< <
11 / total: 13

6. Fosil-Fosil Tengkorak

Pukulan Dari Fosil-Fosil Tengkorak Terhadap Darwinisme

imaginär
imagination, fact, evolutionist

Setiap evolusionis yang meneliti fosil mungkin akan sampai ke skenario berbeda berdasarkan pada khayalannyan sendiri, yang sebenarnya tidak memiliki nilai ilmiah.

Teori Darwin, yang menyiratkan bahwa manusia dan kera berevolusi dari satu moyang bersama, tidak bisa didukung oleh temuan-temuan ilmiah, baik selama Zaman ketika teori dikemukakan, maupun di tahun-tahun sejak pertengahan abad ke-19-yakni, untuk kira-kira 150 tahun, segala upaya yang dikerahkan untuk mendukung dongeng satwa tentang evolusi manusia terbukti hampa.

Semua fosil yang terkumpul membuktikan bahwa kera selalu kera dan manusia selalu manusia; bahwa kera tidak beralihrupa menjadi manusia, serta bahwa kera dan manusia tidak berbagi moyang bersama.

Sekalipun propaganda dan upaya-upaya intimidasi keras para Darwinis di kalangan akademisi, banyak ilmuwan mendapatkan keberanian untuk mengungkapkan kebenaran. Salah satunya adalah David Pilbeam, seorang ahli paleontologi Universitas Harvard, yang mengatakan bahwa apa yang disebut dengan evolusi manusia adalah suatu saran yang hampa data ilmiah:

Jika Anda menghadirkan seorang ilmuwan yang cerdik dari bidang ilmu lain dan menunjukkan kepadanya bukti minim yang kita peroleh, ia pastilah berkata, "Lupakan; tidak cukup jumlah untuk terus maju."

William Fix, pengarang The Bone Peddlers,sebuah buku tentang palentologi, mengungkapkan betapa yang disebut "evolusi" manusia tidak didukung oleh bukti ilmiah:

Seperti telah kita lihat, ada banyak ilmuwan dan pakar propaganda hari ini yang memiliki kebanggaan yang sangat untuk berkata kepada kita "tidak ada keraguan" cara manusia bermula. Jika saja mereka memiliki bukti itu..

rhino skull

Tengkorak badak yang membatu berumur 20 juta tahun.

Menghadapi kekecewaan yang disebabkan oleh rekaman fosil dan kurangnya petunjuk, para evolusionis hanya bisa beberapa kali menyusun tengkorak palsu dan membuat persangkaan tentang tengkorak yang telah terdomuntasikan sebagai tipu daya. Akan tetapi, penelitian-penelitian atas tengkorak kera, maupun mahluk-mahluk hidup lainnya dan aneka ras manusia yang hidup di masa lampau, mengungkapkan bahwa mahluk-mahluk hidup telah muncul bersama semua ciri yang mereka miliki dan tidak berubah sepanjang sejarah.

Anatomi yang tak berubah ini membantah pernyataan evolusi mahluk-mahluk hidup.

Ini berarti bahwa mahluk-mahluk hidup tidak mengalami proses evolusi apapun, dan semuanya telah diciptakan oleh Allah Mahakuasa. Sebagaimana juga akan disingkapkan oleh contoh-contoh dalam halaman-halaman berikut, maupun organ-organ dan anggota-anggota tubuh lain banyak mahluk hidup seperti kodok, kadal, capung, lalat dan lipas, kepala mereka juga tidak berubah. Struktur kepala burung dan ikan tetap sama. Dari saat pertama diciptakan, singa, serigala, rubah, badak, panda, harimau, macan tutul dan dubuk memiliki struktur kepala yang sama yang dipertahankan selama puluhan juta tahun.

tiger skull

Tengkorak harimau yang membatu berumur 20 juta tahun.

 

Sepanjang Waktu, Tidak Ada Sepanjang Waktu, Tidak Ada Perubahan Pernah Terjadi Pada Tengkorak Spesies

Sama seperti semua organ dan ciri lainnya, tengkorak dan struktur kepala aneka spesies tetap sama selama jutaan tahun. Tidak ada perubahan evolusioner pernah terjadi pada tengkorak mahluk hidup mana pun. Sama seperti spesies-spesies yang tetap sama selama jutaan tahun tanpa perubahan evolusioner apapun, manusia juga tidak pernah mengalami evolusi apapun. Kita selalu ada sebagai manusia, bersama semua ciri-ciri anatomis kita. Tengkorak-tengkorak ini diajukan sebagai petunjuk bahwa apa yang disebut evolusi terhadap spesies kera yang punah atau ras manusia yang tidak ada lagi saat ini. Dan tidak satu pun dari mereka bisa diterima sebagai bukti evolusi.

fossils, rabbit, frog, fish, grasshopper

a)A 54- to 37-million-year-old fossil bowfin fish
b) A 108- to 92-million-year-old fossil grasshopper

c) A 50-million-year-old fossil frog
d) A 30-million-year-old fossil rabbit

 

fossil, wasp, herring, neuropteran, trout-perch

a) A 48- to 37-million-year-old fossil herring
b) A 48- to 37-million-year-old fossil wasp

c) A 125-million-year-old fossil neuropteran
d) A 50 million-year-old fossil trout-perch

 

Homo erectus

Some races living today, like the native to the side, have the large eyebrow projections and the foreheads that are inclined backwards—features peculiar to Homo erectus skulls.

