Perkembangan sains memperjelas bahwa makhluk
hidup memiliki struktur yang luar biasa kompleks dan suatu keteraturan
yang terlalu sempurna untuk muncul melalui peristiwa kebetulan. Ini membuktikan
fakta bahwa makhluk hidup diciptakan oleh Pencipta yang Mahakuasa yang
memiliki pengetahuan tanpa banding. Baru-baru ini, misalnya, dengan tersingkapnya
struktur sempurna dalam gen manusia yang menjadi isu yang menonjol karena
Projek Genom, penciptaan yang unik dari Tuhan telah terungkap sekali lagi
untuk kita semua.
Dari AS hingga Cina, ilmuwan dari seluruh
penjuru dunia telah memberikan upaya terbaik mereka untuk menguraikan
3 miliar huruf kimiawi di dalam DNA dan menentukan urutannya. Sebagai
hasilnya, 85% dari data yang terkandung dalam DNA manusia dapat diurutkan
dengan tepat. Walaupun ini merupakan perkembangan yang sangat menarik
dan penting, sebagaimana dinyatakan Dr. Francis Collins, pimpinan Projek
Genom Manusia, sebegitu jauh ini baru langkah pertama dalam upaya menguraikan
informasi di dalam DNA.
Agar dapat memahami mengapa penguraian informasi
ini berjalan begitu lama, kita harus memahami sifat dari informasi yang
tersimpan di dalam DNA.
Dunia DNA yang Penuh Rahasia
There is enough information in one DNA molecule to fill 1000 books.
This is encoded in the DNA seen in the picture. All of a person's
features are encoded in an alphabet symbolised in the letters A,T,C
and G.
Dalam pembuatan atau pengelolaan produk atau
pabrik teknologi, sarana yang paling banyak digunakan adalah pengalaman
dan akumulasi pengetahuan yang diperoleh manusia selama berabad-abad.
Pengetahuan dan pengalaman penting yang dibutuhkan untuk membangun tubuh
manusia, 'pabrik' paling maju dan canggih di muka bumi, tersimpan di dalam
DNA. Poin penting untuk diperhatikan di sini adalah bahwa DNA telah senantiasa
ada semenjak manusia pertama dengan semua kesempurnaan dan kompleksitasnya.
Sebagaimana dapat dibaca pada baris-baris di bawah, Anda juga akan melihat
dengan jelas betapa tidak masuk akalnya untuk mengklaim, sebagaimana para
evolusionis, bahwa molekul seperti itu, dengan semua struktur dan sifatnya
yang menakjubkan, berasal mula dari peristiwa kebetulan.
DNA terlindung dengan baiknya di dalam nukleus
(inti sel) yang berada di pusat sel. Jika diingat bahwa sel-sel manusia
- terhitung lebih dari 100 miliar - memiliki diameter rata-rata 10 mikron
(satu mikron adalah 10-6 m.), kecilnya wilayah yang dibicarakan akan dipahami
lebih baik. Molekul yang menakjubkan ini merupakan bukti nyata dari kesempurnaan
dan sifat luar biasa dari seni penciptaan oleh Allah. Begitu luar biasanya
sehingga suatu cabang sains khusus dibuat untuk mendalami rahasia molekul
ini., yang masih banyak tersembunyi. Nama cabang sains ini adalah "Genetika".
Dikenal sebagai sains abad ke-21, genetika masih dalam fase merangkak,
sejauh berbicara tentang menyelesaikan misteri DNA, walaupun semua sarana
teknologi telah digunakan.
Kehidupan di Dalam Nukleus
Jika kita membandingkan tubuh manusia dengan
sebuah bangunan, perencanaan dan projek lengkapnya hingga ke detail terhalus
ada di DNA, yang terletak di inti setiap sel. Semua tahap perkembangan
manusia dalam rahim ibu dan setelah kelahiran berlangsung dalam kerangka
program yang telah ditentukan sebelumnya. Penataan sempurna dalam perkembangan
manusia ini dinyatakan sebagai berikut dalam Al Quran:
"Apakah .. (QS. Al Qiyamah, 36-38)
Tepat pada fase di mana sel telur yang baru
saja dibuahi di dalam rahim ibu, semua karakteristik yang akan kita miliki
di kemudian hari telah ditentukan dalam takdir tertentu dan dikodekan
di dalam DNA kita dalam suatu bentuk yang teratur. Semua ciri kita, seperti
tinggi badan, warna kulit, golongan darah, bentuk wajah yang akan kita
miliki ketika berumur tiga puluhan dikodekan di dalam inti sel awal kita
tiga puluh tahun dan sembilan bulan sebelumnya, sejak saat pembuahan.
Bentuk informasi di dalam DNA tidak hanya
menentukan oleh sifat-sifat fisik yang di atas; ia juga mengendalikan
ribuan operasi dan sistem lainnya yang berjalan di dalam sel dan tubuh.
Misalnya, bahkan tinggi rendah atau normalnya tekanan darah seseorang
tergantung pada informasi yang tersimpan di dalam DNA.
Ensiklopedia yang Amat Besar di Dalam
Sel Manusia
Informasi yang tersimpan di dalam DNA sedikit
pun tidak boleh dianggap enteng. Walaupun sukar untuk dipercaya, dalam
sebuah molekul DNA tunggal milik manusia, terdapat cukup informasi untuk
mengisi tepat sejuta halaman ensiklopedia. Coba pikirkan; tepat 1000.000
halaman ensiklopedia. inti dari setiap sel mengandung sebanyak itu informasi,
yang digunakan untuk mengendalikan fungsi tubuh manusia. Sebagai analogi,
kita dapat katakan bahwa bahkan Ensiklopedia Britannica yang banyaknya
23 jilid, salah satu ensiklopedia terbesar di dunia, memiliki 25.000 halaman.
Jadi, di hadapan kita terbentang sebuah fakta yang menakjubkan. Di dalam
sebuah molekul yang ditemukan di dalam inti sel, yang jauh lebih kecil
dari sel berukuran mikroskopis tempatnya berada, terdapat gudang penyimpanan
data yang 40 kali lebih besar daripada ensiklopedia terbesar di dunia
yang menyimpang jutaan pokok informasi. Ini sama dengan 920 jilid ensiklopedia
besar yang unik dan tidak ada bandingannya di dunia. Riset menemukan bahwa
ensiklopedia besar ini diperkirakan mengandung 5 miliar potongan informasi
yang berbeda. Jika satu potong informasi yang ada di dalam gen manusia
akan dibaca setiap detik, tanpa henti, sepanjang waktu, akan dibutuhkan
100 tahun sebelum proses selesai. Jika kita bayangkan bahwa informasi
di dalam DNA dijadikan bentuk buku, lalu buku-buku ini ditumpuk, maka
tingginya akan mencapai 70 meter.
The DNA molecule
in the nucleus is wrapped up in special covers called chromosomes.
The total length of a DNA molecule wrapped up in the chromosomes
is 1 meter. A chromosome is one nanometer thick, in other words
a billionth of a meter. How is a 1 metre long DNA molecule contained
in such a tiny space?
Chromosome packages are actually
made up of much smaller special container systems. The DNA molecule
is first wound around special proteins called histones, just like
a cotton reel. Thus they form structures called nucleosomes. These
nucleosomes are specially designed to protect the DNA and stop it
being damaged. When nucleosomes are strung on to one another, they
form chromatins. Closely wound coiled loops from with the chromatin.
In this way a superb creation squeezes the DNA molecule into a tiny
space only a billionth of its length.
Mari kita ulangi kembali dua kata yang barusan
disebutkan di atas; 'menyimpan informasi'.
Kita harus berhenti di sini dan memikirkan
dua kata yang kita ucapkan dengan begitu mudahnya. Mudah untuk mengatakan
bahwa sebuah sel mengandung miliaran potongan informasi. Namun, ini sama
sekali bukan detail yang dapat begitu saja di disingkirkan sebagai sebuah
ucapan. Ini karena yang kita bicarakan di sini bukanlah sebuah komputer
atau perpustakaan, tetapi hanya sebuah kubus yang 100 kali lebih kecil
dari satu millimeter, yang hanya terbuat dari protein, lemak, dan molekul
air. Merupakan keajaiban yang luar biasa mencengangkan bagi sepotong teramat
kecil daging untuk mengandung dan menyimpan sekeping saja - apalagi jutaan
- informasi.
Di era modern, manusia menggunakan komputer
untuk menyimpan informasi. Teknologi komputer dewasa ini dianggap sebagai
teknologi tercanggih yang membuka jalan menuju semua teknologi lainnya.
Jumlah informasi yang 20 tahun silam mungkin disimpan dalam sebuah komputer
seukuran kamar, hari ini dapat disimpan dalam "mikrocip" kecil, namun
begitu teknologi mutakhir yang dihasilkan oleh kecerdasan manusia setelah
berabad-abad akumulasi teknologi dan bertahun-tahun kerja keras masih
jauh dari mencapai kapasitas penyimpanan informasi milik sebuah inti sel.
Kami kira, perbandingan berikut akan memadai untuk memberi gambaran kecilnya
DNA, yang memiliki kapasitas yang demikian hebat.
Informasi yang dibutuhkan
untuk menspesifikasi desain dari semua spesies organisme yang pernah ada
di planet ini, jumlah yang menurut G.G. Simpson adalah sekitar satu miliar,
dapat disimpan dalam satu sendok the dan masih akan cukup tempat bagi
semua informasi dalam seluruh buku yang pernah ditulis.1
Bagaimana sebuah rantai yang kasat mata,
terbuat dari atom-atom yang tersusun bersisian, dengan diameter seukuran
sepersemiliar millimeter, memiliki memori dan kapasitas informasi sedemikian?
