Tidak
ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan
kepada kami; Sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
(QS. Al-Baqarah, 2:32)
PENDAHULUAN
Semut adalah makhluk hidup dengan populasi terpadat di dunia.
Perbandingannya, untuk setiap 700 juta semut yang muncul ke dunia ini,
hanya terdapat 40 kelahiran manusia. Tentu masih banyak informasi lain
yang menakjubkan bisa dipelajari tentang makhluk ini.
Semut merupakan salah satu kelompok yang paling "sosial"
dalam genus serangga dan hidup sebagai masyarakat yang disebut "koloni",
yang "terorganisasi" luar biasa baik. Tatanan organisasi mereka begitu
maju sehingga dapat dikatakan dalam segi ini mereka memiliki per-adaban
yang mirip dengan peradaban manusia.
Semut merawat bayi-bayi mereka, melindungi koloni, dan bertempur
di samping juga memproduksi dan menyimpan makanan. Bahkan ada koloni yang
melakukan pekerjaan yang bersangkutan dengan "pertanian" atau "peternakan".
Dengan jaringan komunikasi yang sangat kuat, hewan ini begitu unggul sehingga
tak dapat dibandingkan dengan organisme mana pun dalam segi spesialisasi
dan organisasi sosial.
Di masa kini, para peneliti yang cerdas dan berpendidikan
tinggi bekerja siang-malam dalam pelbagai lembaga pemikiran untuk merumuskan
organisasi sosial yang sukses dan menemukan solusi yang langgeng untuk
berbagai masalah ekonomi dan sosial. Para ideolog juga telah menghasilkan
berbagai model sosial selama berabad-abad. Namun secara umum, belum terlihat
tatanan sosial sosioekonomis yang berhasil dicapai melalui segala upaya
intensif ini. Karena sejak dulu konsep tatanan masyarakat manusia didasarkan
pada persaingan dan kepentingan individu, tatanan sosial yang sempurna
tidak mungkin tercapai. Sementara, semut-semut telah menjalani sistem
sosial yang ideal bagi mereka selama jutaan tahun hingga hari ini.
Lalu, bagaimana makhluk kecil ini membentuk tatanan seperti
itu? Jawaban untuk pertanyaan ini jelas harus dicari.
Fosil semut yang berusia 80 juta tahun. Fosil ini jelas
menunjukkan bahwa semut tidak berubah sama sekali selama 80 juta tahun.
Para evolusionis mencoba menjawab pertanyaan ini dengan klaim
bahwa semut telah berevolusi 80 juta tahun yang lalu dari "Tiphiidae",
sebuah genus purba rayap, dan mulai bersosialisasi 40 juta tahun yang
lalu secara seketika, "atas keinginan sendiri"dan membentuk tingkat tertinggi
dalam evolusi serangga. Namun, para evolusionis ini tidak men-jelaskan
sama sekali apa pe-nyebab perkembangan sosiali-sasi ini dan bagaimana
proses-nya. Perlu dicatat, mekanisme dasar evolusi mengharuskan makhluk
hidup saling berta-rung hingga titik terakhir untuk kelangsungan hidup
masing-masing, oleh karena itu setiap genus serta setiap individu di dalamnya
hanya bisa memikir-kan dirinya sendiri dan anaknya (mengapa dan bagaimana
ia mulai memikirkan anaknya juga merupakan jalan buntu bagi Evolusi, tetapi
hal ini kita abaikan dulu). Tentu saja, bagaimana "hukum evolusi" ini
dapat membentuk sistem sosial yang berpusat pada pengorban-an, tidak terjawab.
Pertanyaan yang harus dijawab tidak hanya itu. Mung-kinkah
makhluk ini, yang berat sel saraf dari sejuta ekornya ha-nya 20 gram,
telah mengambil keputusan untuk bersosialisasi dalam kelompok "secara
begitu saja"? Atau, mungkinkah mereka berkumpul dan menetapkan peraturan
untuk sosialisasi ini setelah mengambil keputusan? Andaipun kita anggap
ini mungkin, mungkinkah bagi mereka semua untuk mematuhi sistem baru ini
tanpa kecuali? Apakah mereka lalu membentuk tatanan sosial yang maju dengan
mendirikan koloni dengan anggota berjuta-juta ekor semut, setelah mengatasi
semua kemustahilan ini?
Lalu bagaimana "sistem kasta" muncul dari pergumulan ini?