Kesamaan ini, yang umum pada semua spesies, juga terjadi bagi manusia. Sama seperti tidak ada perubahan pernah terjadi pada struktur kepala puluhan ribu mahluk hidup selama jutaan tahun, tidak ada perubahan evolusioner terhadap pada tengkorak manusia. Sama seperti ikan selalu tetap ada sebagai ikan, burung selalu tetap sebagai burung dan reptil tetap reptil, manusia pun tetap selalu ada sebagai manusia. Tidak ada organ atau struktur tubuh mahluk hidup apapun pernah "berevolusi" dari bentuk yang primitif ke yang lebih rumit, sebagaimana terus-menerus didengungkan para evolusionis.

Sambil berbicara tentang apa yang disebut evolusi manusia, para evolusionis membuat susunan dan pohon keluarga evolusioner versi mereka sendiri, menyajikan isi tengkorak, tonjolan pelipis atau struktur dahi yang mereka gali sebagai petunjuk. Namun, perbedaan-perbedaan struktur ini dengan cara apapun bukanlah petunjuk evolusi, sebab sebagian tengkorak ini milik beragam ras manusia yang hidup di masa lalu, sementara yang lain milik spesies kera yang sudah punah. Bahwa beragam ras manusia mesti memiliki beragam struktur tengkorak adalah sepenuhnya alamiah. Beragam spesies ikan juga memiliki beragam bentuk kepala. Misalnya, bentuk kepala trout salmon sangat berbeda dari belut, namun keduanya sama-sama ikan.

Disparities Between The Skulls of Human Races

It is perfectly natural that a Japanese has a different skull than a black man, an Inuit or a German. These disparities do not presuppose that any race is more developed or less progressed than any other and can never count as evolutionary evidence. These differences simply reflect the diversity and supremacy of God's creations.

skull, human

a) A middle-aged man from Bengal
b) A native Peruvian who lived in the 15th century
c) A male German aged 25 to 30 years old

d) A male Zairian aged 35 to 45
e) A man who died in the Solomon Islands in the southwestern Pacific in 1893
f) A male Inuit, aged 35 to 40 years old

Serupa itu, ada perbedaan antara struktur tengkorak aneka ras manusia. Ada perbedaan pada struktur dahi, liang mata, tonjolan pelipis dan isi tengkorak antara orang Pigmi dan Inggris, Rusia dan China, Aborigin dan Inuit atau Afrika dan Jepang, Namun, perbedaan-perbedaan ini tidak berarti bahwa satu ras berevolusi dari ras lain atau bahwa ras tertentu adalah "lebih primitif" atau "lebih maju" daripada yang lain.

Sepanjang garis Aborigin tidak bercampur dengan ras lain, ciri mereka akan selalu tetap sama. Tidak masalah berapa lama waktu berlalu, orang-orang ini tidak akan berevolusi dengan cara sedemikian untuk mendapatkan ciri-ciri yang berbeda. Mereka tidak akan mendapatkan tengkorak dengan volume lebih besar atau ciri anatomis lain.

Neanderthal: Satu Ras Manusia Yang Berbeda Dengan Semua Ras Yang Pernah Hidup Dalam Sejarah Tidak Menyusun Satu Petunjuk Bagi Evolusi!

Manusia Neanderthal (Homo neanderthalensis) adalah manusia yang muncul di Eropa 100,000 tahun silam dan tidak lagi ada kira-kira 35,000 tahun silam-atau telah bercampur dengan ras-ras lain manusia. Perbedaan utama antara mereka dan manusia masa kini adalah rangka mereka sedikit lebih padat dan volume rata-rata otak mereka sedikit lebih besar. Temuan-temuan ilmiah memperlihatkan bahwa orang-orang Neanderthal sepenuhnya ras manusia dengan tingkat kecerdasan dan budaya yang tidak berbeda dengan kita. Manusia Cro-Magnion juga satu ras yang dipercaya hidup 30,000 tahun silam. Mereka memiliki tengkorak kubah dan dahi yang lebar. Isi tengkorak
mereka yang 1,600 cc lebih tinggi daripada rata-rata manusia saat ini. Mereka memiliki tonjolan tebal pelipis yang tebal di tengkorak mereka dan memiliki juga tonjolan keras di belakang tengkorak mereka, yang juga merupakan
ciri manusia Neanderthal. Banyak dari perbedaan fisik serupa yang ada antara manusia Cro-Magnon dan Neanderthal juga ada di antara ras-ras manusia masa kini. Sama seperti perbedaan antara orang Amerika dan orang Inuit, atau orang Afrika dan orang Eropa, tidak membuktikan bahwa salah satu mereka lebih unggul daripada yang lain; demikian juga sifat-sifat fisik dari ras-ras punah ini tidak menjadikan mereka primitif atau mirip kera. Ras-ras ini bercampur-baru dengan ras-ras lain atau, untuk suatu alasan yang belum diketahui, meninggalkan panggung sejarah. Namun, tidak mungkin mereka “primitif” atau “setengah kera.” Mereka ada sebagai manusia yang sempurna.

Neanderthal: A Human Race

Neanderthals

Neanderthals are an extinct human race who possessed an advanced sense of art and aesthetics. Evolutionists have presented Neanderthals as apelike ancestors of humans, but such claims have been categorically refuted by recent scientific findings.

a) Flute of Neanderthals

Some Examples Of The Fake Neanderthal Scenario

Neanderthals

Imaginary Neanderthal reconstructions.

Misalnya, sebagian pribumi Malaysia yang hidup harus ini memiliki tonjolan pelipis yang besar dan dahi yang tertarik ke belakang-suatu ciri khas bagi tengkorak Homo erectus yang dikatakan para evolusionis "primitif." Jika pendapat para evolusionis ini benar, maka pribumi Malaysia ini harus memiliki apa yang dikatakan struktur dan penampilan manusia yang belum berkembang, yang baru saja berevolusi dari kera. Akan tetapi, hal ini bagaimana pun tidak terjadi. Fakta bahwa sebagaimana ciri anatomis tengkorak Homo erectus juga terlihat hari ini mengungkapkan bahwa Homo erectus bukanlah spesies primitif, maupun juga fakta bahwa skenario evolusionis tentang "pohon keluarga manusia" itu sekadar dusta.

Aborigines

Kecuali bercampur dengan ras-ras lain, orang-orang Aborigin tetap orang-orang Aborigin. Mereka tidak akan menjadi seorang ras Eropa, misalnya. Tidak pandang berapa lama, orang-orang ini tetap tidak akan memeroleh sifat-sifat baru. Isi tengkorak mereka tidak akan lebih besar daripada hari ini, dan mereka tidak akan “mengevolusikan” sifat-sifat anatomis lain.

Singkatnya, fakta bahwa sebagian ras manusia yang hidup di masa lalu memiliki struktur anatomis yang berbeda bukanlah petunjuk bagi evolusi. Perbedaan anatomis dapat terlihat pada setiap Umur, di antara berbagai ras manusia. Tengkorak orang Amerika dan Jepang, Eropa dan Aborigin, Inuit, Afrika atau Pigmi tidaklah sama. Namun, hal ini tidak menyiratkan bahwa salah satu ras ini lebih maju atau lebih primitif daripada ras lainnya.

Jika, ribuan tahun ke depan, seorang ilmuwan menemukan tengkorak seorang Amerika yang tingginya 1,9 meter yang hidup di tahun 2000-an dan memutuskan untuk membandingkannya dengan tengkorak seorang Jepang dengan tinggi 1,6 meter yang juga hidup di abad ke-21, ia akan mengamati banyak perbedaan, Ukuran adalah yang pertama.

Jika, berdasarkan pada perbedaan-perbedaan ini, ia menyatakan bahwa orang Amerika lebih maju dalam sebuah proses evolusi khayalan sementara orang Jepang itu sekadar hominid primitif, tafsirannya pasti hauh dari mencerminkan kebenaran.

Lebih lagi, ukuran satu tengkorak bukanlah ukuran kecerdasan atau kecakapan manusia. Banyak orang memiliki tubuh yang tumbuh baik, namun berkemampuan mental terbatas. Di sisi lain, ada banyak orang cerdas yang tubuhnya dan kepalanya lebih kecil daripada orang-orang lain. Mendasarkan pada hanya ukuran, memeringkat tengkorak-tengkorak orang ini ke dalam yang disebut susunan evolusioner akan pastilah tidak bernilai ilmiah, sebab susunan semacam itu tidak mencerminkan fakta. Perbedaan dalam isi tengkorak tidak bermakna apa-apa bagi kecerdasan dan kecakapan, sebagaimana kita ketahui dengan baik.

Tengkorak seseorang yang terlibat dalam kegiatan mental yang sibuk sepanjang hidupnya tidak akan tumbuh. Ia sekadar menjadi lebih mampu secara mental. Kecerdasan berubah tidak menurut isi otak, namun lewat penyusunan neuron dan sinapsis di dalam otak.

Peniruan Pada Kera Tidak Berarti Kera Dapat Berevolusi Menjadi Manusia

imaginär
primitive human
Tidak Ada Manusia Primitif Pernah Ada Dalam Zaman Apapun Sejarah

Setengah kera, setengah manusia sebagaimana yang Anda lihat dalam foto ini, atau yang Anda temukan di suratsurat kabar, majalah-majalah,bahkan buku-buku sekolah, tidak pernah ada. Kera selalu tetap kera; manusia selalu tetap manusia. Gambar-gambar ini adalah hasil keliru pemikiran para evolusionis, dan tidak mencerminkan sejarah sebenarnya.

Para Darwinis menyatakan bahwa kemampuan meniru kera adalah bukti bagi persangkaan mereka bahwa kera berevolusi menjadi manusia. Benar, kera mampu meniru gerak tubuh dan perilaku yang mereka lihat. Ketika dilatih agar demikian, mereka dapat membedakan bentuk dan warna benda, dan menanggapi rangsangan secara cerdas. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa mereka berevolusi menjadi manusia seiring dengan waktu. Jika itu kejadiannya, maka semua spesies hewan yang dikenal cerdas-anjing, kucing, kuda-harus diharapkan akan pelan-pelan berevolusi menjadi manusia.

Misalnya, ketika dilatih, beo dapat membedakan bentuk persegi dari lingkaran, merah dari biru, dan dapat menempatkan benda ke tempat yang benar. Lebih jauh, beo memiliki kemampuan berbicara dengan meniru suara manusia, yang tidak bisa dilakukan kera. Dalam hal ini-menurut pernyataan tak masuk akal para Darwinis-beo memiliki peluang lebih besar berevolusi menjadi manusia yang cerdas.

Serigala adalah binatang lain yang dikenal akan kecerdasannya. Menurut logika tanpa dasar dan tidak ilmiah para Darwinis, Ukuran tengkorak serigala akan tumbuh pelan-pelan, sesuai dengan kecerdasannya, dan suatu kali, mamalia ini akan berevolusi menjadi suatu spesies yang secerdas dan sesadar manusia. Akan tetapi, alihrupa ini tidak pernah terjadi. Serigala selalu tetap serigala.

Sungguh menakjubkan melihat orang dengan karir akademis bersusah-payah mencoba menjelaskan pernyataan-pernyataan tak masuk akal ini dengan membumbuinya dengan istilah-istiah ilmiah dan kata-kata Latin. Tidak masalah bagaimana kera mengembangkan kemampuan mental dan kecakapan tangannya, atau meniru apa yang dilihatnya di sekitar, hal-hal ini tidak akan membuat mereka suatu hari menjadi manusia. Kera selalu menjadi kera, dan akan tetap demikian. Dan tidak masalah betapa susah-payah para evolusionis berpendapat lain, kebenaran itu nyata: manusia menjadi ada tidak lewat proses evolusioner apapun, namun diciptakan oleh Allah, dengan kecerdasan, kesadaran dan hati nurani yang telah diberikan olehNya.

Manusia diciptakan sebagai manusia dan ada sebagai manusia sejak penciptaannya. Inilah kebenaran yang telah ditunjukkan kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan kepada kita.

Cerita Evolusi Manusia Penuh Dengan Tipuan

Sepanjang sejarah geologi, lebih dari 6.000 spesies kera pernah hidup, dan sebagian besar telah punah. Kini, hanya 120 spesies kera masih ada di Bumi. Namun, kira-kira 6.000 spesies kera itu membentuk satu sumber daya yang kaya bagi para evolusionis. Mereka menciptakan suatu skenario evolusi manusia yang cocok dengan maksud-maksud mereka dengan menyusun sebagian tengkorak kera punah ini dan ras manusia dalam suatu urutan, dari yang terkecil ke yang terbesar dan membumbuinya dengan ulasan-ulasan berprasangka. Dengan menggunakan cara-cara ini, mereka mencoba selama bertahun-tahun untuk mendapatkan sokongan bagi teori evolusi dan menipu manusia. Namun, kini mereka harus melihat bahwa metode-metode yang mereka pakai tidak lagi berguna.

Sebagian petunjuk hasil karang-karangan yang digunakan para evolusionis untuk meyakinkan orang-orang lain bahwa skenario evolusi manusia itu benar adalah:

Manusia Piltdown, ditemukan oleh Charles Dawson di tahun 1912 dan yang diduga berumur 500 ribu tahun. Akan tetapi, kira-kira 40 tahun setelah "fosil" ditemukan, para ilmuwan memeriksanya sekali lagi dan mengungkapkan suatu pemalsuan yang mencengangkan. Tengkorak Manusia Piltdown adalah milik manusia yang hidup 500 tahun lalu, dan tulang rahang bawahnya milik kera yang baru mati. Giginya telah sengaja disusun dan disisipkan ke rahang, dan sendi-sendinya diisi agar membuatnya menyerupai milik manusia. Lalu, semua potongan tulang dinodai dengan kalium dikromat untuk memberinya penampakan kuno.

Pada tahun 1922, Henry Fairfield Osborn, direktur Museum Sejarah Alam Amerika, menyatakan bahwa ia telah menemukan satu fosil gigi geraham dari Zaman Pliosen di Nebraska barat dekat Snake Brook. Gigi ini diduga memiliki sifat yang sama dimiliki gigi manusia dan kera, dan berasal dari spesies baru yang dijuluki "Manusia Nebraska." Berdasarkan pada satu gigi ini, reka ulang kepala dan tubuh manusia Nebraska digambarkan. Lebih lagi, manusia Nebraska bahkan digambarkan bersama seluruh keluarganya! Namun, di tahun 1927, bagian-bagian lain rangka juga ditemukan, dan potongan-potongan yang baru ditemukan ini menunjukkan bahwa gigi itu bukan milik manusia maupun kera, namun milik satu spesies babi liar Amerika yang punah yang disebut Prosthennops.

Ramapithecus

Source of Insspiration: A SINGLE JAWBONE

Fosil Ramapithecus yang pertama ditemukan terdiri dari dua potongan tak sempurna rahang (lihat bawah). Namun, para seniman evolusionis tidak kesulitan untuk menggambarkan lingkungan khayalan dan para anggota keluarga Ramapithecus, hanya berdasarkan pada satu tulang rahang ini. Setelah dipahami bahwa mahluk ini, yang keluarga dan habitanya telah direka-ulang dari sepotong tulang rahang, sebenarnya kera biasa, Ramapithecus diam-diam dikeluarkan dari pohon keluarga manusia khayalan.
(David Pilbeam, “Humans Lose an Early Ancestor,” Science, April 1982, h. 6-7).

Ramapithecus diketahui sebagai keyakinan sesat terbesar dan terlama teori evolusi. Nama ini diberikan kepada fosil yang ditemukan di India pada tahun 1932, yang disangka mewakili tahap pertama perpisahan antara manusia dan kera, yang dianggap terjadi 14 juta tahun silam. Fosil ini digunakan sebagai petunjuk kokoh oleh para evolusionis selama sekitar 50 tahun. Akan tetapi, analisis lebih lanjut membuktikan bahwa sifat-sifat gigi Ramapithecus sangat mirip dengan sebagian simpanse masa kini. Misalnya, Theropithecus galada, babon dataran tinggi yang hidup di Ethiopia, memiliki gigi seri dan taring yang relatif kecil dibandingkan dengan kera-kera lainnya yang kini hidup dan wajah kecil seperti Ramapithecus. Di bulan terbitan April 1982 majalah Science, satu tulisan berjudul "Humans lose an early ancestor" (Manusia kehilangan moyang asalnya) mengumumkan bahwa Ramapithecus hanyalah orangutan yang sudah punah.

Di bulan Juli 1984, sebuah fosil rangka yang hampir lengkap dari yang jelas-jelas manusia ditemukan di Danau Turkana, Kenya. Diperkirakan bahwa fosil ini, dijuluki Pemuda Turkana, berumur 12 tahun dan akan sejangkung 1,83 meter saat dewasa. Struktur tegak rangka ini tidak ada bedanya dengan manusia masa kini. Bangun panjang dan tinggi rangka ini sepenuhnya cocok dengan rangka manusia yang saat ini hidup di kawasan tropis dunia. Richard Leakey mengatakan bahwa di masa kini, remaja ini akan tidak mencolok jika berada di kerumunan orang. Karena ditemukan di lapisan yang berumur 1,6 juta tahun, rangka manusia ini digolongkan menurut Umurnya sebagai wakil lain Homo erectus. Pemuda Turkana adalah contoh biasa dari tafsiran berprasangka dan berpihak terhadap fosil oleh para evolusionis.

"Lucy" adalah nama yang diberikan kepada fosil yang ditemukan oleh ahli antropologi Donald Johanson di tahun 1974. Banyak evolusionis menyatakan bahwa Lucy adalah bentuk peralihan antara manusia dan apa yang disebut moyang hominidnya. Akan tetapi, analisis lanjutan pada fosil ini mengungkapkan bahwa Lucy hanyalah anggota dari spesies kera yang punah, dikenal sebagai Australopithecus. Ukuran otak Australopithecus mendekati simpanse. Banyak sifat-sifat lain-seperti rincian tengkorak, kedekatan mata, gigi geraham yang tajam, struktur rahang, tangan panjang, dan kaki pendek-menegaskan bahwa mahluk ini tidak berbeda dengan simpanse masa kin. Bahkan panggulnya pun sama dengan simpanse.

Lucy, Science et Vie

Ceritalucy Memudar

Selamat Tinggal Lucy

Dua anatomis evolusionis, Solly Zuckerman dan Charles Oxnard, meneliti fosil yang disebut “Lucy,” yang dikatakan sebagai moyang berjalan tegak bagi semua manusia tepat setelah fosil digali di tahun 1974. Mereka menyangkal pernyataan itu dan menyatakan bahwa anatomi dan cara berjalan Lucy tidak mirip dengan manusia, dan bahwa ia sekadar satu spesies kera. Tahun-tahun berikutnya, Lucy diumumkan sebagai satu spesies kera yang pasti, sebagaimana kepala berita di sampul majalah Science et Vie. Para evolusionis harus mengucapkan selamat tinggal kepada Lucy yang luas dipandang sebagai moyang manusia.

1. Ada ketidaksamaan besar antara kaki manusia dan kera. Kaki kera lebih panjang, dan lengkungan kaki manusia bahkan tidak ada pada kera.

2. Tubuh bagian atas manusia tegak, dan kita berjalan tegak dengan dua kaki. Inilah sifat cara kita berjalan. Kera bergerak dengan mencondongkan tubuh bagian atas ke depan dan menggunakan tangan sebagai penopang tambahan. Kesenjangan anatomis antara manusia dan kera ini mustahil dijembatani dan sepenuhnya membantah cerita heboh evolusi manusia.
3. Sebagaimana bisa Anda lihat dalam gambar, ibu jari yang berseberangan, satu ciri penting tangan manusia, bahkan tidak ada pada tangan kera.
Perbedaan-perbedaan ini bahkan sudah cukup untuk menunjukkan kemustahilan

Richard Leakey menyajikan tengkorak yang dinamai KNM-ER 1470-yang dikatakannya berumur 2,8 juta tahun-sebagai temuan terbesar dalam sejarah antropologi. Menurutnya, mahluk ini mamalia isi otak kecil seperti Australopithecus, bersama dengan satu wajah yang mirip dengan manusia masa kini, dan adalah rantai yang hilang antara Australopithecus dan manusia. Namun, setelah beberapa saat, disadari orang bahwa wajah mirip manusia dari tengkorak KNM-ER 1470, yang sering muncul di sampul-sampul berkala ilmiah dan majalah ilmiah populer, adalah hasil perakitan tidak benar potongan-potongan tengkorak-"kesalahan" mana mungkin disengaja.

Seperti Anda lihat, tidak ada temuan ilmiah yang mendukung, apalagi menegaskan, teori evolusi; hanya sejumlah ilmuwan yang memercayai membabi-buta. Para ilmuwan ini meyakini mitos evolusi itu sendiri, sekalipun tidak berlandasan ilmiah, dan juga mencoba membuat orang lain memercayai hal yang sama menggunakan bangun pendapat yang menipu dan tafiran berprasangka. Semua kabar tentang apa yang disebut "moyang manusia" dan gambar-gambar yang digunakan dalam kabar-kabar itu sekadar karang-karangan. Petunjuk kokoh telah menghancurkan kisah evolusi manusia.

Dalam halaman-halaman berikut, beberapa contoh dari tak terhitung tengkorak yang membatu disajikan yang membantah teori evolusi. Tengkorak-tengkorak ini adalah di antara petunjuk bahwa tak satu mahluk hidup pun pernah berubah sepanjang sejarah, bahwa tak satu pun telah mengubah diri menjadi spesies lain dan bahwa tiap spesies selalu ada bersama semua ciri yang dimilikinya sejak awal.

Bersama dengan potongan-potongan petunjuk ini, penghalang dan ketiadaan nalar dalam pemikiran para Darwinis disajikan. Misalnya, para Darwinis menyatakan bahwa spesies memerbaiki diri lewat perubahan terus-menerus. Namun, bagaimanakah mereka menjelaskan kelanggengan yang terus tampak dalam semua mahluk hidup? Teori evolusi bahwa manusia semestinya turun dari kera juga harus menjelaskan mengapa spesies-spesies lain tidak mengalami suatu proses alihrupa yang sama dengan semestinya telah dialami si kera khayalan itu.

Para Darwinis tidak memiliki jawaban tentang mengapa beruang tidak memutuskan menjadi berjalan dengan dua kaki pada suatu hari, atau mengapa rubah tidak berevolusi menjadi seorang profesor yang cakap dengan mengembangkan kecerdasannya, atau mengapa seekor panda tidak menjadi seorang pelukis yang menciptakan karya seni yang mengagumkan. Bahan evolusi telah dilukiskan dengan contoh-contoh dan penalaran-penalaran yang bahkan mudah diabaikan anak-anak, sekadar menyatakan ketidaknalaran Darwinisme yang sukar terbayangkan. Darwinisme disajikan seakan itu fakta ilmiah, namun sebenarnya ideologi yang ketidaknalarannya sukar terbayangkan.

Sebagaimana akan Anda lihat, Darwinisme adalah skandal terbesar dalam sejarah, dibangun sepenuhnya di atas dusta, tipuan, serta pernyataan-pernyataan tidak nalar dan tidak masuk akal. Seluruh dunia akan menyaksikan keruntuhan akhir Darwinisme dalam abad ke-21 ini.

_______________________________________________________________________________________________

1. Richard E. Leakey, The Making of Mankind, London: Michael Joseph Limited, 1981, p. 43.
2. William R. Fix, The Bone Peddlers, New York: Macmillan Publishing Company, 1984, pp. 150-153.
3. Marvin Lubenow, Bones of Contention, Grand Rapids, MI: Baker, 1992, p. 136.
4 Ibid., p. 83.
5 Richard Allan and Tracey Greenwood, “Primates and Human Evolution” in the textbook Year 13 Biology, 1999, Student Resource and Activity Manual, (Biozone International, printed in New Zealand), p. 260.

 

skull, structure, fox

Tengkorak Rubah

Umur: 8,6 juta tahun
Zaman: Miosen
Lokasi: China

Dalam menyarankan bahwa manusia adalah semestinya turun dari kera, para evolusionis menunjukkan aneka tengkorak sebagai bukti hal ini-di mata mereka sendiri setidaknya. Skenarioskenario yang dibentuk di seputar tengkorak-tengkorak itu, yang entah milik kera punah atau ras lain manusia yang pernah ada di masa lalu, semuanya muslihat. Tidak ada perubahan dalam anatomi umum dan struktur tengkorak mahluk hidup mana pun sepanjang perjalanan waktu, dan tidak merujuk ke kenyataan bahwa kera mengalami perubahan sedemikian.

Sebagaimana ditunjukkan oleh tengkorak rubah berumur 8,6 juta tahun ini, tengkorak rubah tidak pernah berubah. Rubah tidak tiba-tiba memutuskan mengembangkan lebih jauh kecerdasannya, memperbesar isi otaknya, dan beralih menjadi karnivora lain dengan mengubah struktur tubuhnya. Rubah selalu menjadi rubah, singa selalu ada sebagai singa, dan kera selalu ada sebagai kera.

Seraya temuan-temuan nyata membuat bertambah jelas, pernyataan bahwa mahluk-mahluk hidup turun dari satu sama lain, dan bahwa moyang manusia adalah spesies kera, sungguh dusta yang mengerikan.

 

wolf skull, fossil

Tengkorak Serigala

Umur: 9,5 juta tahun
Zaman: Miosen
Lokasi: China

Fosil tengkorak serigala berumur 9,5 juta tahun dalam foto ini menunjukkan bahwa serigala tidak mengalami perubahan apapun dalam struktur tengkoraknya selama jutaan tahun. Kemapanan ini berlaku pada semua mahluk hidup lainnya. Tidak ada perubahan dalam tengkorak serigala, harimau, kuda, beruang, atau kera. Karena itu, tidak masuk akal bagi para evolusionis untuk bersikeras bahwa kera perlahan-lahan mengubah anatominya selama perjalanan waktu dan beralih menjadi manusia.

Sejak akhir 1800-an, para Darwinis telah menipu masyarakat umum dengan tak terhitung kepalsuan di balik samaran ilmiah. Akan tetapi, hari ini, ketika ilmu pengetahuan telah maju dan setelah Internet meruyak ke mana-mana, mustahil dusta ini bertahan.

 

tiger skull, fossil

Tengkorak Harimau

Umur: 79 juta tahun
Zaman: Kretaseus
Lokasi: China

Tidak ada harimau yang pernah suatu hari berpikir ,”Mengapa saya tidak berjalan dengan dua kali?” dan mulai melakukannya dengan mengubah struktur rangkanya.

Sebagaimana diungkapkan fosil berumur 79 juta tahun dalam foto ini, harimau tidak pernah mengalami proses perubahan apapun. Hal ini berlaku pada semua mahluk hidup. Setiap spesies diadakan bersama ciri-ciri khasnya dan tetap sama sepanjang keberadaannya di Bumi. Gagasan bahwa mahluk-mahluk hidup dalam keadaan berubah terus-menerus, bahwa mereka berkembang dari yang sederhana ke yang lebih rumit, dan bahwa saling turun dari satu sama lain-semuanya sekadar gurat-gurat khayalan, tidak didukun g oleh temuan ilmiah.

 

fossils, fox skull

Tengkorak Rubah

Umur: 95 juta tahun
Zaman: Kretaseus
Lokasi: China

Para Darwinis percaya bahwa jika jutaan tahun diberikan bagi ketaksengajaan buta untuk berulang-ulang terjadi, hal itu akan menghadapi keajaiban. Mereka membayangkan bahwa ketaksengajaan buta dapat mengubah zat-zat mati seperti tanah menjadi mahlukmahluk hidup dan satu spesies hidup menjadi spesies hidup lainnya-ikan menjadi buaya, misalnya, buaya menjadi dinosaurus, dinosaurus menjadi burung, atau beruang menjadi ikan paus. Faktanya adalah tidak ada rubah atau buaya, kadal, atau ikan atau ganggang atau bunga pernah mengalami perubahan seperti itu. Fosil-fosil yang berasal dari ratusan juta tahun telah membuktikan bahwa mahluk-mahluk hidup tidak mengalami perubahan atau alihrupa apapun sepanjang waktu itu. Seperti fosil tengkorak rubah berumur 95 juta tahun dalam foto ini, semua fosil mengungkapkan bahwa Darwinisme itu tidak sahih.

 

Brown bears, Brown bear, fossil, skull

Tengkorak Beruang Coklat

Umur: 90 juta tahun
Zaman: Kretaseus
Lokasi: China

Beruang coklat (Ursus arctos), anggota keluarga Ursidae, memiliki bulu berwarna coklat atau kadang-kadang coklat susu. Ia biasanya hidup di daerah-daerah berhutan di pegunungan.

Tidak ada beruang coklat pernah berpikir dalam hati, “Mengapakah saya tidak memerbaiki kecerdasan saya, mengubah tengkorak saya, dan membangun sebuah peradaban?” dan bersiap mulai membangun kota, menciptakan karya seni, mengarang karya sastra, dan membuat temuan ilmiah. Beruang selalu ada sebagai beruang dan tidak pernah berkembang menjadi bentuk kehidupan lainnya.

Semua mahluk hidup telah bertahan hidup dengan ciri-ciri yang tepat sama dengan yang selalu mereka miliki. Sangat tidak masuk akal dan tidak nalar untuk menyatakan bahwa kera beralih menjadi manusia. Dan tidak ada dasar ilmiah apapun bagi pernyataan ini.

 

fossil, wolf skull

Tengkorak Serigala

Umur: 9,3 juta tahun
Zaman: Miosen
Lokasi: China

Jika pernyataan-pernyataan para evolusionis benar, maka tengkorak serigala yang hidup 9,3 juta tahun silam seharusnya berbeda mencolok dari serigala yang masih hidup hari ini. Namun, sebagaimana dapat dilihat dari spesimen dalam foto ini, tengkorak serigala masa kini dan serigala 9,3 juta tahun silam mirip. Tidak ada serigala, sepanjang selang waktu jutaan tahun itu, pernah bertanya kepada dirinya, “Mengapakah saya tidak mengembangkan kemampuan saya dan mengarang satu opera?” dan beralih menjadi seorang musisi, atau berpikir dalam hati, “Mengapakah saya tidak merancang istana?” dan mencoba menjadi seorang arsitek.

Sebagaimana dibuktikan jelas oleh rekaman fosil, bukan hanya serigala, namun juga mahlukmahluk hidup lain tidak mengalami perubahan dalam struktur fisiknya, dan tidak ada bentukbentuk kehidupan pernah saling berkembang ke satu sama lain. Akan tetapi, para Darwinis menyatakan bahwa perubahan-perubahan evolusioner-yang tidak tampak di mana pun dalam sifat-sifat fisik ikan, serangga, reptil, burung atau mamalia-benar-benar berlangsung pada kera; dan bahwa sebagian spesies kera beralih menjadi manusia. Namun, kemantapan dalam semua mahluk hidup dengan sendirinya cukup untuk menunjukkan bahwa pernyataan itu suatu dusta.

 

fox skull, fossil, Creation

Tengkorak Rubah Arktik

Umur: 8,2 juta tahun
Zaman: Miosen
Lokasi: China

Terkesan oleh kemampuan kera untuk meniru, para Darwinis menyatakan bahwa hewan ini berhasil meningkatkan kecerdasannya dan berkembang menjadi manusia. Akan tetapi, faktanya adalah banyak mahluk hidup di alam memiliki kemampuan meniru atau terkenal akan perilaku sangat cerdasnya. Rubah, misalnya, adalah sangat cerdas dan lihai. Namun, tidak ada rubah berkata kepada dirinya suatu hari, “Karena saya hewan yang begitu cerdas, mengapa saya tidak menjadi seorang ilmuwan?” dan suatu hari mulai memeriksa sel-sel yang menyusun tubuhnya sendiri di bawah mikroskop elektron! Tidak masalah betapa pandainya ia, rubah selalu tetap rubah.

Mirip dengan itu, dan sebagaimana dibuktika oleh temuan ilmiah, kera selalu ada sebagai kera, dan manusia sebagai manusia. Pengabaian para evolusionis terhadap petunjuk ilmiah dan upaya mereka menutupi fakta tidak men gubah apapun. Asal mula kehidupan adalah Penciptaan.

 

panda, fossil, skull

Tengkorak Panda

Umur: 88 juta tahun
Zaman: Kretaseus
Lokasi: China

Rekaman fosil telah membuktikan bahwa panda selalu ada sebagai panda dan tidak pernah mengalami evolusi apapun. Salah satu potongan petunjuk itu adalah fosil tengkorak panda berumur 88 juta tahun dalam foto ini.

Tidak ada panda pernah hidup untuk berkata kepada dirinya sendiri, “Saya kadang-kadang dapat berdiri di atas dua kaki; jadi, mengapa saya tidak selalu berjalan di atas dua kaki?” dan lalu mulai mengubah struktur rangkanya. Panda selalu tetap persis panda, bersama semua sifat yang masih mereka miliki, sekalipun berlalu puluhan juta tahun waktu.

Fakta tentang panda ini juga berlaku pada semua bentuk kehidupan lainnya. Tidak ada mahluk hidup pernah mengalami suatu proses evolusi atau mengalami alihrupa apapun.

 

tiger, skull, fossil

Tengkorak Harimau

Umur: 78 juta tahun
Zaman: Kretaseus
Lokasi: China

Mengubah tengkorak milik spesies kera punah dan menggambarkannya sebagai petunjuk yang disangkakan evolusi manusia telah benar-benar menjadi suatu kebiasaan para Darwinis. Walaupun muslihat mereka terpapar setiap kali, bahwa mereka kukuh melakukannya adalah suatu pertanda keputus-asaan mereka-sebab jutaan fosil spesimen tengkorak milik ribuan bentuk kehidupan telah membuktikan bahwa baik mahluk hidup yang kita lihat sekarang, maupun yang pernah hidup dulu yang kita temukan berlimpah dalam rekaman fosil, pernah mengalami evolusi.

Fosil-fosil mencatat bahwa harimau selalu ada sebagai harimau, serigala sebagai serigala, badak sebagai badak, dan orangutan sebagai orangutan.

Fosil harimau berumur 78 juta tahun dalam foto ini adalah sekadar satu contoh. Tidak ada perbedaan antara tengkorak harimau yang hidup 78 juta tahun silam dan yang hidup hari ini.

 

Fossils, bear

Tengkorak Beruang

Umur: 80 juta tahun
Zaman: Kretaseus
Lokasi: China

Cara media mencoba menggambarkan Darwinisme sebagai fakta ilmiah yang “tak terbantahkan” sebenarnya hasil dari pertarungan ideologis. Nyatanya, Darwinisme dikenal sebagai teori usang yang terus bertentangan dengan temuan ilmiah. Fosil-fosil adalah salah satu temuan yang membenarkan hal itu.

Para evolusionis menyatakan bahwa manusia dan kera diperkirakan turun dari moyang bersama, namun tidak mampu menjelaskan ketiadaan perubahan sedikit pun dalam tengkorak, struktur kepala, atau rangka mahluk hidup mana pun selama jutaan tahun. Pertanyaan mengapa kera harus suatu hari berkembang menjadi manusia ketika tidak ada perubahan semacam itu terjadi dalam anatomi spesies lain mana pun tak terjawab. Para evolusionis tidak memiliki jawaban yang masuk akal terhadap pertanyaan mengapa kera, dan beruang tidak mulai berbicara, mengarang, menciptakan lukisan dan patung, membangun bangunan megah, menulis novel, puisi, drama, dan film, membuat temuan teknologi, dan menjelajah ruang angkasa.

Dengan cara serupa bahwa tidak ada beruang yang suatu hari memutuskan untuk mendapatkan ciri-ciri yang lebih maju dan beralih ke bentuk lain kehidupan, maka kera tidak beralih menjadi manusia. Beruang selalu ada sebagai beruang, kera sebagai kera, dan manusia sebagai manusia.

Fosil beruang berumur 80 juta tahun dalam foto ini tidak berbeda dengan spesimen beruang hidup hari ini, mengungkapkan fakta tersebut kepada semua orang.

 

11 / total 13
Anda dapat membaca buku Harun Yahya Atlas Penciptaan secara online, berbagi pada jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter, download di komputer Anda, menggunakannya untuk pekerjaan rumah Anda dan tesis, dan mempublikasikan, menyalin atau memperbanyak pada website atau blog Anda sendiri tanpa perlu membayar biaya hak cipta apapun, selama Anda mengakui situs ini sebagai referensi.
Presentasi| tentang situs ini | Buat homepage Anda | tambahkan ke favorit | RSS Feed
Semua materi dapat dikopi,dicetak, dan didistribusikan berdasarkan situs ini
(c) All publication rights of the personal photos of Mr. Adnan Oktar that are present in our website and in all other Harun Yahya works belong to Global Publication Ltd. Co. They cannot be used or published without prior consent even if used partially.
© 1994 Harun Yahya. www.harunyahya.com
page_top