Dan juga menambahkan hal berikut kepada pertanyaan: Kalau masing-masing
dari 100 miliar sel di dalam tubuh Anda hapal sejuta halaman informasi,
berapa halaman ensiklopedia yang Anda dapat ingat, sebagai seorang manusia
yang cerdas dan berkesadaran, sepanjang hidup anda?
Kearifan Dalam Sel
Dalam hal ini, Anda harus mengakui bahwa
sel mana pun pada lambung atau telinga anda jauh lebih terpelajar dari
Anda, dan karena sel itu menggunakan informasi ini dengan cara yang paling
benar dan sempurna, ia lebih arif dari Anda.
Lalu, apa yang menjadi sumber dari kearifan
ini? Bagaimana mungkin setiap dari 100 miliar sel dalam tubuh anda dapat
memiliki kearifan yang begitu luar biasa? Mereka semua, bagaimanapun,
adalah tumpukan atom, dan tidak berkesadaran. Ambillah atom-atom dari
semua unsur, gabungkan mereka dalam bentuk dan jumlah yang berbeda, hasilkan
molekul-molekul yang berbeda, tetap, Anda tidak akan pernah bisa menghasilkan
kearifan. Tidak masalah apakah molekul-molekul ini kecil atau besar, sederhana
atau kompleks. Anda tidak akan pernah bisa menghasilkan sebuah pikiran
yang secara sadar akan mengorganisir suatu proses dan menyelesaikannya.
Lalu bagaimana mungkin DNA, yang terbangun
dari susunan sejumlah tertentu atom-atom yang tak berkesadaran dalam rangkaian
tertentu, dan enzim-enzim, yang bekerja secara harmonis, mampu menyelesaikan
banyak pekerjaan dan mengorganisir operasi yang rumit dan bermacam-macam
di dalam sel secara sempurna dan lengkap? Jawabannya sangat sederhana;
kearifan tidak berada di dalam molekul-molekul ini atau di dalam sel yang
memuatnya, tetapi pada Diri yang telah mencipta molekul-molekul ini, dengan
memrogram mereka untuk berfungsi sedemikian.
Pendeknya, kearifan hadir tidak pada karya
itu sendiri, tetapi pada pencipta karya tersebut. Bahkan komputer yang
paling maju merupakan hasil dari suatu kearifan dan kecerdasan yang telah
menuliskan dan memasang program-program untuk mengoperasikannya, dan kemudian
menggunakannya. Begitu pula, sel, DNA dan RNA di dalamnya, dan manusia
yang terbuat dari sel-sel ini tidak lain dari karya Dia yang menciptakan
mereka dan apa yang mereka lakukan. Betapa pun sempurna, lengkap dan memesona
karya tersebut, kebijaksanaan selalu ada pada sang pemilik karya.
Suatu hari, jika Anda menemukan sebuah disket
di atas meja di laboratorium komputer, dan setelah memeriksanya, mendapatinya
mengandung miliaran informasi tentang anda, pertanyaan pertama yang akan
melintas di pikiran Anda tentunya siapa yang telah menuliskan potongan-potongan
informasi ini dan mengapa.
Jadi, mengapa kita tidak ajukan pertanyaan
yang sama tentang sel? Jika informasi di dalam disket ditulis oleh seseorang,
lalu dengannya DNA, yang memiliki teknologi yang jauh lebih unggul dan
maju, dirancang dengan cara yang amat sempurna, diciptakan, dan ditempatkan
di dalam sel yang sangat kecil itu, yang juga merupakan keajaiban lain.
Di samping dia tidak kehilangan sifatnya yang mana pun selama ribuan tahun
sampai hari ini. (Ingatlah bahwa otak manusia yang membuat disket dan
menyimpan data di dalamnya, juga terbuat dari sel-sel ini.) Apa lagi yang
lebih penting bagi Anda daripada pertanyaan: oleh siapa dan mengapa sel-sel
ini - yang berfungsi tanpa henti bagi Anda untuk membaca baris-baris tulisan
ini, melihat, bernapas, berpikir, singkatnya, untuk ada dan bertahan hidup
- diciptakan?
Tidakkah jawaban atas pertanyaan ini yang
mestinya, dalam kehidupan, paling banyak anda pikirkan?
Beberapa Contoh Lagi
Ini adalah metoda yang dikenal luas: Mereka
yang melakukan perjalanan, lalu terdampar di suatu tempat yang terisolir
karena pesawatnya jatuh, menggambar sebuah 'X' besar untuk menunjukkan
lokasi mereka kepada tim penolong yang mencari mereka dari udara. Dengan
menggunakan barang-barang mereka, atau benda-benda yang mereka kumpulkan,
mereka membuat tanda besar berbentuk silang. Dengan cara ini, tim penolong
yang berusaha mencari dari udara, melihat tanda ini, yang merupakan "produk
kebijaksanaan" dan mengerti bahwa di sana ada makhluk hidup yang berkesadaran,
yakni, ada manusia di tempat itu.
If one day you see the words "Nothing
comes about by chance" written on a piece of paper, you will not
imagine they formed when ink was spilled on it. Every person of
intelligence will think they were written by someone. Evolutionists'
claims regarding the formation of the information inside DNA are
just as totally illogical as saying that the letters on the piece
of paper came about by chance.
Saat berkendara di jalan raya luar kota,
anda kadangkala melihat tulisan yang terbuat dari batu-batu putih di lereng
bukit, semisal: "Teguh Beriman". Bagaimana tulisan ini terbentuk di bukit
itu sangat jelas. Umumnya, ada unit pemerintah daerah di sekitar situ
dan mereka membuat tulisan itu dengan batu-batu putih di bukit.
Nah, mungkinkah ada orang yang datang dan
mengatakan bahwa tulisan-tulisan itu tidak dibuat oleh pikiran sadar,
dalam hal ini para tentara, dan alih-alih terbentuk secara kebetulan?
Mungkinkah ada orang yang mengatakan bahwa "Batu-batu itu tersusun bersisian
secara kebetulan saat bergulingan dari bukit dan menyusun kalimat 'Teguh
Beriman'."?
Atau jika seorang 'ilmuwan' datang dan berkata
"Terdapat miliaran batu di dunia ini dan mereka bergulingan selama jutaan
tahun, jadi mungkin saja sebagian dari batu-batu tersebut bergabung bersama
secara kebetulan membuat kalimat yang bermakna", tidakkah ia akan ditertawakan
bahkan oleh anak-anak sekalipun? Sebagai tambahan, jika dia menggunakan
gaya ilmiah, membuat sejumlah penjelasan ilmiah dan mengemukakan beberapa
perhitungan probabilitas, masihkah setiap orang akan meragukan kewarasannya
lebih jauh?
Ide utama yang ingin diberikan dengan contoh
ini adalah: jika terdapat tanda sedikit saja dari sesuatu yang direncanakan
di suatu tempat, sudah tentu ada jejak dari pemilik kebijaksanaan di sana.
Tidak ada produk dari kebijaksanaan terbentuk secara kebetulan. Jika Anda
menggulingkan batu-batu putih ke bawah gunung miliaran kali, Anda tidak
akan pernah menghasilkan sekadar huruf 'T' yang memadai, jangankan sebuah
frasa seperti "Teguh Beriman". Jika terdapat sebuah huruf di mana pun,
setiap orang setuju bahwa huruf itu ditulis oleh seseorang. Tidak ada
huruf tanpa penulis.
Tubuh manusia miliaran kali lebih kompleks
dari frasa "Teguh Beriman", dan nyata-nyata mustahil bagi struktur kompleks
ini untuk terbentuk dengan sendirinya, atau oleh "kebetulan" semata, Karenanya,
terdapat Pencipta yang telah merencanakan dan merancang baik manusia dan
selnya dan DNA-nya secara brilian dan sempurna. Mengklaim sebaliknya adalah
tindakan yang sangat tidak bijaksana, dan lebih jauh lagi, merupakan ketidaktulusan
dan kesombongan yang terbesar. Hal ini merupakan penghinaan terhadap pemilik
kebijaksanaan dan kekuasaan itu.
Namun bagaimanapun, banyak orang, yang siap
sedia mengatakan bahwa mustahil batu-batu tersusun sendiri dan membentuk
walau hanya tiga kata dasar, akan mendengarkan tanpa protes kebohongan
bahwa "peristiwa kebetulan" telah membuat miliaran atom bergabung satu
demi satu dalam urutan yang terencana dan membentuk molekul seperti DNA,
yang melaksanakan tugas yang begitu super-kompleks. Ini bagaikan seorang
yang dihipnotis hingga tunduk dan menerima begitu saja perkataan penghipnotisnya
bahwa ia adalah sebuah pintu, pohon, atau seekor cicak.
Bahasa Ensiklopedia DNA
Kehidupan masyarakat didasarkan atas alur
informasi, dan komunikasi. Alat yang paling penting dalam alur informasi
antarindividu dan generasi adalah bahasa. Bahasa diwakili oleh kode-kode
tertentu, yakni huruf-huruf. Bahasa Inggris adalah bahasa yang tersusun
dari 26 huruf atau dapat kita katakan, 26 kode. Kode-kode ini membentuk
kata-kata dan kata-kata kemudian membentuk kalimat-kalimat. Alur dan penyimpanan
informasi diwujudkan dengan kode-kode ini.
Think of a jigsaw like the one in the
picture. Every single piece needs to be in its right place for the
puzzle to be completed and a picture emerge. Just like a jigsaw,
all the nucleotides need to be in the correct order set out for
them in order for the DNA molecules to form a perfect living thing
and allow it to survive.
It is of course ridiculous to think that the scattered pieces of
a jigsaw puzzle came together by chance to make the picture below.
It is even more illogical to claim that DNA, which has an incomparably
more perfect design and complex coding system than a jigsaw puzzle,
formed by coincidence.
