< <
18 / total: 19

Peringatan !

Bab yang kini akan Anda baca mengungkapkan rahasia penting kehidupan Anda. Anda mesti membaca sepenuh perhatian dan seluruhnya karena menyangkut sebuah pokok yang berperan membuat perubahan mendasar dalam pandangan Anda atas dunia luar. Pokok masalah bab ini bukan sekadar satu sudut pandang, suatu pendekatan yang berbeda, atau suatu pemikiran filsafat biasa: inilah fakta yang setiap orang, beriman atau tidak, harus mengakuinya dan juga telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan masa kini.

Rahasia di Balik Materi

Peringatan!

Konsep "sifat materi" adalah satu konsep yang berperan menyebabkan perubahan pandangan seseorang atas kehidupan, dan malah keseluruhan kehidupannya, sekali intisarinya diketahui. Pokok ini terkait langsung dengan makna hidup Anda, harapan Anda pada masa depan, cita-cita Anda, nafsu-nafsu, hasrat-hasrat, rencana-rencana, konsep-konsep yang Anda anut, dan benda-benda materi yang Anda miliki.

Pokok masalah bab ini, "sifat materi," bukanlah suatu pokok yang muncul kali pertamanya saat ini. Sepanjang sejarah manusia, banyak pemikir dan ilmuwan telah membahas konsep ini. Semenjak awal, orang-orang telah terpisah menjadi dua kelompok dalam persoalan ini; satu kelompok, yang dikenal sebagai materialis, mendasarkan filsafat dan kehidupan mereka pada keberadaan hakiki materi dan hidup dengan memperdaya diri. Kelompok yang lain berbuat tulus, dan karena tak cemas untuk berpikir lebih keras, mencurahkan hidup demi memahami intisari dari "benda-benda" kepada mana mereka terpapar dan makna mendalam yang terletak di baliknya. Akan tetapi, kemajuan-kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi di zaman kita akhirnya menyudahi pertentangan ini dengan membuktikan tanpa terbantahkan fakta yang terbukti dengan sendirinya bahwa materi tak memiliki keberadaan yang hakiki.

Pertanyaan yang Telah Lama Dibahas: Apakah Sifat Sebenarnya Materi?

beynimizde oluşan görüntü

Everything we see, touch, hear, and perceive as "matter," "the world" or "the universe" is in fact electrical signals interpreted in our brain. We can never reach the original of the matter outside our brain. We merely taste, hear and see an image of the external world formed in our brain.

Seseorang yang sungguh-sungguh dan bijaksana merenungi alam semesta yang dihuninya, galaksi-galaksi, planet-planet, keseimbangan-keseimbangan di dalamnya, daya tarik-menarik dalam struktur atom, keteraturan yang ditemuinya di segenap pelosok alam, tak terhitung spesies di sekelilingnya, cara spesies-spesies itu hidup, bakat-bakatnya yang mengagumkan, dan akhirnya, tubuhnya sendiri, akan seketika menyadari bahwa ada sesuatu yang luar biasa tentang semua hal itu. Ia akan dengan mudah memahami bahwa tatanan sempurna dan kepelikan-kepelikan di sekitar dirinya tak mungkin terwujud dengan sendirinya, namun pasti memiliki seorang Pencipta. Nyatanya, Darwinisme dan filsafat materialis yang menolak penciptaan adalah kekeliruan-kekeliruan terbesar sebagaimana telah kami uraikan sepanjang buku ini.

Lalu, oleh siapakah semua hal ini diciptakan?

Jelaslah bahwa "fakta penciptaan," yang terbukti dengan sendirinya pada setiap lingkungan di alam semesta, tak mungkin suatu hasil alam semesta itu sendiri. Misalnya, seekor merak, dengan warna dan rancangannya yang mengisyaratkan seni yang tiada tara, tak bisa menciptakan dirinya sendiri. Keseimbangan-keseimbangan amat halus di alam semesta tak mungkin menciptakan atau menyusun dirinya sendiri. Baik tumbuhan, manusia, bakteri, eritrosit (sel darah merah), maupun kupu-kupu, tak mungkin menciptakan dirinya sendiri. Lebih lagi, peluang bahwa semua wujud ini mungkin muncul "secara kebetulan" bahkan tak terbayangkan.

Nyatalah bahwa segala sesuatu yang kita lihat telah diciptakan, tetapi tak satu pun dari benda-benda yang kita lihat dapat menjadi "pencipta." Sang Pencipta berbeda dengan dan mengungguli semua yang kita lihat dengan mata kita. Ia tak terlihat, namun segala sesuatu yang telah Ia ciptakan mengungkapkan keberadaan dan sifat-sifatNya.

Inilah perihal terhadap mana mereka yang menolak keberadaan Allah berkeberatan. Orang-orang seperti mereka telah dilatih agar tak memercayai keberadaanNya kecuali melihatNya dengan mata sendiri. Menurut pandangan mereka, ada setumpuk materi di seantero alam semesta yang menyebar hingga keabadian, dan Allah tidak berada di mana pun di dalam tumpukan materi itu. Bahkan jika berjalan ribuan tahun cahaya, mereka pikir mereka tak akan menemukan Allah. Inilah mengapa mereka menolak keberadaanNya. Oleh karena itu, orang-orang ini, yang mengabaikan fakta "penciptaan," terpaksa menolak kebenaran "penciptaan" yang terwujud di seantero alam dan mencoba membuktikan bahwa alam semesta dan makhluk-makhluk hidup di dalamnya tidak pernah diciptakan. Akan tetapi, mustahil bagi mereka melakukannya, sebab setiap sudut alam semesta dibanjiri petunjuk adanya Allah.

Kesalahan dasar mereka yang menolak Allah juga dilakukan oleh orang-orang yang tidak benar-benar menolak keberadaan Allah, tetapi mempunyai kesan yang salah tentangNya. Mereka tidak menolak tanda-tanda "penciptaan" yang terwujud di mana-mana, namun memiliki keyakinan-keyakinan takhayul tentang "tempat" Allah. Kebanyakan mereka berpikir bahwa Allah ada di atas, di "langit." Mereka secara tersirat dan keliru membayangkan bahwa Allah ada di balik planet yang sangat jauh dan mencampuri "urusan duniawi" sesekali, atau mungkin tidak sama sekali. Mereka membayangkan bahwa Ia menciptakan alam semesta dan lalu membiarkannya bergulir sendiri, membiarkan manusia menentukan nasibnya sendiri.

Sementara yang lain telah mendengar fakta yang dinyatakan di dalam Al Qur'an bahwa Allah ada "di mana-mana," namun tak mampu menghayati makna sebenarnya fakta ini. Menurut pemikiran menyimpang di bawah sadar mereka, mereka berpikir bahwa Allah melingkupi segala sesuatu—bak gelombang radio atau gas yang tak nampak dan tak teraba.

Akan tetapi, keyakinan ini dan keyakinan-keyakinan lain yang tak pasti menyangkut "tempat" Allah (dan mungkin karena itu, menolak keberadaanNya) berlandaskan pada kekeliruan serupa. Mereka berprasangka tanpa alasan dan bersalah karena berpendapat keliru tentang Allah.

Prasangka Apakah Itu?

Prasangka itu adalah tentang alam dan tabiat materi. Manusia begitu terbiasa pada anggapannya sendiri tentang keberadaan materi sehingga tidak pernah memikirkan apakah materi ada atau tidak, atau apakah materi ini sekadar bayang-bayang. Ilmu pengetahuan mutakhir menghancurkan prasangka ini dan menyingkapkan suatu kenyataan yang sangat penting dan mengilhami. Pada halaman-halaman berikut, kami akan menjelaskan kenyataan agung yang ditunjukkan Al Qur'an ini.

Kita Hidup di Alam Semesta yang Disajikan oleh Indera Kita

Menurut Albert Camus, Anda bisa memahami dan menentukan kejadian-kejadian lewat ilmu pengetahuan, namun tak bisa memahami alam semesta. Di sini ada pohon, Anda rasakan kekerasannya; di sini air, Anda mencicipnya. Di sini angin, yang menyejukkan Anda. Anda harus puas dengan semua itu.397

Semua informasi yang kita miliki tentang keniscayaan dunia tempat kita hidup disampaikan oleh panca indera kita. Dunia yang kita kenal terbangun dari apa yang mata kita lihat, tangan kita rasakan, hidung kita cium, lidah kita cicipi, dan telinga kita dengar. Tak pernah kita berpikir bahwa "dunia luar" mungkin sesuatu yang lain dari yang disajikan oleh indera-indera kita, sebab kita telah bergantung sepenuhnya kepada segenap indera itu sejak lahir.

Penelitian mutakhir di berbagai bidang ilmu pengetahuan menunjuk ke fakta yang sangat berbeda dan menimbulkan keraguan besar tentang indera kita dan dunia yang kita tangkap dengannya.

Sesuai dengan temuan-temuan ilmiah, yang kita tangkap sebagai "dunia luar" hanyalah hasil dari otak yang terangsang oleh isyarat-isyarat listrik yang dikirimkan oleh organ-organ indera kita. Warna-warna kaya nuansa yang Anda tangkap dengan indera penglihatan, kesan keras atau lunak yang disampaikan indera peraba, rasa yang Anda alami di lidah, aneka nada dan suara yang Anda dengar dengan telinga, bebauan yang Anda cium, pekerjaan Anda, rumah Anda, semua harta Anda, kalimat-kalimat di dalam buku ini, dan terlebih-lebih, ibu Anda, ayah Anda, keluarga Anda, seluruh dunia yang Anda lihat, kenal, terbiasa dengannya sepanjang hidup, terdiri semata-mata dari isyarat-isyarat listrik yang diteruskan oleh organ-organ indera Anda ke otak. Meskipun tampaknya sukar pada analisis pertama, hal ini sebuah fakta ilmiah. Pandangan filsuf-filsuf terkemuka seperti Bertrand Russel dan L. Witteinstein tentang masalah ini adalah sebagai berikut:

Misalnya, apakah lemon benar-benar ada atau tidak dan bagaimanakah lemon menjadi ada tak dapat dipertanyakan atau diselidiki. Sebutir lemon terdiri semata-mata dari rasa yang dicicipi lidah, bau yang dicium hidung, warna dan bentuk yang dilihat mata; dan hanya ciri-ciri inilah yang dapat dijadikan bahan pemeriksaan dan pengkajian. Ilmu pengetahuan tak akan pernah mengetahui dunia fisik.398

Frederick Vester menjelaskan pencapaian ilmu pengetahuan pada masalah ini:

Pernyataan ilmuwan-ilmuwan tertentu bahwa "manusia itu sebuah citra, segala yang dialaminya fana dan memperdaya, dan alam semesta ini sebuah bayangan," tampaknya dibuktikan oleh ilmu pengetahuan zaman kita.399

Pemikiran seorang filsuf terkenal George Berkeley tentang hal ini dapat dirangkum sebagai berikut:

Kita memercayai keberadaan benda-benda karena kita melihat dan menyentuhnya, dan semua itu dipantulkan kepada kita oleh kesan-kesan kita. Akan tetapi, kesan-kesan kita sekadar gagasan-gagasan di benak kita.. Oleh karena itu, benda-benda yang kita kenali dengan indera-indera kita tak lebih dari sebuah gagasan, dan gagasan ini pada dasarnya tidak di mana-mana melainkan di benak kita… karena semua ini hanya terjadi di benak, berarti kita terpukau oleh tipuan-tipuan ketika membayangkan bahwa alam semesta dan benda-benda mempunyai keberadaan di luar benak kita. Maka, tak satu pun benda di sekeliling kita memiliki keberadaan di luar benak kita.400

Untuk menjernihkan masalah ini, renungkanlah indera penglihatan kita, yang menyediakan bagi kita informasi terbanyak tentang dunia luar.

Bagaimanakah Organ-Organ Indera Kita Bekerja?

Sedikit orang berpikir mendalam tentang bagaimana tindakan melihat berlangsung. Setiap orang menjawab pertanyaan "Bagaimanakah kita melihat?" dengan berkata "tentulah dengan mata." Akan tetapi, ketika kita mempelajari penjelasan teknis proses penglihatan, tampaknya tidak demikian yang terjadi. Tindakan melihat disadari bertahap. Gugus cahaya (foton) bergerak dari benda ke mata dan melewati lensa di bagian depan mata, lalu dibiaskan dan jatuh terbalik di retina di bagian belakang mata. Di sini, cahaya yang menerobos ini diubah menjadi isyarat-isyarat listrik yang diteruskan oleh neuron-neuron ke bintik kecil yang disebut pusat penglihatan di bagian belakang otak. Tindakan melihat sebenarnya terjadi di bintik kecil di bagian belakang otak ini, yang sangat gelap dan kedap cahaya.

Kini, cobalah tinjau kembali proses yang tampak biasa dan sederhana ini. Ketika mengatakan, "kita melihat," kita sesungguhnya melihat pengaruh-pengaruh rangsangan yang mencapai mata dan disimpulkan di otak kita, setelah diubah menjadi isyarat-isyarat listrik. Yakni, ketika mengatakan, "kita melihat," sebenarnya kita mengamati satu himpunan isyarat listrik di otak. Oleh karena itu, melihat bukanlah proses yang berakhir di mata; mata hanya sebuah organ indera yang berperan sebagai sarana proses melihat.

Semua citra yang kita pandang di dalam hidup kita terbentuk di pusat penglihatan kita, yang seukuran sebiji kacang dan membentuk beberapa kubik saja isi otak kita. Baik buku yang kini sedang Anda baca, dan layar komputer Anda, dan bentang alam tak berbatas yang Anda lihat ketika menatap cakrawala, dan laut yang tak bertepi, dan sekumpulan orang yang berlomba lari maraton, masuk ke ruang kecil ini. Hal lain yang patut diingat adalah, seperti yang telah kami catat, otak itu kedap cahaya; bagian dalamnya gelap gulita. Otak sendiri tak bersentuhan dengan cahaya. Tempat yang disebut pusat penglihatan adalah sebuah tempat yang gelap gulita, cahaya tak pernah mencapainya, begitu gelap sehingga mungkin Anda sendiri belum pernah berada di tempat seperti ini. Akan tetapi, Anda memirsa dunia benderang dan berwarna-warni dalam kegelap-gulitaan ini. Alam aneka warna, bentang alam yang menyilaukan, semua nuansa hijau, warna-warni buah-buahan, pola-pola bunga-bungaan, terangnya matahari, semua orang di jalan yang ramai, kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang dengan cepat, ratusan pakaian di pusat-pusat perbelanjaan, dan yang lain-lainnya, semuanya citra-citra yang terbentuk di tempat yang gelap gulita ini. Bahkan pembentukan warna di kegelapan ini masih belum diketahui. Klaus Budzinski mengulas:

... Para ahli warna (kromatis) tak bisa menjawab pertanyaan tentang bagaimanakah jaringan di mata yang menangkap cahaya maupun warna menghantarkan informasi ini ke otak melalui syaraf penglihatan dan apakah macam rangsangan fisik-fisiologis yang diciptakannya di otak.401

Kita bisa menjelaskan keadaan menarik ini lewat sebuah contoh. Anggaplah di depan kita ada lilin yang sedang menyala. Kita dapat duduk di seberang lilin ini dan melihatnya dengan berjarak. Akan tetapi, selama itu, otak kita tak pernah bersentuhan langsung dengan cahaya asli dari lilin itu. Bahkan ketika kita merasakan panas dan cahaya lilin itu, bagian dalam otak kita gelap-gulita dan suhunya tak pernah berubah. Kita memirsa dunia terang berwarna-warni di dalam otak kita yang gelap.

