Orang-orang menyangka bahwa mereka "sendirian" bila mereka
tidak terlihat oleh yang lain, namun hal ini tidak benar. Pertama, karena
Allah selalu bersama kita dan melihat serta mendengar setiap perbuatan
ataupun perkataan kita. Kedua, ada para saksi yang tidak terlihat di sisi
kita yang tidak pernah meninggalkan kita. Mereka adalah para malaikat
yang bertugas mengawasi kita, yang mencatat setiap perbuatan. Al-Qur`an
memberi tahu kita tentang hal ini,
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui
apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada
urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya,
seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada
suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat
pengawas yang selalu hadir." (Qaaf: 16-18)
Apa yang dicatat para malaikat tersebut akan ditunjukkan
pada hari perhitungan, ketika manusia akan ditanyai tentang perbuatan
mereka di dunia. Al-Qur`an menjelaskan apa yang akan terjadi pada hari
tersebut,
"Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya,
maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali
kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang
diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, 'Celakalah
aku.' Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya,
dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).
Sesungguhnya, dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada
Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu
melihatnya." (al-Insyiqaaq: 7-15)
34 Menulis Perjanjian
Pada dasarnya, manusia itu "pelupa". Inilah sebabnya, Allah
memerintahkan kepada orang beriman untuk menulis perjanjian di antara
mereka dengan dihadiri para saksi,
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak
secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.
Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.
Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya,
maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakkan
(apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Tuhannya,
dan janganlah ia mengurangi sedikit pun dari utangnya. Jika yang berutang
itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri
tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur.
Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu.
Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang
perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa
maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi
keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis
utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang
demikian itu lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian
dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu
itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di
antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya.
Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan
saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka
sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertaqwalah
kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
(al-Baqarah: 282)
Dalam ayat yang lain, diingatkan bahwa lebih baik membebaskan
utang,
"Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah
tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua
utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (al-Baqarah: 280)
35 Mengatakan Sesuatu yang Tidak Dikerjakan
Orang-orang beriman harus memenuhi janji mereka, seperti
yang diperintahkan dalam Al-Qur`an, " sesungguhnya
janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya." (al-Israa`: 34)
Menjadi orang yang jujur merupakan salah satu sifat yang
penting bagi kaum mukminin. Para rasul Allah membuktikan kebenaran mereka
kepada kaumnya dan dikenal sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya.
Memenuhi semua janji menjadi bagian penting dalam sifat jujur ini. Orang
beriman harus menjaga janji mereka dan tidak pernah berjanji pada hal-hal
yang tidak dapat mereka penuhi. Hal ini dikatakan dalam Al-Qur`an,
"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa
yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu
mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan." (ash-Shaff: 2-3)
36 Tidak Berselisih di Antara Orang-Orang
Beriman
Salah satu rahasia keberhasilan orang-orang beriman adalah
eratnya tali ukhuwah dan solidaritas. Al-Qur`an menekankan pentingnya
persatuan, "Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang
yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka
seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (ash-Shaff: 4)
Perkataan atau perbuatan yang merusak eratnya ukhuwah akan
menjadi musuh dan melawan agamanya sendiri. Dalam Al-Qur`an, Allah memperingatkan
kaum muslimin agar waspada terhadap ancaman ini,
"Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu
berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu
dan bersabarlah. Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang sabar."
(al-Anfaal: 46)
Selanjutnya, orang yang beriman dengan tulus harus berhati-hati
agar tidak bertengkar, menjauhi kata-kata atau sikap yang dapat melukai
perasaan saudaranya. Selanjutnya, ia harus berlaku sedemikian rupa untuk
menghindari pertengkaran serta menambah kepercayaan di antara mereka.
Di dalam Al-Qur`an, kita dapatkan perintah yang jelas,
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya, setan itu menimbulkan
perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya, setan itu adalah musuh yang
nyata bagi manusia." (al-Israa`: 53)
Jika orang yang beriman berbeda pendapat dengan saudaranya
pada suatu masalah, ia harus bertingkah laku dan berkata dengan sopan
dan lembut. Dalam mengeluarkan pendapat, ia harus memperlihatkan asas
"musyawarah" dan tidak "berdebat". Jika ada pertikaian di antara dua orang
beriman, yang harus dilakukan adalah mengacu pada ayat,
"Sesungguhnya, orang-orang mukmin adalah bersaudara karena
itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya
kamu mendapat rahmat." (al-Hujuraat: 10)
Harus dicatat bahwa perdebatan kecil akan berpengaruh negatif
pada jalan dakwah.