Bahasa di dalam sel serupa dengan ini. Semua
sifat fisik manusia disimpan di dalam inti sel dengan dikodekan oleh bahasa
ini, dan dapat digunakan oleh sel kembali dengan bahasa ini. Bahasa ini
dimiliki molekul utama, yang disebut DNA. Bahasa DNA tersusun dari 4 huruf;
A, T, G, dan C. Setiap huruf mewakili satu dari empat basa khusus yang
disebut 'nukleotida'. Jutaan basa ini berbaris dalam sebuah rangkaian
yang bermakna dan membentuk molekul DNA.
Begitulah informasi di dalam bank data pada
molekul disimpan. Sementara kita menguraikan sistem pengkodean dalam gudang
data ini, kita akan terus menggunakan analogi huruf ini untuk molekul
asam nukleat yang membentuk DNA. Huruf-huruf ini bersesuaian dua-dua membentuk
sebuah pasangan basa. Pasangan basa ini bertumpuk di atas pasangan lainnya
membentuk gen. Masing-masing gen, yang terdiri dari satu bagian molekul
DNA, menentukan sifat tertentu dari tubuh manusia. Tak terhitung banyaknya
ciri seperti tinggi badan, warna mata, materi dan bentuk hidung, mata,
dan tengkorak dibentuk oleh perintah gen yang terkait. Kita dapat membandingkan
setiap gen ini dengan halaman sebuah buku. Pada halaman itu terdapat naskah
yang tersusun dari huruf A - T - G - C.
Terdapat kurang lebih 200.000 gen di dalam
DNA sel manusia. Setiap gen tersusun dari rangkaian nukleotida khusus,
jumlah yang berkisar antara 1000 dan 186.000 sesuai tipe protein yang
berhubungan. Gen-gen ini menyimpan kode dari hampir 200.000 protein yang
berfungsi di dalam tubuh manusia dan mengendalikan produksi protein-protein
ini.
Informasi yang tersimpan di dalam 200.000
gen ini baru merupakan 3% dari keseluruhan informasi di dalam DNA. Sisanya
yang 97% masih tetap menyimpan misterinya hingga kini. Kajian terakhir
menunjukkan bahwa 97% bagian tak dikenal ini termasuk informasi vital
tentang kelangsungan hidup sel dan mekanisme yang mengendalikan aktivitas
teramat kompleks di dalam tubuh. Namun perjalanan masih teramat panjang.
Gen-gen berada di dalam kromosom. Ada 46
kromosom di dalam inti setiap sel manusia (kecuali pada sel-sel reproduksi).
Jika kita bandingkan setiap kromosom dengan sebuah jilid buku yang terdiri
dari hlaman-halaman gen, kita dapat katakan bahwa di dalam sel terdapat
"ensiklopedia sel" sebanyak 46 jilid, yang meliputi seluruh karakteristik
manusia. Dengan mengingat contoh ensiklopedia barusan, ensiklopedia sel
ini sebanding dengan pengetahuan yang terkandung dalam 920 jilid 'Ensiklopedia
Britannica'.
Urutan huruf-huruf di dalam DNA setiap manusia
berbeda. Inilah alasan mendasar mengapa miliaran orang yang pernah hidup
di muka bumi tampak berbeda satu sama lain. Struktur dan fungsi dasar
organ-organ sama pada setiap orang. Namun, setiap orang diciptakan begitu
mendetail dan khusus dengan perbedaan yang demikian halus sehingga walau
semua orang diciptakan dari pembelahan sebuah sel tunggal dan memiliki
struktur dasar yang sama, miliaran manusia yang berbeda telah muncul.
Semua organ di dalam tubuh dibangun dengan
sebuah perencanaan yang digariskan oleh gen kita. Sebagai contoh, menurut
peta gen yang dirampungkan oleh para ilmuwan, di dalam tubuh manusia,
kulit dikendalikan oleh 2.559 gen, otak oleh 29.930 gen, mata oleh 1.794
gen, kelenjar ludah oleh 186 gen, jantung oleh 6.216 gen, dada oleh 4.001
gen, paru-paru oleh 11.581 gen, hati oleh 2.309 gen, usus oleh 3.838 gen,
otot kerangka oleh 1.911 gen, dan sel-sel darah oleh 22.902 gen.
Urutan huruf di dalam DNA menentukan struktur
seorang manusia hingga bagian terkecil. Selain ciri seperti tinggi badan,
mata, rambut, dan warna kulit, sebuah sel tunggal DNA juga mengandung
rancangan dari 206 tulang, 600 otot, jaringan 10.000 otot pendengaran,
jaringan 2 juta saraf penglihatan, 100 miliar sel saraf, dan 100 triliun
sel di dalam tubuh.
Sekarang mari kita berpikir dengan informasi
di atas: Karena tak sebuah huruf pun dapat terbentuk tanpa ada penulisnya,
bagaimana miliaran huruf di dalam sel manusia berasal mula? Bagaimana
huruf-huruf ini berbaris dalam rangkaian yang bermakna sehingga membentuk
perencanaan unik seperti tubuh yang sempurna dan kompleks? Jika terjadi
kerusakan pada urutan huruf-huruf ini Anda mungkin akan mempunyai telinga
di perut atau mata di tumit. Anda mungkin akan lahir dengan tangan menempel
di punggung, dan hidup sebagai makhluk aneh. Rahasia kehidupan Anda sekarang
ini sebagai manusia sepantasnya terletak pada rangkaian 'sempurna' dari
miliaran huruf pada ensiklopedia 46 jilid di dalam DNA Anda.
DNA Menentang Peristiwa Kebetulan
Saat ini matematika telah membuktikan bahwa
peristiwa kebetulan tidak dapat berperan pada pembentukan informasi yang
dikodekan di dalam DNA, jangankan pada molekul DNA yang terbuat dari jutaan
pasangan basa. Probabilitas pembentukan secara kebetulan satu gen saja
dari 200.000 gen yang menyusun DNA adalah begitu rendahnya, sehingga disebut
mustahil pun masih terlalu lemah. Frank Salisbury, seorang ahli biologi
evolusionis, mengemukakan pernyataan berikut tentang "kemustahilan" ini:
Sebuah protein berukuran sedang dapat terdiri
dari sekitar 300 asam amino. Gen DNA yang mengatur protein ini bisa
memiliki 1000 nukleotida pada rantainya. Karena ada empat jenis nukleotida
dalam sebuah rantai DNA, satu rantai dengan 1000 nukleotida dapat tersusun
dalam 41000 bentuk. Dengan menggunakan sedikit ilmu aljabar (logaritma),
kita dapat melihat bahwa 41000 = 10600. Sepuluh dikali sepuluh sebanyak
600 kali menghasilkan angka 1 yang diikuti 600 angka nol! Suatu angka
di luar kemampuan pemahaman kita.
Francis Crick and James Watson won the
Nobel Prize for discovering the magnificent structure of DNA.
Dengan kata lain, bahkan jika kita asumsikan
bahwa semua nukleotida yang dibutuhkan ada pada sebuah medium, dan bahwa
semua molekul kompleks dan enzim untuk menggabungkan mereka tersedia,
kemungkinan bagi nukleotida ini tersusun dalam urutan yang diinginkan
adalah 1 banding 41000, atau 1 banding 10600. Singkatnya, probabilitas
dari pembentukan secara kebetulan dari kode sebuah protein rata-rata dalam
tubuh manusia pada DNA dengan sendirinya adalah 1 banding 1 diikuti oleh
600 angka nol. Ini bahkan berada di luar bilangan astronomis, yang pada
praktiknya berarti probabilitas 'nol'. Artinya, urutan sedemikian pastilah
berada di bawah kendali dan pengetahuan dari kekuatan yang sadar dan bijaksana.
Probabilitas hal ini terjadi melalui "kecelakaan", "untung-untungan",
atau "peristiwa kebetulan" adalah nol.
Coba pikirkan buku yang sekarang tengah Anda
baca. Bagaimana pendapat Anda tentang seseorang yang mengklaim bahwa huruf-huruf
(dengan menggunakan stempel cetak untuk setiap hurufnya) berkumpul secara
kebetulan dengan sendirinya untuk membentuk tulisan ini? Nyata sekali
bahwa ia ditulis oleh seorang yang memiliki kecerdasan dan kesadaran.
Ini tidak berbeda dengan DNA.
Human cells contain 46 chromosomes, in
23 pairs. Each pair is responsible for certain activities in the
body. Any defect in the chromosome pairs results in irreparable
damage.
Francis Crick, ahli biokimia
yang menemukan struktur DNA, meraih hadiah Nobel berkat risetnya dalam
subjek ini. Crick, seorang evolusionis yang bersemangat, menyatakan pendapat
ilmiah berikut dalam buku yang ditulisnya setelah mengakui struktur DNA
yang menakjubkan: "Seorang jujur yang dibekali ilmu pengetahuan masa kini,
hanya dapat menyatakan bahwa asal usul kehidupan hampir seperti suatu
keajaiban." 3 Bahkan dalam pandangan Crick, salah
seorang pakar terbesar mengenai DNA, kehidupan tidak dapat bermula di
dunia secara spontan.
Data di dalam DNA, yang terbentuk dari 5
juta huruf, tersusun dari rangkaian huruf A-T-G-C yang khusus dan bermakna.
Namun, tidak boleh terjadi satu pun kesalahan huruf pada rangkaian ini.
Kata yang salah eja atau kesalahan huruf dalam ensiklopedia mungkin saja
diabaikan dan dikesampingkan. Ia bahkan tidak akan teperhatikan. Namun,
satu saja kesalahan dalam pasangan basa DNA, seperti kesalahan kode huruf
pada pasangan basa ke-1.719.348.632, akan berakibat amat buruk pada sel,
dan karenanya pada individunya sendiri. Misalnya, hemofilia (leukemia
anak) adalah akibat dari pengkodean yang keliru seperti itu.