Pertama, pertanyaan ini harus dijawab: Bagaimanakah berkembangnya perbedaan
antara ratu dan pekerja? Tentang hal ini para evolusionis berpendapat
bahwa sekelompok pekerja meninggalkan pekerjaannya dan mengembangkan fisiologi
yang berbeda dengan semut pekerja lain, dengan cara mengalami variasi
genetis dalam waktu yang lama. Namun, kita lalu dihadapkan pada pertanyaan
bagaimana para "calon ratu" tersebut mendapat makanan selama masa transformasi
ini. Semut ratu tidak pernah mencari makanan. Mereka dibawakan makanan
oleh pekerja. Sebagian pekerja mungkin menganggap dirinya sebagai "ratu",
tapi bagaimana dan mengapa para pekerja lain menerima hierarki ini? Selanjutnya,
mengapa mereka mau memberi makan ratu ini? "Perjuangan hidup" yang mereka
jalani, menurut "evolusi", mengharuskan mereka memikirkan diri sendiri
saja.
Semua serangga melewatkan sebagian besar waktunya mencari
makan. Mereka mencari makanan dan makan, lalu mereka lapar lagi, dan kembali
pergi mencari makan. Mereka juga lari dari bahaya. Jika kita menerima
evolusi, kita juga harus menerima bahwa dulu semut juga hidup "secara
individual", tetapi pada suatu hari, jutaan tahun yang lalu, mereka memutuskan
untuk tersosialisasi. Maka muncul pertanyaan, bagaimana mereka "memutuskan"
untuk "membentuk" tatanan sosial ini tanpa komunikasi yang sama di antara
mereka, karena menurut evolusi, komu-nikasi adalah konsekuensi dari sosialisasi.
Selanjutnya, persoalan bagai-mana mereka mengembangkan mutasi genetik
yang diperlukan untuk sosialisasi ini tidak memiliki penjelasan ilmiah
apa pun.
Semua argumen ini membawa kita pada satu titik: Klaim bahwa
semut mulai "bersosialisasi" pada suatu hari jutaan tahun yang lalu melanggar
semua aturan dasar logika. Satu-satunya penjelasan yang mungkin adalah:
tatanan sosial, yang akan kita lihat perinciannya dalam bab-bab berikut,
diciptakan bersamaan dengan semut itu sendiri; dan sistem ini tidak berubah
sejak koloni semut yang pertama di bumi, hingga hari ini.
Saat menyebutkan lebah yang tatanan sosialnya mirip dengan
semut, Allah menyatakan dalam Al Quran bahwa tatanan sosial ini telah
"diwahyukan" kepada mereka:
"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang di
bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia,
kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan
Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman
(madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan
bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan." (QS. An-Nahl,
16: 68-69) !
Ayat ini menyampaikan pesan bahwa segala sesuatu yang dilakukan
lebah madu diatur oleh "wahyu" yang diberikan Allah kepada mereka. Sesuai
dengan itu, semua "rumah" atau sarang - dan, karenanya, seluruh tatanan
sosial dalam sarang ini - dan semua pekerjaan yang mereka lakukan untuk
membuat madu, dimungkinkan oleh ilham yang diberikan Allah kepada mereka.
Pada semut, kita melihat hal yang serupa. Allah pun telah
meng-ilhami mereka dengan tatanan sosial dan mereka menurutinya secara
mutlak. Karena itulah setiap kelompok semut melaksanakan tugasnya secara
sempurna dan dengan kepasrahan mutlak dan tidak menuntut lebih.
Dan inilah hukum alam. Di alam tidak ada "pertarungan untuk
kelangsungan hidup" yang acak dan kebetulan, seperti yang diklaim evolusi,
di masa dulu pun tidak. Sebaliknya, semua makhluk hidup memakan "makanan"
yang ditentukan untuk mereka dan melakukan tugas yang ditugaskan Allah
kepada mereka. Karena "tidak ada suatu binatang melata pun melainkan
Dialah yang memegang ubun-ubunnya" (QS. Hud, 11: 56) dan "sesungguhnya
Allah Dialah Maha Pemberi rezeki" (QS. Adz-Dzariyat, 51: 58).
Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda
kekuasaan Allah untuk orang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada
hewan melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan
Allah) untuk kaum yang meyakini. (Surat Al-Jatsiyah: 3-4)
Versi online dari buku-buku Harun Yahya yang telah diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia sedang dalam persiapan.
Untuk sementara Anda dapat mengunjungi halaman Download
untuk mendownload versi teks atau pdf yang tersedia dari buku-buku tersebut