< <
6 / total: 10

Kebencian Fasisme Terhadap Agama

faşizm

Salah satu sikap umum yang dimiliki semua rezim fasis adalah mengenai agama. Pada pandangan pertama, tampaklah bahwa semua rezim fasis mendukung agama rakyatnya. Tetapi, fasis tidak melakukan ini dengan tulus. Satu-satunya tujuan mereka adalah untuk memperdaya rakyat mereka dan organisasi-organisasi keagamaan. Tak ada bedanya bagi fasis apakah agama yang dimaksud adalah Islam, Kristen, Yahudi, Budha, atau lainnya. Cukuplah bahwa agama tersebut dipandang mampu mengikat masyarakat itu dan memotivasi orang-orang bekerja untuk kepentingan fasisme. Jika kita kaji kebijakan dan praktik dari para diktator fasis seperti Hitler, Mussolini, dan Franco, dan bahkan dari fasis kontemporer seperti Saddam Husein, wajah sebenarnya dari kebencian mereka terhadap agama dapat terlihat jelas.

Pertama-tama, mustahil bagi kaum fasis untuk secara tulus membela agama, karena karakter dan prinsip-prinsip mereka sama sekali bertolak belakang dari landasan etis yang ditanamkan agama kepada manusia. Sementara yang dipilihkan Tuhan untuk umat manusia adalah agama perdamaian dan ketenteraman, fasisme terbentuk dari perang dan agitasi. Tuhan memerintahkan perkataan yang baik, kerelaan memberi maaf, dan cinta kasih, sementara kaum fasis menginginkan kebencian dan peperangan tanpa henti. Karenanya, kaum fasis tidak benar-benar tertarik melihat agama berkembang, ataupun berkeinginan agar etika yang menyertai agama tersebar luas, karena, jika ini terjadi, mereka tidak akan dapat memerintah masyarakat sesuai dengan cita-cita fasis mereka. Karenanya, mereka berupaya untuk memberi kesan bahwa menjalankan agama, walaupun mereka juga berupaya untuk mencegah penyebarannya melalui beraneka cara dan praktik.

Sejarah abad ke-20 dipenuhi contoh-contoh seperti itu.

Kebencian Nazi terhadap Agama

Kita telah mengkaji akar dari ideologi Nazi dan sikapnya terhadap agama. Sebagaimana ditunjukkan dalam contoh-contoh yang telah kita cermati, ideologi Nazi bertentangan dan berlawanan dengan semua agama ketuhanan. Landasan ideologi ini adalah filsafat anti agama dari Nietzsche, dan teori evolusi Darwin yang ateis dan menyangkal fakta penciptaan. Cara pandang etika Nazi merupakan tiruan dari budaya pagan Yunani kuno dan suku-suku Jerman pra-Kristen yang biadab: Nazisme adalah sebuah ideologi pagan dan keberhalaan.

Fakta ini telah diungkapkan oleh banyak komentator tentang hal ini. Dalam sebuah artikel berjudul “Darwinisme dan Holocaust Ras Nazi”, peneliti Amerika Jerry Bergman menguraikan pandangan Nazi tentang agama sebagai berikut,

Penghapusan doktrin Judeo-Kristiani tentang asal usul manusia dari garis besar teologi (liberal) Jerman dan sekolah-sekolahnya, dan menggantikannya dengan Darwinisme, secara terbuka memperbesar penerimaan akan Darwinisme Sosial yang memuncak dalam tragedi holocaust. 102

nazi vahşeti

Kepala SS Himmler sedang berpidato di sebuah katedral. Adegan ini dan “pertunjukan agamis” rekayasa lainnya adalah bagian dari usaha yang dilakukan kaum Nazi, musuh agama yang sesungguhnya, untuk memanfaatkan agama demi agenda-agenda politik mereka sendiri.

Daniel Gasman, pengarang Asal Usul Ilmiah Sosialisme Nasional pun sependapat:

(Hitler) menekankan dan menunjuk gagasan evolusi biologis sebagai senjata paling kuat untuk melawan agama tradisional dan berulang kali mencela agama Kristen karena menentang pengajaran evolusi. Bagi Hitler evolusi merupakan penanda sains dan budaya modern, dan ia membela kebenarannya sesengit Haeckel. 103

Hitler pernah mengungkapkan kebenciannya akan agama ketika ia dengan blak-blakan menyatakan agama sebagai:

…kebohongan terorganisir yang harus dihancurkan. Negara harus tetap menjadi penguasa absolut. Ketika aku masih muda, kupikir hal itu perlu dilakukan (menghancurkan agama)… dengan dinamit. Sejak itu aku menyadari bahwa ada ruang untuk sedikit kepelikan.... Keadaan akhir haruslah…. di Kursi St. Peter, duduk seorang pejabat yang pikun; di hadapannya beberapa wanita tua yang seram…. Yang muda dan sehat berada di pihak kita… Orang-orang kita sebelumnya telah berhasil hidup baik-baik saja tanpa agama ini. Aku mempunyai enam divisi orang-orang SS yang sama sekali tidak peduli akan masalah agama. Hal itu tidak menghalangi mereka menemui kematian dengan kedamaian di dalam jiwa mereka.

Seperti telah kita lihat, satu-satunya yang dianggap penting oleh Hitler, pada tingkat spiritual, adalah pemahaman yang membawa orang untuk “menemui kematian dengan kedamaian di dalam jiwa”. Pemikiran ini ditemukan di dalam bentuk konsep pagan seperti “jiwa Jerman”, dan “kehormatan perang”. Sementara itu, ia memandang agama-agama ketuhanan sebagai kepercayaan yang harus “dihancurkan dengan dinamit”.

Hitler menyimpulkan pandangan-pandangannya tentang agama kepada stafnya pada pertemuan di rumahnya di Oberzalsberg:

Kamu tahu, kita kurang beruntung karena memiliki agama yang keliru. Mengapa kita tidak memiliki agama seperti dipunyai bangsa Jepang, yang memandang pengorbanan bagi tanah air sebagai kebajikan tertinggi? 105

papa, hitler
Kedok Agama

Kaum Nazi sebenarnya ingin menghancurkan agama Kristen, namun mereka memutuskan untuk memanipulasinya demi tujuan-tujuan politik mereka. Ketika gereja tunduk pada ideologi Nazi, kaum Nazi mengenakan kedok-kedok palsu keagamaan.

Inilah pendapat sejati Hitler tentang agama. Jika agama memerintahkan peperangan, sebagaimana agama bangsa Jepang, maka ia dapat diterima agar dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuannya sendiri. Akan tetapi agama Kristen mengajarkan perdamaian, bukan peperangan, dan pengorbanan pribadi, bukannya egoisme dan persaingan. Karena itu, Partai Nazi berperang terus-menerus dengan Gereja Katolik.

Namun Nazi juga mencoba untuk mengembangkan sebuah “agama Kristen yang sesuai dengan Nazisme”.

Agama Kristen yang Rasis” Milik Nazi

Walaupun sangat menentang agama, pada praktiknya, Nazi bertindak diplomatis terhadapnya. Tujuan mereka yang sebenarnya adalah memanfaatkan berbagai organisasi keagamaan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Hitler adalah musuh khusus dari Gereja Katolik, yang memandang semua penganut Kristen sebagai suatu komunitas supranasional. Sebagai gantinya, ia ingin mendirikan sebuah gereja untuk Jerman saja, dan secara bertahap, mengembangkan agama sebagai alat bagi fasisme Jerman. Dalam sebuah laporan berjudul “Program Partai Nazi dan Pandangan Dunia”, ideolog Nazi Gottfried Feder menulis:

Sudah tentu, suatu hari rakyat Jerman juga akan menemukan sebuah bentuk bagi pemahaman dan pengalamannya tentang Tuhan, sebuah bentuk yang dibangun oleh darah Nordiknya. Sudah tentu, setelah itu barulah trinitas darah, keimanan, dan negara menjadi sempurna.106

Menurut cara pandang ini, agama perlu menjalin keselarasan dengan cita-cita “darah dan negara”, atau dengan kata lain ideologi Nazi yang rasis. Dalam Mein Kampf, Hitler menyimpulkan bagaimana agama dimanipulasi, “Siapa pun yang ingin memenangkan massa yang luas harus mengetahui kunci yang membuka pintu ke dalam hati mereka.”107

Untuk menarik beragam komunitas, Hitler menggunakan istilah-istilah agama sebagai “kunci” ini, dan berupaya menggambarkan rasisme sebagai suatu cita-cita suci. Walaupun ia seorang Darwinis, yakni seorang yang menolak penciptaan oleh zat yang mahakuasa, ketika merumuskan propaganda rasisnya, Hitler merujuk kepada penciptaan, walaupun dengan menyimpangkannya, untuk digunakan sebagai pembenaran bagi rasisme. Sebagai contoh, di dalam Mein Kampf ia berkata:

Maka secara ringkas, hasil dari semua pencampuran rasial selalu sebagai berikut: (a) Penurunan tingkat ras yang lebih tinggi; (b) Kemunduran fisik dan intelektual dan oleh karenanya awal dari penyakit yang berjalan lambat namun pasti. Jadi, menyebabkan terjadinya perkembangan seperti itu tidak lain dari dosa melawan kehendak pencipta yang abadi.108

hitler, naziler

Orang-orang yang menurunkan derajat diri mereka atau membiarkan hal itu terjadi pada diri mereka, berdosa melawan kehendak Tuhan, dan ketika puing-puing mereka dikangkangi oleh musuh yang lebih kuat, bukan ketidakadilan yang menimpa mereka, melainkan hanya pemulihan keadilan.

Penyimpangan cita-cita agama oleh Nazi seperti ini, dan pemanfaatannya untuk melayani ideologinya sendiri yang rasis, efektif hingga tingkatan tertentu, dengan peranan penting para pengurus sejumlah gereja Jerman yang oportunis dalam strategi tersebut. Orang-orang agama yang munafik ini, bekerja sama dengan Hitler, membantu menyebarkan propaganda Nazi dengan beberapa cara. Pada tahun 1933, ketika Hitler baru saja berkuasa, presiden Persatuan Jerman Katolik, Wakil Kanselir Franz von Papen, dalam pidatonya pada tanggal 2 November 1933, berkata, “Tuhan yang pemurah telah memberkahi Jerman dengan memberinya seorang pemimpin pada masa-masa sukar, yang akan memimpinnya melewati segala kesulitan dan kelemahan, melewati semua krisis dan saat-saat penuh bahaya, dengan insting seorang negarawan, menuju masa depan yang bahagia.”110 Beberapa orang lainnya juga telah memuji Hitler sebagai seorang yang terpilih khusus untuk menyelamatkan Jerman dari kemalangan historisnya dan memimpinnya ke masa depan yang cemerlang.

Sementara kaum Nazi menggaet sejumlah gereja untuk bekerja sama, mereka juga mencoba mengintimidasi gereja-gereja lain dengan tekanan dan rasa takut. Pada tahun 1932, seorang pastor Protestan Dietrich Bonhoffer berkhotbah di Berlin tentang “kebenaran”. Dia memuji pentingnya cinta sebagai lawan dari sistem rasis yang berdasarkan kepada kebencian. Dia dihukum mati oleh Nazi karena perilaku subversif ini.

Antara tahun 1933 dan 1939, sejumlah besar pendeta Katolik ditangkap. Erich Klausener, pemimpin Aksi Katolik Jerman, terbunuh saat pembersihan di tahun 1934. Media-media Katolik dilarang. Kaum Nazi juga menyerang sejumlah gereja Protestan.

Sebaliknya, kalangan kependetaan yang bersekongkol dengan ideologi Nazi diberi penghargaan. Salah seorang di antaranya adalah Dr. Hans Kerrl, Menteri Urusan Gereja bawahan Hitler. Dalam pidato yang disampaikan di depan para pemimpin gereja pada 13 Februari 1937, Dr. Kerrl secara terbuka menyatakan agama Kristen sebagai sebuah alat ideologi Nazi, “Partai ini berakar pada dasar-dasar ajaran Kristen Positif, dan Kristen Positif adalah Sosialisme Nasional… Sosialisme Nasional adalah pelaksanaan kehendak Tuhan.”111

Pada akhir tahun 1937 dan awal tahun 1938, kalangan pastor Protestan, yang menyerah pada terorisme Nazi, bersumpah setia pada Hitler, dan dengan demikian menyegel kekalahan kekuasaan agamawi. Dengan itu, Hitler melaksanakan dominasinya atas semua sendi kehidupan. Bahkan, gereja pun berada dalam genggamannya. Namun tujuan Hitler sebenarnya adalah untuk menyingkirkan semua agama ketuhanan, dan membawa Jerman seutuhnya kepada paganisme. Dalam sebuah dekrit rahasia yang dibuat pada Juni 1941, tujuan Nazi untuk menghancurkan agama dijelaskan sebagai berikut:

Semakin banyak orang yang harus dipisahkan dari gereja dan kaki tangannya, para pastor… Jangan pernah lagi ada kepemimpinan masyarakat yang diserahkan pada gereja. Pengaruh ini harus dipatahkan sepenuhnya hingga tuntas. Yang memiliki hak untuk memimpin rakyat hanyalah pemerintahan Reich, dan melalui arahannya Partai, komponen-komponen dan unit-unitnya. 112

Makna Sejati dari Anti Semitisme dalam Nazi

Untuk memahami gagasan-gagasan dan kebijakan-kebijakan keagamaan Nazi, kita harus meneliti permusuhan fanatis mereka terhadap kaum Yahudi dan agama Yahudi.

Anti Semitisme dalam Nazi merupakan bagian dari kebencian mereka terhadap agama. Sebab, menurut pemikiran Nazi, bangsa Jerman awalnya adalah masyarakat pagan-prajurit, sebelum akhirnya mereka meninggalkan budaya tersebut seiring dengan penyebaran agama Kristen, sebuah kelanjutan dari agama Yahudi. Kebencian Nazi terhadap agama Kristen berakar dari fakta bahwa mereka memandangnya sebagai sebuah “konspirasi Yahudi”. Kaum Nazi tak bisa menerima gagasan bahwa Nabi Isa, yang keturunan Yahudi, harus dicintai dan dihormati oleh bangsa Jerman—yang mereka anggap sebagai “ras terbaik”. Menurut pendapat Nazi, bukan nabi berdarah Yahudi yang harus menerangi jalan bangsa Jerman, melainkan prajurit-prajurit yang kejam dan biadab dalam budaya pagan Jerman.

Menurut ideologi Nazi, sejarah dunia dipandang sebagai konflik antara “ras Aria” dan “ras Semit”. Bagi kaum Nazi, ras Aria adalah pemimpin budaya Indo-Eropa, dan ras Semit (Yahudi dan Arab) adalah pemimpin budaya Timur Tengah. Karakteristik fundamental dari budaya Indo-Eropa adalah sistem keyakinan pagannya. Atas dasar inilah para pendukung Nazi memandang diri mereka sendiri sebagai pewaris paganisme. Mereka menganggap bangsa Yahudi sebagai ras musuh yang telah membuang paganisme dan menyebarkan keyakinan monoteistik kepada seluruh dunia.

Pink Swastika, yang membahas ideologi-ideologi pagan Nazi, menyimpulkan:

Alasan kaum Nazi menyerang bangsa Yahudi terlebih dulu dan bersumpah untuk memusnahkan mereka secara fisik dan mental adalah karena ajaran-ajaran Bibel, baik Taurat maupun Perjanjian Baru, mewakili dasar-dasar bagi keseluruhan sistem etika Kristen. 113

Keyakinan keliru kaum Nazi ini dapat dilihat dalam banyak gerakan fasis lainnya. Banyak kelompok neo-fasis dewasa ini memegang kepercayaan pagan yang mereka anggap “agama ras Aria”, dan menyimpan kebencian khusus terhadap agama-agama yang diturunkan seperti Islam, Kristen, dan Yahudi, yang mereka sebut sebagai “mitos Semit”. Begitu pula, berdasarkan logika yang menyimpang semacam itu, kelompok fasis muncul di dunia Islam dan mencoba untuk mengembangkan anti-Semitisme jenis baru dalam bentuk “anti-Arabisme”.

Namun, agama ketuhanan tidak dialamatkan semata untuk ras-ras semit, tetapi kepada semua orang. Fasisme, yang menolak agama yang telah diturunkan Tuhan kepada umat manusia, dan memuja-muja paganisme dari leluhurnya, sesungguhnya merupakan suatu kekeliruan besar. Allah menyebutkan tentang orang-orang keliru yang berpaling kepada “agama nenek moyangnya” di dalam Al Quran.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: ", tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami". ", walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al Baqarah, 2: 170)

Kebijakan Fasisme yang Bermuka Dua tentang Agama

Kebijakan Hitler yang bermuka dua terhadap agama bukanlah suatu metode yang terbatas pada Nazisme saja, melainkan merupakan karakteristik umum rezim-rezim fasis. Agama semata-mata digunakan sebagai alat oleh ideolog fasis, karena mereka menyadari bahwa mereka akan berhadapan dengan reaksi keras dari masyarakat dikarenakan kekejaman dan kebijakan rasis mereka, kecuali jika mereka menyamarkannya dengan retorika agama. Maka, mereka menyimpangkan agama untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Mereka menggunakan bahasa dan pemikiran dari agama masyarakat mereka, tetapi ketika diterapkan, sebuah sistem yang jauh berbeda dengan agama mulai kelihatan.

Strategi tersebut hanyalah sebuah kebijakan yang dirancang oleh para pemimpin fasis untuk menyatukan rakyat mereka, karena mereka menyadari bahwa rakyat akan bersedia untuk melakukan segala bentuk pengorbanan atas nama agama, dan mau memikul banyak penderitaan demi keyakinan mulia ini.

Maka, mereka menampilkan diri seolah bertindak atas nama Tuhan dan agama. Mereka berupaya menggambarkan citra religius pada diri mereka dengan mengeksploitasi bahasa dan lambang-lambang keimanan dalam slogan-slogan dan propaganda mereka. Namun secara munafik, kaum fasis melakukan kekejaman luar biasa dan tindakan tak berperikemanusiaan yang mereka rasa perlu. Pada dasarnya, apa yang dipraktikkan kaum fasis sama sekali berlawanan dengan apa yang mereka khotbahkan. Penggunaan agama yang penuh tipu daya oleh kaum fasis dengan cara ini dan untuk kekuatan mereka sendiri hanyalah contoh lain dari jangkauan kedengkian mereka.

Allah menyatakan tentang mereka yang berdusta terhadapnya sebagai berikut:

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah?. Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: "Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka". Ingatlah, kutukan Allah atas orang-orang yang zalim.“ (QS. Huud, 11: 18)

mussolini

Di masa mudanya, Mussolini adalah seorang komunis, yang mendambakan “revolusi kaum ploretar”. Ia juga seorang ateis yang membenci agama. Mussolini kemudian mengubah kecenderungan politiknya, dan akhirnya menerima “fasisme”. Di bawah samaran baru ini, dan demi tujuan-tujuan politiknya, ia menyembunyikan kebenciannya pada agama.

Di lain pihak, mereka yang tertipu oleh slogan-slogan fasis dan dipengaruhi oleh taktik-taktik mereka juga tak dapat dipandang tulus. Orang-orang ini primitif dan jahil, dengan kemampuan bernalar yang berkembang lambat, yang memandang agama semata sebagai warisan yang diturunkan dari nenek moyang mereka. Karena itulah, mereka gagal memahami atau abai terhadap kepalsuan, kebejadan, dan ketidaklogisan yang dilakukan kaum fasis dalam menggunakan agama.

Seperti telah kita pahami pada halaman-halaman sebelumnya, kaum fasis telah menggunakan agama untuk mempengaruhi orang bahwa rasisme dan pandangan Darwins atas dunia adalah tepat dan benar. Tetapi, strategi ini sekali lagi hanya akan mengungkapkan kurang cerdasnya kaum fasis. Karena, jelaslah bahwa agama tidak mendukung rasisme, ataupun persaingan, maupun perjuangan untuk bertahan hidup di antara manusia. Tuhan telah mengungkapkan bahwa satu-satunya keunggulan di antara manusia terletak pada kesalehan, yang tergantung pada ketaatan, cinta kasih, dan kerja sama di antara manusia, dan bukan pada persaingan. Namun, kaum fasis hanya mampu memperdaya segolongan masyarakat yang abai akan tampilan agama yang palsu ini.

Dua Wajah Mussolini

Untuk menganalisa karakter fasis, contoh kedua yang harus dicermati setelah kaum Nazi adalah diktator Italia, Mussolini, pemula sejati dari konsep “fasisme”. Jika kita mencermati karirnya, kita akan menemukan contoh terbaik dari seorang hipokrit yang menyimpan kebencian luar biasa terhadap agama, tetapi memasang kedok agama untuk mencapai tujuan-tujuan politisnya.

Kebenaran lainnya yang terungkap dari karir Mussolini adalah bahwa garis yang memisahkan komunisme dengan fasisme sangatlah tipis, walaupun mereka mungkin tampak sebagai ideologi yang sepenuhnya berlawanan. Namun, keduanya sangat mirip, karena keduanya merupakan sistem yang oligarkis (berdasarkan pada kekuasaan minoritas), totaliter, menindas, dan kejam, yang mempertunjukkan permusuhan terhadap agama, dan mendukung cara pandang Darwin atas kenyataan. (Lihat Komunisme dalam Jebakan oleh Harun Yahya, Maret 2001) Jadi sebenarnya hanya ada sedikit perbedaan antara seorang komunis dan seorang fasis, karena seseorang dapat dengan mudah berpaling dari yang satu ke yang lain. Seorang komunis yang menumpahkan darah sambil mengimpikan revolusi kaum proletar dapat saja kemudian mulai menunjukkan perilaku serupa untuk cita-cita fasis. Karena kekerasan adalah unsur yang tak dapat dilepaskan dari kedua ideologi tersebut.

Mussolini menghabiskan waktu bertahun-tahun sebagai seorang komunis ateis, seorang musuh agama dan Darwinis yang fanatik, dalam upaya mencoba mencari tempat bagi dirinya di dalam politik Italia. Ketika ia gagal mencapai tujuannya dengan cara-cara ini, dia menjadi seorang fasis.

Tahun-Tahun Komunis Mussolini

Mussolini lahir di sebuah desa kecil di tahun 1883. Bapaknya adalah seorang penganut Marxisme yang diakui, ideologi yang ia turunkan kepada anaknya. Menurut sejarawan Oxford Denis Mack Smith, dalam bukunya Mussolini, “bapaknya biasa membacakan bagian-bagian dari Das Kapital kepada keluarganya.” 114

Mussolini menerima pendidikan komunis dari bapaknya, dan dikenal di sekolah sebagai seorang anak yang sulit dan agresif, dan seorang badut-pintar. Dia hampir tidak punya teman.

mussolininin gençliği
Agresi Yang Dimulai Dengan Komunisme Dan Berakhir Dengan Fasisme

Mussolini muda adalah seorang editor pada media mingguan komunis La Lotta di Classe (Perjuangan Kelas). Ia memasang gambar-gambar Marx dan Darwin di halaman muka, dan sering menekankan kekagumannya pada Lenin. Namun, ketika menjadi seorang fasis, ia mengumpulkan semua majalah dari perpustakaan-perpustakaan dan menghancurkannya. Meski demikian, karakter Mussolini (agresif, arogan dan paranoid) tetap sama saja.

Pada usia 20-an Mussolini menjadi seorang komunis fanatik, yang mendukung anarkisme, sebuah ideologi yang revolusioner fanatik dan bahkan jauh lebih radikal daripada komunisme. Denis Mack Smith menulis:

Pada tahun 1903 dia menyebut dirinya seorang “komunis otoriter”. Dari bapaknya ia telah belajar untuk hanya sedikit bersabar dengan cara-cara sosialisme yang reformis dan sentimental, maupun dengan cara-cara demokratis dan keparlemenan; alih-alih dia menyerukan revolusi untuk mengambil alih kelas yang berkuasa yang tidak akan pernah secara sukarela turun dan menyerahkan harta mereka. Parlemen harus dihapuskan; perjuangan kelas harus menggantikan kerjasama antarkelas; hak-hak milik pribadi harus lenyap seluruhnya. Kaum Sosialis seharusnya tidak pernah bekerjasama dengan pemerintah borjuis dan tidak akan pernah melakukan kebijakan mogok untuk mendapatkan upah yang lebih baik, tetapi seharusnya bersiap untuk menggunakan terorisme dan kekerasan massal untuk mempengaruhi revolusisosial secara besar-besaran. 115

Sebagaimana kita telah pahami, di masa mudanya Mussolini adalah seorang komunis fanatik. Model revolusi dengan kekerasan dan teror” yang sangat menyerupai cara-cara teroris Lenin, yang akan dipraktikkannya kelak di Rusia. Sebenarnya, Mussolini telah membina hubungan dengan Lenin selama tahun-tahun itu. Menurut penuturannya sendiri kemudian, dia berjumpa dengan Lenin yang sedang berada di Swiss pada waktu itu, dan bahkan mendapatkan persetujuannya.116 Mussolini menekankan kesetiaannya kepada Marxisme dengan ucapannya, “Marx adalah yang terbesar dari seluruh ahli teori sosialisme” dan seringkali mengutip dari Marx dalam tulisan-tulisannya. 117

Salah satu karakteristik komunis Mussolini yang menentukan adalah kebencian fanatik terhadap agama. Denis Mack Smith berkomentar tentang hal ini:

Dari bapaknya dia belajar menjadi arti-kependetaan yang berhati-hati. dia menyatakan diri sebagai ateis… Dia secara keras mencela para sosialis yang menganggap agama sebagai masalah untuk kesadaran pribadi… Agama Kristen khususnya (dia berkata) dirusak oleh seruan akan kebajikan yang tak masuk akal berupa pemasrahan diri dan perasaan pengecut, di mana moralitas sosialis baru harus melakukan kekerasan dan pemberontakan.118

Penting untuk melakukan perkiraan yang hati-hati tentang kondisi pikiran Mussolini sebagaimana yang ditampilkan di sini. Seperti telah kita pahami, ia mengungkapkan kebenciannya dan ketidakpercayaannya terhadap Tuhan dengan pernyataan terbuka tentang penuh kebohongan tentang-Nya. Sebagaimana kita akan segera pahami, Mussolini merasa harus untuk menyokong Gereja sepanjang ia berkuasa, sehingga terkadang menggambarkan dirinya sebagai seorang yang religius.

Bahkan lebih jauh lagi, selama masa-masa memeluk komunisme fanatis, dia mencoba memakai topeng agama. Sembari menghasilkan tulisan-tulisan dan pidato-pidato anti-agama yang fanatik di negaranya sendiri, dia mengarang sebuah kisah tentang kedalaman dan keteguhan imannya saat menulis untuk khalayak Anglo-Saxon.119

Kebencian Mussolini akan agama dan militansi komunisnya berlangsung sepanjang 1910-an. Pada tahun 1908, dia menulis untuk majalah komunis La Lima dengan menggunakan nama samaran dan karenanya memicu pertentangan dengan mingguan Il Giornale Ligure, media penerbitan Katolik Oneglia. Hal yang menarik adalah bahwa setelah Mussolini berkuasa, koleksi La Lima di perpustakaan lokal lenyap secara misterius, karena, setelah berkuasa, ia memutuskan untuk menggunakan agama untuk mencapai tujuan politis, dan menutupi wajah aslinya, kebenciannya akan agama. 120

Mereka yang Menginspirasi Mussolini: Nietzsche dan Darwin

Pengabdian Mussolini terhadap komunisme berakar baik pada kecenderungannya kepada kekerasan maupun juga masalah-masalah kejiwaannya. Denis Mack Smith menggambarkan kepribadian Mussolini sebagai berikut:

Walaupun ia tetap setia kepada Marx, terdapat doktrin kecil yang tepat dalam macam sosialismenya yang ekletik (ia pilih dari berbagai sumber). Terkadang ia menyebut dirinya seorang sindikalis (mempersatukan berbagai aliran), namun secara rahasia ia menjelek-jelekkan hampir semua kaum sosialis dan bagi sebagian rekan tampak di atas segalanya adalah seorang anarkis. 121

nietzsche, musolini
Para Mentor Mussolini

Mussolini percaya bahwa perang dan konflik sangat penting bagi pembangunan sebuah bangsa. Dua orang yang menanamkan gagasan ini dalam dirinya, adalah Charles Darwin dan Friedrich Nietzsche.

Sejarawan lain yang meneliti kehidupan Mussolini, Angelica Balabanoff, berpendapat bahwa pandangan-pandangannya “lebih merupakan refleksi dari lingkungan awalnya dan egoismenya sendiri yang suka memberontak daripada produk dari pemahaman dan pendiriannya; kebenciannya akan penindasan bukanlah kebencian impersonal terhadap sistem yang dimiliki oleh semua kaum revolusioner; ia muncul lebih dari rasa hina dan frustrasinya sendiri, dari keinginan untuk menonjolkan egonya sendiri dan dari sebuah tekad untuk balas dendam pribadi.” 122

Sebenarnya, keyakinan Mussolini yang pasti adalah prinsip-prinsip tentang “konflik” dan “perang”. Inilah yang telah ia pelajari dari pendiri ideologis fasisme, dengan kata lain, dari Friedrich Nietzsche dan mentornya, Charles Darwin.

Ada banyak bukti dari kekaguman Mussolini kepada keduanya. Dia mengakui kekagumannya kepada Nietzsche, yang menurut Mussolini telah mengisinya dengan sebuah “erotisisme spiritual”. 123 Denis Mack Smith menulis:

Pada Nietzsche ia menemukan pembenaran bagi perang sucinya melawan kebajikan Kristen berupa kerendahan hati, kepasrahan, kemurahan hati, serta kebaikan, dan pada Nietzsche juga ia menemukan ungkapan-ungkapan favoritnya termasuk ‘hidup penuh bahaya’ dan ‘kehendak untuk berkuasa’. Begitu juga halnya, konsep yang tepat tentang manusia super, egois tertinggi yang menentang baik Tuhan maupun massa, yang menganggap hina paham egaliter dan demokrasi, yang percaya bahwa yang terlemah akan tersudut dan mendorong mereka jika tidak bergerak cukup cepat.124

Mussolini jelas-jelas merujuk tentang rantai ideologisnya dengan Darwinisme dalam halaman-halaman majalah mingguan komunis La Lotta di Classe (Perjuangan Kelas), yang ia sempat menjadi editor. Gambar Marx dan Darwin terpampang pada cover edisi perdana. Terbitan pertama La Lotta di Classe menyebut keduan ideolog materialis itu sebagai “Pemikir terbesar abad yang lalu”, dan penuh puja-puji bagi teori evolusi Darwin. 125 Mussolini banyak menulis di La Lotta di Classe tentang tema-tema Darwinis, komunis, dan anti-agama, namun setelah tahun 1922, yakni, setelah ia memegang kekuasaan, semua kopi dari majalah ini tiba-tiba menghilang dari perpustakaan-perpustakaan lokal. 126

Kesalehan Palsu Mussolini

Mussolini mengalami perubahan pribadi yang tiba-tiba pada akhir tahun 1910-an. Setelah menjadi seorang komunis radikal begitu lama, dia kemudian muncul sebagai pemimpin ideologi yang dikenal sebagai “fasisme” yang sedang bangkit menuju kekuasaan. Gerakan ini mengambil “kapak” dari paganisme Romawi kuno sebagai lambang. Namun, Mussolini tidak menemukan sendiri “fasisme”, tetapi lebih mengembangkannya dari kecenderungan rasis yang terus meningkat di Italia pada periode itu. Akan tetapi, walaupun dia tidak menciptakan ideologi tersebut, dia segera menjadikannya sebagai miliknya dan mengubahnya menjadi gerakan politis. Seperti Hitler, dia mengumpulkan orang-orang yang bodoh di sekitarnya, para penjahat jalanan, petualang, dan penghasut kekerasan. Dia mengumpulkan mereka dalam organisasi militer pura-pura yang dikenal sebagai “Kemeja Hitam”, yang digunakannya sebagai senjata teror melawan pesaing-pesaingnya. Dengan cara ini, dia mampu meraih kekuasaan beberapa tahun kemudian. Pada tahun 1922 dia menjadi perdana menteri Italia. Tak lama setelahnya, dia mulai dikenal dengan nama “Il Duce”, atau pemimpin, dan seketika menjadi seorang diktator.

Begitu menanjak sebagai pemimpin fasisme, Mussolini pertama-tama memutuskan untuk menyembunyikan kebenciannya terhadap agama, dan bahkan tampil sebagai seorang Katolik yang taat. Dia berupaya keras menciptakan citra tersebut, terutama di tahun-tahun awal kekuasaannya. Di satu sisi, dia memerintahkan agar semua majalah yang berisi tulisannya yang melawan agama dikumpulkan dan dihancurkan, di sisi lain ia memerintahkan agar pelajaran keagamaan diwajibkan lagi setelah hilang selama setengah abad, dan menetapkan agar gambar-gambar salib dan Bunda Maria digantungkan di sekolah-sekolah. Dia bersusah-susah dalam semua pidatonya agar tampak sebagai seorang figur yang religius dan konservatif, yang taat kepada adat dan tradisi nasional. Dalam pandangan baru Mussolini, agama adalah lembaga yang berhutang keberadaannya kepada negara agar dapat tumbuh kuat.

Kesalehan Mussolini yang munafik ternyata efektif, terbukti dari keberhasilannya memperoleh dukungan Gereja. “Penaklukan hati Gereja” yang dilakukannya digambarkan di dalam Encyclopedia of Modern Leaders:

Dukungan gereja terhadap kaum fasis berawal dengan pemilihan Kardinal Milan sebelumnya menjadi Paus. Dalam pandangan Paus Pius XI, Mussolini lah yang akan menyelamatkan Italia dari anarki. Hubungan antara Mussolini, yang suatu saat pernah menyatakan perang terhadap gereja dalam artikel yang ditandatanganinya dengan “Seorang ateis sejati”, dan Paus yang pro-fasis selalu terarah menuju kerja sama. Koran Vatikan L'Osservatore Romano menuliskan di bulan Februari 1923, “Mussolini dielu-elukan sebagai seorang yang akan mengembalikan nasib baik Italia. Ini merupakan kemenangan bagi tradisi religius dan peradaban nasional”. Kardinal Vicaire mengimbau masyarakat untuk mendukung fasis di tahun yang sama. Vatikan menahan persetujuannya terhadap sikap anti-fasis Partito Popolare (Partai Rakyat) yang katolik dan menurunkan Don Sturzo dari posisinya sebagai pemimpin partai.

Sebagai balas jasa, Mussolini mempertunjukkan penghormatannya kepada Gereja dalam setiap kesempatan. Misalnya, ia menyelenggarakan upacara pernikahan keagamaan untuk dirinya dan istrinya, yang telah dinikahinya selama 12 tahun, dan membabtis anak-anaknya… Pada bulan Pebruari 1929, dia memulihkan hak-hak gereja yang telah dicabut sejak 1870 dengan menandatangani “Pakta Lateran” atas nama Raja, dengan Kardinal Gaspari menandatangani atas nama gereja. Dengan perjanjian ini, Gereja memperoleh kemerdekaan beriman dan beribadat yang menyeluruh, dan Katolik menjadi agama resmi negara. Vatikan secara resmi diakui dan dianugerahi keuntungan yang cukup banyak, Paus diakui sebagai kepala negara dan memperoleh hak-hak sebagai pembayaran kompensasi bagi kepausan, pengakuan pernikahan oleh Gereja, dan pengajaran agama di sekolah-sekolah dasar. Sebagai imbalan semua ini, Paus menganugerahi Mussolini ordo “Tongkat Emas” pada tahun 1932, dan melukiskannya sebagai “perdana menteri yang tak ada bandingannya”. 128

Namun, meski adanya semua aksi teatrikal ini, Mussolini tak lain adalah seorang ateis. Begitu berhasil menggiring rakyat Italia di belakangnya, ia mulai memperlihatkan tujuannya yang sebenarnya, yang sama sekali tak ada hubungannya dengan agama. Pada tahun 1930-an, doktrin-doktrin agama perlahan-lahan dihilangkan, dan sebagai gantinya adalah sebentuk paganisme yang memuja-muja Mussolini bagai makhluk suci. Satu-satunya agama sejati Mussolini adalah egoismenya, yang sedikit demi sedikit ia upayakan agar diterima bangsa Italia.

duçe, mussolini
Topeng Keagamaan Sang Duce Yang Ateis

Meskipun Mussolini telah memiliki kebencian pada Tuhan dan agama sejak masa kanak-kanak, setelah berkuasa ia memakai agama sebagai topeng. Tujuannya adalah menggunakan agama sebagai alat untuk membantu menegakkan kedikatatorannya. Tak lama sesudah itu, propaganda yang menggambarkan Mussolini sebagai “pemimpin suci” mulai bermunculan. Salah satu contohnya adalah gambar Mussolini di atas yang menunjukkan ia “disucikan oleh Paus”.

mussolini

Slogan yang disebutkan berikut ini, semasa periode ini, adalah sebuah testament dari “pujaan yang dipersembahkan bagi Mussolini”: “Jangan terlambat sedetik pun dalam mencintai Tuhan. Tetapi ingatlah bahwa tuhan Italia adalah Duce129

Mussolini meremehkan gagasan-gagasan religius dan menafsirkan ulang sesuai dengan sistem kepercayaan pagannya sendiri. Fakta bahwa dia mengeluarkan dekrit dan pengumuman yang ia namakan “Dekalog Fasis”, mengungkapkan skala keangkuhan dan kemunafikannya.

mussolininin ve hitler el ele

Para fasis saling bekerja sama: Hitler dan Mussolini

Namun, kesombongan Mussolini tidak bertahan lama. Italia memasuki Perang Dunia II bersama Jerman, tetapi kalah, tersungkur jauh lebih awal daripada Jerman. Pada tahun 1943, Mussolini ditangkap oleh bangsanya sendiri dan dipenjarakan. Dia diselamatkan dengan dukungan Hitler, dan …. Melawan oposisi di Utara untuk beberapa lama. Menjelang akhir perang, dia sekali lagi tertangkap begitu ia mencoba menyeberangi perbatasan dengan mengenakan seragam Jerman, dan ditembak bersama istrinya di sampingnya. Mayatnya digantung dengan satu kaki di sebuah lapangan di Milan. Begitulah akhir yang mengerikan dari seorang psikopat yang mengklaim dirinya sebagai “makhluk suci”.

Bagaimana Fasisme Spanyol Memanfaatkan Agama

Sebagaimana telah kita pahami, fasisme adalah suatu ideologi yang secara fanatik menentang agama, tetapi kadang kala dapat saja menyembunyikan kebenciannya karena alasan politis, dan bahkan menampilkan dirinya seolah benar-benar taat beragama. Tujuan di balik keinginan kaum fasis agar tampak takut kepada Tuhan adalah untuk menyelewengkan konsep-konsep agama dari arti yang sebenarnya, dan mempergunakannya sebagai ala bagi sasaran-sasaran politik mereka.

ispanyada savaş
Terorisme Dalam Perang Sipil Yang Dipicu Franco

Selama tiga tahun perang sipil berdarah di Spanyol yang dikobarkan Jenderal Franco, ratusan ribu rakyat tewas. Franco menggunakan segala cara untuk meneror lawan-lawannya. Ia membom desa-desa yang tidak membantu pasukannya, membunuh tanpa belas kasihan orang-orang tak berdosa yang tidak tertarik untuk ikut perang, dan menyebabkan puluhan ribu penduduk desa tak bertempat tinggal.

1. Seorang pejuang dalam Perang Sipil Spanyol ditembak saat ia keluar dari persembunyian.
2. Para pengungsi Spanyol menyelamatkan diri ke Prancis.
3. Terorisme Dalam Perang Sipil Yang Dipicu Franco

Derajat komitmen fasisme terhadap agama berbeda-beda sesuai dengan kondisi masyarakat tempat ia berada. Nazisme hanya merasakan sedikit kebutuhan untuk melakukan hal semacam itu, karena ia berkembang di dalam masyarakat Jerman, yang telah jauh dari agama. Namun, di Italia, Mussolini berusaha mengontrol masyarakat yang jauh lebih religius, dan karenanya merasakan kebutuhan yang lebih besar untuk memainkan peranan bermuka dua semacam itu. Jika kita cermati contoh di Spanyol, kita sekali lagi melihat suatu masyarakat beragama dan sebuah fasisme dengan wajah religius.

fransco

Selama masa berkuasa, Franco melarang perkembangan agama apa pun yang ia anggap bertentangan dengan prinsip-prinsip negara fasis. Ia mengubah gereja agar jauh menyimpang dari ajaran aslinya, dan menjadikan gereja sebagai pendukung rezim fasis.

 

Kehancuran Yang Ditimbulkan Oleh Perang Sipil Spanyol
zafer kazanmak, fransco
zafer kazanmak, fransco

Fasisme menganggap “kejayaan dari kemenangan” adalah tujuan yang mulia, tujuan yang menghalalkan segala cara. Antara tahun 1936 dan 1939, bangsa Spanyol menjadi korban akibat angan-angan ini. Demi memenangkan perang, pemimpin Tentara Spanyol, Generalissimo Franco tega menghancurkan negerinya sendiri. (Gambar atas) Kota-kota besar, seperti Madrid dan Barcelona, dibom oleh pasukan Franco. Ketika ia merayakan kemenangan pasukannya, Franco (kanan) tidak merasa prihatin atas korban-korban tak berdosa yang ia bunuh selama perang.

Pemimpin jenis fasisme ini adalah Francisco Franco.

Ideologi Franco dikenal sebagai “Falangisme”. Istilah tersebut datang dari kata “Falange” (atau Falange Espanola Tradicionalista Y De Las Juntas De Ofensiva Nacional-Sindicalista, lengkapnya) yang didirikan pada tahun 1933. Partai ini didirikan oleh ideolog fasis bernama Jose Antonio Primo de Rivera, meniru fasisme Italia, dan berlawanan dengan demokrasi, Undang-Undang, gerakan kiri dan Gereja. Kenyataannya, kata “Falange” (Tulang jari dalam bahasa Spanyol) adalah konsep perang yang diambil dari budaya pagan. Nama tersebut merujuk kepada pengaturan resimen tentara, sebagaimana pertama kali dipraktikkan di Sumeria kuno, dan kemudian di Yunani dan Romawi kuno. Jendral Franco, komandan tentara Spanyol saat itu, memegang kendali partai Falange di tahun 1936, ketika perang saudara meletus sebagai akibat dari pertarungan antara kelompok kanan dan kiri di negara itu. Namun, ia memperlunak pendirian anti-agama partai tersebut, dalam upaya untuk membuat jenis fasismenya tampak sesuai dengan agama.

Franco mengobarkan sebuah perang saudara yang sangat berdarah, tanpa ragu-ragu bahkan untuk membom rakyat sipil jika ia rasa perlu. Dia memenangkan perang tiga tahun di tahun 1939, dan kediktatoran yang ia dirikan setelahnya berlangsung sampai tahun 1970-an. Untuk mempertahankan rezim tersebut, dia menjalankan berbagai kebijakan untuk memastikan dukungan Gereja Katolik. Pada saat yang sama, Gereja diberikan sebuah peran kapitalistik dalam kehidupan ekonomi di negara itu. Pendekatan Franco adalah dengan senantiasa membela Gereja, dan menggunakannya untuk tujuan-tujuannya sendiri. Di sisi lain, semua gerakan agama yang muncul dan berada di luar prinsip-prinsip fasis ditekan dengan bengisnya oleh pemerintah.

A good action and a bad action are not the same. Repel the bad with something better and, if there is enmity between you and someone else, he will be like a bosom friend.(Koran, 41:34)

Buku Who is Franco? What is Falangism? menjelaskan bagaimana fasime Spanyol memanfaatkan agama agar berhasil:

Fasisme membutuhkan massa untuk mencapai tujuannya…. Untuk memotivasi massa cukuplah dengan menggunakan kata-kata seperti kebenaran agama dan monarki…. Katolik senantiasa kuat di Spanyol: Kebanyakan pendeta merupakan pendukung fasisme yang terang-terangan….. Sehingga teori fasisme Spanyol perlu ditemukan dan dipublikasikan. Ini dilakukan oleh Gil Robles. Robles mempunyai hubungan dekat dengan para pemilik tanah terkuat di Spanyol. Dia terdidik di sekolah-sekolah Jesuit Katolik, dan mengawali kegiatan politiknya yang pertama di organisasi-organisasi ini juga… Ketika fasisme mencapai tampuk kekuasaan di Jerman, Robles bergegas ke sana. Tujuannya adalah untuk mempelajari metode-metode yang dilakukan Jerman. Robles berusaha meniru fasisme Jerman dalam banyak aspek, namun ia tidak dapat mengajukan teori “superior” dan “ras Aria”. Lalu, apa yang akan ia lakukan? Ia menciptakan sebuah chauvisnisme ekstrem, yang dihubungkan dengan ajaran Katolik. “Spanyol adalah segala-galanya. Tuhan mendukung Spanyol. Kalian adalah Katolik sebagaimana kalian merasa sebagai bangsa Spanyol!” Chauvinisme Katolik yang diserukan Robles ini berasal dari berbagai karakteristik Spanyol sendiri… Robles memanfaatkan berbagai lembaga dan badan kerjasama Katolik, serta kelompok-kelompok pemuda Katolik. Media-media Katolik pun memberi dukungan kepada fasisme. Robles juga menjalankan surat kabar El Debate, yang terkenal di kalangan konservatif. 130

…if someone kills another person—unless it is in retaliation for someone else or for causing corruption in the earth—it is as if he had murdered all mankind. And if anyone gives life to another person, it is as if he had given life to all mankind… (Koran, 5:32)

Gereja juga mendukung kaum fasis dengan cara-cara lain. Orang-orang Spanyol di Amerika Latin dan kelompok-kelompok fasis lainnya membentuk Falange versi mereka sendiri, sehingga negara-negara ini bisa digiring ke bawah kekuasaan Spanyol. Gereja Katolik di negara-negara tersebut merupakan kekuatan pendorong utama dalam rencana ini. 131

There are only grounds against those who wrong people and act as tyrants in the earth without any right to do so. Such people will have a painful punishment.(Koran, 42:42)

Kisah tentang bagaimana berbagai rezim fasis memperoleh kekuasaan, pada umumnya sangat mirip. Bagi kaum fasis, agama adalah alat penting untuk membantu mereka mencapai tujuan. Sebagai hasil dari siasat yang serupa dengan yang digunakan di negara-negara fasis lainnya, Gereja di Spanyol mendukung Franco. Bagaimanapun, seperti yang telah kita pahami, kaum fasis hanya mempertahankan perlakuan baik seperti ini terhadap agama hingga mereka berhasil berkuasa. Setelah berkuasa, mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk memeranginya. Hal yang sama terjadi di Spanyol.

George Orwell melukiskan situasi revolusioner di Barcelona, pada 6 bulan setelah revolusi:

Hampir semua gereja dimusnahkan dan gambar-gambarnya dibakar. Gereja-gereja di sana-sini secara sistematis dihancurkan oleh kelompok-kelompok pekerja. 132

Saat kita mengkaji Franco sebagai sebuah contoh bagaimana kaum fasis secara terbuka memanfaatkan agama, kita kembali berhadapan dengan sebuah kebenaran yang telah disebutkan sebelumnya dalam buku ini. Fasisme adalah sebuah ideologi yang berusaha mengembalikan masyarakat Eropa kepada agama-agama pagan di Eropa pra-Kristen. Dan tidak hanya di Eropa. Di mana pun di dunia, agama sejati dari fasisme adalah paganisme. Setiap gerakan fasis menjadikan kepercayaan pagan di masyarakatnya sendiri sebagai acuan. Berbagai slogan dan simbol mereka serta yang semacamnya, semuanya mempunyai ciri masa lalu pagan dari sebuah masyarakat tertentu. Kaum fasis berupaya membangkitkan semangat emosional rakyatnya dengan menyebutkan nenek moyang dan tradisi mereka, yang memperkuat semacam hipnosis massal. Mereka terus-menerus menjanjikan kembalinya “masa-masa gemilang” di masa lampau mereka. Betapa pun kuatnya mereka menampakkan kesan religius, sesungguhnya mereka tetap penganut paganisme.

Moral Fasis Bertentangan dengan Moral Qurani

Sudah sangat jelas bahwa fasisme hanya membawa pada pertumpahan darah dan penderitaan bagi umat manusia. Sejarah abad ke-20 menjadi buktinya.

Namun, dengan segala fakta ini, tetap ada orang-orang di berbagai belahan dunia yang bersimpati terhadap fasisme. Gerakan-gerakan fasis di masa kini berkembang dengan cepat, dengan nama neo-Nazi dan holigan. Tindakan-tindakan hukum terhadap gerombolan-gerombolan fasis ini sama sekali tidak efektif. Negara-negara kuat seperti Inggris dan Jerman, tak mampu memberangus mereka. Ini karena mereka mempergunakan cara-cara yang tidak efektif. Mustahil mereka bisa mengendalikan dan menertibkan orang yang dibesarkan tanpa pengetahuan agama, yang membuat mereka menjadi sangat tidak bertanggung jawab, tidak bisa diatur dan agresif. Satu-satunya jalan untuk menghentikan agresi dan terorisme yang terjadi di berbagai negara saat ini, adalah menanamkan moralitas yang diajarkan agama, dan bukan ideologi-ideologi pagan atau ateistik yang merupakan akar fasisme.

Sebagaimana akan dijelaskan dalam buku ini, fasisme bertentangan dengan perdamaian, persahabatan, persaudaraan, mufakat, dan toleransi. Sedangkan pokok ajaran agama, adalah moralitas yang baik. Oleh karena itu, fasisme adalah ideologi yang sangat jauh berbeda dengan agama.

◉ Sebagai contoh, fasisme menyetujui rasisme. Golongan fasis selalu mengklaim bahwa ras atau bangsa mereka lebih mulia daripada yang lain, dan menggunakan klaim itu sebagai alasan untuk merampas wilayah dan kekayaan bangsa lain. Klaim rasis ini mengakibatkan peperangan, pembunuhan, dan “pembersihan etnis” yang tak terhitung banyaknya. Sementara itu di lain sisi, Al Quran mengajarkan bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh ras, warna kulit atau karakteristik fisik lainnya, melainkan berdasarkan pada kedekatan pada Tuhan dan kehidupan yang penuh dengan keimanan dan akhlak yang baik. Al Quran menjelaskan tentang kebenaran hal ini:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.“ (QS. 49:13)

Dalam ayat lain, Allah menyebut rasisme sebagai “kemarahan fanatis zaman jahiliyah”, dan menyatakan bahwa Dia akan melindungi orang-orang beriman dari ideologi provokatif ini:

“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu'min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. “ (QS. 48:26)

Sebagaimana diterangkan dalam ayat tersebut, Allah telah menciptakan manusia dengan ras dan kelompok etnis yang berbeda-beda, sehingga mereka saling berinteraksi satu sama lain dalam kedamaian, persaudaraan dan toleransi. Dengan kata lain, berbeda dengan pemikiran fasis, ras dan etnis yang berbeda bukanlah alat bagi konflik Darwinis Sosial dan “perjuangan untuk bertahan hidup”. Tidak ada superioritas biologis di antara ras-ras dan etnis dan yang berbeda. Tuhan memandang kemuliaan manusia hanyalah dari kedekatan dengan-Nya, dan hidup dengan iman dan akhlak. Karenanya, jika manusia mengikuti Al Quran tidak akan ada konflik ras, warna kulit, atau suku bangsa, ataupun klaim tentang keunggulan ras yang dapat menemukan tempat subur untuk tumbuh.

◉ Sejarah mengungkapkan bahwa “kemarahan fanatis” tersebut adalah penyakit yang berasal mula dari masyarakat pagan atau ateis. Di sana senantiasa terdapat klaim keunggulan ras, asal usul etnis, atau suku bangsa, serta konflik yang diakibatkannya. Orang-orang ini selalu berusaha menentukan keunggulan mereka dari ciri-ciri fisik seperti itu. Namun Al Quran menyatakan, “Semua kekuasaan milik Allah.” (QS. 10: 65). Manusia diciptakan oleh Tuhan tanpa ada perbedaan di antara ras atau warna kulit, tetapi sebagai makhluk tidak berdaya yang sangat tergantung kepada Tuhan. Mereka akan mati pada suatu ketika. Jadi, tidak ada pribadi atau masyarakat yang berhak untuk mengklaim keunggulan atas yang lainnya. Pada kematian, klaim-klaim ini akan terbukti nihil. Sebuah ayat suci tentang subjek Hari Penghitungan mengungkapkan fakta ini:

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.“ (QS. Al Mu’minuun, 23: 101)

Akhir Yang Mengenaskan
mussolininin ve hitler el ele

Mussolini dan istrinya dihukum mati oleh rakyat, kemudian digantung dengan kaki di atas di sebuah lapangan di Milan. Para tentara mereka … dalam beberapa hari. Meski Franco terbaring dengan tenang di dalam peti matinya, ia dikubur bersama seluruh kekejaman yang ia lakukan.

Sebagaimana dijelaskan ayat tersebut, pada saat kematian, Hari Penghitungan, atau hari akhirat, konsep-konsep seperti ras, warna kulit, dan asal-usul etnis tidak lagi penting. Satu-satunya hal yang penting saat itu adalah kedekatan kepada Allah dan apakah seseorang mendapatkan belas kasihan-Nya. Pada hari itu, tidak seorang pun berkesempatan untuk mempertanyakan ras atau suku bangsa seseorang. