< <
19 / total: 19

Ketiadaan Waktu dan Hakikat Takdir

Semua yang diuraikan sejauh ini menunjukkan bahwa "ruang tiga dimensi" pada hakikatnya tidak ada, bahwa ruang itu sebuah prasangka yang sepenuhnya dibangun di atas kesan-kesan dan bahwa seseorang menjalani seluruh hidupnya di dalam "ketiadaan ruang." Sebab, tidak ada bukti yang sah tentang keberadaan dunia materi tiga-dimensi. Alam semesta yang kita huni adalah sekumpulan citra yang tersusun dari permainan cahaya dan bayangan. Mengatakan yang sebaliknya berarti menganut kepercayaan takhayul yang jauh tercerai dari nalar dan kebenaran ilmiah.

Ini membantah anggapan utama filsafat materialis, yakni, bahwa materi mutlak dan abadi. Anggapan kedua, di atas mana filsafat materialistik berdiri, adalah anggapan bahwa waktu mutlak dan abadi. Ini sama takhayulnya dengan yang pertama.

Kesan Tentang Waktu

tokalaşma, zaman algısı

The perception of time comes with comparing one moment to another. For example, we think that a period of time elapses between two people holding out their hands and then shaking them.

Yang kita kesani sebagai waktu sebenarnya sebuah cara membandingkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Hal ini bisa dijelaskan dengan sebuah contoh. Misalnya, ketika menepuk sebuah benda, seseorang mendengar suara tertentu. Ketika menepuk benda yang sama lima menit kemudian, ia mendengar suara lagi. Ia mengesani bahwa ada jeda antara suara pertama dan kedua, dan menyebut jeda ini "waktu." Namun, pada saat mendengar suara kedua, suara pertama yang didengarnya tak lebih sebuah pembayangan mental. Suara itu sekadar sekeping informasi di benaknya. Orang merumuskan konsep "waktu" dengan membandingkan peristiwa yang dialaminya dengan peristiwa di dalam ingatannya. Jika pembandingan ini tak dilakukan, tidak akan ada konsep waktu.

Serupa itu, penghuni sebuah ruangan membuat perbandingan ketika melihat seseorang masuk melalui sebilah pintu dan duduk di sebuah kursi bersandaran tangan di tengah ruangan. Pada saat si pendatang baru duduk di kursi, citra-citra yang terkait dengan peristiwa-peristiwa ia membuka pintu, masuk ke ruangan, dan berjalan ke kursi disusun sebagai keping-keping informasi di dalam otak orang pertama. Kesan waktu terjadi ketika membandingkan orang yang duduk di kursi dengan keping-keping informasi itu.

Singkatnya, waktu menjadi ada sebagai hasil pembandingan yang dibuat di antara sejumlah khayalan yang disimpan di otak. Jika orang tak memiliki ingatan, otaknya tak akan membuat tafsiran-tafsiran yang demikian dan oleh karena itu tak akan pernah membentuk konsep waktu. Satu-satunya alasan mengapa seseorang menetapkan bahwa dirinya berumur 30 tahun adalah karena telah menimbun informasi yang terkait dengan 30 tahun itu di benaknya. Jika ingatannya tidak ada, maka ia tak akan berpikir tentang keberadaan masa sebelumnya, dan hanya akan mengalami satu "peristiwa" saja di dalam hidupnya—dan hal ini sangat penting.

Penjelasan Ilmiah Tentang Kekekalan

zaman, saat

Time is a concept entirely contingent on the perceiver. While a certain time period seems long for one person, it may seem short for another. In order to understand which one is right, we need sources such as clocks and calendars. It is impossible to make correct judgments about time without them.

Izinkan kami menjelaskan masalah ini dengan mengutip berbagai penjelasan ilmuwan dan cendekiawan di bidang ini. Tentang masalah waktu yang mengalir mundur, seorang cendekiawan terkenal sekaligus profesor genetika pemenang Nobel, François Jacob, menyatakan yang berikut di dalam bukunya Le Jeu des Possibles (Yang Mungkin dan Yang Nyata):

Film-film yang diputar mundur memungkinkan kita membayangkan sebuah dunia dengan waktu berjalan mundur. Sebuah dunia dengan susu memisahkan diri dari kopi dan melompat keluar cangkir untuk mencapai periuk susu; sebuah dunia dengan gelombang cahaya dipancarkan dari tembok-tembok untuk dikumpulkan di sebuah perangkap (pusat gravitasi), bukannya disebarkan dari sebuah sumber cahaya; sebuah dunia dengan sebuah batu mendaki ke telapak tangan seorang laki-laki melalui kerjasama mencengangkan tak terhitung tetesan air yang memungkinkan batu melompat keluar air. Namun, di dalam dunia seperti itu dengan waktu memiliki sifat-sifat demikian berlawanan, proses-proses otak kita dan cara ingatan kita menyusun informasi, akan sama-sama berfungsi mundur. Hal ini juga benar bagi masa lalu dan masa depan, dan dunia akan tampak bagi kita persis sebagaimana ia tampak saat ini.418

Karena otak kita terbiasa ke urutan tertentu peristiwa, dunia tidak bekerja sebagaimana dijelaskan di atas dan kita menganggap bahwa waktu selalu mengalir ke depan. Akan tetapi, ini sebuah keputusan yang diambil di otak dan bersifat nisbi (relatif). Jika saja keping-keping informasi di dalam ingatan kita disusun seperti dalam film-film yang diputar terbalik, bagi kita, aliran waktu akan seperti dalam film-film ini. Dalam keadaan seperti ini, kita akan mulai mengesani masa lalu sebagai masa depan, dan masa depan sebagai masa lalu, dan menjalani kehidupan kita di dalam urutan yang sepenuhnya terbalik.

Dalam kenyataan, kita tak pernah dapat mengetahui bagaimanakah waktu mengalir atau bahkan benarkah waktu mengalir. Inilah sebuah tanda dari fakta bahwa waktu bukan sesuatu yang mutlak, tetapi sekadar semacam kesan.

Kenisbian (relatifitas) waktu adalah sebuah fakta yang juga dibuktikan oleh seorang fisikawan terpenting abad ke-20, Albert Einstein. Lincoln Barnett menulis di dalam bukunya The Universe and Dr. Einstein (Alam Semesta dan Doktor Einstein):

Bersama-sama dengan ruang mutlak, Einstein membuang konsep waktu mutlak—tentang sebuah aliran waktu universal (menjagat) yang tetap, tak berubah, tak terhentikan, yang mengalir dari masa lalu yang tak hingga ke masa depan yang tak hingga. Banyak ketakjelasan seputar Teori Relatifitas berawal dari keengganan manusia mengakui bahwa rasa waktu, seperti rasa warna, adalah sebentuk kesan. Sama seperti ruang adalah sekadar suatu penataan yang mungkin dari sekumpulan benda, begitu juga waktu adalah sekadar pengurutan yang mungkin dari sekumpulan peristiwa. Sifat perorangan (subjektif) waktu paling baik dijelaskan dengan kata-kata Einstein sendiri. "Pengalaman-pengalaman seseorang," kata Einstein, "tampak bagi kita tersusun di dalam serangkaian peristiwa; di dalam rangkaian peristiwa ini, kejadian tunggal yang kita ingat tampak terurut sesuai dengan pemilah 'lebih dulu' dan 'lebih nanti'. Karena itu, ada bagi seseorang, waktu-saya, atau waktu perorangan. Waktu ini sendiri tak dapat diukur. Malah, saya bisa mengaitkan angka-angka dengan peristiwa-peristiwa, dengan cara sedemikian sehingga angka yang lebih besar dikaitkan dengan peristiwa yang lebih nanti, bukannya yang lebih dulu."419

Kata-kata Einstein mengisyaratkan bahwa gagasan waktu yang berjalan maju tak lebih dari pembiasaan diri.