A Downs Syndrome child with
one extra chromosome in the 21st chromosome pair.
Sebenarnya, tidak tepat jika hal ini disebut
"pengkodean yang keliru", karena seperti segala sesuatu yang ada, DNA
manusia, juga diciptakan oleh Allah dan bahkan kesalahan yang jarang terjadi
dikarenakan suatu sebab tersembunyi (tujuan ilahiah). Kesalahan pengkodean
yang menyebabkan kanker adalah suatu penyakit yang diciptakan secara khusus.
Ia diciptakan secara khusus untuk suatu sebab tersembunyi yang tertentu
untuk menunjukkan kepada manusia kelemahan dan ketidakmampuannya sendiri,
mengingatkannya akan berbagai keseimbangan yang halus di mana penciptaan
manusia tergantung, dan kesulitan apa yang mungkin dihadapinya jika terjadi
gangguan paling ringan pun terhadap keseimbangan ini.
Replikasi Diri pada DNA
Sebagaimana diketahui, sel berkembang biak
dengan membelah diri. Sementara tubuh manusia asalnya terdiri dari sebuah
sel tunggal, sel ini membelah dan bereproduksi dengan kelipatan 2-4-8-16-32.
Apa yang terjadi pada DNA pada akhir proses
pembelahan? Hanya ada satu rantai DNA di dalam sel. Namun, nyata bahwa
sel yang baru terbentuk juga membutuhkan DNA. Untuk mengisi kekosongan
ini, DNA merampungkan sebuah rentetan operasi yang menarik, yang setiap
tahapnya merupakan keajaiban yang berbeda. Akhirnya, segera sebelum sel
membelah, DNA membuat kopi dirinya dan memindahkannya ke sel yang baru.
Pengamatan terhadap pembelahan sel menunjukkan
bahwa sel harus mencapai ukuran tertentu sebelum membelah diri. Pada saat
ia melewati ukuran tertentu ini, proses pembelahan otomatis dimulai. Sementara
bentuk sel mulai semakin mulus sehingga memungkinkan proses pembelahan,
DNA mulai mereplikasi diri seperti disebutkan sebelumnya.
Ini berarti sel 'memutuskan' untuk membelah
sebagai keseluruhan dan bagian-bagian sel yang berbeda mulai bertindak
sesuai dengan keputusan pembelahan ini. Sudah jelas sel tidak mempunyai
kesadaran untuk melakukan tindakan kolektif sedemikian. Proses pembelahan
dimulai dengan suatu perintah rahasia dan keseluruhan sel, terutama DNA
bertindak dengan perintah ini.
DNA synthesis begins
at a specific base sequence, known as the origin of replication.
Here, DNA strands are separated by an enzyme known as DNA helicase,
following which single stranded DNA binding proteins attach to
the unwound strands, preventing them from winding back together.
At the same time, an RNA molecule known as RNA primer is synthesised
between the strands as they detach themselves. This molecule helps
DNA polymerase read nucleotides and initiate replication. DNA
polymerase binds to one strand of the DNA, reads the sequence
of bases on the template strand and then synthesises the complementary
strand. Thus, it reforms a double helix. DNA synthesis proceeds
on both single strands in opposite directions. When the process
comes to an end, two new daughter molecules emerge, each containing
one newly synthesised strand.
Thanks to the information within DNA,
the proteins that undertake countless tasks in our bodies are produced
with all the features they need.
Pertama, DNA membelah menjadi dua untuk mereplikasi
dirinya sendiri. Peristiwa ini terjadi dengan cara yang sangat menarik.
Molekul DNA yang menyerupai tangga spiral membagi menjadi dua seperti
ritsleting dari tengah anak tangga. Seterusnya, DNA membelah menjadi dua
bagian. Belahan yang hilang (replica) dari masing-masing bagian disempurnakan
dengan bahan-bahan yang terdapat di sekitarnya. Dengan cara ini, dua molekul
DNA baru diproduksi. Dalam setiap tahap operasi, protein ahli yang disebut
"enzim" yang berfungsi seperti robot canggih mengambil peran. Walau ini
sekilas tampak sederhana, proses-proses antara yang berlangsung selama
operasi ini begitu banyak dan begitu rumit sehingga untuk menggambarkan
keseluruhan peristiwa ini secara detail akan membutuhkan banyak halaman.
Molekul DNA baru yang muncul selama replikasi
diperiksa berulang kali oleh enzim pemeriksa. Jika terjadi kesalahan -
yang dapat menjadi sangat vital, ia akan segera diidentifikasi dan diperbaiki.
Kode yang keliru dibuang dan digantikan dengan yang benar. Semua proses
ini berlangsung dalam kecepatan yang sangat memesonakan sehingga saat
3000 pasangan basa diproduksi dalam satu menit, secara bersamaan semua
pasangan diperiksa berulang kali oleh enzim-enzim yang bertanggung jawab
dan perbaikan yang dibutuhkan dilakukan.
A special enzyme, called telomerase directs
the replication of telomeres. Telomere is the end of a chromosome,
which consists of repeated sequences of DNA that perform the function
of ensuring that each cycle of DNA replication has been completed.
Dalam molekul DNA yang baru diproduksi, lebih
banyak kesalahan yang dapat dilakukan lebih dari normal sebagai akibat
faktor luar. Dalam hal ini, ribosom di dalam sel mulai memproduksi enzim-enzim
pereparasi DNA sesuai perintah yang diberikan oleh DNA. Dengan demikian,
saat DNA melindungi dirinya sendiri, ia juga menjamin kelangsungan generasi.
Sel-sel dilahirkan, mereka bereproduksi dan
mati seperti halnya manusia. Namun masa hidup sel jauh lebih pendek daripada
kehidupan manusia. Misalnya, kebanyakan sel yang digunakan untuk membentuk
tubuh Anda enam bulan yang lalu tidak ada lagi saat ini. Namun, Anda tetap
hidup karena mereka telah membelah pada waktunya untuk memberikan tempatnya
bagi yang baru. Karena ini, operasi yang sangat kompleks seperti penggandaan
sel dan replikasi DNA merupakan proses vital yang tidak dapat menoleransi
bahkan sebuah kesalahan kecil sehubungan dengan kehidupan manusia. Namun,
proses penggandaan berjalan begitu mulusnya sehingga tingkat kesalahan
hanyalah satu dalam tiga miliar pasangan basa. Dan satu kesalahan ini
dihapuskan oleh mekanisme kontrol yang lebih tinggi di dalam tubuh tanpa
menyebabkan masalah apa pun.
Sepanjang hari, tanpa Anda sadari, begitu
banyak operasi dan kontrol dilakukan, banyak pengukuran dilakukan di dalam
tubuh Anda dengan cara yang luar biasa kritis dan bertanggung jawab agar
Anda dapat menjalani hidup tanpa masalah apa-apa. Allah telah menganugerahkan
untuk Anda tak terhitung jumlahnya atom dan molekul, dari yang terbesar
hingga yang terkecil, dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks,
sehingga Anda dapat hidup dengan baik dan sehat. Tidakkah karunia dan
rahmat ini sendiri cukup bagi Anda untuk bersyukur? Atau haruskah seseorang
menunggu terjadi masalah dalam sistemnya yang sempurna baru ia akan menyadarinya?
DNA repairs itself and permits no errors.
When the DNA synthesis is complete, an error occurs in one nucleotide
in a thousand. Yet such errors have been prepared for. There is
a special group of enzymes charged with repairing errors that occur
during the DNA synthesis. These enzymes identify the error in a
conscious manner and remove the defective nucleotide. They synthetise
a new nucleotide and insert it back during the process.
Poin paling penting adalah bahwa enzim-enzim
yang membantu produksi DNA dan mengontrol komposisinya ini sebenarnya
adalah protein yang diproduksi sesuai dengan informasi yang dikodekan
di dalam DNA dan di bawah perintah dan kontrol DNA itu sendiri. Sebagaimana
DNA harus ada agar enzim tersebut ada, begitu pula halnya enzim tersebut
harus ada agar DNA ada, dan di lain pihak, agar keduanya ada sel harus
ada secara lengkap, sampai ke membran dan semua organel kompleks yang
dikandungnya.
Many enzymes have to exist alongside
DNA during replication and protein synthesis. The red and yellow
areas in the picture show enzymes that work with DNA.
Teori evolusi yang menyatakan bahwa makhluk
hidup berevolusi 'tahap demi tahap' sebagai akibat dari 'peristiwa-peristiwa
kebetulan yang menguntungkan' secara eksplisit disangkal oleh paradoks
DNA-enzim yang disebutkan di atas. Ini karena baik DNA maupun enzim harus
ada pada saat yang bersamaan. Dan ini menunjukkan keberadaan Pencipta
yang sadar, yaitu Allah.
Evolusionis Tak Dapat Menjelaskan Bagaimana
Informasi di dalam DNA Berasal Mula dan Bagaimana Ia Berbeda dalam Setiap
Spesies.
Sementara para evolusionis tidak dapat sama
sekali menjelaskan bagaimana DNA berasal mula, masih ada poin lain di
mana mereka menghadapi jalan buntu. Bagaimana ikan, reptil, burung, manusia
dan sebagainya dapat memiliki DNA yang berbeda dan jenis informasi yang
berbeda?
Para evolusionis menjawab pertanyaan itu
dengan mengatakan bahwa kandungan informasi dalam DNA berkembang dan mengalami
diversifikasi perlahan-lahan melalui peristiwa-peristiwa kebetulan. Peristiwa
kebetulan yang mereka rujuk adalah "mutasi". Mutasi adalah perubahan yang
berlangsung di dalam DNA sebagai akibat dari radiasi atau reaksi kimia.