Hal yang sama terjadi pada cahaya matahari. Mata Anda silau oleh cahaya matahari atau kulit Anda merasakan panasnya yang membakar tak mengubah kenyataan bahwa itu semua hanya kesan dan pusat penglihatan di otak Anda gelap-gulita.

R.L. Gregory memberikan penjelasan berikut tentang segi-segi yang menakjubkan dari melihat—sesuatu yang kita terima tanpa bertanya:

Kita demikian akrab dengan penglihatan, sampai-sampai memerlukan lompatan pembayangan untuk menyadari bahwa ada masalah-masalah yang harus dipecahkan. Namun, pikirkanlah hal ini. Kita diberi citra-citra kecil yang terbalik dan kacau di mata, dan kita melihat benda-benda utuh terpisah-pisah di dalam ruangan sekeliling kita. Dari pola-pola tiruan di retina, kita mengesani dunia benda-benda, dan ini tak kurang dari sebuah keajaiban.402

Keadaan yang sama terjadi pada semua indera kita. Suara, sentuhan, rasa, dan bau semuanya dikesani sebagai isyarat-isyarat listrik di otak.

Indera pendengaran bekerja dengan cara yang serupa dengan penglihatan. Telinga luar menangkap suara dengan daun telinga dan mengarahkannya ke telinga tengah. Telinga tengah meneruskan getaran-getaran suara ke telinga dalam dan memperkuatnya. Telinga dalam menerjemahkan getaran-getaran menjadi isyarat-isyarat listrik, yang lalu dikirimkan ke otak. Sama seperti mata, proses mendengar akhirnya terjadi di pusat pendengaran di otak.

Apa yang benar untuk mata juga benar untuk telinga, yaitu, otak kedap suara sebagaimana kedap cahaya. Oleh karena itu, betapa pun bisingnya di luar, bagian dalam otak sunyi-senyap. Walau demikian, bahkan suara terhalus sekalipun dikesani di otak. Proses ini demikian cermatnya sehingga telinga orang yang sehat mendengar apa pun tanpa derau atau gangguan atmosferik. Di dalam otak Anda, yang kedap suara dan sunyi-senyap, Anda mendengar simfoni-simfoni sebuah orkestra, mendengar semua kebisingan sebuah tempat yang ramai, dan mengesani semua suara di dalam kisaran frekuensi yang lebar, dari kerisik daun hingga raung pesawat jet. Akan tetapi, jika pada saat itu tingkat suara di dalam otak Anda diukur dengan sebuah peranti yang peka, kesunyi-senyapan akan terlihat meliputinya.

Kesan kita tentang bau bekerja dengan cara serupa. Molekul-molekul mudah-menguap dipancarkan oleh benda-benda seperti vanili atau bunga mawar mencapai dan berinteraksi dengan reseptor-reseptor di rambut-rambut halus pada daerah epitel hidung. Interaksi ini diteruskan ke otak sebagai isyarat-isyarat listrik dan dikesani sebagai bau. Semua yang kita cium, yang menyenangkan atau pun tidak, tak lain hanyalah kesan otak terhadap interaksi molekul-molekul mudah-menguap setelah diubah menjadi isyarat-isyarat listrik. Anda mengesani wangi parfum, sekuntum bunga, makanan yang Anda sukai, laut, atau bebauan lain yang Anda sukai atau tidak, di dalam otak Anda. Molekul-molekul itu sendiri tak pernah mencapai otak. Sama seperti suara dan pemandangan, yang sampai ke otak ketika Anda mengesani sesiratan bau adalah sekadar sekumpulan isyarat listrik. Dengan kata lain, semua bau yang telah Anda kenal—sejak Anda dilahirkan—yang dimiliki benda-benda luar adalah sekadar isyarat-isyarat listrik yang Anda alami lewat organ-organ indera Anda. Berkeley juga mengatakan:

Pada awalnya, diyakini bahwa warna, bau, dan sebagainya, "benar-benar ada," tetapi kemudian, pandangan seperti itu ditinggalkan, dan agaknya semua itu hanya ada bergantung pada penginderaan kita.403

Serupa itu, ada empat jenis reseptor kimiawi di bagian depan lidah manusia. Reseptor-reseptor ini terkait dengan empat rasa: asin, manis, asam dan pahit. Reseptor-reseptor rasa kita mengubah kesan-kesan ini menjadi isyarat-isyarat listrik melalui serangkaian proses kimiawi dan meneruskannya ke otak. Isyarat-isyarat ini dikesani sebagai rasa oleh otak. Rasa yang Anda alami ketika makan coklat atau buah yang Anda sukai merupakan tafsiran isyarat listrik oleh otak. Anda tak pernah dapat menyentuh benda di dunia luar; Anda tak pernah dapat melihat, mencium, atau mencicipi coklat. Misalnya, jika syaraf-syaraf perasa yang berjalan ke otak dipotong, rasa benda-benda yang Anda makan tak akan mencapai otak; Anda akan sepenuhnya kehilangan indera pencicip.

Di sini, kita menemui fakta lain:

Kita tak pernah dapat yakin bahwa yang kita alami ketika mencicipi rasa makanan dan yang dialami orang lain ketika mencicipi makanan yang sama, atau yang kita kesani ketika mendengar suara dan yang dikesani orang lain ketika mendengar suara yang sama, adalah sama. Lincoln Barnett mengatakan bahwa tak seorang pun mengetahui apakah orang lain melihat warna merah atau mendengar nada C dengan cara yang sama seperti dirinya.404

Kita hanya tahu sebanyak yang disampaikan organ indera kita kepada kita. Mustahil bagi kita menggapai kenyataan fisik di luar diri kita secara langsung. Lagi-lagi otak kitalah yang menafsirkannya. Kita tak pernah dapat meraih sumbernya. Oleh karena itu, bahkan ketika kita berbicara suatu hal yang sama, otak orang lain mungkin mengeaninya sebagai sesuatu yang lain. Alasannya adalah bahwa apa yang dikesani bergantung pada yang mengesani.

Penalaran yang sama juga benar bagi indera peraba kita. Ketika menyentuh sebuah benda, semua informasi yang akan membantu kita mengenali dunia luar dan benda-benda di dalamnya diteruskan ke otak oleh syaraf-syaraf indera di kulit. Kesan sentuhan terbentuk di dalam otak kita. Berlawanan dengan keyakinan umum, tempat kita mengesani sentuhan bukan di ujung-ujung jari, atau di kulit, namun di pusat pengesan sentuhan di dalam otak kita. Karena tafsiran otak atas rangsangan listrik yang berasal dari benda-benda, kita mengalami benda-benda itu secara berbeda, misalnya, mungkin keras atau lunak, panas atau dingin. Kita mendapatkan semua rincian yang membantu kita mengenali sebuah benda dari rangsangan-rangsangan ini. Sehubungan dengan hal ini, seorang filsuf terkenal Bertrand Russel mengulas:

Mengenai kesan sentuhan ketika kita menekan meja dengan jari-jari, itu sebuah gangguan listrik pada elektron dan proton di ujung-ujung jari kita, yang dihasilkan, menurut fisika mutakhir, karena berdekatan dengan elektron dan proton pada meja. Jika gangguan yang sama pada ujung-ujung jari kita muncul dengan cara yang lain, kita akan memiliki rasa-rasa yang sama, sekalipun tidak ada mejanya.405