Einstein sendiri menyatakan, sebagaimana dikutip di dalam buku Barnett: "Ruang dan waktu adalah bentuk-bentuk gerak nurani (intuisi), yang tak terceraikan dari kesadaran lebih daripada konsep-konsep kita tentang warna, bentuk atau ukuran." Menurut Teori Relatifitas Umum: "Waktu tak memiliki keberadaan yang terpisah dari urutan peristiwa dengan mana kita mengukurnya."420

Karena didasarkan pada kesan, waktu sepenuhnya bergantung kepada si pengesan dan karena itu nisbi.

Laju waktu mengalir berbeda-beda menurut acuan yang kita gunakan untuk mengukurnya, sebab tak ada jam alamiah di dalam tubuh manusia yang menandai secara cermat seberapa cepat waktu berlalu. Seperti yang ditulis oleh Lincoln Barnett: "Sama seperti tiada sesuatu yang seperti warna jika tak ada mata untuk mencernanya, maka, seketika atau satu jam atau satu hari bukan apa-apa tanpa satu peristiwa untuk menandainya."421

Kenisbian waktu dengan mudah kita alami di dalam mimpi. Meskipun yang kita lihat di dalam mimpi tampak berlangsung berjam-jam, nyatanya semua itu berlangsung hanya beberapa menit, dan bahkan beberapa detik.

Mari kita pikirkan tentang sebuah contoh untuk memperjelas masalah ini. Anggaplah bahwa kita ditempatkan di sebuah ruangan dengan sebuah jendela yang dirancang khusus dan kita dikurung di sana selama beberapa saat. Sebuah jam di ruangan memungkinkan kita melihat jumlah waktu yang telah berlalu. Pada saat bersamaan, kita juga bisa melihat dari jendela matahari terbit dan terbenam pada selang tertentu. Beberapa hari kemudian, jawaban yang akan kita berikan atas pertanyaan tentang lamanya waktu yang telah kita habiskan di dalam ruangan akan didasarkan pada informasi yang kita kumpulkan dengan melihat jam dari waktu ke waktu dan pada perhitungan yang kita buat dengan mengacu ke berapa kali matahari terbit dan terbenam. Anggaplah, kita memperkirakan telah melewatkan tiga hari di dalam ruangan itu. Akan tetapi, jika orang yang menempatkan kita di ruangan itu berkata bahwa kita menghabiskan hanya dua hari di sana, bahwa matahari yang kita lihat dari jendela dihasilkan secara buatan dengan sebuah mesin peniru, dan bahwa jam di ruangan diatur khusus agar berdetak lebih cepat, maka perhitungan yang telah kita buat menjadi tak berarti.

Contoh ini menegaskan bahwa informasi yang kita miliki tentang laju perjalanan waktu didasarkan pada pada acuan yang nisbi.

Dengan cara yang sama, fakta bahwa setiap orang mengesani laju aliran waktu berbeda pada suasana berbeda merupakan petunjuk bahwa waktu tak lebih dari kesan psikologis. Misalnya, ketika Anda harus bertemu seorang sahabat, keterlambatan 10 menit sang sahabat tampak bagi Anda seperti tiada akhir, atau setidaknya, suatu waktu yang amat lama. Atau, bagi orang yang kurang tidur karena harus bangun untuk pergi bersekolah atau bekerja, tambahan tidur 10 menit mungkin terasa sangat lama. Dia bahkan mungkin akan berpikir telah menuntaskan tidurnya dalam 10 menit itu. Pada beberapa keadaan, yang sebaliknya terjadi. Seperti yang Anda ingat dari tahun-tahun sekolah Anda, setelah 40 menit pelajaran yang terasa bagaikan seabad, istirahat sepuluh menit mungkin tampak sangat cepat berlalu.

Kenisbian waktu adalah sebuah fakta ilmiah yang juga dibuktikan oleh metodologi ilmiah. Teori Relatifitas Umum Einstein menyebutkan bahwa laju waktu berubah bergantung pada laju benda dan kedudukannya di dalam medan gravitasi. Sambil laju meningkat, waktu memendek dan mengerut, melambat seakan sedang menuju titik "henti."

