|
Bab 4
Hal-hal yang Hendaknya Dipikirkan
Sejak awal, kami telah menekankan pentingnya berpikir, manfaat-manfaatnya
bagi manusia dan sarana yang membedakan manusia dari makhluk lain. Kami
telah menyebutkan pula sebab-sebab yang menghalangi manusia dari berpikir.
Semua ini mempunyai tujuan utama mendorong manusia untuk berpikir dan
membantu mereka mengetahui tujuan penciptaan dirinya; serta agar manusia
mengagungkan ilmu dan kekuasaan Allah yang tak terbatas.
Di halaman-halaman berikutnya, kami akan mencoba menjelaskan
bagaimana orang yang beriman kepada Allah berpikir tentang segala sesuatu
yang dijumpainya sepanjang hari dan mendapatkan pelajaran dari peristiwa-peristiwa
yang ia saksikan; bagaimana ia seharusnya bersyukur dan menjadi semakin
dekat kepada Allah setelah menyaksikan keindahan dan ilmu Allah di segala
sesuatu.
Sudah pasti apa yang disebutkan di sini hanya mencakup sebagian
kecil dari kapasitas berpikir seorang manusia. Manusia memiliki kemampuan
untuk setiap saat (dan bukan setiap jam, menit atau detik, tapi satuan
waktu yang lebih kecil dari itu, yakni setiap saat) dalam hidupnya. Ruang
lingkup berpikir manusia sedemikian luasnya sehingga tidak mungkin untuk
dibatasi. Oleh karena itu, uraian di bawah ini bertujuan untuk sekedar
membukakan pintu bagi mereka yang belum menggunakan sarana berpikir mereka
sebagaimana mestinya.
Perlu diingat bahwa hanya mereka yang berpikir secara mendalam
lah yang mampu memahami dan berada pada posisi lebih baik dibandingkan
makhluk lain. Mereka yang tidak dapat melihat keajaiban dari peristiwa-peristiwa
di sekitarnya dan tidak dapat memanfaatkan akal mereka untuk bepikir adalah
sebagaimana diceritakan dalam firman Allah berikut:
"Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang
kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar
selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh
sebab itu) mereka tidak mengerti." (QS. Al-Baqarah, 2: 171)
"
Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya
untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat
Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat
lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al-Araaf, 7: 179)
"Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka
itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)."
(QS. Al-Furqaan, 25: 44)
Hanya mereka yang mau berpikir yang mampu melihat dan kemudian memahami
tanda-tanda kebesaran Allah, serta keajaiban dari obyek dan peristiwa-peristiwa
yang Allah ciptakan. Mereka mampu mengambil sebuah kesimpulan berharga
dari setiap hal, besar ataupun kecil, yang mereka saksikan di sekeliling
mereka.
Ketika seseorang bangun dari tidurnya di
pagi hari
Tidak diperlukan kondisi khusus bagi seseorang untuk memulai
berpikir. Bahkan bagi orang yang baru saja bangun tidur di pagi hari pun
terdapat banyak sekali hal-hal yang dapat mendorongnya berpikir.
Terpampang sebuah hari yang panjang dihadapan seseorang yang
baru saja bangun dari pembaringannya di pagi hari. Sebuah hari dimana
rasa capai atau kantuk seakan telah sirna. Ia siap untuk memulai harinya.
Ketika berpikir akan hal ini, ia teringat sebuah firman Allah:
"Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai)
pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun
berusaha." (QS. Al-Furqaan, 25: 47)
Setelah membasuh muka dan mandi, ia merasa benar-benar terjaga
dan berada dalam kesadarannya secara penuh. Sekarang ia siap untuk berpikir
tentang berbagai persoalan yang bermanfaat untuknya. Banyak hal lain yang
lebih penting untuk dipikirkan dari sekedar memikirkan makanan apa yang
dipunyainya untuk sarapan pagi atau pukul berapa ia harus berangkat dari
rumah. Dan pertama kali ia harus memikirkan tentang hal yang lebih penting
ini.
Pertama-tama, bagaimana ia mampu bangun di pagi hari adalah
sebuah keajaiban yang luar biasa. Kendatipun telah kehilangan kesadaran
sama sekali sewaktu tidur, namun di keesokan harinya ia kembali lagi kepada
kesadaran dan kepribadiannya. Jantungnya berdetak, ia dapat bernapas,
berbicara dan melihat. Padahal di saat ia pergi tidur, tidak ada jaminan
bahwa semua hal ini akan kembali seperti sediakala di pagi harinya. Tidak
pula ia mengalami musibah apapun malam itu. Misalnya, kealpaan tetangga
yang tinggal di sebelah rumah dapat menyebabkan kebocoran gas yang dapat
meledak dan membangunkannya malam itu. Sebuah bencana alam yang dapat
merenggut nyawanya dapat saja terjadi di daerah tempat tinggalnya.
Ia mungkin saja mengalami masalah dengan fisiknya. Sebagai
contoh, bisa saja ia bangun tidur dengan rasa sakit yang luar biasa pada
ginjal atau kepalanya. Namun tak satupun ini terjadi dan ia bangun tidur
dalam keadaan selamat dan sehat. Memikirkan yang demikian mendorongnya
untuk berterima kasih kepada Allah atas kasih sayang dan penjagaan yang
diberikan-Nya.
Memulai hari yang baru dengan kesehatan yang prima memiliki
makna bahwa Allah kembali memberikan seseorang sebuah kesempatan yang
dapat dipergunakannya untuk mendapatkan keberuntungan yang lebih baik
di akhirat.
Ingat akan semua ini, maka sikap yang paling sesuai adalah
menghabiskan waktu di hari itu dengan cara yang diridhai Allah. Sebelum
segala sesuatu yang lain, seseorang pertama kali hendaknya merencanakan
dan sibuk memikirkan hal-hal semacam ini. Titik awal dalam mendapatkan
keridhaan Allah adalah dengan memohon kepada Allah agar memudahkannya
dalam mengatasi masalah ini. Doa Nabi Sulaiman adalah tauladan yang baik
bagi orang-orang yang beriman:
"Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri
ni'mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang
ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah
aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh"
(QS. An-Naml, 27 : 19)
"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan
lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi
kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali)
dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang
Maha Mengetahui lagi maha Kuasa." (QS. Ar-Ruum, 30: 54)
Bagaimana kelemahan manusia mendorong seseorang
untuk berpikir?
Tubuh manusia yang demikian lemah ketika baru saja bangun
dari tidur dapat mendorong manusia untuk berpikir: setiap pagi ia harus
membasuh muka dan menggosok gigi. Sadar akan hal ini, ia pun merenungkan
tentang kelemahan-kelemahannya yang lain. Keharusannya untuk mandi setiap
hari, penampilannya yang akan terlihat mengerikan jika tubuhnya tidak
ditutupi oleh kulit ari, dan ketidakmampuannya menahan rasa kantuk, lapar
dan dahaga, semuanya adalah bukti-bukti tentang kelemahan dirinya.
Bagi orang yang telah berusia lanjut, bayangan dirinya di
dalam cermin dapat memunculkan beragam pikiran dalam benaknya. Ketika
menginjak usia dua dekade dari masa hidupnya, tanda-tanda proses penuaan
telah terlihat di wajahya. Di usia yang ketigapuluhan, lipatan-lipatan
kulit mulai kelihatan di bawah kelopak mata dan di sekitar mulutnya, kulitnya
tidak lagi mulus sebagaimana sebelumnya, perubahan bentuk fisik terlihat
di sebagian besar tubuhnya. Ketika memasuki usia yang semakin senja, rambutnya
memutih dan tangannya menjadi rapuh.
Bagi orang yang berpikir tentang hal ini, usia senja adalah
peristiwa yang paling nyata yang menunjukkan sifat fana dari kehidupan
dunia dan mencegahnya dari kecintaan dan kerakusan akan dunia. Orang yang
memasuki usia tua memahami bahwa detik-detik menuju kematian telah dekat.
Jasadnya mengalami proses penuaan dan sedang dalam proses meninggalkan
dunia ini. Tubuhnya sedikit demi sedikit mulai melemah kendatipun ruhnya
tidaklah berubah menjadi tua. Sebagian besar manusia sangat terpukau oleh
ketampanan atau merasa rendah dikarenakan keburukan wajah mereka semasa
masih muda. Pada umumnya, manusia yang dahulunya berwajah tampan ataupun
cantik bersikap arogan, sebaliknya yang di masa lalu berwajah tidak menarik
merasa rendah diri dan tidak bahagia. Proses penuaan adalah bukti nyata
yang menunjukkan sifat sementara dari kecantikan atau keburukan penampilan
seseorang. Sehingga dapat diterima dan masuk akal jika yang dinilai dan
dibalas oleh Allah adalah akhlaq baik beserta komitmen yang diperlihatkan
seseorang kepada Allah.
Setiap saat ketika menghadapi segala kelemahannya manusia
berpikir bahwa satu-satunya Zat Yang Maha Sempurna dan Maha Besar serta
jauh dari segala ketidaksempurnaan adalah Allah, dan iapun mengagungkan
kebesaran Allah. Allah menciptakan setiap kelemahan manusia dengan sebuah
tujuan ataupun makna. Termasuk dalam tujuan ini adalah agar manusia tidak
terlalu cinta kepada kehidupan dunia, dan tidak terpedaya dengan segala
yang mereka punyai dalam kehidupan dunia. Seseorang yang mampu memahami
hal ini dengan berpikir akan mendambakan agar Allah menciptakan dirinya
di akhirat kelak bebas dari segala kelemahan.
Segala kelemahan manusia mengingatkan akan satu hal yang
menarik untuk direnungkan: tanaman mawar yang muncul dan tumbuh dari tanah
yang hitam ternyata memiliki bau yang demikian harum. Sebaliknya, bau
yang sangat tidak sedap muncul dari orang yang tidak merawat tubuhnya.
Khususnya bagi mereka yang sombong dan membanggakan diri, ini adalah sesuatu
yang seharusnya mereka pikirkan dan ambil pelajaran darinya.
Bagaimana beberapa karakteristik tubuh manusia
membuat anda berpikir?
Ketika melihat diri sendiri di dalam cermin, seseorang berpikir
tentang berbagai hal yang sebelumnya tak pernah muncul dalam benaknya.
Sebagai contoh: bulu mata, alis, tulang belulang dan gigi-giginya tidak
tumbuh memanjang terus menerus. Dengan kata lain, di bagian tubuh dimana
pertumbuhan anggota badan yang terus menerus akan menjadi sesuatu yang
menyusahkan dan menghalangi pandangannya, maka anggota tubuh tersebut
berhenti tumbuh. Sebaliknya, rambut yang kelihatan indah jika tumbuh memanjang,
tidak berhenti tumbuh. Disamping itu, ada keseimbangan yang sempurna dalam
pertumbuhan tulang-belulang. Misalnya tulang anggota bagian atas tidak
akan tumbuh memanjang begitu saja sehingga menyebabkan badan kelihatan
lebih pendek. Semua tulang ini berhenti pada saat tertentu seakan-akan
tiap-tiap tulang tersebut tahu seberapa panjang mereka harus tumbuh.
Sudah barang tentu, semua yang telah disebutkan di sini terjadi
akibat dari reaksi-reaksi fisika dan kimia yang terjadi dalam tubuh. Orang
yang merenungkan hal ini akan juga bertanya-tanya bagaimana reaksi-reaksi
ini terjadi. Siapa yang memasukkan hormon-hormon dan enzim-enzim yang
bertanggung jawab atas pertumbuhan ke dalam tubuh sesuai dengan dosis
yang dibutuhkan? Dan siapakah yang mengontrol kadar dan waktu sekresi
dari hormon dan enzim tersebut?
Tidak dapat dipungkiri bahwa mustahil untuk mengatakan bahwa
ini semua terjadi secara kebetulan. Tidaklah mungkin sel-sel atau atom-atom
pembentuk manusia yang tidak mempunyai kesadaran tersebut melakukan hal
yang demikian dengan sendirinya. Ini adalah bukti bahwa fenomena tersebut
terjadi karena kekuasaan Allah yang menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya.
Ketika dalam perjalanan

