menciptakan manusia dan semua makhluk hidup. Injil dan Al Qur'an keduanya mengabarkan tentang penciptaan dengan cara yang sama.

Di dalam Al Qur'an, Allah berfirman pada sejumlah ayat bahwa Dialah yang menciptakan alam semesta dan semua makhluk di dalamnya dari ketiadaan, dan menata semuanya tanpa cela. Pada ayat berikut, dinyatakan bahwa alam semesta dan apa-apa di dalamnya diciptakan:

Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang, (masing-masing) tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah, Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al A'râf, 7: 54)

Sama seperti Allah menciptakan segala sesuatu yang ada, Dia juga menciptakan bumi yang kita huni saat ini, dan membuatnya mampu mendukung kehidupan. Fakta ini diungkapkan di dalam ayat-ayat tertentu:

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung, dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rizki kepadanya. (QS. Al Hijr, 15: 19-20)

Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh, dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata. (QS. Qâf, 50: 7)

Ayat-ayat di atas menyampaikan bahwa semua tumbuhan diciptakan oleh Allah. Semua tumbuhan, baik yang diketahui maupun yang tidak, semua pohon, rumput, buah, bunga, rumput laut, dan sayuran diciptakan oleh Allah.

Dan hal yang sama pun berlaku untuk hewan. Semua jutaan spesies hewan yang hidup, atau pernah hidup, di bumi, diciptakan oleh Allah. Ikan, reptil, burung, mamalia, kuda, jerapah, bajing, rusa, burung gereja, elang, dinosaurus, paus, dan merak, semuanya diciptakan dari ketiadaan oleh Allah, Tuhan yang memiliki kemahiran dan pengetahuan tak terhingga. Penciptaan aneka ragam spesies makhluk hidup oleh Allah disebutkan dalam sejumlah ayat:

Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. An Nûr, 24: 45)

Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untukmu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya engkau makan. (QS. An Nahl, 16: 5)

Dan Allah menciptakan manusia dengan cara yang tepat sama. Hal ini diungkapkan di dalam Al Qur'an bahwa Adam, manusia pertama, diciptakan dari tanah, dan semua manusia selanjutnya muncul dari satu sama lain lewat sejenis cairan hina (mani). Lebih jauh lagi, manusia memiliki ruh yang ditiupkan ke jasadnya, tidak seperti spesies-spesies lain di bumi. Al Qur'an mengatakan yang berikut tentang kebenaran penciptaan manusia:

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya, dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). (QS. As Sajdah, 32: 7-8)

Kewajian Manusia

Seperti yang telah kami jelaskan sejak awal, ilmu pengetahuan telah menegaskan kebenaran penciptaan, sebagaimana diturunkan di dalam Al Qur'an, sebab penemuan-penemuan ilmiah menunjukkan bahwa makhluk-makhluk hidup memiliki rancangan yang luar biasa, dan diadakan oleh suatu kecerdasan dan pengetahuan yang hebat. Pengamatan-pengamatan biologi menunjukkan bahwa satu spesies hidup tidak bisa beralih menjadi yang lain, dan karena alasan ini, jika seseorang bisa memutar balik waktu, akhirnya akan ia temukan, bagi setiap spesies, individu pertama yang pernah ada dan diciptakan dari ketiadaan. Misalnya, karena elang selalu menjadi elang, jika kita kembali ke masa lampau, kita akan sampai ke pasangan atau kelompok pertama elang yang diciptakan dari ketiadaan. Nyatanya, catatan fosil menegaskan hal ini, dan menunjukkan bahwa aneka spesies hidup muncul tiba-tiba beserta semua ciri khas masing-masing. Makhluk-makhluk hidup ini mungkin telah diciptakan pada waktu yang berlainan dan ditaruh di belahan bumi yang berlainan, tetapi semua ini terjadi atas kehendak Allah.

Singkatnya, ilmu pengetahuan menegaskan bukti yang telah kita kaji bahwa semua makhluk hidup diciptakan oleh Allah.

Akan tetapi, ilmu pengetahuan tak beranjak lebih jauh dari itu. Al Qur'an-lah, kitab yang telah diturunkan Allah kepada kita, yang mengenalkan kita kepada intisari Allah dan satu-satunya sumber kebenaran bagi setiap persoalan serta mengabarkan kepada kita mengapa kita diciptakan dan apa tujuan hidup kita.

Al Qur'an mengatakan bahwa tujuan penciptaan kita adalah supaya kita dapat mengenal Allah, Tuhan kita, dan mengabdi kepadaNya. Dalam suatu ayat, Ia berfirman, "Aku menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Ku." (QS. Adz Dzâriyât, 51: 56) Kewajiban yang dilimpahkan kepada setiap orang yang memahami kebenaran penciptaan adalah hidup menurut ayat itu, dan mengatakan, sebagaimana setiap orang beriman, "Mengapakah aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?" (QS. Yassîn, 36: 22), sebagaimana diuraikan di dalam Al Qur'an.

Sedangkan bagi yang menolak keberadaan Allah dan kebenaran peciptaan, sekalipun semua petunjuk di depan mata mereka, pikiran mereka telah ditaklukkan oleh kesombongan mereka sendiri. Salah satu ayat suci Allah menguraikan betapa tak tertolong dan tak berdayanya orang-orang ini sesungguhnya:

Hai manusia! Telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. (QS. Al Hajj, 22: 37)

 

17 / total 19
Anda dapat membaca buku Harun Yahya Darwinisme Terbantahkan secara online, berbagi pada jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter, download di komputer Anda, menggunakannya untuk pekerjaan rumah Anda dan tesis, dan mempublikasikan, menyalin atau memperbanyak pada website atau blog Anda sendiri tanpa perlu membayar biaya hak cipta apapun, selama Anda mengakui situs ini sebagai referensi.
Presentasi| tentang situs ini | Buat homepage Anda | tambahkan ke favorit | RSS Feed
Semua materi dapat dikopi,dicetak, dan didistribusikan berdasarkan situs ini
(c) All publication rights of the personal photos of Mr. Adnan Oktar that are present in our website and in all other Harun Yahya works belong to Global Publication Ltd. Co. They cannot be used or published without prior consent even if used partially.
© 1994 Harun Yahya. www.harunyahya.com
page_top