Bahwa dunia luar bisa dikenali hanya melalui indera adalah sebuah fakta ilmiah. Di dalam bukunya, A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge (Karya Tulis Tentang Azas-Azas Pengetahuan Manusia), George Berkeley mengulas sebagai berikut:

Dengan penglihatan, saya memiliki gagasan tentang cahaya dan warna, dengan beberapa derajat terang dan ragamnya. Dengan sentuhan, saya mengesani keras dan lembut, panas dan dingin, gerakan dan kelembaman. ..Penciuman memasok saya dengan berbagai bau; lidah dengan rasa; dan pendengara"n menyampaikan suara. …Dan karena beberapa kesan teramati bersama-sama, kesemuanya ditandai dengan satu nama, dan dengan demikian dikenal sebagai satu benda. Maka, misalnya, warna, rasa, bau, bentuk, dan susunan tertentu yang teramati bersama, dipandang sebagai satu benda tersendiri, yang ditandai dengan nama apel; kumpulan-kumpulan gagasan lain membentuk sebutir batu, sebatang pohon, sebuah buku, dan benda-benda lain yang dapat dikesani...406

Oleh karena itu, dengan mengolah data di pusat penglihatan, suara, bau, rasa, dan sentuhan, otak kita, seumur kita hidup, tidak menyentuh "sumber" materi yang ada di luar kita melainkan salinannya yang terbentuk di dalam otak kita. Di sinilah kita tersesatkan dengan menganggap salinan-salinan ini keadaan-keadaan materi nyata di luar kita. Akan tetapi, sebagaimana terlihat sepanjang buku ini, masih ada pemikir dan ilmuwan yang tidak tersesatkan oleh kekeliruan gagasan seperti itu, dan yang telah menyadari fakta ini.

Bahkan Ali Demirsoy, salah seorang materialis Turki paling masyhur, juga mengakui kebenaran ini:

Nyatanya, di alam semesta, tidak ada cahaya sebagaimana kita melihatnya, maupun suara sebagaimana kita mendengarnya, maupun panas sebagaimana kita merasakannya. Organ-organ indera menyesatkan kita di antara dunia luar dan otak dan memunculkan di dalam otak tafsiran-tafsiran yang tak berkaitan dengan kenyataan.407

Apakah Kita Menjalani Seluruh Hidup di dalam Otak?

Dari fakta-fakta fisik yang diuraikan sejauh ini, kita bisa menyimpulkan yang berikut ini. Semua yang kita lihat, sentuh, dengar, dan rasakan sebagai "materi," "dunia," atau "alam semesta" hanyalah isyarat-isyarat listrik yang terjadi di dalam otak kita. Oleh karena itu, seseorang yang minum air jeruk tak menghadapi minumun yang sebenarnya, melainkan hanya kesannya di otak. Benda yang diyakini oleh orang-orang yang menyaksikan sebagai "minuman" sebenarnya mencakup kumpulan kesan listrik dari warna jingga, rasa manis, dan rasa cair jus jeruk di otak. Keadaan ini tak berbeda dengan ketika kita makan coklat; data listrik yang terkait dengan bentuk, rasa, bau, dan kekerasan coklat dikesani di otak. Jika syaraf-syaraf penglihatan yang berjalan ke otak tiba-tiba terputus, citra coklat juga mendadak hilang. Terputusnya syaraf yang berjalan dari indera-indera pada hidung ke otak akan mematikan sepenuhnya indera penciuman.

Ambil mudahnya, pohon yang Anda lihat, benda-benda yang Anda cium, coklat yag Anda cicipi, dan jus jeruk yang Anda minum tak lebih dari tafsiran otak atas isyarat-isyarat listrik.

Hal lain yang perlu dipikirkan, yang dapat memperdaya, adalah kesan jarak. Misalnya, jarak antara Anda dan buku ini hanyalah suatu perasaan atas ruang yang terbentuk di dalam otak Anda. Benda-benda yang tampak jauh dari sudut pandang manusia juga ada hanya di dalam otak. Misalnya, seseorang yang memandangi bintang-gemintang di langit menyangka bahwa semua itu berjarak jutaan tahun cahaya darinya. Namun, yang ia "lihat" sebenarnya bintang-bintang di dalam dirinya, pada pusat penglihatannya. Selama penerbangan, orang melihat dari sebuah pesawat ke kota di bawah dan berpikir bahwa kota itu berjarak beberapa kilometer darinya. Akan tetapi, keseluruhan panjang dan lebar kota beserta segenap orang-orang yang menghuninya itu berada di dalam otaknya.

Kini, semua data ilmiah membuktikan bahwa citra yang kita kesani terbentuk di dalam otak kita.

Masih satu lagi faktor yang menyesatkan, namun sangat penting. Ketika Anda membaca kalimat-kalimat ini, sebenarnya Anda tak berada di ruangan yang Anda sangka Anda di dalam ruangan; sebaliknya, ruangan itu ada di dalam Anda. Karena melihat tubuh Anda, Anda berpikir bahwa Anda ada di dalamnya. Akan tetapi, Anda harus ingat bahwa tubuh Anda juga sebuah citra yang terbentuk di dalam otak Anda. Bertrand Russel menyatakan yang berikut tentang hal ini:

Yang bisa kita katakan, atas dasar fisiknya sendiri, adalah bahwa yang sampai kini kita sebut tubuh kita sebenarnya sebuah bangun ilmiah terinci yang tak berkaitan dengan kenyataan fisik apa pun.408

Kebenarannya sangat jelas. Jika kita bisa merasakan dunia luar hanya melalui organ-organ indera kita, maka tidak akan ada alasan yang taat azas bagi kita untuk menganggap tubuh kita terpisah dari dunia luar, yaitu, mengakui bahwa tubuh kita memiliki keberadaan tersendiri.

Tubuh kita juga disajikan kepada kita oleh rangsangan listrik yang mencapai otak. Rangsangan ini, sama seperti yang lain, diubah menjadi kesan atau rasa tertentu di dalam otak kita. Misalnya, rasa sentuhan terjadi ketika kita menyentuh tubuh dengan tangan, rasa berat disebabkan oleh gaya gravitasi, rasa melihat disebabkan oleh berkas-berkas cahaya yang terpantul dari tubuh kita, dst… semua ini dikaji sebagai suatu "kumpulan rasa" oleh otak, dan kita "merasakan" tubuh kita. Sebagaimana diungkapkan oleh fakta ilmiah ini, selama hidup, kita tak terpapar tubuh kita yang asli, melainkan rangsangan listrik yang terkait dengan tubuh kita yang mencapai otak. Rangsangan ini dikenali sebagai "tubuh kita" menurut pengesanan kita

Hal yang sama juga benar bagi semua pengesanan Anda lainnya. Misalnya, ketika Anda pikir Anda mendengar suara televisi di ruang sebelah, sebenarnya Anda mengalami suara itu di dalam otak Anda. Anda tidak dapat membuktikan baik apakah sebuah ruang ada di sebelah ruang Anda, maupun apakah suara itu berasal dari televisi di ruangan itu. Baik suara yang Anda pikir datang dari jarak beberapa meter dan percakapan seseorang di samping Anda dikenali di pusat pendengaran di dalam otak Anda yang hanya beberapa sentimeter persegi ukurannya. Di luar pusat kesan ini, tidak ada konsep seperti kanan, kiri, depan, atau belakang. Jadi, suara tidak mendatangi Anda dari kanan, dari kiri, atau dari udara, tidak ada arah dari mana suara datang.

Demikian juga bebauan yang Anda kesani, tak satu pun mencapai Anda dari sebuah jarak yang jauh. Anda menganggap bahwa pengaruh-pengaruh akhir yang terbentuk di pusat penciuman Anda adalah bau benda-benda di dunia luar. Akan tetapi, sama seperti citra sekuntum mawar di pusat penglihatan Anda, wangi mawar itu juga ada di pusat penciuman; tidak ada sekuntum mawar maupun suatu bau yang terkait dengannya di dunia luar.