37 Berlindung kepada Allah dari Godaan Setan
Ketika Membaca Al-Qur`an
Al-Qur`an adalah wahyu Allah yang diturunkan untuk mengingatkan
manusia. Ketika Al-Qur'an membantu meningkatkan keimanan orang-orang beriman,
pada saat yang sama Al-Qur`an mengungkapkan penolakan orang-orang yang
ingkar.
"Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur`an) kepada kamu.
Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi
Al-Qur`an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang
yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian
ayat-ayat yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari
takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.
Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, 'Kami beriman kepada ayat-ayat
yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.' Dan tidak dapat
mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal." (Ali
Imran: 7)
Hal itu berarti dalam beberapa ayat Al-Qur`an terdapat ungkapan
tentang penyimpangan "orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan"
dan juga peningkatan keimanan dan kepasrahan kaum mukminin.
Haruslah dicatat bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menjamin
bahwa dirinya akan dapat terus memelihara keimanannya. Kaum mukminin bisa
kehilangan Al-Qur`an dalam hatinya akibat godaan setan. Biasanya, mereka
tidak dapat menangkap hikmah Al-Qur`an sewaktu membacanya ketika berada
di bawah pengaruh setan. Itulah sebabnya mengapa Allah memerintahkan orang
beriman agar berlindung kepada-Nya dari pengaruh setan sebelum membaca
Al-Qur`an, "Apabila kamu membaca Al-Qur`an, hendaklah
kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk." (an-Nahl:
98)
Perintah ini sangat penting karena mengingatkan orang beriman
akan kehadiran dan aktivitas setan yang tiada henti. Dalam bekerja, setan
menunggu orang-orang yang berada di jalan yang lurus serta mengganggu
mereka "dari depan dan belakang, dari kanan dan kiri". Strategi iblis
tersebut dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Qur`an. Keselamatan dari tipu
daya iblis dapat diraih hanya melalui Al-Qur`an, yang memperingatkan kita
agar melawan trik-trik iblis dan meminta kita agar menghindari mereka.
Jalan keluarnya adalah dengan menerima Al-Qur`an sebagai satu-satunya
panduan dan membacanya setelah berlindung kepada Allah dari godaan setan
yang terkutuk.
38 Rendah Hati
Anggota dari kelompok orang-orang yang ingkar biasanya bersifat
kasar, tidak peduli, dan buruk akhlaknya. Semua ini disebabkan keegoisan
orang-orang yang ingkar. Mereka menyangka dapat hidup sendiri sehingga
tidak memerlukan yang lainnya. Akan tetapi, kelompok orang beriman sangat
berbeda dengan orang-orang tersebut karena salah satu karakter orang beriman
ialah menahan nafsu serakah.
Mereka yang dapat menahan nafsu akan menjadi orang yang penuh
perhatian terhadap sesama. Al-Qur`an memberitakan jenis pengorbanan antara
orang-orang Mekah yang hijrah bersama Rasulullah saw. (Muhajirin) dan
orang-orang Madinah yang menolong mereka (Anshar),
"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah
beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai
orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan
dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang
Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri
mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).
Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang
yang beruntung." (al-Hasyr: 9)
Seperti yang disebutkan dalam ayat tersebut, orang-orang
beriman harus mendahulukan kepentingan saudaranya di atas kepentingan
pribadi. Itulah sebenar-benarnya iman: kepatuhan dan persaudaraan.
Mendahulukan kepentingan saudaranya tidak terbatas dalam
berhubungan dengan hal-hal fisik saja. Ukhuwah juga tidak terpisah dari
pemikiran. Seseorang yang beriman harus menyadari kebutuhan dan masalah
saudaranya lebih dari dirinya sendiri.
Sikap kasar dan berakhlak buruk menunjukkan kelemahan iman
seseorang. Seseorang yang tidak menyadari betapa tindakannya akan memengaruhi
orang lain dan berbuat menurut apa yang "dikehendaki" saja, bukanlah contoh
orang beriman yang digambarkan Allah. Al-Qur`an menitikberatkan hal ini
dengan beberapa contoh tindakan yang berakhlak mulia maupun yang buruk.
Dan yang terpenting adalah dengan memuliakan dan menghormati Rasululah
saw.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului
Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (al-Hujuraat: 1)
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki
rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak
menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka
masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang
percakapan. Sesungguhnya, yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu
Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu
(menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada
mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang
demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu
menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya
selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya, perbuatan itu adalah amat
besar (dosanya) di sisi Allah." (al-Ahzab: 53)
Orang yang dibesarkan dengan ajaran Al-Qur`an akan menjadi
mulia, sopan, santun, dan berakhlak mulia. Inilah sifat alami orang beriman
yang mendahului kepentingan saudaranya di atas kepentingan pribadi dan
yang memberi makan orang-orang fakir, anak yatim, dan para tahanan karena
cinta kepada Allah. Berakhlak mulia menjadi sifat penghuni surga. Tidak
mengganggu saudaranya ketika mempunyai urusan penting, berdiam diri ketika
temannya sedang shalat, membuat saudaranya merasa aman, menawarkan bantuan
dan melayani mereka tanpa bertanya merupakan contoh perbuatan baik. Akan
tetapi, semua itu merupakan contoh yang menuntut perubahan situasi dan
kondisi.
39 Berpaling dari Orang-Orang Jahil
Di dalam Al-Qur`an, orang-orang beriman digambarkan sebagai,
"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah)
orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila
orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik."
(al-Furqaan: 63)
"Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat,
mereka berpaling darinya dan mereka berkata, 'Bagi kami amal-amal kami
dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul
dengan orang-orang jahil.'" (al-Qashash: 55)
Orang-orang beriman memiliki pembawaan damai. Sebaliknya,
orang-orang yang ingkar memiliki sifat pemarah, gelisah, dan agresif.
Hal itu merupakan siksa neraka yang ditimpakan di dunia. Itulah sebabnya,
mereka menjadi pembuat masalah dan terus-menerus menghadapi kesulitan.
Akan tetapi, orang beriman tidak mempedulikan mereka kecuali jika mereka
bermaksud membahayakan orang-orang beriman dan Islam. Orang beriman bertindak
mulia, seperti yang digambarkan ayat di atas. Ketika terjadi campur tangan,
mereka tidak berlaku kasar, namun tetap beradab dan patuh pada hukum.
40 Tidak Berdebat tentang Hal yang Tidak
Diketahui
Di dalam Al-Qur`an, manusia digolongkan sebagai makhluk "yang
paling banyak membantah" (al-Kahfi: 54). Pada ayat yang lain, kritikan
ini diberikan bagi orang-orang yang ingkar,
"Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba
kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata, 'Manakah yang
lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?' Mereka tidak memberikan perumpamaan
itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka
adalah kaum yang suka bertengkar." (az-Zukhruf: 57-58)
Alasan bagi kecenderungan mendebat sesuatu tidaklah untuk
mengungkapkan atau mengevaluasi pendapat yang berbeda, tetapi untuk memuaskan
diri dalam memicu perselisihan. Argumen orang-orang yang jahil bukan mengevaluasi
pandangan orang lain atau mencari solusi. Tujuannya tak lain adalah mengalahkan
orang itu. Inilah yang menjelaskan mengapa ada suara keras dan tarik urat
selama berargumen, dan mengubah diskusi menjadi pertengkaran.
Hal itu benar-benar aneh, mendebat sesuatu dengan tidak disertai
ilmu. Contoh yang paling nyata terlihat pada diskusi antar pemeluk agama,
di mana para argumentator pada umumnya sangat jahil. Kesalahan tersebut
dijelaskan pada ayat,
"Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang
hal yang kamu ketahui, maka mengapa kamu bantah-membantah tentang hal
yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
(Ali Imran: 66)
41 Tidak Mengolok-olok
Ayat berikut secara jelas memberitahukan kepada orang-orang
beriman agar jangan saling mengolok-olok.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok
kaum yang lain (karena) bisa jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik
dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok)
wanita-wanita lain (karena) bisa jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok)
lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela
dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar
yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah
iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang
yang zalim." (al-Hujuraat: 11)
Allah menyuruh manusia menahan diri dari mengolok-olok. Mengolok-olok
dapat berupa menertawai kemalangan orang lain, tersenyum sinis, menyindir,
atau memandang rendah. Sikap-sikap seperti itu merupakan budaya orang-orang
jahil dan tidak sesuai dengan orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.