Mari kita perjelas hal ini dengan sebuah contoh yang diberikan oleh Einstein. Bayangkanlah dua orang kembar, yang satu tinggal di bumi dan yang lainnya pergi menjelajah ruang angkasa dengan laju yang mendekati laju cahaya. Ketika kembali, si penjelajah ini akan melihat bahwa saudara kembarnya telah tumbuh jauh lebih tua daripada dirinya. Alasannya adalah waktu mengalir lebih lambat bagi seseorang yang berjalan dengan laju yang mendekati laju cahaya. Yang sama juga terjadi pada seorang ayah yang menjelajahi ruang angkasa dalam sebuah roket, dengan laju yang mendekati 99 persen laju cahaya, dan putranya yang tinggal di bumi. Jika si ayah berumur 27 tahun ketika memulai penjelajahannya dan putranya 3 tahun; ketika si ayah kembali ke bumi 30 tahun kemudian (waktu bumi), putranya akan berusia 33 tahun sementara ia hanya 30 tahun.422

Kenisbian waktu ini bukan disebabkan oleh perlambatan atau percepatan jam, atau perlambatan sebuah pegas mekanis. Ini hasil perbedaan masa kerja keseluruhan sistem yang ada secara material, yang berlangsung sampai ke taraf partikel subatomis. Dengan kata lain, bagi yang mengalaminya, pemendekan waktu tidak dirasakan seakan-akan berjalan pada sebuah film gerak lambat. Dalam suasana dengan waktu memendek, detak jantung, penggandaan sel, dan fungsi otak, dll. seseorang, semuanya bekerja lebih lamban. Meskipun demikian, ia tetap menjalani kehidupan sehari-harinya dan sama sekali tak melihat pemendekan waktu.

Fakta-fakta yang diungkapkan Teori Relatifitas ini telah diperiksa beberapa kali oleh banyak ilmuwan. Di dalam bukunya yang berjudul Frontiers (Perbatasan), Isaac Asimov, juga menyatakan bahwa sudah 84 tahun sejak pengumuman Teori Relatifitas Einstein, dan setiap kali teori diuji, Einstein terbukti benar sekali lagi.423

Kenisbian Di Dalam Al Qur'an

Kesimpulan ke arah mana kita dipandu oleh temuan-temuan ilmiah mutakhir adalah bahwa waktu bukan fakta mutlak sebagaimana yang dianggap kaum materialis, tetapi hanyalah sebuah kesan yang nisbi. Yang paling menarik adalah bahwa fakta yang tak terungkapkan hingga abad ke-20 oleh ilmu pengetahuan ini telah disingkapkan kepada manusia di dalam Al Qur'an sejak 14 abad yang lalu. Ada berbagai rujukan di dalam Al Qur'an tentang kenisbian waktu.

Mudah menemukan di dalam banyak ayat Al Qur'an fakta yang secara ilmiah terbukti bahwa waktu itu sebuah kesan psikologis yang bergantung pada peristiwa, suasana, dan keadaan. Misalnya, seluruh kehidupan seseorang adalah suatu masa yang sangat pendek, sebagaimana disampaikan Al Qur'an kepada kita:

Yaitu pada hari Dia memanggilmu, lalu kamu mematuhiNya sambil memujiNya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja. (QS. Al Isrâ, 17: 52)

Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan satu sama lain. (QS. Yunus, 10: 45)

Beberapa ayat mengisyaratkan bahwa manusia berbeda-beda dalam mengesani waktu, dan kadangkala dapat merasakan suatu masa yang amat pendek sebagai amat lama:

Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab: "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung." Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui." (QS. Al Mu'minûn, 23: 112-114)

Dalam beberapa ayat yang lain, Allah berfirman bahwa waktu bisa mengalir dengan laju berbeda pada suasana yang berlainan:

... Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu sama dengan seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS. Al Hajj, 22: 47)

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. (QS. Al Ma'ârij, 70: 4)

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS. As Sajdah, 32: 5)

Ayat-ayat ini adalah ungkapan jelas tentang kenisbian waktu. Bahwa temuan ini, yang baru-baru saja dipahami oleh para ilmuwan di abad ke-20, disampaikan kepada manusia sejak 1.400 tahun yang lalu di dalam Al Qur'an adalah sebuah isyarat pewahyuan Al Qur'an oleh Allah, Yang meliputi segenap waktu dan ruang.