Fakta-fakta yang sama juga berlaku untuk panas. Salah seorang filsuf terkemuka pada zamannya, Geroge Berkeley, menjelaskan dengan contoh berikut ini bahwa kesan-kesan seperti dingin dan panas tak bisa dinilai di luar benak:

Anggap saat ini satu tangan Anda panas, dan satunya lagi dingin, dan keduanya dimasukkan berbarengan ke dalam bejana air yang sama, yang bersuhu sedang; tidakkah air terasa dingin bagi tangan yang satu, dan hangat bagi yang lain?409

Berkeley benar dalam analisisnya. Jika panas atau dingin ada pada materi itu sendiri, kedua tangan akan merasakan hal yang sama.

"Dunia luar" yang disajikan kepada kita oleh kesan-kesan kita semata-mata sekumpulan isyarat listrik yang mencapai otak kita. Sepanjang hidup, otak kita mengolah dan menafsirkan isyarat-isyarat ini dan kita hidup tanpa menyadari bahwa kita diperdaya dengan menganggap bahwa semua ini versi asli benda-benda yang ada di "dunia luar." Kita disesatkan karena kita tak pernah dapat mencapai benda-benda ini lewat indera-indera kita. Hal ini benar-benar penting.

Lebih-lebih, otak kita lagi-lagi menafsirkan dan menetapkan makna bagi isyarat-isyarat yang kita anggap "dunia luar." Misalnya, mari kita renungi indera pendengaran. Otak kita mengubah gelombang-gelombang suara di "dunia luar" menjadi suatu irama. Dengan kata lain, musik juga sebuah kesan yang tercipta di dalam otak Anda. Dengan cara yang sama, ketika melihat warna-warna, yang mencapai mata kita cuma sekumpulan isyarat-isyarat listrik dengan aneka panjang gelombang. Lagi-lagi otak kita mengubah isyarat-isyarat ini menjadi warna-warna. Tidak ada warna di "dunia luar." Lemon tidak kuning, dan langit tidak biru, dan pepohonan tidak hijau. Semua itu demikian karena kita mengesaninya demikian. "Dunia luar" bergantung sepenuhnya kepada si pengesan. Buta warna adalah petunjuk penting hal ini. Bahkan kerusakan terkecil pada retina mata menyebabkan buta warna. Sebagian orang mengesani biru sebagai hijau, dan sebagian lagi merah sebagai biru. Di sini, tak masalah apakah benda luar itu berwarna atau tidak.

Menurut pemikir terkemuka Berkeley:

Jika benda yang sama bisa merah dan panas bagi sebagian orang dan sebaliknya bagi sebagian yang lain, ini berarti bahwa kita di bawah pengaruh kesalahan pemahaman dan bahwa "benda-benda" hanya ada di dalam otak kita.410

Kesimpulannya, alasan kita melihat benda-benda berwarna bukan karena semua itu berwarna atau memiliki keberadaan hakiki tersendiri di luar diri kita. Jika saja warna-warni ada di luar kita, cacat seperti buta warna tidak akan ada. Kebenaran materi itu lebih karena semua sifat yang kita sematkan ke benda-benda ada di dalam diri kita dan bukan di "dunia luar."

Apakah Keberadaan "Dunia Luar" Suatu Keharusan?

Sejauh ini, kita telah berkali-kali membicarakan keberadaan suatu dunia kesan yang terbentuk di dalam otak kita, dan membuat pernyataan bahwa kita sebenarnya tak pernah dapat mencapai dunia ini. Lalu, bagaimanakah kita bisa yakin dunia kesan seperti itu benar-benar ada?

Sebenarnya, kita tidak bisa. Karena setiap benda hanyalah sekumpulan kesan dan kesan-kesan itu hanya ada di dalam pikiran, lebih cermat bagi kita untuk mengatakan bahwa dunia yang benar-benar ada adalah dunia kesan. Satu-satunya dunia yang kita ketahui adalah dunia yang ada di dalam pikiran kita: suatu dunia yang dirancang, direkam, dan dihidupkan di dalamnya; satu dunia yang, singkatnya, diciptakan di dalam pikiran kita. Inilah satu-satunya dunia yang bisa kita yakini.

Kita tak pernah dapat membuktikan bahwa kesan-kesan yang kita amati di dalam otak memiliki kaitan yang hakiki. Kesan-kesan itu mungkin saja datang dari sumber "buatan."

Kita bisa membayangkan hal ini dengan contoh berikut:

Pertama, mari bayangkan bahwa otak Anda dikeluarkan dari tubuh Anda dan dijaga tetap hidup secara buatan di dalam sebuah tabung kaca. Di sebelahnya, ditaruh sebuah komputer yang dengannya semua jenis isyarat listrik dapat dihasilkan. Lalu, mari kita hasilkan dan rekam secara buatan data yang terkait dengan suatu suasana, seperti citra, suara, bau, keras-lembut, rasa, dan citra tubuh. Percobaan dengan otak Anda ini, yang dikeluarkan dari tubuh Anda, akan dilakukan di puncak gunung yang sunyi. Akhirnya, mari kita sambungkan komputer ke otak dengan elektroda-elektroda yang akan berfungsi sebagai syaraf dan meneruskan data hasil rekaman ke otak Anda yang kini berada tinggi di atas awan. Sambil mengesani isyarat-isyarat ini, otak Anda (yang sejatinya adalah Anda) akan melihat dan mengalami suasana yang bersangkutan. Misalnya, anggap bahwa setiap rincian yang timbul di dalam pikiran tentang pertandingan sepak bola di sebuah stadion dihasilkan atau direkam—dengan cara yang akan dikesani lewat organ-organ indera. Di dalam otak Anda, sendirian di puncak gunung, dengan alat perekam terhubungkan dengannya, Anda akan merasa seakan sedang mengalami suasana buatan ini. Anda akan berpikir bahwa Anda sedang di sebuah pertandingan. Anda akan bergembira, kadang geram dan kadang senang. Lebih lagi, Anda akan sering bersinggungan dengan orang lain karena padatnya penonton, dan oleh karena itu, merasakan keberadaan mereka juga. Yang paling menarik, semuanya demikian hidup sehingga Anda tak pernah meragukan keberadaan suasana ini maupun tubuh Anda. Atau jika dikirimkan ke otak Anda isyarat-isyarat listrik yang terkait dengan pemandangan, pendengaran, dan sentuhan yang Anda kesani ketika duduk di sebuah meja, otak Anda akan berpikir tentang dirinya sebagai seorang pengusaha yang sedang duduk di kantornya. Dunia khayalan ini akan berlangsung sepanjang rangsangan terus datang dari komputer. Tidak akan pernah mungkin memahami bahwa Anda terdiri hanya dari otak saja. Ini karena yang dibutuhkan untuk membentuk sebuah dunia di dalam otak Anda bukanlah keberadaan sebuah dunia nyata, melainkan rangsangan-rangsangan. Bahwa rangsangan-rangsangan ini berasal dari suatu sumber buatan, seperti alat perekam atau sumber kesan lainnya, adalah sangat mungkin. Percobaan-percobaan yang dilakukan tentang hal ini menunjukkan fakta tersebut.