Al-Qur`an memperingatkan kita bahwa orang yang memperturutkan sikap yang
demikian akan menderita karena api neraka akan merambat sampai membakar
hati mereka.
"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan
harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya, dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam
Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan)
Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya, api
itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang
yang panjang." (al-Humazah: 1-9)
Tidaklah mungkin bagi orang-orang beriman berperilaku sinis
setelah mengetahui kehendak Allah ini. Karena itu, tidak ada orang beriman
yang dengan sengaja bersikap seperti itu. Akan tetapi, jikalau ada orang
beriman yang tergelincir pada sikap demikian, hal itu disebabkan karena
ketidaksadarannya berlaku salah dan menganggapnya sebagai lelucon. Akan
tetapi, begitu ia menyadari kesalahannya, ia harus segera berhenti dan
bertobat.
42 Tidak Memanggil Orang Beriman dengan
Panggilan Buruk
Menjadi kebiasaan bagi orang yang ingkar memanggil orang
lain dengan panggilan yang buruk. Maksud sebenarnya dari kebiasaan itu
tidak lain adalah untuk merendahkan orang lain dan "membuktikan" kehebatan
dirinya sendiri. Panggilan buruk tersebut bisa diambil dari kekurangan
fisik ataupun kesalahan di masa lampau. Orang-orang yang ingkar tidak
akan melupakan kesalahan orang lain meski ia sudah bertobat.
Akan tetapi, orang beriman berbeda dari mereka. Mereka selalu
memaafkan dan menjaga persaudaraan di antara mereka. Itulah sebabnya,
mereka tidak berbuat seperti itu. Lagi pula Allah telah memerintahkan,
"... Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan
janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk...." (al-Hujuraat:
11)
43 Dapat Dipercaya
Al-Qur`an menggambarkan sifat amanah sebagai salah satu prinsip
moral dan jalan menuju kesuksesan. Orang-orang beriman harus menjaga amanat
yang dipercayakan kepadanya sampai amanat tersebut dikembalikan. Selain
itu, mereka pun harus dapat membedakan siapa yang mengamanatkan dan siapa
yang berhak atas amanat tersebut. Dalam hal ini, Al-Qur`an menjelaskan,
"Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada
yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum
di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya, Allah
memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya, Allah adalah
Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (an-Nisaa`: 58)
Pada ayat lain dijelaskan,
"(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang
dibuat)nya dan bertaqwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang bertaqwa." (Ali Imran: 76)
Amanat bisa berupa uang, tugas, atau hal lain. Orang beriman
harus dapat menjadi dan membedakan orang-orang yang dapat dipercaya.
44 Dunia yang Mengelabui
Kekeliruan utama masyarakat yang tidak mempedulikan pandangan
Islam adalah menyangka dunia yang mereka sentuh dan lihat merupakan suatu
hal yang agung dan mutlak pada keberadaan duniawi. Mereka menganggap semua
itu "abadi dan tidak pernah berakhir". Mereka memuja semua itu dan mencari
pertolongan dengannya. Akibatnya, mereka sedikit demi sedikit melupakan
Allah dan bahkan mengingkari keberadaan-Nya. Persangkaan mereka terhadap
keberadaan Allah adalah "tidak nyata dan merupakan khayalan semata" dibandingkan
dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Itulah cara berpikir yang salah
dari orang-orang yang ingkar. Hal yang mutlak bukanlah benda-benda duniawi,
melainkan Allah. Al-Qur`an menjelaskan,
"(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya
Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru
selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahatinggi
lagi Mahabesar." (al-Hajj: 62)
Sebenarnya, keberadaan benda-benda duniawi hanya ada setelah
diciptakan oleh Allah. Keberadaannya menurut kehendak dan perintah-Nya.
Dengan demikian, kemutlakan benda-benda patut dipertanyakan. Benda hanya
ada sebagai hasil dari perintah Allah. Allah menjelaskan kenyataan ini,
"Sesungguhnya, Allah menahan langit dan bumi supaya jangan
lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang
dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya, Dia adalah Maha Penyantun
lagi Maha Pengampun." (Faathir: 41)
Ini menunjukkan bahwa dunia beserta isinya tetap ada karena
dipertahankan oleh Allah dan jika Dia menghendaki, semua itu akan lenyap.