Kadangkala radiasi radioaktif terjadi pada rantai DNA dan merusak atau
memindahkan beberapa pasangan basa di dalamnya. Menurut para evolusionis,
makhluk hidup telah mencapai bentuk mereka yang sempurna sekarang sebagai
hasil diversifikasi dari sebuah DNA tunggal karena mutasi-mutasi ini (yakni,
kecelakaan).
Untuk menunjukkan bahwa klaim ini tidak masuk
akal, mari kita bandingkan sekali lagi DNA dengan sebuah buku. Telah disebutkan
sebelumnya bahwa DNA dibuat dari huruf-huruf yang berbaris menyamping
seperti dalam sebuah buku. Mutasi adalah seperti kesalahan huruf yang
terjadi selama penyusunan buku ini. Jika Anda mau, kita dapat melakukan
percobaan mengenai subjek ini. Mari kita mencari sebuah buku tebal tentang
sejarah dunia untuk disusun (di-type-setting). Selama penyusunan, mari
kita campur tangan beberapa kali dan menyuruh tukang set untuk menekan
satu tombol dengan mata tertutup dan secara acak. Kemudian mari kita berikan
teks berisi huruf-huruf ini kepada orang lain dan menyuruhnya melakukan
hal serupa sekali lagi. Dengan menggunakan metode ini, mari kita minta
buku ini disusun dari awal hingga akhir beberapa kali, dengan demikian
beberapa kesalahan huruf telah ditambahkan kepada buku ini secara acak
beberapa kali.
Mungkinkah buku sejarah ini dikembangkan
dengan metode demikian? Misalnya, akankah muncul sebuah bab tambahan berjudul
"Sejarah Cina Kuno", yang sebelumnya tidak ada?
Sudah pasti, kesalahan huruf yang telah kita
tambahkan tidak akan membangun buku itu, malahan menghancurkan dan merusak
artinya. Semakin banyak kita tambahkan proses penyusunan yang salah, akan
semakin berantakan buku kita jadinya.
Namun, klaim teori evolusi adalah bahwa "kesalahan
huruf membantu menyusun sebuah buku". Menurut evolusi, mutasi (kesalahan)
yang terjadi pada DNA telah membawa akibat yang menguntungkan dengan mengakumulasi
dan melengkapi makhluk hidup dengan organ-organ yang sempurna seperti
mata, telinga, sayap, tangan, dan sifat yang berhubungan dengan kesadaran
seperti berpikir, belajar dan berakal budi.
Tak dipertanyakan lagi, klaim ini bahkan
lebih tak masuk akal daripada contoh penambahan bab "Sejarah Cina Kuno"
pada buku sejarah dunia sebagai hasil dari akumulasi kesalahan huruf yang
disebutkan di atas. (Lebih jauh lagi tidak ada mekanisme di alam yang
menyebabkan mutasi secara teratur seperti contoh tukang set yang membuat
kesalahan secara teratur. Mutasi di alam berlangsung jauh lebih jarang
daripada kesalahan huruf yang terjadi selama penyusunan sebuah buku.)
Setiap "penjelasan" yang dikemukakan oleh
teori evolusi tentang asal usul kehidupan tidak masuk akal dan tidak ilmiah.
Salah seorang pakar terkemuka yang membahas persoalan ini adalah ahli
zoologi Prancis, Pierre Grass, mantan ketua Akademi Sains Prancis. Meskipun
ia seorang evolusionis, Grass menyatakan terang-terangan bahwa teori
Darwinis tidak dapat menjelaskan kehidupan. Dia juga mengemukakan pendapatnya
tentang logika konsep "kebetulan" yang merupakan pilar utama Darwinisme:
Kemunculan mutasi-mutasi
secara tepat, yang memungkinkan hewan dan tumbuh memenuhi kebutuhan, merupakan
hal yang sukar dipercaya. Namun, teori Darwin menyatakan lebih dari itu:
sebatang pohon atau seekor hewan memerlukan beribu-ribu peristiwa kebetulan
pada saat yang tepat. Jadi, keajaiban akan berperan di sini: peristiwa-peristiwa
dengan peluang mendekati nol tidak boleh gagal untuk terjadi. Tak ada
larangan untuk berkhayal, tetapi sains tidak boleh terjerumus ke dalamnya.4
Memang, teori evolusi, yang mengklaim bahwa
materi tak hidup berhimpun dengan sendirinya dan membentuk makhluk hidup
dengan sistem yang begitu gemilang seperti DNA, adalah skenario yang sepenuhnya
bertentangan dengan sains dan akal sehat. Semua ini membawa kita kepada
kesimpulan yang nyata. Karena hidup memiliki perencanaan (DNA) dan semua
makhluk hidup dibentuk menurut perencanaan ini, jelaslah bahwa ada Pencipta
ulung yang membuat perencanaan ini. Ini dengan mudah berarti bahwa semua
makhluk hidup diciptakan oleh Allah, Yang Mahakuasa, Mahabijaksana. Allah
menyatakan fakta ini di dalam Al Quran seperti berikut:
(QS. Al Hasyr, 59: 24)
Saat ini, apa yang telah dicapai manusia
melalui teknologi dapat digambarkan paling jauh sebagai 'sebuah pendekatan
menuju pengertian atas sebuah fragmen kecil dari pengetahuan Allah, sebagaimana
ditunjukkan pada DNA manusia'.
Di lain pihak, teori evolusi yang mencoba
untuk menjelaskan asal usul kehidupan sebagai rangkaian peristiwa kebetulan,
kehilangan semua keabsahannya di hadapan pertanyaan: "Lalu bagaimana DNA
berasal mula?"
PERTANYAAN YANG MENGHANCURKAN TEORI EVOLUSI:
BAGAIMANA DNA BERASAL MULA?
Pertanyaan bagaimana molekul yang dirancang
secara luar biasa seperti DNA berasal mula adalah salah satu dari ribuan
jalan buntu yang dihadapi evolusionis. Karena berusaha keras menjelaskan
kehidupan melalui "peristiwa kebetulan", teori evolusi tidak pernah dapat
menjelaskan sumber dari informasi luar biasa yang begitu sempurna dan
cermat dikodekan di dalam DNA.
Lebih jauh lagi, pertanyaannya tidak hanya
bagaimana rantai DNA bermula. Keberadaan dari rantai DNA itu sendiri,
dengan kapasitas informasi yang luar biasa yang dimilikinya, tidak ada
artinya jika sendirian. Agar dapat merujuk kepada kehidupan, enzim-enzim
yang membaca rantai DNA ini, mengopi mereka dan memproduksi protein, juga
harus ada. (Enzim adalah molekul raksasa yang mempunyai fungsi-fungsi
tertentu dalam sel yang mereka lakukan dengan kepresisian sebuah robot.)
Gampangnya, agar dapat berbicara tentang
kehidupan, baik bank data yang kita sebut DNA, maupun mesin untuk melakukan
produksi dengan membaca data pada bank harus ada secara bersamaan.
Yang mengejutkan, enzim itu sendiri, yang
membaca DNA dan melaksanakan produksi sesuai dengan itu, diproduksi sesuai
dengan kode di dalam DNA. Artinya, ada sebuah pabrik di dalam sel yang
membuat banyak jenis produk, dan juga merakit robot dan mesin yang melaksanakan
produksi ini. Pertanyaan bagaimana sistem ini - yang tidak akan berguna
jika ada kerusakan kecil di mekanismenya yang mana pun - bermula, itu
saja sudah cukup untuk menghancurkan teori evolusi.
Evolusionis Jerman Douglas R. Hofstadler,
menyatakan keputusasaannya di hadapan pertanyaan ini:
"Bagaimana Kode Genetik,
juga mekanisme untuk penerjemahannya (ribosom dan molekul RNA) berawal?"
Untuk saat ini, kita terpaksa harus puas dengan rasa takjub dan terpesona,
dan bukan dengan sebuah jawaban. 5
Pemuka evolusionis lainnya, ahli biologi
molekuler terkenal di dunia, Leslie Orgel, lebih terbuka tentang hal ini:
Sangat tidak mungkin
bahwa protein dan asam nukleat, yang masing-masingnya memiliki struktur
yang kompleks, muncul secara spontan pada tempat yang sama secara bersamaan.
Tetapi tidak mungkin pula ada salah satu tanpa yang lainnya. Karena itu,
pada sekilas pandangan pertama, SESEORANG MUNGKIN HARUS MENYATAKAN BAHWA
SESUNGGUHNYA KEHIDUPAN TIDAK DAPAT BERASAL MULA SECARA KIMIAWI.6
Mengatakan bahwa "kehidupan tidak mungkin
pernah berasal mula secara kimiawi" sama dengan mengatakan bahwa "kehidupan
tidak pernah dapat berasal mula dengan sendirinya". Pengakuan atas kebenaran
pernyataan ini menghasilkan kesadaran bahwa kehidupan diciptakan secara
sadar. Namun karena alasan-alasan ideologis, para evolusionis tidak mengakui
fakta, bukti nyata yang ada di depan mata mereka ini. Untuk menghindar
dari mengakui keberadaan Tuhan, mereka mempercayai skenario tidak masuk
akal, yaitu kemustahilan yang juga mereka yakini.