Di Amerika Serikat, Dr. White dari Cleveland Hospital, bersama para sejawatnya, yang semuanya pakar di bidang elektronik, membuat terobosan besar dalam menghidupkan "cyborg." Yang berhasil dilakukan Dr. White adalah memisahkan otak kera dari tengkoraknya dan memberinya oksigen dan darah. Otak ini, yang dihubungkan ke "mesin jantung-paru-paru" buatan, dipertahankan hidup selama lima jam. Peranti, yang disebut EEG (Electro Encephalogram), yang dihubungkan ke otak yang dipisahkan ini, mencatat dalam rekaman EEG-nya bahwa bising yang dibuat di sekitaran didengar oleh otak ini dan bahwa otak ini bereaksi terhadap bising itu.411

Sebagaimana telah kita lihat, sangat mungkin bahwa kita mengesani sebuah dunia luar lewat rangsangan buatan yang dipasok dari luar. Lambang-lambang yang akan Anda kesani dengan kelima indera Anda memadai untuk hal ini. Selain dari lambang-lambang ini, tiada lagi yang tersisa dari dunia luar.

Memang kita sangat mudah disesatkan untuk memercayai kesan-kesan, tanpa kaitan yang hakiki, sebagai nyata. Kita sering mengalami perasaan ini di dalam mimpi kita, tempat kita mengalami banyak kejadian, menemui orang-orang, benda-benda, dan suasana-suasana yang tampak benar-benar nyata. Akan tetapi, semua itu, tanpa kecuali, hanyalah kesan. Tiada perbedaan dasar antara dunia "mimpi" dan "nyata"; keduanya dialami di dalam otak.

beynin algısı

All the images we see in our lives are formed in a part of our brain called the "vision center," which is only a few cubic centimeters in size. Both a small room and a boundless landscape fit into this tiny space. Therefore, what we see is not the true size of what is on the outside, but only the size the brain perceives.

Siapakah Sang Pengesan?

Sebagaimana telah diuraikan sejauh ini, tiada keraguan bahwa dunia yang kita pikir kita tinggali dan kenal sebagai "dunia luar" dikesani di dalam otak kita. Akan tetapi, di sini muncul sebuah pertanyaan yang sangat penting. Apakah kehendak yang menangkap semua kesan ini adalah sang otak sendiri?

Ketika mengurai otak, kita melihat bahwa otak tersusun dari molekul-molekul lemak dan protein, yang juga ada pada organisme-organisme hidup lain. Sebagaimana telah diketahui, intisari protein-protein ini sebenarnya adalah atom-atom. Ini berarti di dalam sekerat daging yang kita sebut "otak" kita, tak ada sesuatu untuk mengamati citra, membentuk kesadaran, atau menciptakan suatu wujud yang kita sebut "diriku."

R.L. Gregory merujuk ke kekeliruan yang dibuat orang terkait dengan citra-citra di otak:

Ada godaan, yang harus dihindari, untuk mengatakan bahwa mata menghasilkan gambar-gambar di dalam otak. Sebuah gambar di dalam otak menggagaskan adanya kebutuhan akan semacam mata dalam (internal) untuk melihatnya—namun, gambar dari mata kedua akan memerlukan sebuah mata lagi untuk melihatnya.. dan seterusnya, dalam suatu pusaran tak berujung mata dan gambar. Ini tak masuk akal.412

Inilah hal yang menempatkan para materialis, yang tak memercayai apa pun sebagai benar selain materi, ke dalam kebingungan: milik siapakah "mata di dalam" yang melihat, yang menafsirkan apa yang dilihatnya dan menanggapinya?

Karl Pribram juga memusatkan perhatian ke pertanyaan penting ini, tentang siapakah sang pengesan, di dalam dunia ilmiah dan filsafat:

Para filsuf sejak zaman Yunani telah menduga-duga tentang "hantu" di dalam mesin, "manusia kecil di dalam manusia kecil," dst. Di manakah sang saya—benda yang menggunakan otak ini? Siapakah yang melakukan pengenalan yang sebenarnya? Atau, sebagaimana pernah dikatakan St. Fransiskus dari Assisi, "Yang sedang kita cari adalah yang sedang mencari."413

Sekarang, renungkan hal ini: buku yang ada di tangan Anda, ruangan tempat Anda berada, singkatnya, semua citra di hadapan Anda terlihat di dalam otak Anda. Apakah atom-atom yang melihat semua citra ini? Atom-atom yang buta, bisu, dan tak sadar? Bagaimanakah atom-atom yang mati dan tak sadar merasakan, bagaimanakah atom-atom melihat? Mengapakah sebagian atom memperoleh sifat-sifat ini sementara sebagian lain tidak? Apakah tindakan-tindakan kita berpikir, memahami, mengingat, merasa gembira, merasa sedih, dan semua lainnya tersusun dari reaksi-reaksi elektrokimiawi di antara atom-atom ini? Tidak, otak tak bisa menjadi kehendak yang melakukan semua ini.

Dalam ruas-ruas sebelumnya, kami telah mengemukakan bahwa tubuh kita juga termasuk di dalam kumpulan kesan yang kita sebut "dunia luar." Maka, karena otak kita bagian dari tubuh kita, ia juga bagian dari kumpulan kesan itu. Karena otak kita sendiri suatu kesan, otak tak mungkin menjadi kehendak yang menangkap kesan-kesan lainnya.

Di dalam bukunya, The ABC of Relativity (Serba-Serbi Kenisbian), Bertrand Russel memusatkan perhatian kepada masalah ini dengan mengatakan:

Tentu saja, jika materi secara umum harus diartikan sebagai sekumpulan peristiwa, ini harus juga berlaku bagi mata, syaraf penglihatan, dan otak.414

Jelaslah bahwa wujud yang melihat, mendengar, menyentuh, dan merasakan wujud yang adiwujud (supramaterial). Karena materi tidak bisa berpikir, merasa, bersenang, atau bersedih. Mustahil melakukan semua ini hanya dengan tubuh saja. Oleh karena itu, wujud ini bukan materi, bukan juga citra, namun "hidup." Wujud ini bertutur kepada "layar" di depannya menggunakan citra tubuh kita.

nöron, sinir hücresi atom

The brain is a heap of cells made up of protein and fat molecules. It is formed of nerve cells called neurons (left). It is not, of course, the neurons that give rise to consciousness. What we encounter when we examine the structure of neurons is atoms. (right) And it is certainly impossible for unconscious atoms to give rise to consciousness. There is no power in this piece of meat, called the brain, to observe the images, to constitute consciousness, or to create the being we call "myself."

Sebuah contoh tentang mimpi akan menerangkan lebih jauh masalah ini. Bayangkanlah (sesuai dengan yang telah diuraikan sejauh ini) bahwa kita melihat mimpi di dalam otak kita. Di dalam mimpi, kita memiliki sesosok tubuh khayalan, sebelah lengan khayalan, sebiji mata khayalan, dan sebuah otak khayalan. Jika selama mimpi, kita ditanya, "Di manakah Anda melihat?" kita akan menjawab, "Saya melihat di dalam otak saya." Jika kita ditanya di manakah dan seperti apakah otak kita, kita akan memegang kepala khayalan kita pada tubuh khayalan kita dengan tangan khayalan kita dan mengatakan, "Otak saya adalah sebongkah daging di dalam kepala saya yang bobotnya tak lebih dari satu kilo."

Namun, sebenarnya tidak ada otak apa pun untuk dibahas, melainkan sebuah kepala khayalan dan sebuah otak khayalan. Si pemandang citra-citra ini bukanlah otak khayalan di dalam mimpi, namun "wujud" yang jauh "mengunggulinya."