Banyak ayat lain di dalam Al Qur'an yang mengungkapkan bahwa waktu itu sebuah kesan. Keadaan yang diuraikan pada ayat di bawah ini yang juga petunjuk bahwa waktu sebenarnya sebuah kesan psikologis.

Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata, "Bagaimanakah Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?" Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: "Berapa lamakah kamu tinggal di sini?" Ia menjawab: "Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari." Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikanmu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging." Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati), ia pun berkata: "Aku yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al Baqarah, 2: 259)

Ayat di atas dengan jelas menekankan bahwa Allah, Yang menciptakan waktu, tidak terikat olehnya. Di sisi lain, manusia terikat oleh waktu, sebagaimana ditakdirkan oleh Allah. Seperti di dalam ayat itu, manusia bahkan tak mampu mengetahui berapa lama ia telah tertidur. Karena itu, menyatakan bahwa waktu itu mutlak (sebagaimana dilakukan para materialis dengan pemikiran menyimpang mereka) sangat tak beralasan.

Takdir

Kenisbian waktu menjernihkan sebuah masalah yang sangat penting. Kenisbian begitu beragam sehingga masa yang kita alami milliaran tahun lamanya mungkin berlangsung hanya sedetik dari sudut pandang lain. Lebih lagi, suatu masa waktu yang sangat lama, mulai dari awal dunia hingga akhir zaman, mungkin berlangsung seketika di dalam dimensi lain.

Inilah hakikat sejati konsep takdir—sebuah konsep yang tidak dimengerti dengan baik oleh kebanyakan orang, khususnya para materialis yang menolaknya sepenuhnya. Takdir adalah pengetahuan sempurna Allah tentang semua peristiwa masa lalu atau masa depan. Sebagian besar manusia mempertanyakan cara Allah bisa mengetahui peristiwa-peristiwa yang belum dialami dan hal ini membawa mereka ke kekeliruan memahami kebenaran takdir. Akan tetapi, "peristiwa-peristiwa yang belum dialami" hanya berlaku bagi kita. Allah tidak terikat oleh waktu atau ruang, karena Ia yang menciptakan keduanya. Karena alasan ini, masa lalu, masa depan, dan saat ini sama saja bagi Allah; bagiNya segala sesuatu telah terjadi dan selesai.

Di dalam buku The Universe and Dr. Einstein, Lincoln Barnett menjelaskan bagaimana Teori Relatifitas Umum mengarah ke kesimpulan ini. Menurut Barnett, alam semesta dapat "diliputi seluruh keagungannya hanya oleh suatu kecerdasan semesta."424 Kehendak yang disebut Barnett sebagai "kecerdasan semesta" adalah kebijaksanaan dan pengetahuan Allah, Yang mencakup semesta alam. Sama seperti kita dengan mudah bisa melihat pangkal, tengah, dan ujung sebatang mistar, serta semua penanda satuan yang ada di antaranya sebagai satu keseluruhan, Allah mengetahui waktu yang kita alami seakan suatu peristiwa tunggal sejak dari awal hingga akhirnya. Akan tetapi, manusia mengalami peristiwa-peristiwa hanya ketika saatnya tiba dan menyaksikan takdir yang telah diciptakan Allah untuknya.

Juga penting menarik perhatian kepada kedangkalan dari pemahaman menyimpang tentang takdir yang lazim di masyarakat. Kepercayaan menyimpang tentang takdir ini adalah sebuah takhayul bahwa Allah telah menentukan "takdir" bagi tiap-tiap manusia, namun manusia kadang dapat mengubah takdirnya. Misalnya, orang membuat pernyataan dangkal tentang seorang pasien yang bangkit dari sakaratul maut seperti "ia mengalahkan takdirnya." Tak seorang pun mampu mengubah takdirnya. Orang yang bangkit dari sakaratul maut, tidak mati saat itu karena ditakdirkan demikian. Ironisnya, sudah takdir bagi orang-orang yang memperdayakan diri dengan berkata "saya menaklukkan takdir saya" bahwa mereka mesti berkata dan mempertahankan kerangka berpikir yang demikian. Di dalam ayat berikut, "..Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab. Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah." (QS. Fathir, 35: 11), disebutkan bahwa semua hal tak lebih dari takdir. Takdir adalah pengetahuan abadi Allah dan untuk Allah, Yang mengetahui waktu bagaikan satu peristiwa tunggal dan Yang menguasai seluruh ruang dan waktu; segalanya ditentukan dan selesai di dalam takdir.