Banyak yang dapat dipikirkan dari apapun yang kita jumpai dalam perjalanan.
|
Setelah bangun tidur dan bersiap-siap di pagi hari, orang-orang kemudian
berangkat ke kantor, sekolah atau melakukan pekerjaan mereka di luar rumah.
Bagi orang yang beriman, keberangkatan ini adalah awal dari melakukan
amal kebaikan yang mendatangkan ridha Allah. Ketika meninggalkan rumah
dan bepergian ke luar, seseorang akan menjumpai banyak hal yang dapat
ia pikirkan, misalnya ribuan manusia, kendaraan, pohon, besar dan kecil,
dan beragam hal yang terdapat di banyak tempat. Dalam hal ini, pandangan
orang yang beriman sudah jelas, yakni bahwa ia berusaha untuk mendapatkan
sebanyak mungkin manfaat dari yang ia jumpai di sekelilingnya. Ia memikirkan
tentang sebab-sebab dari peristiwa-peristiwa yang ada. Karena apa yang
sedang ia saksikan terjadi dengan pengetahuan dan kehendak Allah, maka
pasti ada sebuah makna di balik peristiwa atau pemandanga itu. Karena
Allah lah yang memampukannya untuk pergi ke luar rumah serta meletakkan
semua pemandangan ini di depan matanya, maka sudah pasti dari pemandangan-pemandangan
tersebut ada yang mesti dilihat dan dipikirkan. Sejak bangun tidur, ia
bersyukur kepada Allah yang telah memberinya umur satu hari lagi di dunia
yang dapat digunakannya sebagai modal untuk mendapatkan pahala dari Allah.
Kini, ia tengah memulai perjalanan yang dapat mendatangkan pahala baginya.
Menyadari hal ini, ia teringat akan firman Allah:
"Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan", (QS. An-Naba,
78 :11). Berpedomankan ayat tersebut, ia membuat rencana tentang
bagaimana menghabiskan waktunya di siang hari dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan
yang tidak hanya bermanfaat untuk orang lain akan tetapi juga mendatangkan
ridha Allah.
Ketika berada dalam mobilnya atau di atas kendaraan apapun
dengan pola pikir yang demikian, ia pun kembali bersyukur kepada Allah.
Tidak menjadi masalah, betapapun jauhnya jarak perjalanan yang harus ia
tempuh, ia masih memiliki sarana untuk pergi ke sana. Untuk memudahkan
manusia, Allah telah menciptakan beragam sarana transportasi untuk membantu
manusia dalam melakukan perjalanan. Bahkan kemajuan teknologi saat sekarang
telah menyediakan sarana transportasi baru berupa mobil, kereta api, pesawat
terbang, kapal laut, helikopter, bus
Ketika merenungkan hal ini, seseorang
akan kembali teringat: Allah lah yang telah menciptakan teknologi untuk
membantu manusia.

Seseorang yang berpikir memahami bahwa Allah lah yang memberikan
teknologi sebagai sarana untuk membantu manusia.
|
Setiap hari, para ilmuwan membuat penemuan-penemuan dan inovasi-inovasi
baru yang dapat memudahkan hidup kita. Mereka menghasilkan ini semua melalui
sarana yang diciptakan Allah di bumi. Seseorang yang memikirkan tentang
masalah tersebut akan menikmati perjalanannya sambil bersyukur kepada
Allah atas kemudahan yang diberikan kepadanya.
Dalam perjalanan menuju tempat tujuan, ia menyaksikan
tumpukan
sampah dengan bau yang tak sedap, tempat-tempat kumuh di sepanjang jalan.
Hal ini menimbulkan beragam pikiran dalam benaknya:
Ketika masih berada di dunia, Allah telah memberikan informasi
kepada kita yang membantu kita memperoleh gambaran tentang surga dan neraka;
atau mengira-ngira keadaan kedua tempat ini dengan menggunakan perbandingan.
Tumpukan sampah, bau yang tidak sedap dan daerah-daerah kumuh dapat menimbulkan
stres atau tekanan dalam jiwa seseorang. Tak seorangpun ingin tinggal
di tempat tersebut. Keadaan ini mengingatkan seseorang tentang neraka
dan ayat-ayat yang mengisahkan neraka. Di banyak ayat-ayat Al-Qur'an Allah
telah menceritakan segala sesuatu yang tidak menyenangkan, gelap serta
menjijikkan tentang neraka:
Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu?
Dalam (siksaan) angin yang amat panas, dan air panas
yang mendidih,
dan dalam naungan asap yang hitam.
Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. (QS. Al-Waaqiah,
56:41-44)
"Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit
di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.
(Akan dikatakan kepada mereka): "Jangan kamu sekalian mengharapkan
satu kebinasaan, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak" (QS.
Al-Furqaan, 25:13-14)
 
Sebuah pemandangan yang indah atau sempit, gelap lagi kotor mendorong
timbulnya pikiran yang beragam dalam benak manusia.
|
Dengan memikirkan ayat-ayat di atas, orang tersebut berdoa
agar Allah menjauhkannya dari siksa neraka dan mengampuni segala kesalahannya.
Sebaliknya, seseorang yang tidak menggunakan cara berpikir
yang demikian akan menghabiskan waktunya dengan menggerutu, kesal dan
selalu mencari kambing hitam dari setiap permasalahan. Ia marah sekali
kepada orang-orang yang menumpuk sampah tersebut dan pihak pemerintahan
daerah setempat yang terlambat untuk mengumpulkan dan membuangnya. Sepanjang
hari pikirannya disibukkan dengan hal-hal seperti: jalan raya yang penuh
dengan lubang; orang-orang yang menyebabkan lalu lintas macet; badannya
yang basah kuyup kehujanan akibat ulah badan meteorologi yang salah dalam
memperkirakan cuaca; cemoohan kasar dari bossnya, dan lain sebagainya.
Namun, pikiran yang sia-sia ini tidaklah bermanfaat dalam kehidupan akhiratnya
nanti. Seseorang mungkin berhenti sejenak kemudian berpikir apakah ia
seharusnya menghiraukan banyak hal. Sungguh, banyak orang mengatakan bahwa
alasan utama yang mencegah mereka dari berpikir adalah segala kesibukan
yang mengharuskan mereka bekerja keras terus-menerus di dunia. Mereka
berdalih bahwa mereka tidak mampu berpikir karena sibuk dengan masalah
pangan, perumahan dan kesehatan. Akan tetapi ini hanyalah sekedar alasan
untuk mengelak. Tanggung jawab dan kondisi tersebut tidak ada hubungannya
dengan berpikir sebagaimana yang dikehendaki di sini. Seseorang yang berusaha
untuk berpikir dalam rangka mencari ridha Allah akan mendapatkan pertolongan
dari Allah. Ia akan melihat bahwa, seiring dengan bergantinya hari, beragam
persoalan yang biasanya menjadi masalah baginya satu demi satu terselesaikan;
hingga ia dapat meluangkan waktu untuk berpikir dan berpikir lagi. Hanya
orang-orang yang beriman sajalah yang sadar, paham dan mengalami hal yang
demikian.
Bagaimana dunia yang berwarna-warni mendorong
seseorang berpikir?
Masih dalam perjalanannya, ia terus berusaha melihat keajaiban
dari ayat-ayat ataupun ciptaan Allah di sekitarnya, dan memuji Allah ketika
memikirkan ini semua. Ketika melihat ke luar melalui jendela mobilnya,
ia menyaksikan dunia yang penuh dengan beragam warna. Lalu ia pun berpikir:
"Bagaimana segala sesuatu akan terlihat seandainya dunia ini tidak
berwarna?"
 |
 |
Lihatlah gambar-gambar di bawah dan anda pun mulai berpikir.
Apakah kenikmatan yang kita rasakan dari memandang laut, pegunungan atau
bunga yang tidak berwarna sebanding dengan sebagaimana yang anda lihat
sekarang? Apakah pemandangan langit, buah, kupu-kupu, pakaian dan wajah-wajah
manusia sebagaimana yang terlihat oleh anda sekarang memberikan kepuasan?
Adalah nikmat dari Tuhan bahwa kita hidup di sebuah dunia yang cerah ceria
dan memiliki beragam warna. Setiap warna yang kita lihat di alam, keseimbangan
yang sempurna dari warna-warna makhluk hidup, semuanya adalah tanda-tanda
tentang karya cipta dan seni khas Allah yang tak tertandingi. Beragam
warna dari bunga atau burung; dan keharmonisan atau corak yang anggun
antara warna-warna yang ada; bahwa tak satupun warna di alam ini yang
mengganggu penglihatan kita; warna lautan, langit, pohon-pohon yang demikian
serasi sehingga menimbulkan kedamaian dan tidak melelahkan mata kita,
semua ini menunjukkan kesempurnaan ciptaan Allah. Dengan merenungkan beberapa
fenomena tersebut, seseorang akan paham bahwa setiap sesuatu yang ia lihat
di sekelilingnya adalah hasil dari ilmu dan kekuasaan Allah yang tak terbatas
dan absolut. Setelah sadar akan segala nikmat yang Allah anugerahkan ini,
ia pun menjadi hamba yang takut kepada Allah dan memohon perlindungan
kepada-Nya agar tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak bersyukur.
Dalam Al-Qur'an, Allah mengisahkan fenomena warna-warna, dan berfirman
bahwa hanya mereka yang memiliki pengetahuan, yakni mereka yang menyelami
lebih jauh dengan berpikir dan menarik kesimpulan serta pelajaran dari
fenomena ini lah yang memiliki rasa takut kepada Allah:
"Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan
hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang
beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis
putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam
pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata
dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya).
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah
ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS.
Faathir, 35: 27-28).
Bagaimana sebuah mobil jenazah yang melintas
di jalan mendorong seseorang untuk berpikir?
Seseorang yang sedang bergegas menuju ke suatu tempat secara
tiba-tiba berpapasan dengan mobil jenazah. Sungguh ini adalah kesempatan
yang baik untuk berhenti sejenak dan menenangkan diri. Pemandangan yang
ia temui mengingatkannya akan kematian. Suatu hari ia juga akan berada
di mobil jenazah itu. Tiada keraguan tentang terhadapnya, tak peduli seberapa
besar usaha untuk menghindarinya, cepat atau lambat kematian pasti akan
datang menghampirinya. Tak peduli apakah ia sedang berada di tempat tidurnya,
ketika dalam perjalanan, atau ketika berlibur, ia pasti akan meninggalkan
dunia ini. Kematian adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari.
Di saat yang demikian, seorang mukmin teringat akan ayat
Allah berikut:
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian
hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. Dan orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka
pada tempat-tempat yang tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai
di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi
orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada
Tuhannya." (QS. Al-Ankabuut, 29: 57-59).

Menyaksikan penguburan jenazah hendaknya membuat kita berpikir tentang "kematian
kita sendiri" dan tentang kehidupan dunia yang hanya sebentar dan sementara..
|
Keyakinan seseorang bahwa jasadnya akan juga dimasukkan dalam
peti mati, ditimbun tanah oleh kerabatnya, namanya akan diukir diatas
kuburan, akan menghilangkan kecintaannya kepada dunia. Seseorang yang
dengan ikhlas dan secara sadar berpikir tentang hal ini paham bahwa tidaklah
masuk akal untuk mengklaim kepemilikan tubuh yang suatu hari akan membusuk
di dalam tanah.
Dalam ayat di atas, Allah memberikan kabar gembira berupa
surga setelah kematian kepada mereka yang sabar dan bertawakal kepada
Allah. Oleh karenanya, dengan berpikir bahwa suatu hari ia akan mati,
seorang mukmin akan berusaha menjalani hidup dengan akhlaq yang baik sebagaimana
yang diperintahkan Allah untuk meraih surga. Setiap saat ia teringat akan
dekatnya kematian, tekadnya untuk mendapatkan surga semakin menguat dan
mendorongnya untuk senantiasa berusaha bertingkah laku sesuai dengan akhlaqnya
yang semakin lama semakin baik.
Sebaliknya, orang-orang yang condong memikirkan hal-hal yang
lain, dan menghabiskan hidup dengan angan-angan kosong, tidak berpikir
bahwa suatu hari hal yang sama pasti akan menimpa mereka meskipun mereka
berpapasan dengan mobil jenazah, setiap hari melewati kuburan atau bahkan
salah satu orang yang paling dicintai meninggal dunia di samping mereka
sendiri.
Di siang hari
Ketika menyaksikan segala peristiwa yang ditemuinya sepanjang
hari, orang beriman selalu berpikir tentang tanda-tanda kebesaran Allah
dan berusaha untuk memahami makna-makna yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa
tersebut.
Ia menanggapi setiap kebaikan ataupun malapetaka sebagai
sesuatu yang memiliki kebaikan sebagaimana dikehendaki Allah. Di mana
saja ia berada, di sekolah, di tempat kerja ataupun di pasar, dan dengan
berprasangka dan berpikir bahwa Allahlah yang menciptakan setiap sesuatu,
ia selalu berusaha memahami keindahan-keindahan dan makna tersembunyi
di balik peristiwa-peristiwa yang diciptakan-Nya untuk kemudian menjalani
hidup dengan mematuhi ayat-ayat Allah. Sikap orang mukmin ini digambarkan
dalam Al-Qur'an:
"Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan
dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan
sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari
yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan
yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan
balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya
Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada
siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (QS. An-Nuur, 24: 37-38)
Bagaimana orang berpikir ketika menghadapi
kesulitan-kesulitan yang ditemuinya dalam pekerjaan?
Manusia mungkin menghadapi berbagai macam kesulitan selama
satu hari penuh. Namun apapun kesulitan tersebut, hendaklah ia berkeyakinan
kepada Allah dan berpikir bahwa "Allah menguji kita dengan sesuatu
yang kita kerjakan dan pikirkan dalam hidup di dunia. Ini adalah kenyataan
yang sangat penting yang seharusnya tidak pernah kita lupakan sekejap
pun. Oleh karenanya, ketika menemui kesulitan dalam setiap hal yang kita
lakukan atau pikirkan, sehingga tidak berjalan sebagaimana mestinya, kita
hendaknya selalu ingat bahwa semua kesulitan ini telah dihadapkan oleh
Allah kepada kita untuk menguji perbuatan kita."