Kita mengetahui bahwa tak ada perbedaan fisik antara suasana sebuah mimpi dan suasana yang kita sebut kehidupan nyata. Jadi, ketika kita disodori pertanyaan di atas di dalam suasana yang kita sebut kehidupan nyata: "Di manakah Anda melihat?", akan sama tanpa maknanya untuk menjawab "di dalam otak saya" sebagaimana di dalam contoh di atas. Pada kedua keadaan, benda yang melihat dan mengesani bukanlah otak, yang bagaimana pun cuma sebongkah daging. Menyadari fakta ini, Bergson mengatakan di dalam bukunya, Matter and Memory (Materi dan Ingatan), secara ringkas, bahwa, "Dunia tersusun dari citra-citra, citra-citra ini hanya ada di dalam kesadaran kita; dan otak salah satu dari citra-citra itu."415

Maka, karena otak kita bagian dari dunia luar, harus ada kehendak yang mengesani semua citra ini. Wujud itu adalah "jiwa."

Kumpulan kesan yang kta sebut "dunia materi" tak lebih dari sebuah mimpi yang diamati oleh jiwa ini. Sama seperti tubuh yang kita miliki dan dunia materi yang kita lihat di dalam mimpi tak memiliki kenyataan, alam semesta yang kita diami dan tubuh yang kita miliki juga tak memiliki kenyataan hakiki. Filsuf terkenal Inggris David Hume mengungkapkan pemikirannya tentang fakta ini:

Di sisi saya, ketika sedalam-dalamnya memasuki yang saya sebut diri saya, selalu saya terantuk pada satu atau lain kesan tertentu, panas atau dingin, terang atau suram, cinta atau benci, duka atau suka. Kapan pun tak pernah saya dapat menangkap diri saya tanpa sebuah kesan, dan tak pernah saya dapat mengamati sesuatu selain kesan.416

Wujud yang nyata itu adalah jiwa. Materi semata-mata terdiri dari kesan yang terlihat jiwa. Wujud cerdas yang menulis dan membaca kalimat ini bukanlah sekumpulan atom dan molekul dan reaksi kimia di antara keduanya, namun sesosok "jiwa."

Wujud Mutlak yang Nyata

Semua fakta ini membawa kita berhadapan dengan sebuah pertanyaan yang sangat penting. Jika benda yang kita akui sebagai dunia hakiki semata-mata terdiri dari kesan-kesan yang dilihat oleh jiwa kita, lalu apakah sumber kesan-kesan ini?

Dalam menjawab pertanyaan ini, kita harus memikirkan yang berikut: materi tak memiliki keberadaan dengan kuasanya sendiri. Karena sebuah kesan, materi adalah sesuatu "yang dibuat." Yakni, kesan ini harus disebabkan oleh kekuasaan lain, yang berarti bahwa materi harus diciptakan. Lebih lagi, penciptaan ini harus sinambung. Jika tidak ada penciptaan yang sinambung dan tetap, maka yang kita sebut materi akan menghilang dan lenyap. Ini bisa disamakan dengan layar televisi tempat sebuah gambar ditayangkan selama gelombangnya terus dipancarkan. Jadi, siapakah yang membuat jiwa kita melihat bintang-gemintang, bumi, tetumbuhan, manusia, tubuh kita, dan segala sesuatu yang kita lihat?

Nyatalah bahwa ada sesosok Pencipta, Yang menciptakan seluruh alam materi, yakni, himpunan kesan, dan melanjutkan penciptaanNya tanpa henti. Karena Pencipta ini memperlihatkan penciptaan yang demikian luar biasa, Ia pastilah memiliki kekuasaan dan kekuatan yang kekal.

Pencipta ini mengenalkan diriNya kepada kita. Ia menurunkan sebuah kitab dan lewat kitab ini telah menguraikan diriNya, alam semesta, dan tujuan keberadaan kita.

Pencipta ini adalah Allah dan nama kitabnya adalah Al Qur'an.

Fakta-fakta bahwa langit dan bumi, yakni, alam semesta tidak baka, bahwa keberadaan semua itu hanya mungkin karena Allah menciptakannya dan bahwa semua itu akan lenyap ketika Ia mengakhiri penciptaan ini, semuanya dijelaskan di dalam sebuah ayat sebagai berikut:

Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh, jika keduanya akan lenyap, tak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir, 35: 41)

Sebagaimana kami sebutkan di awal, sebagian orang tidak memiliki pemahaman yang murni tentang Allah dan karena itu membayangkan Allah sebagai suatu wujud yang ada di suatu tempat di langit dan tak benar-benar mencampuri urusan duniawi. Landasan penalaran ini sebenarnya terletak pada gagasan bahwa alam semesta ini sebuah kumpulan materi dan Allah ada "di luar" dunia materi ini, di suatu tempat nun jauh.

Akan tetapi, sebagaimana telah kami uraikan sejauh ini, materi tersusun hanya dari kesan-kesan. Dan satu-satunya wujud mutlak yang nyata adalah Allah. Ini berarti hanya Allah yang ada; segala sesuatu selain Dia hanyalah wujud-wujud semu. Akibatnya, mustahil memahami Allah sebagai terpisah dan di luar seluruh kumpulan materi ini. Sebab, sebenarnya tak ada sesuatu yang disebut materi dalam hal kewujudan. Allah pasti "di mana-mana" dan meliputi segala sesuatu. Keniscayaan ini dijelaskan di dalam Al Qur'an sebagai berikut:

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhlukNya); tidak mengantuk dan tidak tidur. KepunyaanNya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izinNya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al Baqarah, 2: 255)

Karena masing-masing wujud material itu sebuah kesan, semua wujud itu tak bisa melihat Allah; tetapi Allah melihat materi yang Dia ciptakan dengan segala bentuknya. Di dalam Al Qur'an, hal ini disebutkan demikian: "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan." (QS. Al An'âm, 6: 103)

Dengan kata lain, kita tak bisa memahami wujud Allah dengan mata kita, tetapi Allah sepenuhnya meliputi sisi dalam, sisi luar, penglihatan, dan pikiran kita. Karena itu, Allah berfirman bahwa "Dialah yang mengendalikan pendengaran dan penglihatan." (QS. Yunus, 10: 31) Kita tak dapat mengucapkan sepatah kata pun tanpa sepengetahuanNya, bahkan tidak juga kita dapat bernapas.

Ketika kita menyaksikan kesan-kesan inderawi dalam perjalanan hidup kita, wujud terdekat dengan kita bukanlah salah satu kesan ini. Ayat Al Qur'an berikut ini menegaskan keniscayaan ini: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS. Qâf, 50: 16) Ketika seseorang berpikir bahwa tubuhnya hanya tersusun dari "materi," ia tak mampu memahami fakta penting ini. Jika ia menganggap otaknya adalah "dirinya," maka tempat yang dianggapnya sisi luar adalah 20-30 cm darinya. Menurut penalaran ini, tiada yang bisa lebih dekat baginya daripada urat lehernya. Akan tetapi, jika ia memahami bahwa tak ada sesuatu pun yang disebut materi, dan segala sesuatu sekadar khayalan, gagasan-gagasan seperti sisi luar, sisi dalam, jauh atau dekat, kehilangan makna. Allah meliputi dirinya dan "amat sangat dekat" dengannya.

Allah mengabari manusia bahwa Ia "amat sangat dekat" dengannya di dalam ayat: "Maka apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat (dengan mereka)." (QS. Al Baqarah, 2: 186) Ayat lain menuturkan fakta yang sama: "Dan (ingatlah), ketika Kami mewahyukan kepadamu, 'Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.'" (QS. Al Isrâ, 17: 60) Akan tetapi, manusia disesatkan dengan berpikir bahwa wujud terdekat dengannya adalah dirinya sendiri. Sebenarnya, Allah bahkan lebih dekat dengan kita daripada diri kita sendiri.

Dia telah menarik perhatian kita ke masalah ini dalam ayat: "Maka, mengapakah ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripadamu, tetapi kamu tidak melihat?" (QS. Al Wâqi'ah, 56: 83-85)

Satu-satunya kesimpulan yang dapat diambil dari keseluruhan fakta yang disajikan di sini adalah satu-satunya wujud yang mutlak dan nyata adalah Allah. Dengan pengetahuanNya, Allah meliputi manusia, yang merupakan wujud semu, maupun juga semua yang lainnya.