Kita juga memahami dari yang difirmankanNya di dalam Al Qur'an bahwa waktu adalah satu bagi Allah: beberapa peristiwa yang tampak bagi kita terjadi di masa depan disebutkan dalam Al Qur'an seakan-akan telah terjadi jauh sebelumnya. Misalnya, ayat-ayat yang menguraikan pertanggungjawaban yang harus diberikan kepada Allah di akhirat dituturkan sebagai peristiwa-peristiwa yang terjadi dahulu kala:

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang ada di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, dan tiba-tiba mereka berdiri menunggu! Dan terang-benderanglah bumi (Padang Mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya, dan diberikanlah buku dan didatangkanlah para nabi dan para saksi, dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan… Dan orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahanam berombong-rombongan... Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula)… (QS. Az Zumar, 39: 68-73)

Seperti dapat dilihat, peristiwa-peristiwa yang akan terjadi setelah kita mati (dari sudut pandang kita) diceritakan di dalam Al Qur'an sebagai peristiwa-peristiwa lampau yang telah dialami. Allah tak terikat oleh kerangka waktu nisbi tempat kita terkurung. Allah menghendaki berbagai hal di dalam keabadian: manusia telah menjalani semuanya dan semua peristiwa ini telah dialami dan berakhir. Ia berfirman di dalam ayat di bawah ini bahwa setiap peristiwa, besar atau kecil, adalah sepengetahuan Allah dan dicatat di dalam sebuah buku:

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur'an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarrah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata. (QS. Yunus, 10: 61)

Dengan terbukanya rahasia ini, dunia menjadi seperti surga bagi orang yang beriman. Semua kekhawatiran, kegelisahan, dan ketakutan material yang menyesakkan sirna. Ia memahami bahwa alam semesta memiliki penguasa tunggal, bahwa Dia mengatur seluruh dunia fisik sesukaNya,dan bahwa yang harus dilakukan manusia adalah berpaling kepadaNya. Lalu, ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah "untuk berkhidmat kepadaNya." (QS. Ali Imran, 3: 35)

Memahami rahasia ini adalah keuntungan terbesar di dunia.

Maha Suci Engkau!
Tiada yang kami ketahui selain dari yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(QS. Al Baqarah, 2: 32)

 

Catatan Kaki

403 Francois Jacob, Le Jeu des Possibles, University of Washington Press, 1982, p.111.

404 Lincoln Barnett, The Universe and Dr.Einstein, William Sloane Associate, New York, 1948, pp. 52-53.

405 Ibid., p.17.

406 Ibid., p.58.

407 Paul Strathern, The Big Idea: Einstein and Relativity, Arrow Books, 1997, p. 57.

408 Lincoln Barnett, The Universe and Dr.Einstein, William Sloane Associate, New York, 1948, p.84.

409 Ibid., pp.17-18.

19 / total 19
Anda dapat membaca buku Harun Yahya Darwinisme Terbantahkan secara online, berbagi pada jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter, download di komputer Anda, menggunakannya untuk pekerjaan rumah Anda dan tesis, dan mempublikasikan, menyalin atau memperbanyak pada website atau blog Anda sendiri tanpa perlu membayar biaya hak cipta apapun, selama Anda mengakui situs ini sebagai referensi.
Presentasi| tentang situs ini | Buat homepage Anda | tambahkan ke favorit | RSS Feed
Semua materi dapat dikopi,dicetak, dan didistribusikan berdasarkan situs ini
(c) All publication rights of the personal photos of Mr. Adnan Oktar that are present in our website and in all other Harun Yahya works belong to Global Publication Ltd. Co. They cannot be used or published without prior consent even if used partially.
© 1994 Harun Yahya. www.harunyahya.com
page_top