Michael Denton
Dalam bukunya "Evolution: A Theory in Crisis",
yang membahas ketidakabsahan teori evolusi, seorang ahli biologi molekuler
terkenal, Prof. Michael Denton, mengungkapkan kepercayaan tidak masuk
akal para Darwinis:
Bagi mereka yang skeptis,
gagasan bahwa program genetis organisme tingkat tinggi hampir sama dengan
ribuan juta bit informasi, yang ekivalen dengan urutan huruf dalam seribu
jilid buku yang memuat beribu-ribu algoritma rumit dalam bentuk kode yang
mengendalikan, menentukan dan mengatur pertumbuhan dan perkembangan bermiliar-miliar
sel organisme kompleks, murni dihasilkan oleh sebuah proses acak, benar-benar
MELECEHKAN AKAL MANUSIA. AKAN TETAPI, GAGASAN TERSEBUT DITERIMA DARWINIS
TANPA SEDIKIT PUN KERAGUAN - PARADIGMA INI JUSTRU DIUTAMAKAN! 7
Memang, Darwinisme tidak lain dari kepercayaan
yang sepenuhnya tidak masuk akal dan bersifat takhyul. Siapa pun yang
berakal sehat akan melihat bukti dari fakta besar itu dengan memperhatikan
DNA, atau bagian lain dari alam semesta. Manusia dan semua makhluk hidup
diciptakan oleh Allah, Yang Mahakuasa, Rabb dari semesta alam.
"Dunia RNA"
Penemuan pada tahun 1970-an bahwa gas-gas
di dalam atmosfer primitif tidak memungkinkan sintesis asam amino, adalah
pukulan berat bagi teori evolusi molekuler. Kemudian diakui bahwa "eksperimen
atmosfer primitif" oleh evolusionis seperti Miller, Fox dan Ponnamperuma,
tidak absah. Untuk itu, pada tahun 1980-an berbagai upaya baru evolusionis
diajukan. Hasilnya adalah sebuah skenario yang dinamai "Dunia RNA" yang
menyatakan bahwa bukanlah protein yang pertama terbentuk, melainkan molekul
RNA yang mengandung informasi tentang protein.
When the Urey-Miller experiment was invalidated,
evolutionists had to embark on a new search.
Skenario ini diusulkan tahun 1986 oleh Walter
Gilbert, seorang ahli kimia dari Harvard. Menurutnya, miliaran tahun lalu
sebuah molekul RNA, yang entah bagaimana dapat melakukan replikasi, terbentuk
secara kebetulan. Kemudian, dengan diaktifkan oleh pengaruh lingkungan,
RNA ini mulai memproduksi protein. Selanjutnya, informasi tersebut perlu
disimpan pada molekul kedua, maka dengan suatu cara terbentuklah molekul
DNA.
Karena tersusun dari rangkaian kemustahilan
pada setiap tahapnya, skenario yang sukar dibayangkan ini bukannya memberikan
penjelasan tentang asal usul kehidupan, malah memperbesar masalah dan
menimbulkan banyak pertanyaan tak terselesaikan:
1. Jika mustahil untuk menerangkan pembentukan
secara kebetulan satu saja dari banyak nukleotida yang membangun RNA,
bagaimana mungkin nukleotida rekaan ini membentuk RNA dengan saling bergabung
dalam urutan yang tepat? John Horgan, ahli biologi evolusionis, mengakui
kemustahilan ini pembentukan RNA secara kebetulan ini sebagai berikut
:
Semakin dekat para peneliti
mengkaji konsep dunia RNA, semakin banyak masalah muncul. Bagaimana RNA
muncul pertama kali? Di laboratorium, dalam kondisi terbaik sekalipun,
RNA dan komponennya sangat sulit disintesis, apalagi dalam kondisi seadanya.
8
2. Bahkan jika kita menganggap RNA terbentuk
secara kebetulan, bagaimana mungkin RNA yang hanya terdiri dari rantai
nukleotida ini "memutuskan" untuk mereplikasi diri, dan mekanisme apa
yang mungkin digunakannya untuk proses itu? Dari mana RNA mendapatkan
nukleotida untuk replikasinya? Bahkan, ahli mikrobiologi evolusionis,
Gerald Joyce dan Leslie Orgel mengungkapkan keputusasaan atas situasi
ini dalam bukunya yang berjudul "In the RNA World".
Diskusi ini..., dalam suatu
artian, telah berfokus pada sebentuk mitos tentang molekul RNA yang bereplikasi
diri dan muncul dari sup polinukleotida acak secara mendadak. Hal ini
bukan saja tidak realistis di bawah pemahaman kita saat ini tentang kimia
prebiotik, bahkan ia seharusnya menyaring kepercayaan yang terlalu mudah
dari pandangan optimis tentang potensi katalitis RNA.9
3. Bahkan jika kita menganggap bahwa di bumi
purba ada RNA yang dapat mereplikasi diri, seluruh asam amino siap pakai
tersedia dan semua yang mustahil ini terjadi, situasi ini tidak berakhir
dengan pembentukan satu molekul protein pun. Hal ini karena RNA hanya
mengandung informasi mengenai struktur protein, sedangkan asam amino hanya
bahan mentah. Bagaimanapun, tidak ada mekanisme untuk memproduksi protein.
Anggapan bahwa kehadiran RNA sudah cukup untuk produksi protein adalah
sama tidak masuk akalnya dengan mengharapkan sebuah mobil dapat merakit
diri sendiri hanya dengan melemparkan secarik kertas yang berisi rancangannya
ke atas tumpukan ribuan onderdil mobil. Dalam kasus ini, juga tidak ada
produksi karena tidak ada pabrik atau pekerja yang terlibat dalam proses.
Protein diproduksi oleh ribosom dengan bantuan
berbagai enzim, dan merupakan hasil dari berbagai proses yang sangat kompleks
di dalam sel. Ribosom sendiri adalah organel sel yang kompleks dan terbuat
dari protein. Jadi, situasi ini juga menimbulkan asumsi tidak masuk akal
lainnya bahwa ribosom pun muncul secara kebetulan pada saat yang sama.
Bahkan pemenang Hadiah Nobel, Jacques Monod, seorang pembela teori evolusi
yang fanatik, menjelaskan bahwa sintesis protein tidak bisa dianggap proses
remeh yang hanya bergantung pada informasi dalam asam nukleat:
Kode DNA tidak berarti jika
tidak diterjemahkan. Perangkat penerjemah modern sel-sel ini terdiri dari
paling sedikit lima puluh komponen makromolekuler yang juga dikode dalam
DNA: kode-kode ini tidak dapat diterjemahkan kecuali oleh hasil penerjemahannya
sendiri. Ini sesuai dengan ungkapan omne vivum ex ovo (ayam atau telur
yang lebih dulu). Kapan dan bagaimana lingkaran ini berujung? Ini sangat
sulit untuk dibayangkan.10
Bagaimana sebuah rantai RNA di bumi purba
dapat mengambil keputusan seperti itu? Dan bagaimana ia merealisasikan
produksi protein dengan melakukan sendiri pekerjaan 50 partikel terspesialisasi?
Evolusionis tidak bisa menjawab pertanyaan ini.
When the need is felt for a protein in
a cell, a signal is sent to the DNA molecule. The DNA molecule receiving
the signal understands which protein is needed. Then the DNA makes
an RNA copy carrying specific information for making a protein,
which is called messenger RNA. After receiving the information,
mRNA leaves the nucleus and heads straight for the ribosomes, the
protein production factory. At the same time, another RNA copied
from the DNA, called transfer RNA, carries the amino acids for the
proteins to the ribosomes. Each tRNA is an "adapter" molecule that
can link with a specific amino acid. The tRNA which carries the
amino acid sequence information of the protein to be formed settles
in the production site of the ribosome. The amino acids brought
by the tRNA take their places according to the sequence notified
by the messenger RNA. Then another RNA molecule copied from DNA,
called ribosomal RNA, enables the messenger and transfer RNAs to
join together. Amino acids brought in by the transfer RNAs develop
peptide bonds to form protein chains. The messenger RNAs leave the
ribosome having deposited their loads. The protein that is produced
then proceeds to where it will be used.
The above picture shows protein chains
produced in the ribosome.
Dr. Leslie Orgel, seorang rekanan Stanley
Miller dan Francis Crick dari Universitas San Diego California, menggunakan
istilah "skenario" untuk kemungkinan "asal usul kehidupan melalui dunia
RNA". Orgel menggambarkan sifat-sifat yang harus dimiliki RNA berikut
kemustahilannya dalam artikelnya "The Origin of Life" yang dimuat dalam
American Scientist pada bulan Oktober 1994 :
Jika kita amati, skenario
ini mungkin saja terjadi jika RNA prebiotik memiliki dua sifat yang tidak
dimilikinya sekarang: kemampuan untuk bereplikasi tanpa bantuan protein
dan kemampuan untuk mengkatalisasi setiap tahap sintesis protein. 11
Cukup jelas kiranya, mengharapkan dua kemampuan
yang kompleks dan luar biasa mendasar ini pada molekul seperti RNA hanya
mungkin oleh daya imajinasi dan pandangan seorang evolusionis. Di lain
pihak, fakta-fakta ilmiah konkret menunjukkan secara eksplisit bahwa tesis
"Dunia RNA", yang diajukan sebagai model baru pembentukan kehidupan, juga
merupakan dongeng yang tidak masuk akal.
Pengakuan Para Evolusionis
Perhitungan probabilitas menunjukkan
dengan jelas bahwa molekul kompleks seperti protein dan asam nukleat
(RNA dan DNA) tidak pernah dapat terbentuk secara kebetulan, secara
independen satu terhadap yang lain. Walaupun demikian, evolusionis
harus menghadapi masalah yang lebih besar bahwa semua molekul kompleks
tersebut harus muncul secara bersamaan agar kehidupan dapat muncul.
Teori evolusi benar-benar dipusingkan oleh syarat tersebut. Ini
adalah titik di mana sebagian evolusionis terkemuka terpaksa mengaku.