Yang sebaliknya berlaku bagi manusia, yang bukan sesuatu melainkan wujud semu, dan yang demikian bergantung kepada Allah, bahwa mustahil baginya memiliki kekuatan atau kehendak sendiri: "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah." (QS. Al Insân, 76: 30) Ayat lain yang menunjukkan bahwa semua yang kita alami terjadi atas izin Allah terbaca: "Padahal Allah-lah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu." (QS. Ash Shâffaat, 37: 96) Di dalam Al Qur'an, kenyataan ini disebutkan pada banyak ayat dan dengan ayat "Bukan kamu yang melempar ketika melempar, tetapi Allah-lah yang melempar." (QS. Al Anfâl, 8: 17), ditekankan bahwa tidak ada perbuatan yang lepas dari Allah.

Inilah kenyataannya. Seseorang mungkin tak ingin mengakuinya dan memikirkan dirinya sebagai sesosok wujud yang tak bergantung kepada Allah; namun hal ini tak berpengaruh apa-apa. Tentu saja, penolakannya yang tak bijaksana ini lagi-lagi atas kehendak dan keinginan Allah. Di dalam Al Qur'an, fakta ini diterangkan demikian:

Maka, apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepadaNya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (QS. Ali Imran, 3: 83)

Kesimpulan

Masalah yang telah kami jelaskan sejauh ini adalah salah satu kebenaran terbesar yang pernah Anda terima di dalam kehidupan Anda. Anda dapat menyelidiki lebih jauh lagi lewat perenungan pribadi. Karena itu, Anda harus memusatkan pikiran, mencurahkan perhatian, dan merenungkan cara melilhat pada benda-benda di sekitar Anda, serta cara Anda merasakan sentuhannya. Jika Anda berpikir dengan penuh perhatian, Anda bisa merasakan bahwa wujud cerdas yang melihat, mendengar, menyentuh, berpikir, dan membaca buku ini pada saat ini hanyalah sesosok jiwa, yang menyaksikan kesan-kesan yang disebut "materi" pada sebuah layar. Seseorang yang memahami hal ini dianggap telah menjauhi alam materi yang memperdaya sebagian besar manusia, dan memasuki alam keberadaan sejati.

Keniscayaan ini telah dipahami sejumlah agamawan dan filsuf sepanjang sejarah. Kaum cendekiawan Islam seperti Imam Rabbani, Muhyidin Ibn al 'Arabi, dan Maulana Jami menyadari hal ini dari ayat-ayat Al Qur'an dan lewat menggunakan penalaran mereka. Beberapa filsuf barat seperti George Berkeley telah menangkap kenyataan yang sama lewat penalaran. Imam Rabbani menulis di dalam kitab Maktubat (Surat-Surat) bahwa keseluruhan alam materi adalah sebuah "khayalan dan kesan" dan bahwa wujud yang mutlak adalah Allah:

Allah… hakikat wujud-wujud yang Ia ciptakan semata-mata ketiadaan… Ia menciptakan semua yang ada di dalam ruang kesan dan khayalan… Keberadaan alam semesta adalah di dalam ruang kesan dan khayalan, dan tidak hakiki… Dalam kenyataan, tak ada apa-apa di luar kecuali Sang Wujud Agung (Ialah Allah).417

Maulana Jami mengatakan fakta yang sama, yang ditemukannya dari mengikuti tanda-tanda Al Qur'an dan menggunakan kecerdikannya: "Semua gejala alam semesta adalah kesan dan khayalan. Semua itu seperti pantulan di dalam cermin alias bayang-bayang."

Akan tetapi, jumlah mereka yang telah memahami fakta ini sepanjang sejarah selalu terbatas. Ulama-ulama besar seperti Imam Rabbani menulis bahwa mungkin tidak bijaksana untuk menyampaikan fakta ini kepada masyarakat umum karena sebagian besar orang tak mampu memahaminya.

Di masa kita hidup ini, hal itu telah ditegaskan sebagai sebuah fakta empiris oleh serangkaian petunjuk yang diajukan ilmu pengetahuan. Fakta bahwa alam semesta itu sesosok wujud semu diuraikan kali pertama dalam sejarah dengan cara yang demikian nyata, jelas, dan gamblang.

Karena alasan ini, abad ke-21 akan menjadi titik balik sejarah, ketika masyarakat secara umum memahami keniscayaan-keniscayaan ilahiah dan dibimbing beramai-ramai kepadaNya, satu-satunya Wujud yang Mutlak. Kepercayaan-kepercayaan materialistik abad ke-19 akan dilemparkan ke onggokan sampah sejarah, kewujudan dan penciptaan Allah akan diterima, ketiadaan ruang dan waktu akan dipahami; manusia, singkatnya, akan menyibakkan tabir, penipuan, dan takhayul yang berumur berabad-abad dan telah membingungkan mereka.

Mustahil jalan yang tak terelakkan ini dihalangi oleh wujud semu apa pun.

 

Catatan Kaki

391 R. L. Gregory, Eye and Brain: The Psychology of Seeing, Oxford University Press Inc. New York, 1990, p.9.

392 Lincoln Barnett, The Universe and Dr.Einstein, William Sloane Associate, New York, 1948, p.20.

393 Orhan Hancerlioglu, Dusunce Tarihi (The History of Thought), Istanbul: Remzi Bookstore, 6.ed., September 1995, p.447.

394 V.I.Lenin, Materialism and Empirio-criticism, Progress Publishers, Moscow, 1970, p.14.

395 Bertrand Russell, ABC of Relativity, George Allen and Unwin, London, 1964, pp.161-162.

396 R.L.Gregory, Eye and Brain: The Psychology of Seeing, Oxford University Press Inc. New York, 1990, p.9.

397 Ken Wilber, Holographic Paradigm and Other Paradoxes, p.20.

398 George Politzer, Principes Fondamentaux de Philosophie, Editions Sociales, Paris 1954, p.53.

399 Orhan Hancerlioglu, Dusunce Tarihi (The History of Thought), Istanbul: Remzi Bookstore, 6.ed., September 1995, p.261.

400 George Politzer, Principes Fondamentaux de Philosophie, Editions Sociales, Paris 1954, p.65.

401 Rennan Pekunlu, "Aldatmacanin Evrimsizligi", (Non-Evolution of Deceit), Bilim ve Utopya, December 1998 (V.I.Lenin, Materialism and Empirio-criticism, Progress Publishers, Moscow, 1970, pp.334-335).

402 Alaettin Senel, "Evrim Aldatmacasi mi?, Devrin Aldatmacasi mi?", (Evolution Deceit or Deceit of the Epoch?), Bilim ve Utopya, December 1998.

18 / total 19
Anda dapat membaca buku Harun Yahya Darwinisme Terbantahkan secara online, berbagi pada jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter, download di komputer Anda, menggunakannya untuk pekerjaan rumah Anda dan tesis, dan mempublikasikan, menyalin atau memperbanyak pada website atau blog Anda sendiri tanpa perlu membayar biaya hak cipta apapun, selama Anda mengakui situs ini sebagai referensi.
Presentasi| tentang situs ini | Buat homepage Anda | tambahkan ke favorit | RSS Feed
Semua materi dapat dikopi,dicetak, dan didistribusikan berdasarkan situs ini
(c) All publication rights of the personal photos of Mr. Adnan Oktar that are present in our website and in all other Harun Yahya works belong to Global Publication Ltd. Co. They cannot be used or published without prior consent even if used partially.
© 1994 Harun Yahya. www.harunyahya.com
page_top