Seseorang wajib berpikir bahwa terdapat kebaikan di semua kejadian yang seolah
nampak seperti masalah dan bahwa segala sesuatunya akan berakhir melalui cara
yang terbaik dengan pertolongan Allah.
|
Pikiran-pikiran yang muncul dalam benak seseorang ini berlaku
untuk semua peristiwa, besar atau kecil, yang ia jumpai sepanjang hari.
Sebagai contoh, seseorang membayar lebih tanpa sengaja akibat salah pengertian
atau kecerobohan; sebuah file yang telah diselesaikan dalam waktu berjam-jam
dengan menggunakan komputer dapat hilang begitu saja akibat terputusnya
aliran listrik; seorang pelajar gagal dalam ujian universitas meskipun
ia telah belajar secara sungguh-sungguh; seseorang terpaksa menghabiskan
harinya menunggu dalam antrian untuk mendapatkan pekerjaan akibat birokrasi
yang terlalu rumit; dokumen yang hilang dapat menjadi masalah yang menyebabkan
pekerjaan seseorang tidak karuan; seseorang ketinggalan pesawat, atau
bus ketika hendak pergi ke suatu tujuan yang mesti dihadirinya seawal
mungkin
Ada banyak sekali peristiwa-peristiwa yang dialami seseorang dalam
hidup yang dianggapnya merupakan sebuah kesulitan atau "masalah".
Ketika mengalami semua peristiwa tersebut, orang yang beriman
akan berpikir dan ingat bahwa Allah menguji perilaku dan kesabarannya;
sehingga tidaklah masuk akal bagi orang yang yakin bahwa ia akan mati
dan mempertanggung jawabkan perbuatannya di akhirat terpengaruh dengan
hal-hal serupa dan menghabiskan waktunya dengan perasaan takut dan khawatir
akan hal tersebut. Ia paham bahwa ada sebuah kebaikan di balik semua peristiwa
ini. Ia tak pernah mengatakan "Aduh" terhadap kejadian apapun.
Ia berdoa kepada Allah untuk memudahkan pekerjaan-pekerjaannya dan menjadikan
segala sesuatunya sebagai kebaikan.
Ketika kesulitan tersebut telah berlalu dengan datangnya
kemudahan, ia berpikir bahwa ini adalah jawaban dari doanya kepada Allah,
Allah mendengarkan dan, kemudian, mengabulkan doa-doanya. Pada akhirnya
ia pun bersyukur kepada Allah.
Ketika menjalani hari dengan prinsip berpikir seperti ini,
maka seseorang tak akan pernah putus harapan, merasa khawatir, menyesal
ataupun menderita terhadap apapun yang dialaminya. Ia tahu bahwa Allah
telah menciptakan semua ini untuk sebuah kebaikan dan keberkahan. Tidak
hanya itu, ia berpikir yang demikian tidak hanya ketika terjadi peristiwa-peristiwa
besar yang menimpanya, namun juga di semua hal yang rumit, besar ataupun
kecil, yang ia jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Coba pikirkan, ada orang yang tidak mendapati urusannya yang
penting terselesaikan sebagaimana yang ia kehendaki. Ataupun orang yang
ketika hampir saja meraih tujuan, dihadapkan pada sebuah masalah yang
serius. Orang ini mendadak menjadi sangat kecewa, merasa khawatir dan
tertekan. Pendek kata, dirinya dipenuhi dengan pikiran-pikiran buruk.
Sebaliknya, seseorang yag berpikir bahwa ada sesuatu kebaikan pada semua
hal, akan berusaha menemukan makna-makna tersembunyi yang Allah tunjukkan
padanya melalui peristiwa tersebut. Ia berpikir bahwa mungkin Allah telah
melakukan ini semua untuk memberinya peringatan agar lebih berhati-hati
dan serius dalam menangani masalah. Dengan demikian, ia pun kembali melakukan
persiapan-persiapan yang lebih matang, serta bersyukur kepada Allah sambil
mengatakan "mungkin ini membantu mencegah timbulnya malapetaka yang
lebih besar lagi".
Seseorang yang ketinggalan bus ketika hendak menuju suatu tempat, berpikir:
"mungkin keterlambatan dan ketertinggalan saya dari bus tersebut
telah menyelamatkan saya dari kecelakaan atau bahaya yang lain".
Ia berpikir lagi: "mungkin masih banyak lagi hikmah-hikmah tersembunyi
yang serupa". Banyak sekali contoh-contoh semisal yang dapat ditemukan
dalam kehidupan manusia. Yang paling penting adalah rencana-rencana seseorang
tidak harus selalu terlaksana sesuai dengan yang ia kehendaki. Secara
mendadak ia mungkin mendapati dirinya berada dalam situasi yang sangat
berbeda dari apa yang ia rencanakan. Dalam kondisi yang demikian, seseorang
yang berkepribadian dan berperilaku secara tenang serta senantiasa mencari
kebaikan dari sebuah peristiwa akan memperoleh keberuntungan. Hal ini
dikarenakan Allah berfirman dalam ayat-Nya:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat
baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat
buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS.
Al-Baqarah, 2: 216)
Sebagaimana firman Allah di atas, kita tidak mengetahui tetapi Allah
mengetahui. Karena itu, hanya Allahlah yang mengetahui apa yang baik dan
yang tidak baik untuk kita. Segala yang menimpa manusia hanyalah agar
manusia mengambil Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang sebagai
tempat mengadu dan meminta pertolongan, serta menyerahkan diri kepada
Allah sepenuhnya.
Hal-hal yang terpikirkan ketika sedang mengerjakan
sesuatu
Manakala sedang mengerjakan sesuatu, seharusnya seseorang
tidak membiarkan akalnya kosong, akan tetapi senantiasa memikirkan segala
sesuatu yang baik. Otak manusia memiliki kemampuan untuk berpikir lebih
dari satu hal pada saat yang bersamaan. Seseorang yang sedang mengendarai
mobil, membersihkan rumah, bekerja mencari nafkah, berjalan di jalan raya,
pada saat yang sama dapat berpikir hal-hal yang baik.
Ketika membersihkan rumah, ia bersyukur kepada Allah yang
telah memberinya sarana seperti air dan detergen. Sadar bahwa Allah menyukai
kebersihan dan orang yang membersihkan diri, ia memandang pekerjaan yang
sedang ia lakukan sebagai bentuk ibadah sehingga dengan melakukan hal
tersebut ia mengharapkan ridha Allah. Di samping itu, ia merasa bahagia
karena telah mempersiapkan tempat yang nyaman untuk orang lain dengan
membersihkan tempat tinggalnya.
Seseorang yang tengah mengerjakan sesuatu, terus-menerus
berdoa kepada Allah dan memohon agar dimudahkan dalam pekerjaannya karena
yakin bahwa ia tidak dapat melakukan suatu pekerjaan dengan baik tanpa
pertolongan Allah. Kita mengetahui di dalam Al-Qur'an bahwa para Nabi
memberikan contoh kepada kita dengan terus menerus menghadapkan diri mereka
kepada Allah dalam kesendirian, dan selalu mengingat Allah ketika mengerjakan
sesuatu. Diantara contoh ini adalah Nabi Musa. Beliau menolong dua orang
wanita yang ditemuinya dalam perjalanan. Setelah membantu memberikan minum
untuk binatang gembalaan mereka, beliau berdoa kepada Allah:
"Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan
ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya),
dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang
menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat
begitu)?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan
(ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya),
sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya". Maka
Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia
kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Ya Tuhanku sesungguhnya
aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku".
(QS. Al-Qashas, 28: 23-24)
Contoh lain yang kita temui dalam Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah
ini adalah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Allah menceritakan bahwa kedua
Nabi ini memikirkan kemaslahatan orang-orang mukmin yang lain pada saat
keduanya sedang melaksanakan suatu pekerjaan. Mereka berdoa kepada-Nya
sehubungan dengan pekerjaan yang sedang mereka lakukan:
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina)
dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami
terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui". Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua
orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu
kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami
cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka,
yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada
mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan
mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana."
(QS. Al-Baqarah, 2: 127-129)
Bagaimana sarang laba-laba mendorong seseorang
untuk berpikir?

Banyak yang dapat dipikirkan dari disain sarang laba-laba yang sempurna yang
dibuat oleh seekor serangga mungil ini.
|
Banyak hal yang dapat dipikirkan oleh seseorang yang menghabiskan
harinya dalam rumah. Ketika sedang membersihkan rumah, ia menjumpai seekor
laba-laba yang merajut sarangnya di sebuah sudut rumah tersebut. Jika
ia menyadari keharusan untuk memikirkan binatang yang seringkali tidak
dihiraukan orang ini, ia akan mengerti bahwa pintu pengetahuan telah dibuka
untuknya. Serangga kecil yang sedang disaksikannya adalah sebuah keajaiban.
Sarang laba-laba tersebut memiliki bentuk simetri yang sempurna. Ia pun
kagum terhadap seekor laba-laba yang mungil tetapi memiliki kemampuan
dalam membuat sebuah disain sempurna yang sedemikian menakjubkan. Setelah
itu ia membuat sebuah pengamatan singkat hingga mendapatkan beberapa fakta
lain: serat yang digunakan laba-laba ternyata 30% lebih fleksibel dari
serat karet dengan ketebalan yang sama. Serat yang diproduksi oleh laba-laba
ini memiliki mutu yang demikian tinggi sehingga ditiru oleh manusia dalam
pembuatan jaket anti peluru. Sungguh luar biasa, sarang laba-laba yang
dianggap sederhana oleh kebanyakan manusia, ternyata terbuat dari bahan
yang mutunya setara dengan bahan industri paling ideal di dunia.
Ketika menyaksikan disain yang sempurna pada makhluk hidup
di sekitarnya, manusia terus menerus berpikir hingga kemudian mendorongnya
untuk menemukan lebih banyak fakta-fakta yang menakjubkan. Ketika mengamati
sebuah lalat yang setiap saat dijumpainya namun belum pernah diperhatikannya
atau bahkan merasa sangat terganggu dan ingin sekali membunuhnya, ia melihat
bahwa serangga tersebut memiliki kebiasaan membersihkan diri sampai bagian-bagian
yang terkecil dari tubuhnya sekalipun. Lalat tersebut seringkali hinggap
di suatu tempat lalu membersihkan tangan dan kakinya secara terpisah.
Setelah itu lalat ini membersihkan debu yang menempel pada sayap dan kepalanya
dengan menggunakan tangan dan kakinya secara menyeluruh. Lalat ini terus
saja melakukan yang demikian sampai yakin akan kebersihannya. Semua lalat
dan serangga membersihkan tubuh mereka dengan cara yang sama: dengan penuh
perhatian dan ketelitian sampai ke hal-hal yang kecil sekalipun. Ini menunjukkan
adanya satu-satunya Pencipta yang mengajarkan kepada mereka cara membersihkan
diri mereka sendiri.
Ketika terbang, lalat mengepakkan sayapnya kurang lebih 500
kali setiap detik. Padahal tak satupun mesin buatan manusia yang mampu
memiliki kecepatan yang luar biasa ini. Kalaulah ada, mesin itu akan hancur
dan terbakar akibat gaya gesek. Namun sayap, otot ataupun persendian lalat
ini tidak mengalami kerusakan. Lalat dapat terbang ke arahmanapun tanpa
terpengaruh oleh arah dan kecepatan angin. Dengan teknologi yang paling
mutakhir sekalipun, manusia masih belum mampu membuat mesin yang memiliki
spesifikasi dan teknik terbang yang luar biasa sebagaimana lalat. Begitulah,
makhluk hidup yang cenderung diremehkan dan tidak terlalu mendapat perhatian
manusia, dapat melakukan pekerjaan yang tak mampu dilakukan manusia. Tidak
diragukan lagi, tidaklah mungkin mengklaim bahwa seekor lalat melakukan
ini semua semata-mata karena kemampuan dan kecerdasan yang ia miliki.
Semua karakteristik istimewa dari lalat adalah kemampuan yang Allah berikan
kepadanya