Sebagai contoh, seorang kerabat dekat Stanley Miller dan Francis
Crick dari University of San Diego California, evolusionis terkenal
Dr. Leslie Orgel menyatakan:
Protein dan asam nukleat, masing-masing
memiliki struktur yang kompleks, tidak mungkin muncul secara spontan
pada tempat yang sama secara bersamaan. Tetapi tidak mungkin pula
ada salah satu tanpa yang lainnya. Karena itu, pada sekilas pandangan
pertama, seseorang mungkin harus menyatakan bahwa sesungguhnya kehidupan
tidak dapat berasal dari senyawa kimiawi.1
Fakta yang sama diakui pula oleh ilmuwan
yang lain:
DNA tidak dapat melakukan pekerjaannya,
termasuk menghasilkan lebih banyak DNA, tanpa bantuan protein katalitis
atau enzim. Singkatnya, protein tidak dapat terbentuk tanpa DNA,
sebagaimana pula DNA tidak dapat terbentuk tanpa protein.2
Bagaimana Kode Genetis, termasuk mekanisme
translasinya (ribosom dan molekul RNA), berawal? Untuk saat ini,
kita terpaksa harus puas dengan keterpesonaan dan ketakjuban, dan
bukan dengan sebuah jawaban. 3
1) Leslie E. Orgel, "The Origin of Life on Earth",
ScientificAmerican, vol.271, Oktober 1994, hlm. 782)
2) John Horgan, "In the Beginning", Scientific American, vol. 264,
Februari 1991, hlm. 119
3) Douglas R. Hofstadter, Godel, Escher, Bach: An eternal Golden
Braid, New York, Vintage Books, 1980, hlm. 548
Kehidupan, Konsep yang Lebih dari Sekadar
Tumpukan Molekul
Marilah sejenak kita lupakan seluruh kemustahilan
dan menganggap bahwa molekul protein terbentuk dalam lingkungan yang paling
tidak tepat, tidak beraturan, seperti kondisi bumi purba. Pembentukan
satu protein saja tidak akan cukup. Protein ini harus sabar menunggu selama
ribuan bahkan jutaan tahun dalam lingkungan yang tidak beraturan tanpa
mengalami kerusakan, sampai protein lain terbentuk secara kebetulan di
dekatnya dalam kondisi yang sama. Protein tersebut harus menunggu hingga
jutaan protein yang tepat terbentuk di sekitarnya dalam kondisi lingkungan
yang sama, seluruhnya "secara kebetulan". Protein-protein yang terbentuk
lebih dulu harus cukup sabar menunggu tanpa dirusak sinar ultraviolet
dan efek-efek mekanis yang keras sampai protein lain muncul di dekat mereka.
Kemudian protein-protein ini dalam jumlah memadai, yang semuanya muncul
pada tempat yang sama, akan bergabung menghasilkan kombinasi fungsional
dan membentuk organel-organel sel. Tidak ada senyawa berlebih, molekul
berbahaya atau rantai protein tak berguna yang mengganggu mereka. Kemudian,
bahkan bila organel-organel tersebut bergabung secara harmonis dan sesuai
dengan rancangan dan urutannya, mereka harus dilengkapi enzim-enzim penting
dan menutup diri dengan sebuah membran. Ruangan dalam membran harus diisi
dengan cairan istimewa untuk menyediakan lingkungan ideal bagi organel-organel
tersebut. Sekarang, sekalipun semua kejadian "yang sangat tidak mungkin"
ini secara kebetulan benar-benar terjadi, apakah tumpukan molekul ini
akan hidup?
Jawabannya adalah "tidak", karena penelitian
telah mengungkapkan bahwa kombinasi seluruh bahan penting bagi kehidupan
saja tidak cukup untuk memulai suatu kehidupan. Bahkan bila seluruh protein
pen-ting bagi kehidupan dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi,
usaha ini tidak akan menghasilkan satu pun sel hidup. Seluruh eksperimen
mengenai hal ini telah terbukti tidak berhasil. Seluruh observasi dan
eksperimen menunjukkan bahwa kehidupan hanya muncul dari kehidupan. Pernyataan
bahwa kehidupan berevolusi dari benda mati atau "abiogenesis" adalah kisah
yang hanya ada dalam mimpi evolusionis, dan sama sekali berbeda dengan
setiap hasil eksperimen dan observasi.
Prof. Chandra Wickramasinghe
Dalam hal ini, kehidupan pertama di bumi
ini harus berasal dari kehidupan lain. Ini merupakan refleksi asma Allah
yaitu "Al Hayyun" (Pemilik Kehidupan). Kehidupan dapat dimulai, berlanjut
dan berakhir hanya dengan kehendak-Nya. Sedangkan evolusi, selain tidak
mampu menjelaskan bagaimana kehidupan dimulai, juga bagaimana bahan-bahan
penting bagi kehidupan dapat terbentuk dan bersatu.
Chandra Wickramasinghe menggambarkan realitas
yang dihadapinya sebagai ilmuwan yang seumur hidup diajari bahwa kehidupan
muncul dari peristiwa-peristiwa kebetulan:
Sejak masa pendidikan untuk
menjadi seorang ilmuwan, otak saya benar-benar dicuci agar percaya bahwa
ilmu pengetahuan tidak sesuai dengan pen-ciptaan yang 'disengaja'. Pemikiran
tentang penciptaan ini harus disingkirkan dengan cara yang menyakitkan.
Pada saat ini, saya tidak dapat menemukan argumentasi rasional untuk mengalahkan
ajakan mempercayai Tuhan. Kami biasanya memiliki pikiran terbuka; dan
sekarang, kami sadar bahwa satu-satunya jawaban logis atas kehidupan ini
adalah penciptaan-bukan proses acak dan kebetulan. 12
Hukum II Termodinamika
Menggugurkan Teori Evolusi
If you leave a bus unattended in
the desert it will gradually fall apart and lose all its features.
The next time you look, you see the tyres have burst, the windows
have broken, the bodywork is rusted and the engine has failed.
This inevitable process happens even faster in living things.
In the same manner, all systems in the universe fall apart without
conscious intervention.
Hukum II Termodinamika, yang dianggap
sebagai salah satu hukum dasar ilmu fisika, menyatakan bahwa pada
kondisi normal semua sistem yang dibiarkan tanpa gangguan cenderung
menjadi tak teratur, terurai, dan rusak sejalan dengan waktu. Seluruh
benda, hidup atau mati, akan aus, rusak, lapuk, terurai, dan hancur.
Akhir seperti ini mutlak akan dihadapi semua makhluk dengan caranya
masing-masing dan menurut hukum ini, proses yang tak terelakkan
ini tidak dapat dibalikkan.
Kita semua mengamati hal ini. Sebagai
contoh, jika Anda meninggalkan sebuah mobil di padang pasir, Anda
tidak akan menemukannya dalam keadaan lebih baik ketika Anda menengoknya
beberapa tahun kemudian. Sebaliknya, Anda akan melihat bannya kempes,
kaca jendelanya pecah, sasisnya berkarat, dan mesinnya rusak. Proses
yang sama tak terhindarkan berlaku pula pada makhluk hidup, bahkan
lebih cepat.
Hukum II Termodinamika adalah cara
mendefinisikan proses alam ini dengan persamaan dan perhitungan
fisika.
Hukum fisika yang terkenal ini disebut
juga "Hukum Entropi". Entropi adalah selang ketidakteraturan yang
terjadi dalam suatu sistem. Entropi sistem meningkat ketika sistem
itu bergerak dari keadaan teratur, terorganisir, dan terencana menuju
keadaan yang lebih tidak teratur, tersebar dan tidak terencana.
Semakin tidak teratur suatu sistem, semakin tinggi pula entropinya.
Hukum Entropi menyatakan bahwa seluruh alam semesta bergerak menuju
keadaan yang semakin tidak teratur, tidak terencana, dan tidak terorganisir.
Keabsahan Hukum II
Termodinamika atau Hukum Entropi ini telah terbukti, baik secara
eksperimen maupun teoretis. Para ilmuwan terpenting di masa kita
menyetujui fakta bahwa Hukum Entropi akan menjadi paradigma yang
mendominir hingga periode sejarah mendatang. Albert Einstein, ilmuwan
terbesar di masa kita ini mengakuinya sebagai "hukum utama dari
semua sains". Sir Arthur Eddington juga menyebutnya sebagai "hukum
metafisika tertinggi di seluruh jagat".1
Teori evolusi adalah klaim yang diajukan
dengan sepenuhnya mengabaikan hukum fisika yang mendasar dan memiliki
kebenaran universal ini. Mekanisme yang diajukan evolusi benar-benar
bertentangan dengan hukum ini. Teori evolusi menyatakan bahwa atom-atom
dan molekul-molekul yang tidak hidup, tidak teratur dan tersebar,
sejalan dengan waktu menyatu secara spontan dalam urutan dan perencanaan
tertentu membentuk molekul-molekul yang luar biasa kompleks seperti
protein, DNA dan RNA. Kemudian mereka lambat laun menghasilkan jutaan
spesies makhluk hidup yang berbeda, bahkan dengan struktur yang
lebih kompleks lagi. Menurut teori evolusi, proses yang diperkirakan
ini - yang menghasilkan struktur yang lebih terencana, lebih teratur,
lebih kompleks dan lebih terorganisir - terbentuk dengan sendirinya
pada tiap tahapan dalam kondisi alamiah. Hukum Entropi menegaskan
bahwa apa yang disebut proses alamiah ini jelas bertentangan dengan
hukum-hukum fisika.
Ilmuwan evolusionis juga menyadari
fakta ini. J. H. Rush menyatakan:
Dalam perjalanan
evolusinya yang kompleks, kehidupan menunjukkan perbedaan yang sangat
besar dibandingkan kecenderungan yang dinyatakan Hukum II Termodinamika.