Hal itu berarti alam ini dibuat dengan hal-hal yang mengelabui, yang akan
hilang bila diperintahkan. Kehendak Allah yang tanpa batas ini di luar
pemahaman manusia, tetapi "mimpi" adalah cara untuk menjelaskan penciptaan
ini. Sebagai contoh, ketika seseorang terbangun dari mimpi, alam yang
ada dalam mimpinya hanyalah pikirannya semata selama tidur. Ketika pikirannya
menghentikan "bentukan" alam tersebut, seketika ia lenyap dan tidak ada
lagi. Sesungguhnya, tidak ada benda atau manusia bebas.
Seorang ulama yang terkenal, Imam Rabbani, menceritakan kebenaran
yang haq ini (narasi ini diringkas dan ditulis ulang dalam penerjemahan).
"Allah telah memutuskan penjelmaan setiap nama-nama-Nya
(Yang Mahaadil, Maha Pengasih, dan lain-lain) dan memberikan sifat-sifat-Nya
kepada yang diciptakan, dan manusia diciptakan semata-mata bukanlah apa-apa.
Yang Maha Esa dan hanya Allahlah dengan kekuatan-Nya memutuskan tempat
realisasi nama-nama-Nya dan menciptakan mereka dalam dunia ilusi (khayalan).
Dia menentukan ini pada waktu dan bentuk yang ia inginkan.
Keberadaan alam ini hanyalah ilusi dan sensasi
tanpa pengecualian. Dalam hal ini, yang bukan apa-apa dan ilusi tersebut
mendapatkan kekuatan dan suara dari penciptaan Allah sehingga ciptaan
itu menjadi hidup, mengenal, berbuat, bertanya, mendengar, dan berbicara
dengan kehendak-Nya. Akan tetapi, semuanya merupakan penjelmaan dan yang
ada hanyalah bayang-bayang. Tiada jalan untuk keluar. Di luar dunia, tiada
sesuatu melainkan ciptaan Allah dan nama-nama-Nya.
Setiap sesuatu yang muncul dalam cermin (bayangan)
Yang Mahakuasa dan pada jalan ini, mereka mendapatkan penampilan luar:
mereka terlibat seperti eksitensi di dunia luar. Akan tetapi, tidak ada
yang lain selain bayangan. Tiada seseorang dan sesuatu pun melainkan Allah."
(Maktubati Rabbani, Imam Rabbani, hlm. 517-519)
Karena tidak ada yang lain selain Allah dan segala sesuatu
di alam ini merupakan penjelmaan-Nya, maka pencipta semua perbuatan tak
lain adalah Yang Mahakuasa. Al-Qur`an menjelaskan rahasia ini pada sejumlah
ayat,
"Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka,
tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika
kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar. (Allah berbuat demikian
untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang
mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui." (al-Anfaal: 17)
"Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila
dikehendaki Allah. Sesungguhnya, Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana."
(al-Insaan: 30)
"Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian,
ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan
matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata
mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan.
Dan hanya kepada Allahlah dikembalikan segala urusan." (al-Anfaal: 44)
Dunia memiliki wajahnya sendiri seperti yang telah dibuktikan.
Dalam hal ini, segala sesuatu tampak bebas dan tidak terkendali. Akan
tetapi, sesuai bentuknya menurut penciptaan mereka, semuanya patuh dan
tunduk pada kehendak Allah. Dijelaskan dalam Al-Qur`an,
"Sesungguhnya, aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu.
Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya.
Sesungguhnya, Tuhanku di atas jalan yang lurus." (Huud: 56)
Dengan mengetahui tidak ada sesuatu melainkan Allah, terbukalah
rahasia bahwa tidak ada seorang pun melakukan sesuatu atas kehendak dirinya
sendiri. Rahasia ini harus selalu diingat oleh orang beriman, sehingga
orang beriman mengetahui bahwa terjadinya semua perbuatan buruk orang-orang
ingkar itu atas kehendak Allah. Karena itu, orang-orang beriman menerjemahkan
dan mengevaluasi semua kejadian menurut pengertian yang ada. Hal ini akan
membantu mereka berbuat yang benar dan bertindak dengan ikhlas, baik,
dan bijaksana.
Mereka menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidak
ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada
kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana."
(al-Baqarah: 32)
Versi online dari buku-buku Harun Yahya yang telah diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia sedang dalam persiapan.
Untuk sementara Anda dapat mengunjungi halaman Download
untuk mendownload versi teks atau pdf yang tersedia dari buku-buku tersebut.