Tungau yang kasat mata.
|
Segala sesuatu yang terlihat sepintas oleh manusia ternyata
didalamnya terdapat kehidupan, baik yang terlihat ataupun tidak. Tak satu
sentimeter persegi pun di bumi ini yang di dalamnya tidak terkandung kehidupan.
Manusia, tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan adalah makhluk yang mampu dilihat
oleh manusia. Namun, masih ada makhluk-makhluk lain yang tidak terlihat
oleh manusia akan tetapi manusia sadar akan keberadaannya. Misalnya rumah
yang ia diami yang penuh dengan makhluk-makhluk mikroskopis yang disebut
"tungau". Demikian pula halnya dengan udara yang ia hirup, di
dalamnya mengandung virus yang tak terhingga banyaknya, atau tanah kebunnya
yang mengandung bakteri yang sangat banyak.
Seseorang yang merenung tentang keanekaragaman yang luar
biasa dari kehidupan di bumi, akan mengetahui kesempurnaan makhluk-makhluk
ini. Tiap makhluk yang ia lihat adalah tanda-tanda keagungan karya seni
ciptaan Allah, demikian pula halnya dengan keajaiban luar biasa yang tersembunyi
dalam makhluk-makhluk mikroskopis tersebut. Virus, bakteri ataupun tungau
yang tidak terlihat oleh mata telanjang memiliki mekanisme tubuh yang
unik. Habitat, cara makan, sistim reproduksi dan pertahanan mereka semuanya
diciptakan oleh Allah. Seseorang yang memikirkan secara mendalam tentang
fenomena ini teringat ayat Allah:
"Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa
(mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan
kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Ankabuut,
29: 60)
Bagaimana penyakit mendorong seseorang untuk
berpikir?
Manusia adalah makhluk yang memiliki banyak kelemahan dan harus selalu
terus-menerus berusaha untuk mengatasi kelemahan tersebut. Adanya penyakit
yang diderita manusia adalah gambaran paling jelas tentang kelemahan tersebut.
Oleh karenanya, ketika seseorang atau sahabatnya jatuh sakit, ia hendaknya
berpikir tentang makna yang terkandung dari musibah ini. Ketika sedang
berpikir, ia memahami bahwa flu yang dianggap sebagai penyakit yang biasa
pun memiliki pelajaran-pelajaran yang darinya manusia dapat mengambil
hikmah ataupun peringatan. Ketika terjangkiti penyakit tersebut, ia memikirkan
hal-hal seperti: pertama, penyebab utama flu adalah virus yang teramat
kecil untuk dilihat dengan mata telanjang. Akan tetapi, makhluk yang kecil
ini sudah cukup untuk membuat manusia yang bobotnya 60-70 kg menjadi kehilangan
kekuatan, membuatnya sedemikian lemah sehingga tak mampu berjalan ataupun
berbicara sekalipun. Seringkali obat atau makanan yang ia makan tidak
membantu meringankan penderitaannya. Satu-satunya yang dapat ia lakukan
adalah beristirahat dan menunggu. Dalam tubuhnya, berlangsung sebuah peperangan
yang ia tak pernah mampu untuk campur tangan, dengan kata lain ia dibuat
lumpuh tak berdaya melawan organisme yang sangat kecil. Dalam keadaan
yang demikian, ia hendaknya mengingat ayat Allah:
"(Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka
Dialah yang menunjuki aku,
dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum
kepadaku,
dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,
dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali),
dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat".
(Ibrahim berdo'a): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku
hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh".
(QS. Asy-Syuaraa, 26: 78-83)
 
Virus yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang mampu membuat tubuh manusia
yang besar tergeletak di tempat tidur.
|
Seseorang yang terjangkiti penyakit apapun hendaknya membandingkan
sikapnya ketika sehat dan setelah pulih dari sakit, kemudian berpikir
tentang hal tersebut. Seharusnya ia menyadari keadaanya yang lemah ketika
sakit, perasaan ketergantungan kepada Allah yang sangat. Hal ini tercermin,
misalnya, dalam keikhlasan dan kekhusuannya ketika berdoa kepada Allah
menjelang dioperasi.
Sebaliknya, ketika mengetahui orang lain sedang menderita
sakit, ia hendaknya segera bersyukur kepada Allah sambil berpikir tentang
keadaannya yang sehat. Manakala melihat orang yang cacat kaki, misalnya,
orang beriman memikirkan bahwa kakinya adalah nikmat yang sangat besar
dan penting bagi dirinya. Ia memahami bahwa kemampuannya untuk berjalan
atau berlari ke manapun serta melakukan segala sesuatu tanpa bantuan orang
lain sejak bangun tidur di pagi hari adalah nikmat dari Allah. Dengan
membuat perbandingan seperti ini, ia akan lebih memahami besarnya nikmat
yang telah didapatkannya.
Bagaimana seseorang berpikir ketika
bertemu dengan orang yang arogan, tidak sopan, suka menyinggung perasaan
orang lain dan berperangai buruk?
Ketika berada di kantor atau sekolah sepanjang hari, seseorang
akan bertemu dengan berbagai tipe manusia. Sebagian dari mereka mungkin
tidak berakhlaq baik dan tidak takut kepada Allah. Seorang mukmin yang
bertemu dengan orang-orang ini tidak akan terpengaruh oleh keadaan mereka,
sebaliknya tetap istiqomah dengan akhlaq luhurnya sebagaimana yang diajarkan
Allah. Ia memahami bahwa penyebab perilaku buruk mereka adalah ketiadaan
rasa takut kepada Allah serta ingkar kepada hari akhir. Gambaran berikut
ini lalu muncul dalam benaknya: Allah telah memperingatkan tentang siksa
neraka dan memerintahkan manusia agar memikirkan adzabnya yang kekal,
sehingga manusia mau memperbaiki perilaku mereka dalam kehidupan dunia,
kembali kepada Allah dengan merendahkan diri dan melaksanakan ajaran agama
secara ikhlas. Seandainya seseorang menyadari bahwa ia sedang berhadapan
dengan ancaman yang sedemikian berat dan serius, ia pasti akan melakukan
segala sesuatu agar dapat meloloskan diri dari ancaman tersebut. Sebaliknya
mereka yang tidak memikirkannya, sehingga tidak memahami betapa seriusnya
ancaman tersebut, akan berperilaku seolah-olah tempat yang penuh dengan
bara dan siksaan yang dipersiapkan untuk mereka itu tidak lah ada.
Sadar akan kenyataan ini, beberapa hal penting lain terlintas
dalam pikirannya: ketika dikumpulkan di tepi jurang neraka, perilaku orang-orang
yang berperangai buruk tersebut akan berbeda sama sekali dengan perilaku
mereka ketika di dunia. Orang yang ketika masih hidup di dunia berperangai
buruk, tidak malu untuk bertindak yang semena-mena dan arogan akan memiliki
ekspresi muka, sikap dan cara berbicara yang tidak seperti biasanya pada
hari penghisaban, yakni ketika ia diseret ke depan jurang neraka dan terus
menerus disiksa.
(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka
sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu
mereka. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana
mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana)
mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (QS. Al-AÕraaf, 7: 51)
|
|
Atau jika orang yang agresif, kasar dan seringkali melakukan
tindak kejahatan dan tidak memiliki rasa kemanusiaan dibawa ke tepi jurang
neraka, ia akan merasakan penyesalan yang abadi ketika melihat adzab neraka.
Seseorang selalu mengemukakan berbagai macam alasan untuk
tidak menjalankan agama dan tidak melaksanakan ibadah dalam hidupnya di
dunia. Namun ia tidak akan dapat mengatakan alasan-alasan tersebut ketika
diperintah melaksanakan sholat pada saat sedang menanti di depan gerbang
neraka.
"(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka
sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka."
Maka pada hari (kaimat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka
melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu
mengingkari ayat-ayat Kami." (QS. Al-A'raaf, 7:51)
Orang yang takut kepada Allah tidak pernah melupakan kenyataan
ini. Karena senantiasa memikirkan siksa neraka, ia mengetahui mana perilaku,
kata-kata yang benar serta akhlaq yang baik. Dengan keyakinan yang kuat
dan senantiasa mengingat keberadaan neraka, ia selalu berbuat seolah-olah
ia berada sangat dekat dengan neraka, dan memikirkan bahwa ia akan dimintai
pertanggungjawaban atas segala sesuatu yang ia kerjakan.

Allah telah memberikan manusia beragam jenis makanan. Adanya ribuan jenis
makanan dengan rasa dan aroma yang bermacam-macam adalah bukti kasih sayang
Allah kepada manusia.
|
Allah menyeru manusia untuk memikirkan neraka dan hari penghisaban:
"Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala
kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu juga kejahatan yang telah dikerjakannya;
ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan
Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan Allah sangat
Penyayang kepada hamba-hamba-Nya". (QS. Aali Imraan, 3: 30)
Ketika sedang makan
"Allah lah yang menjadikan bumi bagi kamu sebagai
tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan
rupamu serta memberi kamu rezki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang
demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam."
(QS. Ghaafir, 40:64)
Allah telah menyediakan untuk manusia berbagai jenis makanan
dan minuman yang baik, bersih dan lezat di dunia. Sudah barang tentu,
semua ini adalah bentuk kasih sayang Allah yang tak terhingga terhadap
manusia. Meskipun manusia mampu bertahan hidup hanya dengan satu jenis
makanan dan minuman, akan tetapi Allah telah menganugerahkan kepada mereka
kenikmatan yang tak terhitung jumlahnya dengan menciptakan beragam makanan:
buah-buahan, sayur-sayuran dan berbagai macam jenis daging
Mengetahui bahwa segala kebaikan berasal dari Allah, orang
yang beriman akan memikirkan semua ini dan bersyukur kepada Allah setiap
saat ketika duduk di depan meja makan dan bersiap-siap menikmati hidangan.