Sementara Hukum II menyatakan pergerakan irreversibel ke arah entropi
yang lebih tinggi dan tak teratur, kehidupan terus berevolusi ke
tingkat keteraturan yang lebih tinggi.2
Dalam sebuah artikel di majalah Science,
ilmuwan evolusionis, Roger Lewin, menyatakan kebuntuan evolusi secara
termodinamika:
Satu masalah yang
dihadapi para ahli biologi adalah pertentangan nyata oleh evolusi
terhadap Hukum II Termodinamika. Semua sistem seharusnya rusak sejalan
dengan waktu, semakin tidak teratur, bukan sebaliknya.3
Ilmuwan evolusionis lainnya, George
Stravropoulos, menyatakan kemustahilan termodinamis dari pembentukan
kehidupan secara spontan dan ketidaklayakan penjelasan adanya mekanisme-mekanisme
makhluk hidup yang kompleks melalui hukum-hukum alam. Ini dinyatakannya
dalam majalah evolusionis terkenal, American Scientist:
Namun sesuai dengan
Hukum Termodinamika II, dalam kondisi biasa tidak ada molekul organik
kompleks dapat terbentuk secara spontan, tetapi sebaliknya akan
hancur. Memang, semakin kompleks sebuah molekul, semakin tidak stabil
keadaannya dan semakin pasti kehancurannya, cepat atau lambat. Kendatipun
melalui pembahasaan yang membingungkan atau sengaja dibuat membingungkan,
fotosintesis dan semua proses kehidupan, serta kehidupan itu sendiri,
tidak dapat dipahami berdasarkan ilmu termodinamika ataupun ilmu
pasti lainnya.4
Mitos "Sistem Terbuka"
Dihadapkan pada semua kebenaran ini,
evolusionis terpaksa berlindung dengan menyimpangkan Hukum II Termodinamika,
dengan mengatakan bahwa hukum ini berlaku hanya untuk "sistem tertutup",
dan tidak dapat menjangkau "sistem terbuka".
Suatu "sistem terbuka" merupakan sistem
termodinamis di mana materi dan energi dapat keluar-masuk. Sedangkan
dalam "sistem tertutup", materi dan energi tetap konstan. Evolusionis
menyatakan bahwa bumi merupakan sebuah sistem terbuka. Bumi terus
menerima energi dari matahari, sehingga hukum entropi tidak berlaku
pada bumi secara keseluruhan; dan makhluk hidup yang kompleks dan
teratur dapat terbentuk dari struktur-struktur mati yang sederhana
dan tidak teratur.
Namun ada penyimpangan nyata dalam
pernyataan ini. Fakta bahwa sistem memperoleh aliran energi tidaklah
cukup untuk menjadikan sistem ini teratur. Diperlukan mekanisme
khusus untuk membuat energi berfungsi. Sebagai contoh, mobil memerlukan
mesin, sistem transmisi, dan mekanisme kendali untuk mengubah bahan
bakar menjadi energi untuk menggerakkan mobil. Tanpa sistem konversi
energi seperti itu, mobil tidak dapat menggunakan energi dari bahan
bakar.
Hal yang sama berlaku juga dalam kehidupan.
Kehidupan memang mendapatkan energi dari matahari, namun energi
matahari hanya dapat diubah menjadi energi kimia melalui sistem
konversi energi yang sangat kompleks pada makhluk hidup (seperti
fotosintesis pada tumbuhan dan sistem pencernaan pada manusia dan
hewan). Tidak ada makhluk hidup yang dapat hidup tanpa sistem konversi
energi semacam itu. Tanpa sistem konversi energi, matahari hanyalah
sumber energi destruktif yang membakar, menyengat dan melelehkan.
Dapat dilihat, suatu sistem termodinamika,
baik terbuka maupun tertutup, tidak menguntungkan bagi evolusi tanpa
mekanisme konversi energi. Tidak ada seorang pun menyatakan bahwa
mekanisme sadar dan kompleks semacam itu muncul di alam dalam kondisi
bumi purba. Memang, masalah nyata yang dihadapi evolusionis adalah
bagaimana mekanisme konversi energi yang kompleks ini - seperti
fotosintesis tumbuhan yang tidak dapat ditiru, bahkan dengan teknologi
modern - dapat muncul dengan sendirinya.
Aliran energi matahari ke bumi tidak
dapat menciptakan keteraturan dengan sendirinya. Setinggi apa pun
suhunya, asam-asam amino tidak akan membentuk ikatan dengan urutan
teratur. Energi saja tidak cukup untuk pembentukan struktur lebih
kompleks dan teratur, seperti asam amino membentuk protein atau
protein membentuk struktur terorganisir yang lebih kompleks pada
organel-organel sel. Sumber nyata dan penting dari keteraturan pada
semua tingkat adalah rancangan sadar, dengan kata lain, penciptaan.
PENGELAKAN "TEORI KHAOS"
Menyadari bahwa Hukum II Termodinamika
membuat evolusi mustahil terjadi, sejumlah ilmuwan evolusionis telah
melakukan upaya spekulatif untuk menutup jurang pemisah antara keduanya
sehingga memungkinkan terjadinya evolusi. Seperti biasa, ikhtiar
itu malah menunjukkan bahwa teori evolusi menghadapi jalan buntu
yang tak terelakkan.
Seorang yang menonjol dengan upayanya
untuk mengawinkan termodinamika dengan evolusi adalah ilmuwan Belgia,
Ilya Prigogine.
Dengan mengawali dari Teori Khaos,
Prigogine mengajukan sebuah hipotesa di mana keteraturan terbentuk
dari khaos (kekacauan). Meskipun telah mengerahkan upaya terbaiknya,
Prigogine tidak mampu melakukan perkawinan itu. Ini jelas terlihat
pada komentarnya:
Ada pertanyaan lain,
yang telah mengganggu kita selama lebih dari satu abad: Apa signifikansi
yang dimiliki evolusi makhluk hidup dalam dunia yang diuraikan oleh
termodinamika, dunia dengan ketidakteraturan yang terus meningkat?6
Prigogine, yang sangat paham bahwa
teori-teori pada tingkat molekuler tidak dapat dipakai pada sistem
kehidupan, seperti sel hidup, menekankan masalah ini:
Masalah keteraturan
biologis melibatkan peralihan dari aktivitas molekuler hingga keteraturan
supermolekuler dari sel. Masalah ini jauh dari terselesaikan.7
Inilah poin paling akhir yang dicapai
Teori Khaos dan spekulasi yang terkait. Tidak ada hasil konkret
yang telah dicapai yang akan mendukung atau membenarkan evolusi
atau menghilangkan kontradiksi antara evolusi, entropi, dan hukum-hukum
fisika lainnya.
Meskipun semua fakta yang teramat jelas
ini, para evolusionis mencoba untuk berlindung dengan dalih-dalih
sederhana. Kebenaran ilmiah yang nyata menunjukkan bahwa makhluk-makhluk
hidup dan struktur makhluk hidup yang teratur, terencana, dan kompleks
tidak mungkin muncul dengan peristiwa kebetulan di bawah keadaan
normal. Situasi ini memperjelas bahwa keberadaan makhluk hidup hanya
dapat dijelaskan dengan campur tangan suatu kekuatan supernatural.
Kekuatan supernatural itu adalah Allah, yang menciptakan seluruh
alam semesta dari ketiadaan. Sains telah membuktikan bahwa evolusi
masih tetap mustahil sejauh berkaitan dengan termodinamika dan keberadaan
dari kehidupan tidak memiliki penjelasan lain kecuali Penciptaan.
1 Jeremy
Rifkin, Entropy: A New World View, New York, Viking Press, 1980,
p.6 2 J.H.Rush, The Dawn of Life, New York, Signet, 1962, p.
35 3 Roger Lewin, "A Downward Slope to Greater Diversity,"
Science, vol. 217, 24.9.1982, p. 1239 4 George P. Stravropoulos, "The Frontiers and Limits of
Science," American Scientist, vol. 65, November-December 1977,
p.674 5 Jeremy Rifkin, Entropy: A New World View, p.55 6 Ilya Prigogine, Isabelle Stengers, Order Out of Chaos,
New York, Bantam Books, 1984, p. 129 7Ilya Prigogine, Isabelle Stengers, Order Out of Chaos,
p. 1758
1
Michael Denton, Evolution:A Theory in Crisis, London: Burnett Books, 1985,
hlm. 334.
2 Frank B. Salisbury, "Doubts about the Modern Synthetic Theory of Evolution",
American Biology Teacher, September 1971, hlm. 336.
3 Francis Crick, Life Itself: It's Origin and Nature, New York, Simon
& Schuster, 1981, hlm. 88.
4 Pierre-P Grass, Evolution of Living Organisms, New York: Academic Press,
1977, hlm. 103.
5 Douglas R. Hofstadter, Gdel, Escher, Bach: An Eternal Golden Braid,
New York, Vintage Books, 1980, hlm. 548
6 Leslie E. Orgel, "The Origin of Life on the Earth", Scientific American,
Oktober 1994, vol. 271, hlm. 78.
7 Michael Denton, Evolution: A Theory in Crisis. London: Burnett Books,
1985, hlm. 351.
8 John Horgan, "In the Beginning", Scientific American, vol. 264, Februari
1991, hlm. 119.
9 G.F. Joyce, L. E. Orgel, "Prospects for Understanding the Origin of
the RNA World", In the RNA World, New York: Cold Spring Harbor Laboratory
Press, 1993, hlm. 13.
10 Jacques Monod, Chance and Necessity, New York: 1971, hlm.143.
11 Leslie E. Orgel, "The Origin of Life on the Earth", Scientific American,
Oktober 1994, vol. 271, hlm. 78.
12 Chandra Wickramasinghe, Interview in London Daily Express, 14 Agustus
1981.
Versi online dari buku-buku Harun Yahya yang telah diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia sedang dalam persiapan.
Untuk sementara Anda dapat mengunjungi halaman Download
untuk mendownload versi teks atau pdf yang tersedia dari buku-buku tersebut.