Bagaimana buah-buahan yang disajikan mendorong
seseorang untuk berpikir?
Dalam banyak ayat Al-Qur'an, disebutkan bahwa Allah telah
memberi nikmat kepada manusia dengan beraneka ragam buah-buahan yang disajikan
kepada seseorang ketika sedang makan. Di atas meja makan dihidangkan berbagai
macam sayur-sayuran yang sebelumnya tumbuh di atas tanah; dan makanan
yang dihasilkan dari hewan. Sesuai fitrahnya, manusia diciptakan untuk
menikmati makanan-makanan ini. Selain memiliki kelezatan yang berbeda-beda,
pada saat yang bersamaan makanan tersebut juga diperlukan untuk kelangsungan
hidup manusia. Marilah kita berpikir: apa yang terjadi seandainya makanan-makanan
yang penting untuk kehidupan manusia ini tidak memiliki rasa, atau mempunyai
rasa yang tidak sedap? Atau jika makanan-makanan ini berbahaya bagi tubuh
kita kendatipun rasanya enak
.Atau seandainya terdapat hanya beberapa
jenis makanan yang dapat kita makan untuk kelangsungan hidup? Yang menyebabkan
makanan dan minuman yang dihidangkan di hadapan anda tidak berasa hambar
adalah karena kebaikan dan kasih sayang Allah kepada anda. Bahkan jika
seseorang berpikir tentang buah-buahan saja, ia akan mengetahui dan mengakui
kebaikan Allah kepadanya.
Ketika melihat beragam jenis buah-buahan di atas meja makan
di hadapannya, seseorang yang mempunyai nalar akan berpikir:
- Tanaman yang tumbuh dari tanah atau lumpur hitam akan tetapi menghasilkan buah-buahan
dengan beragam warna dan aroma, serta daging buah yang bersih dengan rasa
yang sangat enak, adalah nikmat yang sangat besar yang Allah berikan kepada
manusia.
- Pisang, tangerine, jeruk, melon, semangka serta semua buah-buahan
yang diciptakan beserta kulit pembungkus daging buah, memiliki kulit yang
mampu melindungi buah-buahan dari kebusukan dan kerusakan. Kulit pembungkus
ini juga berfungsi memelihara aroma buah. Segera setelah kulit ini dikupas
dan dibuang, daging buah tersebut perlahan-lahan berubah menjadi hitam
dan rusak.
- Ketika diamati satu persatu, buah-buahan tersebut kelihatan
memiliki banyak keunikan. Tangerine dan jeruk, misalnya, diciptakan dalam
keadaan telah bersekat-sekat. Seandainya jeruk dan tangerine memiliki
bentuk yang utuh tanpa sekat, seseorang akan merasa sulit untuk memakan
buah-buahan yang banyak mengandung air ini. Namun Allah telah menciptakannya
dalam keadaan tersekat-sekat sebagai kemudahan dan nikmat tambahan untuk
manusia. Tidak perlu disanksikan lagi, disain yang sangat indah, tanpa
cacat, dan demikian sempurna sehingga pas dengan kebutuhan adalah satu
diantara karakteristik ciptaan Allah Yang Maha Mengetahui.
- Contoh lain adalah strawberi, buah dengan bentuk dan rasa
yang sangat khusus. Bentuk dan rupa permukaannya kelihatan seakan-akan
buah strawberi sengaja dibentuk dengan sangat hati-hati. Warna merah segar
yang dihiasi dengan dedaunan hijau ini hanyalah bagian yang amat kecil
dari daya cipta Allah yang tak tertandingi. Manisnya bau dan rasa, ketiadaan
akan biji serta kulit pembungkus buah sehingga mudah untuk dimakan, mengingatkan
orang akan buah-buahan surga. Buah, yang tanamannya tumbuh di atas tanah
dan memiliki warna yang sedemikian indah dan menawan, menunjukkan kepada
kita tentang Tuhan kita yang telah menciptakan buah tersebut tanpa ada
bandingannya. Dia lah yang telah mewujudkan Seni, Kebijaksanaan serta
Ilmu-Nya pada segala sesuatu yang Dia ciptakan.
- Keberadaan buah-buahan yang beraneka ragam di setiap musim
yang berbeda adalah hal lain yang patut untuk direnungkan. Adalah sebuah
nikmat dan kebaikan dari Allah kepada manusia bahwa, sebagai contoh, ketika
musim dingin dimana manusia membutuhkan vitamin dalam jumlah besar, tersedia
buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C seperti tangerine, jeruk
dan grapefruit. Sebaliknya di musim panas, buah-buahan semisal ceri, melon,
semangka dan persik yang melegakan dahaga begitu berlimpah.
- Ketika kita memandang pohon dengan buah-buahnya yang bergelantungan
di dahan atau ketika tanaman tersebut sedang ditanam terdapat sebuah kenikmatan
tersendiri yang Allah berikan. Pemandangan ratusan buah-buahan di atas
batang pohon yang kering dan menempel kuat pada dahannya, yang di dalamnya
mengandung air dan sebagian diantaranya terlihat seakan-akan permukaan
luar kulit buah tersebut terpoles hingga mengkilat, adalah bukti bahwa
setiap buah-buahan tersebut telah diciptakan oleh Allah. Sebagai contoh,
buah anggur terlihat seolah-olah telah di letakkan pada ranting-ranting
tanaman anggur satu demi satu. Allah telah menciptakan buah-buahan tersebut
penuh keunikan keunikan tanpa ada duanya. Ketika masih berada di dahan
tanaman, anggur dibentuk dan ditampilkan sedemikian rupa agar menarik
manusia. Dengan alasan ini, ketika menggambarkan surga dalam Al-Qur'an:
"Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya
dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya." (QS. Al-Insaan, 76:14),
Allah menyatakan bahwa buah-buahan di surga mudah dipetik.
Sudah pasti bahwa yang disebutkan disini hanyalah contoh-contoh
yang jumlahnya terbatas. Segala nikmat yang Allah ciptakan terlalu banyak
untuk dapat dihitung. Orang yang menyadari akan hal tersebut ketika berada
di meja makan akan teringat ayat Allah yang lain:
"Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan
yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil
pelajaran. Dan jika kamu menghitung-hitung ni'mat Allah, niscaya kamu
tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nahl, 16: 17-18)
Bagaimana rasa dan bau mendorong seseorang
berpikir?
Dengan senantiasa berpikir sebagaimana telah diuraikan di
atas, manusia akan lebih menyadari tentang keindahan dan ketelitian dalam
ciptaan Allah. Ketika merenung tentang semua ini, orang yang sadar akan
berpikir bahwa kebahagiaan yang mucul ketika sedang merasakan nikmat-nikmat
yang Allah berikan adalah sebuah kebaikan yang besar. Ia ingat bahwa indra
pengecap dan penciuman telah menolong kita merasakan berbagai keindahan
di dunia. Tanpa memiliki indra penciuman, kita tidak akan mampu menikmati
keharuman sekuntum bunga mawar, buah-buahan yang kita makan atau daging
panggang sebagaimana yang kita rasakan saat ini. Tanpa indra pengecap,
kita tidak dapat merasakan rasa coklat yang khas, permen, daging, strawberi
dan rasa lezat yang lain.
Hendaknya tidak dilupakan bahwa mungkin saja kita hidup di
dunia yang tidak memiliki warna, rasa dan aroma. Dan jika Allah tidak
memberikan segala kenikmatan ini, kita tidak akan mendapatkannya dengan
cara apapun. Namun Allah telah memberikan nikmat yang tak berhingga kepada
manusia dengan menciptakan rasa dan bau juga sistim indera untuk merasakannya.
Ketika berjalan-jalan di taman
.
Bagaimana keindahan alam mendorong seseorang
berpikir?
Ketika melihat keindahan-keindahan di alam seseorang yang
beriman kepada Allah memuji Allah dengan mengagungkan-Nya. Ia sadar bahwa
Allah telah menciptakan segala keindahan yang ada. Ia tahu bahwa segala
keindahan ini adalah kepunyaan Allah dan merupakan perwujudan dari sifat-Nya
Yang Maha Indah (Al-Jamaal).
Ketika berjalan-jalan mengelilingi alam sekitar, seseorang
merasakan keindahan-keindahan yang lebih terasa dari sebelumnya. Dari
sebatang rumput hingga setangkai bunga daisy kuning, dari burung hingga
semut, segala sesuatunya penuh dengan kerumitan yang memerlukan perenungan.
Ketika merenungkan yang demikian, manusia akan memahami kekuasaan dan
kebesaran Allah.
Kupu-kupu, misalnya, adalah makhluk yang sangat indah dan
elok untuk dilihat. Kupu-kupu, yang memiliki sayap dengan simetri dan
disain semacam renda yang demikian teliti sehingga terlihat seolah-olah
dilukis dengan tangan, dengan warna yang harmoni dan dipenuhi fosfor sehingga
berpendar, adalah bukti daya seni yang tak tertandingi dari ciptaan Allah.
Banyaknya jenis tanaman dan pohon yang tak terhitung di muka
bumi merupakan bagian dari keindahan ciptaan Allah. Bunga-bunga dengan
warna yang beraneka-ragam dan berbagai bentuk pepohonan telah diciptakan
sedemikian rupa sehingga memberikan kenyamanan bagi manusia.
Seseorang yang memiliki keimanan akan berpikir bagaimana
bunga seperti mawar, violet, daisy, hyacinth, anyelir, anggrek dan bunga-bunga
lainnya memiliki permukaan yang sedemikian mulus, bagaimana mereka muncul
dari biji-biji mereka dalam keadaan yang halus sama sekali tanpa ada lipatan-lipatan,
bagaikan telah disetrika.
Satu lagi keajaiban ciptaan Allah adalah aroma sedap yang
menakjubkan dari bunga-bunga ini. Mawar, misalnya, memiliki wangi yang
tidak pernah berubah yang selalu dikeluarkannya. Bahkan dengan teknologi
paling maju sekalipun, bau yang menyamai mawar tidak dapat dibuat. Penelitian
di laboratorium-laboratorium untuk menyerupai bau ini belum mendatangkan
hasil yang memuaskan. Aroma parfum yang diproduksi dengan meniru bau mawar
pada umumnya memiliki bau harum yang sedemikian kuat sehingga mengganggu
orang. Tetapi bau asli dari bunga mawar tidak menimbulkan gangguan apapun
bagi manusia.
Orang yang beriman sadar bahwa segala sesuatu ini diciptakan
Allah agar ia memuji-Nya, untuk menunjukkan kepadanya karya seni dan ilmu
Allah dari keindahan-keindahan yang ia ciptakan. Sadar akan hal ini, seseorang
yang menyaksikan keindahan kebun ketika sedang berjalan-jalan akan mengagungkan
Allah seraya mengatakan, "Maa syaa Allahu, laa quwwata illaa billaah
(sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali
dengan pertolongan Allah)" (QS. Al-Kahfi, 18: 39). Ia ingat bahwa
Allah telah memberikan segala keindahan ini untuk kepentingan manusia
dan Dia akan memberikan kenikmatan-kenikmatan luar biasa kepada orang-orang
mukmin yang tidak ada bandingannya di akhirat; sehingga kecintaannya kepada
Allah semakin bertambah.
Sudahkah anda merenungkan tentang seekor
semut yang anda lihat ketika berjalan di sebuah taman?

Seekor semut yang sangat sibuk membawa makanan ke dalam sarangnya.
|
Manusia pada umumnya tidak begitu memperhatikan pentingnya
berpikir tentang beragam makhluk hidup yang mereka lihat di sekitarnya.
Mereka tidak membayangkan bahwasanya benda-benda hidup yang mereka jumpai
setiap hari tersebut memiliki ciri-ciri yang sangat menarik. Sebaliknya,
bagi seseorang yang beriman, setiap makhluk hidup ciptaan Allah memiliki
karakteristik yang menunjukkannya sebagai sebuah ciptaan yang sempurna.
Semut adalah salah satu diantaranya.
Sewaktu berjalan-jalan di taman, orang yang beriman tidak
memalingkan muka ketika melihat seekor semut. Dengan mengamati ciri-cirinya
yang mengagumkan, ia menyaksikan kesempurnaan ciptaan Allah.
Bahkan dengan hanya mengamati cara berjalan seekor semut
pun dapat mendorong akal kita untuk berpikir. Semut menggerakkan kaki-kakinya
yang sangat kecil secara berurutan dan sangat terorganisir, mengetahui
dengan baik dan sempurna kaki yang mana yang seharusnya melangkah terlebih
dahulu untuk kemudian diikuti kaki yang lain. Ia dapat berjalan dengan
sangat cepat tanpa lelah.
Serangga mungil ini mampu mengangkat beban yang bobotnya
jauh lebih berat dibanding tubuhnya, dan membawanya ke sarang sendirian.
Ia mampu menempuh perjalanan yang jaraknya sangat jauh dibandingkan dengan
panjang tubuhnya yang sangat pendek. Di atas tanah yang rata dan tidak
berjejak, tanpa penunjuk arah, semut dapat dengan mudah menemukan sarangnya.
Kendatipun lubang masuk sarang terlalu kecil bagi manusia untuk menemukannya,
semut tidak merasakan kebingungan dan menemukan sarang tersebut, tak menjadi
soal dimana sarang tersebut berada.
Ketika sedang berada di kebun dan melihat semut-semut yang
berbaris satu dengan yang lain, bekerja keras dan bersemangat mengangkut
makanan ke dalam sarangnya, seseorang tak mampu berhenti bergumam dalam
hati mengapa makhluk yang mungil ini kelihatan seolah-olah bekerja begitu
keras. Seseorang kemudian menyadari bahwa semut tersebut mengumpulkan
makanan tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk para anggota
koloni semut yang lain, untuk sang ratu dan bayi-bayi semut. Bagaimana
semut yang mungil yang tidak memiliki otak yang sempurna akan tetapi mampu
berperilaku rajin, disiplin dan berkorban untuk orang lain adalah sesuatu
yang perlu untuk direnungkan. Setelah memikirkan secara mendalam tentang
fenomena-fenomena ini, seseorang mencapai sebuah kesimpulan: semut, sebagaimana
makhluk hidup yang lain, berperilaku dengan mengikuti petunjuk Allah dan
mematuhi perintah-perintah-Nya saja.
Bagaimana gerakan tanaman merambat mendorong
seseorang berpikir?
 
Ivy melingkarkan dirinya mengitari sebuah benda menyerupai gerakan makluk
yang memiliki kesadaran.
|
Orang mukmin yang sedang berjalan di sebuah taman juga memikirkan
tentang tanaman yang merambat, yang juga dikenal dengan istilah ivy, yang
ia temui, yang merupakan satu dari nikmat-nikmat yang Allah ciptakan.
Bagi orang yang berpikir, di setiap benda hidup terdapat
tanda-tanda yang dapat dijadikan pelajaran. Sebagai contoh, ivy yang melingkarkan
tubuhnya mengelilingi sebuah dahan atau benda lain adalah fenomena yang
perlu dipikirkan secara seksama. Jika pertumbuhan ivy direkam dan dipertunjukkan
ulang dengan cepat, akan terlihat bahwa ivy bergerak seolah-olah ia adalah
makhluk yang memiliki kesadaran. Ia seolah-olah melihat dahan yang berada
tepat di hadapannya, lalu ia mengulurkan dirinya ke arah dahan tersebut
dan mengikatkan diri ke dahan seperti tali lasso. Kadangkala ia melingkari
dahan tersebut beberapa kali untuk menguatkan ikatan dirinya terhadap
dahan. Ia tumbuh sangat cepat dengan cara yang demikian dan ketika telah
sampai di ujung dahan, ia tumbuh dengan mengikuti arah baru yakni kembali
tumbuh melingkari dahan dengan arah ke belakang, atau tumbuh kebawah.
Seorang mukmin yang menyaksikan semua ini kembali sadar bahwa Allah telah
menciptakan semua benda hidup, dan bahwa Dia menciptakannya sebagai sistim
yang unik dan tanpa cacat.
Ketika seseorang terus mengamati gerakan-gerakan ivy, ia
menemukan satu ciri menarik lain dari tumbuhan tersebut. Ia melihat bahwa
ivy dengan kuat melekatkan dirinya di atas permukaan dimana ia berada
dengan menjulurkan lengan-lengan sampingnya. Bahan yang kental yang diproduksi
oleh tanaman yang tidak memiliki kesadaran tersebut merekat sedemikian
kuat sehingga ketika tanaman ini dicoba untuk dipindahkan dengan cara
menariknya dari tempat ia berada, maka cat yang ada ditembok akan ikut
terangkat juga.
Keberadaan tanaman yang merambat sebagaimana diuraikan atas
menunjukkan kepada orang mukmin yang melihat dan kemudian memikirkannya,
akan kekuasaan Allah, Pencipta tanaman tersebut.
Bagaimana pepohonan mendorong seseorang
untuk berpikir?
Setiap hari kita melihat pepohonan di berbagai tempat; akan
tetapi, pernahkan kita memikirkan bagaimana air dapat mencapai daun yang
paling jauh letaknya di ujung teratas dari sebuah pohon yang tinggi? Kita
akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang keluarbiasaan ini dengan
membuat sebuah perbandingan. Tidaklah mungkin bagi air dalam sebuah tanki
di bagian bawah bangunan anda untuk naik ke lantai yang lebih atas tanpa
adanya sebuah tanki hidroforik atau mesin pompa air yang kuat. Anda tidak
akan mampu memompa air kendatipun hanya sampai ke lantai pertama. Oleh
karena itu, sudah seharusnya ada sistim pemompaan yang mirip dengan mesin
hidrofonik yang dimiliki oleh pohon. Jika tidak, mustahil air akan dapat
mencapai batang pohon dan cabang-cabangnya di bagian atas sehingga pohon-pohon
tersebut akan segera mati.
Dedaunan yang hijau cerah, hidup dan tumbuh keluar dari sebuah batang kayu
yang kering. Air dapat encapai pem buluh-pembuluh (yang mirip benang)
pada daun-daun yang berada pada tempat yang sangat tinggi di atas pohon.
Daun-daun tidak menderita kekeringan di bawah sengatan terik matahari....
Ini semua hanyalah sedikit dari hal-hal yang sangat banyak yang hendaknya
mendorong seseorang berpikir tentang pohon.
|
Namun Allah telah menciptakan untuk tiap-tiap pohon semua
sarana dan perlengkapan yang diperlukan. Tambahan lagi, sistim pemompaan
di setiap pohon terlalu canggih dibandingkan dengan yang ada di bangunan
tempat tinggal manusia. Ini adalah satu diantara beragam hal yang hendaknya
dipikirkan oleh seseorang ketika sedang menyaksikan tanaman-tanaman tersebut.
Dan pemikiran semacam ini hanya akan muncul jika ia senantiasa melihat
ke segala sesuatu dengan menggunakan "mata yang benar-benar melihat",
yakni melihat sambil memikirkan secara mendalam tentang apa yang sedang
dilihatnya.
Hal lain yang dapat dipikirkan berhubungan dengan dedaunan.
Ketika memandang sebuah pohon, seseorang yang merenungkan segala sesuatu
yang dilihatnya tidak akan menganggap daun-daun pohon tersebut sebagai
bentuk-bentuk sederhana sebagaimana ia terbiasa untuk melihatnya. Ia berpikir
berbagai hal yang belum pernah terpikirkan oleh orang lain. Dedaunan,
misalnya, adalah sesuatu yang rentan dan mudah rusak. Namun, daun-daun
ini tidak kering kerontang karena panasnya terik sinar matahari yang menyengat.
Ketika seorang manusia berada pada suhu 40oC dalam waktu yang sebentar,
warna kulitnya berubah, ia menderita dehidrasi. Sebaliknya, daun mampu
untuk tetap hijau di bawah panas matahari yang menyengat tanpa terbakar
selama berhari-hari, bahkan berbulan-bulan meskipun sangat sedikit sekali
jumlah air yang mengalir melalui pembuluh-pembulunya yang mirip benang.
Ini adalah sebuah keajaiban penciptaan yang menunjukkan bahwa Allah menciptakan
segala sesuatu dengan ilmu yang tak tertandingi. Berpikir tentang keajaiban
ciptaan tersebut, seseorang yang beriman mampu sekali lagi melihat kebesaran
Allah untuk kemudian mengagungkan-Nya.
Ketika sedang membaca surat kabar, melihat
TV...
Orang-orang mengikuti berita melalui berbagai surat kabar
dan TV di siang hari ataupun setelah mereka kembali ke rumah di petang
hari. Dalam laporan berita tersebut, banyak pemberitaan-pemberitaan yang
dapat dipikirkan dan dilihat atau diambil darinya peringatan serta tanda-tanda
kekuasaan Allah oleh orang-orang yang memiliki nalar.
Bagaimana jumlah kasus kejahatan, penyerangan
dan pembunuhan mendorong seseorang untuk berpikir?
 
Dalam masyarakat yang memiliki rasa takut kepada Allah, tak satupun dari
pemandangan ini terjadi.
|
Setiap hari, melalui surat kabar lokal maupun berita televisi,
seseorang mengetahui adanya kasus pembunuhan, penganiayaan, pencurian,
perampokan, penipuan dan bunuh diri. Kejadian yang sering ini, serta kebanyakan
manusia yang begitu cenderung melakukan tindak kriminal tersebut memperlihatkan
akibat yang diderita oleh manusia yang hidupnya tidak berlandaskan agama
Allah. Penculikan yang dilakukan oleh seseorang terhadap seorang anak
kecil untuk mendapatkan uang tebusan yang menyebabkannya dihantui oleh
perasaan takut yang sangat termasuk upaya pembunuhan terhadapnya; seseorang
yang menodongkan senapannya ke arah orang lain lalu menembaknya tanpa
ragu-ragu; seseorang yang menerima uang suap, melakukan bunuh diri atau
penipuan
Semua ini adalah indikasi bahwa para pelaku tindak kriminal tersebut
tidak takut kepada Allah dan tidak yakin akan keberadaan hari akhirat.
Seseorang yang takut kepada Allah dan mengetahui bahwa ia akan dihisab
di hari akhir tidak akan pernah berani melakukan satu pun dari berbagai
kejahatan tersebut. Sebab semuanya adalah perbuatan yang akan dibalas
dengan api neraka di akhirat.
Mungkin ada yang berkata:"Saya seorang ateis. Saya tidak
percaya kepada Allah, tapi saya tidak menerima uang suap". Pernyataan
orang yang tidak takut kepada Allah ini tidak meyakinkan sama sekali.
Sangat mungkin bahwa komitmen dalam memegang janjinya akan melemah ketika
kondisi berubah. Sebagai contoh, jika ia harus mendapatkan uang untuk
keperluan yang sangat mendesak, dan kebetulan berada pada kondisi yang
memungkinkannya untuk mencuri atau menerima uang suap, ia dapat saja tidak
memegang janjinya. Hal yang sama dapat berlaku ketika nyawanya berada
dalam bahaya. Kendatipun ia dapat menahan diri dari mengambil uang suap
dalam situasi yang sulit, ia mungkin cenderung untuk melakukan perbuatan
terlarang lainnya. Sebaliknya, orang yang beriman tidak pernah melakukan
apapun yang tidak mampu dipertanggung jawabkannya di akhirat.
Jadi, penyebab semua tindak kejahatan tersebut, yang mendorong
kita melakukan protes dan berteriak,"apa yang terjadi pada masyarakat
kita!" melalui surat kabar, TV, kantor-kantor pada hakikatnya adalah
jauhnya mereka dari agama. Ketika menyaksikan berita-berita sebagaimana
di atas, orang yang beriman tidak memalingkan muka, sebaliknya mereka
berpikir bahwa satu-satunya jalan keluar adalah untuk menyampaikan ajaran
agama dan menghidupkan nilai-nilai akhlaq dalam masyarakat. Sebab dalam
masyarakat yang terdiri atas orang-orang yang takut kepada Allah dan tahu
bahwa mereka akan mempertanggung jawabkan perbuatannya di akhirat, tidaklah
mungkin semua peristiwa ini terjadi. Dalam masyarakat yang demikian, kedamaian
dan keamanan akan dinikmati pada puncaknya.
Bagaimana acara diskusi TV sampai pagi hari
mendorong seseorang berpikir?
Bagi seseorang yang terus-menerus berpikir mendalam tentang
segala yang ia lihat di sekitarnya, acara-acara diskusi yang disiarkan
melalui TV pun dapat dijadikan bahan renungan.
Acara-acara tersebut menampilkan tokoh-tokoh serta para ahli
di bidang yang sedang menjadi topik hangat di hari itu. Mereka mendiskusikan
sebuah topik selama berjam-jam, namun tak seorang pun di antara mereka
mampu memberikan jalan keluar atau mencapai sebuah kesimpulan. Padahal
mereka yang menghadiri acara diskusi tersebut adalah orang-orang yang
dipercayai memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah yang ada.
Sungguh, jalan keluar dari sebagian besar permasalahan yang
sedang didiskusikan tersebut sangatlah jelas. Namun kepentingan pribadi
masing-masing orang, pengaruh dari golongan mereka, ambisi untuk menonjolkan
diri pribadi dari pada mencari sebuah solusi secara ikhlas, membawa mereka
pada jalan buntu.
Ketika menyaksikan ini semua, orang yang memiliki nalar akan
berpikir bahwa sebenarnya penyebab dari persoalan yang ada terletak pada
jauhnya masyarakat dari agama Allah. Orang yang beriman kepada Allah tidak
pernah menunjukkan perilaku yang tidak bertanggung jawab, sia-sia ataupun
acuh tak acuh. Ia sadar bahwa ada kebaikan di setiap peristiwa yang Allah
perlihatkan kepadanya. Ia paham bahwa ia selalu berada dalam keadaan diuji
di dunia ini yang mengharuskannya untuk menggunakan akal, kekuatan dan
pengetahuannya dalam segala hal yang dapat membuat Allah ridha.
Di samping itu, seorang mukmin senantiasa ingat akan sebuah
ayat Allah ketika melihat acara tersebut:
"
Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak
membantah." (QS. Al-Kahfi, 18: 54)
Dalam acara diskusi tersebut terlihat adanya perdebatan,
atau bahkan, percekcokan antar para tokoh dan ahli yang tampil di TV.
Juga ketidakmengertian mereka akan permasalahan yang dikemukakan kepada
mereka, terobsesi dengan apa yang akan mereka katakan dan mencoba untuk
paling dahulu mengatakannya, saling memotong pembicaraan, meninggikan
suara dengan mudahnya, begitu cepat kehilangan kesabaran, saling melontarkan
ejekan; adalah bukti yang penting untuk diperhatikan dalam mamahami aspek-aspek
negatif dari orang-orang ini.
Di sebuah lingkungan dengan seratus persen orang-orang yang
ikhlas dan jujur yang mempunyai rasa takut kepada Allah, tontonan yang
memakan waktu lama dan tak ada hasilnya semacam ini tidak pernah terjadi.
Karena tujuan mereka adalah mencari jalan keluar yang paling diridhai
Allah, dan yang paling membawa manfaat bagi masyarakat, maka metode yang
paling tepat sesuai dengan akal dan nalar akan mudah ditemukan dan dilaksanakan
tanpa membuang-buang waktu. Karena setiap orang akan merasa puas dengan
keputusan akhir maka percekcokan pun tidak akan terjadi.
Jika ada yang merasa keberatan berdasarkan dalih yang dapat
diterima serta mengusulkan jalan keluar yang lebih baik, maka usulan ini
yang akan langsung dipakai. Mereka yang takut kepada Allah tidak seperti
kebanyakan orang, dan tidak menunjukkan sikap keras kepala dan arogan.
Dengan mengingat apa yang Allah firmankan dalam Al-Qur'an; "
Dan
di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui"
(QS. Yuusuf, 12: 76), mereka mengambil pilihan yang paling tepat.
Kebalikannya, yakni diskusi yang berlangsung hingga pagi
hari tanpa dihasilkannya suatu pemecahan masalah adalah contoh berharga
yang dapat terjadi di sebuah lingkungan dimana akhlaq mulia yang diajarkan
agama tidak dijalankan.
Bagaimana kelaparan dan kemelaratan di setiap
penjuru dunia mendorong seseorang untuk berpikir?
Salah satu permasalahan yang sering dibahas di media massa
adalah ketidakadilan dalam masyarakat.
Ketika di belahan dunia yang satu terdapat negara-negara
yang sangat makmur dengan tingkat kesejahteraan yang sangat tinggi, namun
di belahan bumi yang lain terdapat orang-orang yang tidak memiliki sesuatupun
yang dapat dimakan atau obat untuk penyakit yang paling ringan sekalipun
sehingga mereka pada akhirnya meninggal tak terurus. Pertama-tama, fenomena
tersebut menunjukkan keberadaan sebuah sistim yang dzalim dan tidak adil
di dunia. Sebenarnya sangatlah mudah bagi satu atau segilintir negara
untuk menyelamatkan orang-orang yang terdzalimi ini. Misalnya, rakyat
di negara-negara tetangga di Afrika sedang mati kelaparan, namun ada kelompok
masyarakat yang telah menumpuk harta dari pertambangan intan dan dengannya
membangun sebuah peradaban yang maju. Kendatipun sangat mudah untuk memindahkan
orang-orang yang hidup melarat dan kelaparan dan hampir meninggal ini,
atau memberi sarana yang mereka butuhkan di daerah tempat tinggal mereka,
namun selama puluhan tahun tidak ada jalan keluar yang berarti yang telah
diberikan kepada mereka. Menolong orang tersebut bukanlah sebuah tugas
yang dapat diselesaikan oleh segelintir orang. Untuk mendapatkan penyelesaian
yang berarti, perlu banyak orang yang mau mengorbankan diri mereka. Sayangnya,
hingga kini jumlah orang yang menklaim telah mengatasi bencana kemanusiaan
tersebut masih terlalu sedikit.
Di lain pihak, trilyunan dolar telah dihambur-hamburkan di
setiap penjuru dunia untuk beragam tujuan. Di satu sisi ada orang-orang
yang membuang makanannya hanya karena tidak puas dengan jumlah garam dalam
makanan tersebut, di lain pihak ada manusia yang mati karena tidak menemukan
makanan untuk dimakan. Ini adalah bukti nyata adanya tatanan yang dzalim
dan tidak adil akibat tidak diamalkannya akhlaq agama.
Orang yang memahami persoalan ini berpikir bahwa satu-satunya
yang akan menghilangkan ketidakadilan adalah akhlaq yang diajarkan Allah.
Mereka yang takut kepada Allah dan bertingkah laku sesuai dengan hati
nurani dan akalnya tidak akan pernah membiarkan kepincangan dan ketidakadilan
yang ada. Mereka akan keluar untuk menolong orang-orang yang membutuhkan
dengan solusi yang cepat, tepat dan permanen tanpa menonjolkan diri ataupun
mengharapkan segala sesuatu yang bersifat duniawi.
Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan
bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak
(juga) bertobat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? (QS. At-Tawbah, 9: 126)
|
|
Disebutkan dalam Al-Qur'an bahwa menolong kaum fakir dan
miskin adalah ciri orang-orang yang takut kepada Allah dan hari pembalasan:
"Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia dalam
bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak
mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang yang mempercayai
hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap adzab Tuhannya."
(QS. Al-Maarij, 70: 24-27)
"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada
orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi
makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak
menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya
kami takut akan (adzab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu)
orang-orang bermuka masam penuh kesulitan." (QS. Al-Insaan, 76: 8-10)
Tidak memberi makan kepada orang miskin adalah ciri orang
yang tidak beragama dan tidak memiliki rasa takut kepada Allah:
"Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.
Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian
belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya
dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak
mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang
temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun
(baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali
orang-orang yang berdosa." (QS. Al-Haaqqah, 69: 30-37)
Bagaimana bencana alam yang terjadi di seluruh
dunia mendorong seseorang berpikir?

Terdapat pelajaran-pelajaran tersembunyi yang dapat direnungkan dari
liputan-liputan tentang bencana alam yang disiarkan melalui surat kabar
dan TV.
|
Diantara pemberitaan yang sering kita disaksikan di berbagai
stasiun TV dan surat kabar adalah laporan tentang bencana alam. Manusia
dapat tertimpa bencana alam seperti gempa bumi hebat, kebakaran ataupun
banjir. Seseorang yang menyaksikan berbagai liputan tentang bencana alam
berpikir bahwa Allah mempunyai kuasa atas segala sesuatu, bahwa Dia dapat
saja menghancur luluhkan sebuah kota hingga rata dengan tanah jika Dia
menghendaki. Setelah memikirkan ini semua, ia paham bahwa tidak ada sesuatupun
selain Allah yang dapat dijadikan tempat berlindung dan memohon pertolongan.
Bahkan bangunan-bangunan yang paling kokoh; kota-kota yang dilengkapi
dengan teknologi yang paling canggih pun tidak akan mampu bertahan terhadap
adzab Allah; mereka dapat musnah seketika.
Semua pemandangan ini ditunjukkan kepada manusia agar berpikir
dan mengambil pelajaran.
Orang yang mendengar atau membaca laporan bencana alam tersebut
juga berpikir bahwa Allah telah menurunkan bencana atas kota ini untuk
suatu tujuan. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman bahwa kepada bangsa-bangsa
yang menentang, Allah mengirimkan adzab agar mereka sadar atau mendapatkan
balasan dari perbuatan mereka. Dengan demikian jika suatu masyarakat melakukan
bentuk perbuatan yang tidak diridhai Allah, mereka pun akan dikenai hukuman
Allah dengan sebab tersebut. Atau Allah mungkin sedang menguji mereka
dengan kesusahan di dunia.
Dengan memikirkan segala kemungkinan tersebut, seseorang
akan takut kalau-kalau hal serupa akan juga menimpanya, dan memohon ampunan
Allah atas segala perbuatannya.
Tak seorang atau suatu bangsa pun dapat menghindar dari bencana
apapun kecuali jika Allah berkehendak lain. Tak peduli apakah bangsa tersebut
termasuk yang paling kaya dan terkuat di dunia atau mendiami sebuah tempat
yang letak gegrafisnya tidak menunjukkan adanya kemungkinan terkena bencana
tersebut. Allah berfirman bahwa tak ada satupun bangsa yang mampu mencegah
bencana yang akan menimpa mereka.
"Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman
dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka
sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari
kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan
naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari
adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan adzab
Allah kecuali orang-orang yang merugi. Dan apakah belum jelas bagi orang-orang
yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau
Kami menghendaki tentu Kami adzab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami
kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran
lagi)?" (QS. Al-Araaf, 7: 97-100)
     |
| 1. Bencana banjir di Honduras 2. Bencana alam di
Mali-Gao yang diakibatkan oleh angin yang sangat kencang 3. Sebuah kota di
pinggir pantai yang digenangi oleh luapan air sungai 4. Sebuah kota lain
yang tergenang air 5. Sebuah kota yang telah hancur. |
     |
| Gempa bumi yang berlangsung beberapa detik
saja sudah cukup untuk menghancurkan keseluruhan kota. Mereka yang
berpikir bahwa pemandangan ini adalah kejadian alam biasa adalah salah.
Karena, sebagaimana ciptaan Allah yang lain, alam juga di bawah kendali
Allah. |
Bagaimana berita tentang sistem riba mendorong
seseorang berpikir?
Topik lain yang sering muncul dalam berita adalah masalah
ekonomi yang makin terpuruk. Sejumlah berita negatif khususnya tentang
nilai suku bunga atau riba disiarkan setiap hari. Orang yang membaca laporan-laporan
yang menyebut tentang suku bunga yang tidak terkendali dan menyebabkan
krisis ekonomi berpikir bahwa akibat dari perbuatan terlarang yang begitu
luasnya tersebar, Allah mengurangi pendapatan mereka. Sebagaimana yang
tercantum dalam ayat, "
Allah memusnahkan
riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang
tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.". (QS. Al-Baqarah,
2: 276), Allah mampu menghilangkan keuntungan yang dihasilkan melalui
bunga atau riba, dan menurunkan produktifitasnya. Fakta ini tercantum
dalam ayat lain:
"Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar
dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi
Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk
mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang
yang melipat gandakan (pahalanya)" (QS. Ar-Ruum, 30: 39)
| "Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan
bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan."
(QS. Aali Imraan, 3: 130)
|
|
Bagi orang yang merenung, berita tentang riba termasuk bukti
nyata yang menunjukkan bahwa ayat Allah berlaku pada manusia
Berpikir tentang tempat-tempat yang indah
Melalui acara-acara TV, surat kabar dan majalah-majalah manusia
dapat menyaksikan sekaligus memikirkan keindahan-keindahan yang Allah
ciptakan. Melihat ataupun mengunjungi pemandangan yang mempesona, rumah
yang bagus, taman atau pantai yang indah sudah pasti menyenangkan setiap
orang. Beragam pemandangan tersebut pertama-tama dapat mengingatkan seseorang
akan surga. Orang yang beriman sekali lagi ingat bahwa Allah, yang telah
memberikan sedemikian banyak nikmat dan menunjukkan keindahan yang luar
biasa, telah menyediakan tempat-tempat yang keindahannya tak tertandingi
di surga.
Pemandangan tersebut dapat pula mendorong seseorang untuk
berpikir: setiap keindahan yang diciptakan di dunia memiliki sejumlah
ketidaksempurnaan karena memang dunia adalah tempat ujian. Seseorang yang
berada beberapa saat di tempat-tempat rekreasi yang gambarannya pernah
ia saksikan sebelumnya di TV dapat melihat kekurangan-kekurangan tersebut.
Beberapa contoh diantaranya adalah cuaca yang terlalu lembab, air laut
yang kadar garamnya sangat tinggi, panas terik yang menyengat, lalat yang
berterbangan di mana-mana. Di dunia terdapat banyak kesulitan-kesulitan
dan keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan seperti sakit akibat tersengat
sinar matahari, agen perjalanan yang kurang terorganisasi, temperamen
kurang bersahabat dari orang-orang yang bersama-sama dengan kita merasakan
kondisi ini.
Sebaliknya, di dalam surga terdapat keindahan-keindahan yang
sempurna dan asli, tak terdapat sesuatupun yang mengganggu manusia dan
tak satupun percakapan yang tidak menyenangkan akan terucap. Ketika melihat
setiap keindahan yang ada di dunia, ia memikirkan dan mendambakan surga.
Ia selalu bersyukur atas segala kenikmatan yang telah dikaruniakan Allah
kepadanya di dunia, dan ia menikmatinya sambil berpikir bahwa semua ini
adalah anugerah yang Allah turunkan dari rahmat-Nya. Dengan mengetahui
bahwa sumber dari segala keindahan ini berasal dari surga, ia tidak akan
melupakan akhirat akibat terlenakan oleh keindahan-keindahan dunia. Ia
menjalani kehidupan dengan cara yang membuatnya mampu memperoleh keindahan
abadi dan layak untuk masuk ke dalam surga Allah.
Bagaimana informasi dari majalah ilmiah yang menyatakan bahwa
unsur penyusun materi adalah atom membuat seseorang berpikir?
Tanpa memikirkan terhadap apa-apa yang ia ketahui, seseorang
tidak akan mampu mengetahui hal-hal yang demikian rumit namun penting;
dan menyadari betapa luar biasanya lingkungan di mana ia berada. Oleh
karena itu, orang yang beriman senantiasa memikirkan berbagai makhluk
hidup dan kejadian-kejadian yang Allah ciptakan. Kendatipun semua itu
dapat berupa segala sesuatu yang sudah umum dan diketahui oleh banyak
orang, namun ia mampu untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan yang berbeda
dibandingkan dengan orang lain.
Sebagai contoh, adalah fakta yang telah dikenal luas bahwa
unsur dasar penyusun setiap benda di jagad raya, hidup ataupun tak hidup,
adalah atom-atom. Dengan kata lain sebagian besar manusia tahu bahwa buku
yang mereka baca, kursi yang mereka duduki, air yang mereka minum dan
apapun yang mereka lihat di sekitar mereka tersusun atas atom-atom. Namun
hanya orang-orang yang memiliki nalar dan kesadaran saja yang mampu berpikir
lebih jauh tentang hal ini dan menyaksikan kehebatan Allah.
Ketika orang-orang tersebut melihat sebuah laporan yang membahas
tentang topik di atas, ia akan berpikir sebagaimana berikut: atom-atom
adalah benda tak hidup. Lalu bagaimana substansi tak hidup seperti atom-atom
dapat bergabung dan membentuk wujud manusia yang memiliki kemampuan untuk
melihat, mendengar, menafsirkan segala sesuatu yang mereka terima, menikmati
musik yang mereka dengar, berpikir, membuat keputusan-keputusan, menjadi
bahagia atau tidak bahagia? Bagaimana manusia mendapatkan segala kemampuan
seperti ini?; yakni sifat-sifat kemanusiaan yang sama sekali berbeda dengan
wujud fisik yang dihasilkan dari penggabungan atom-atom yang berbeda tersebut.
Sudah tentu atom-atom yang tak hidup dan tidak memiliki kesadaran
tersebut tidak dapat memberikan kepada manusia sifat-sifat kemanusiaan.
Adalah fakta bahwa Allah menciptakan manusia dengan ruh yang memiliki
sifat-sifat tersebut. Hal ini mengingatkan kita pada sebuah ayat Allah:
"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya
dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan
keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan
dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur."
(QS. As-Sajadah, 32: 7-9)
Beberapa fakta yang didapatkan oleh seseorang
setelah berpikir secara mendalam
Pernahkan anda berpikir bahwa setiap sesuatu diciptakan untuk
manusia saja?
Ketika seseorang yang beriman kepada Allah mengamati segala
sesuatu beserta sistim yang ada, hidup ataupun tak hidup, yang ada di
jagad raya dengan menggunakan mata yang penuh perhatian, ia melihat bahwa
segalanya telah diciptakan untuk manusia. Ia mengetahui bahwa tak satupun
yang muncul dan menjadi ada di dunia secara kebetulan, namun diciptakan
oleh Allah dalam keadaan yang sangat sesuai untuk kehidupan manusia.

Planet dan seluruh jagad raya dimana kita berada memiliki sifat-sifat yang
sesuai untuk kehidupan manusia. Seseorang yang memikirkan masalah ini akan
sangat paham bahwa seluruh jagad raya diciptakan Allah untuk kita semua.
|
Misalnya, dari dulu hingga sekarang manusia dapat bernapas
tanpa susah payah di setiap saat. Udara yang ia hirup tidak membakar saluran
hidungnya, tidak membuatnya mabuk ataupun sakit kepala. Komposisi unsur-unsur
ataupun senyawa-senyawa gas dalam udara telah ditetapkan dalam jumlah
yang paling sesuai untuk tubuh manusia. Seseorang yang memikirkan hal
ini teringat akan hal lain yang sangat penting: seandainya kadar oksigen
dalam atmosfir sedikit lebih atau kurang dari yang ada sekarang, dalam
dua keadaan tersebut kehidupan akan hancur. Ia lalu ingat betapa susahnya
bernapas ketika berada dalam tempat yang tidak mengandung udara. Ketika
seorang yang beriman terus-menerus memikirkan masalah ini, ia akan selalu
bersyukur kepada Tuhannya. Ia melihat bahwa atmosfir bumi dapat saja dibuat
sedemikian rupa sehingga membuatnya susah untuk bernapas sebagaimana banyak
planet-planet yang lain. Namun tidak lah demikian kenyataannya, atmosfir
bumi diciptakan dalam keseimbangan dan keteraturan yang demikian sangat
sempurna sehingga membuat jutaan manusia bernapas tanpa susah payah.
Seseorang yang tiada henti memikirkan tentang planet dimana
ia hidup, meyadari betapa pentingnya air yang diciptakan Allah untuk kehidupan
manusia. Kemudian ia pun berpikir: manusia pada umumnya paham tentang
pentingnya air hanya ketika mereka kekurangan air dalam waktu yang lama.
Air adalah substansi yang kita butuhkan setiap saat dalam hidup kita.
Misalnya, sebagian besar dari sel-sel tubuh, dan darah yang menjangkau
setiap bagian kecil dari tubuh kita tersusun atas air. Jika tidak demikian,
maka fluiditas darah akan berkurang dan darah akan sangat sulit mengalir
di dalam pembuluh vena. Fluiditas air tidak hanya penting bagi tubuh kita
akan tetapi juga untuk tumbuh-tumbuhan. Air mampu menjangkau bagian yang
paling ujung dari daun dengan melalui pembuluh-pembuluhnya yang halus
seperti benang.
Massa air yang sangat besar di lautan menjadikan bumi kita
tempat yang dapat didiami. Jika proporsi lautan di bumi menjadi lebih
kecil dari daratan, di mana-mana akan berubah menjadi gurun yang tidak
memungkinkan adanya kehidupan.
Seseorang yang sadar dan berpikir tentang hal ini akan benar-benar
yakin bahwa adanya keseimbangan yang begitu sempurna di bumi sudah pasti
bukanlah sebuah kebetulan. Setelah menyaksikan dan memikirkan fenomena
tersebut, akan tampak bahwa segala sesuatu diciptakan dengan sebuah tujuan
oleh Pencipta yang Maha Tinggi dan Pemilik Kekuatan yang Abadi.
Di samping itu, ia juga sadar bahwa contoh-contoh yang telah
ia pikirkan sebagaimana di atas sangatlah terbatas. Sungguh, tidaklah
mungkin untuk menyebutkan jumlah seluruh contoh-contoh yang berkenaan
dengan keseimbangan yang sempurna di bumi. Bagi orang yang berpikir, ia
akan dapat dengan mudah menyaksikan keteraturan, kesempurnaan dan keseimbangan
yang terlihat jelas di setiap sudut jagad raya, dan dengannya mencapai
suatu kesimpulan bahwa segala sesuatu diciptakan Allah untuk manusia.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit
dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah)
bagi kaum yang berpikir." (QS. Al-Jaatsiyah, 45: 13)
Bagaimana kekekalan mendorong seseorang
berpikir?
Setiap orang telah mengetahui konsep kekekalan atau keabadian,
namun sudahkan anda berpikir tentang kekekalan? Ini adalah salah satu
yang menjadi bahan renungan orang yang beriman kepada Allah.
Keberadaan kehidupan surga dan neraka yang kekal ciptaan
Allah sangatlah penting dan perlu untuk direnungkan oleh setiap orang.
Seseorang yang memikirkannya akan mendapat gambaran dalam benaknya: surga
yang abadi adalah nikmat dan pahala yang sangat besar yang diberikan kepada
manusia setelah mati. Kehidupan yang penuh kemuliaan di surga tidak akan
pernah berakhir. Manusia hidup di dunia paling lama seratus tahun. Namun
kehidupan di surga akan berlangsung selama trilyunan tahun dikalikan angka
trilyunan tanpa ada akhirnya.
Orang yang ingat akan hal tersebut sadar bahwa sangatlah
sulit bagi manusia untuk memahami konsep keabadian. Contoh berikut mungkin
membantu dalam menjelaskan masalah ini: "seandainya di dunia terdapat
seratus trilyun manusia, dan semuanya memiliki umur seratus trilyun tahun,
dan mereka menghabiskan seluruh waktu hidupnya dengan berhitung di siang
dan malam hari, maka jumlah total angka yang mereka capai tetap nol dibandingkan
dengan jumlah tahun yang akan mereka habiskan di kehidupan yang kekal
di akhirat."
Setelah memikirkan masalah di atas, seseorang akan sampai
pada kesimpulan sebagai berikut: Allah memiliki ilmu yang sedemikian luas
dan tinggi yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Peristiwa yang berlangsung
terus menerus sepanjang waktu tanpa ada akhirnya atau dengan kata lain
berlansung secara kekal dalam pandangan manusia, telah selesai atau berakhir
dalam pandangan Allah. Setiap peristiwa dan setiap pikiran manusia, terlepas
dari bentuk maupun waktu terjadinya peristiwa dan pikiran ini, yang terjadi
sejak pertama kali waktu diciptakan hingga saat keabadian berlangsung
telah ditentukan dan diputuskan menurut ilmu-Nya.
Demikian pula, seseorang seharusnya berpikir bahwa neraka
adalah tempat tinggal selamanya bagi orang-orang yang tidak beriman. Terdapat
beragam bentuk penyiksaan, hukuman dan kehidupan yang menyengsarakan di
neraka Di tempat ini mereka menderita siksaan jasad dan ruh yang terus-menerus
tanpa istirahat. Siksaan yang tiada pernah berhenti hingga akhir masa,
dan tidak pula pernah dihentikan untuk tidur ataupun istirahat. Seandainya
ada akhir dari kehidupan di neraka, ini akan menjadi harapan bagi para
penghuni neraka kendatipun bertrilyun-trilyun tahun kemudian. Namun, yang
mereka terima sebagai balasan dari dosa-dosa yang mereka perbuat di kehidupan
dunia adalah adzab yang kekal.
"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami
dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka;
mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-A'raaf, 7: 36)
Sangatlah penting bagi setiap individu untuk mencoba memahami
keabadian dengan merenungkannya dalam rangka meningkatkan semangat dalam
meraih akhirat, dan menguatkan ketakutan dan pengharapannya. Sangat takut
kepada siksaan yang kekal, namun pada saat yang sama senantiasa berharap
untuk mendapatkan surga yang abadi.
Bagaimana seseorang berpikir tentang mimpi?
Terdapat sejumlah pelajaran penting dalam fenomena mimpi
bagi orang yang berpikir. Ia berpikir: betapa "sangat nyatanya"
mimpi-mimpi yang dilihatnya ketika sedang tidur, tidak begitu berbeda
dengan ketika ia sedang terjaga. Misalnya, kendatipun jasad sedang terbujur
di tempat tidur, dalam mimpinya ia melakukan perjalanan bisnis, bertemu
dengan orang-orang baru, makan siang sambil mendengarkan musik. Ia menikmati
rasa makanannya, menari-nari mengikuti irama musik, merasa sangat gembira
karena peristiwa-peristiwa yang terjadi, menjadi bahagia dan tidak bahagia,
takut, merasa lelah, bahkan mampu mengemudikan kendaran yang belum pernah
dinaikinya atau bahkan belum tahu bagaimana mengendarainya hingga hari
itu.

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum
mati diwaktu tidurnya; maka Dia menahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan
kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah
bagi kaum yang berfikir.
(QS. Az-Zumar, 39: 42)
|
Kendatipun tubuh tertidur dengan tenang di pembaringan dengan
kedua mata terpejam, ia melihat beragam pemandangan dari tempat di mana
ia berada. Ini berarti bahwa apa yang melihat bukanlah matanya. Meskipun
ruangan tempat ia tidur kosong, ia mendengar suara-suara. Ini berarti
bahwa yang mendengar bukanlah telinganya. Segala sesuatu terjadi di dalam
otaknya. Setiap kejadian tersebut sama sekali nyata seakan-akan setiap
apa yang dilihat benar-benar nyata dan asli kendatipun tak satupun dari
yang dilihatnya tersebut memiliki keaslian atau wujud di luar mimpinya.
Lalu apakah yang menyebabkan pemandangan-pemandangan tersebut tampak sedemikian
nyata di benak seseorang? Manusia tidak mampu membuatnya secara sadar
dan sengaja ketika sedang tidur. Otak pun tidak akan mampu membuat sendiri
gambar-gambar serupa. Otak adalah sebuah gumpalan yang terdiri atas molekul-molekul
protein. Sangatlah tidak rasional untuk mengatakan bahwa substansi ini
dengan sendirinya mampu membuat gambaran, bahkan menampilkan wajah-wajah
manusia, tempat-tempat, suara yang belum pernah terdengar kecuali pada
hari itu. Lalu siapakah yang memperlihatkan gambar-gambar atau pemandangan-pemandangan
ini dalam mimpi ketika sedang tidur? Sekali lagi, seseorang yang merenungkan
pertanyaan-pertanyaan ini akan melihat kebenaran yang hakiki: Allah lah
yang membuat manusia tidur, mengambil ruh mereka ketika mereka sedang
tidur, mengembalikannya kepada mereka ketika bangun dan memperlihatkan
mimpi-mimpi mereka dalam tidur.
Orang yang mengetahui bahwa Allah memperlihatkan mimpi juga
akan merenungkan makna tersembunyi dan tujuan penciptaan mimpi tersebut.
Ketika seseorang mendapatkan mimpi, ia yakin akan keberadaan orang-orang
dan peristiwa-peristiwa yang ia alami sebagaimana ketika ia sedang terjaga.
Ia berpikir bahwa semua ini benar-benar nyata, bahwa kehidupan dalam mimpinya
tidak akan berakhir dan akan berlangsung terus-menerus. Jika ada seseorang
yang datang menghampirinya dan berkata,"Anda saat ini sedang bermimpi,
bangunlah", maka ia tidak akan mempercayainya. Orang yang mengetahui
tentang kenyataan tersebut akan berpikir: "Tak seorang pun dapat
menyangkal bahwa hidup di dunia pun sementara, sebagaimana mimpi belaka.
Sebagaimana ketika terjaga dari sebuah mimpi, suatu hari saya juga akan
terbangun dan terjaga dari kehidupan dunia dan melihat gambaran yang sama
sekali berbeda, misalnya gambaran tentang akhirat
.
|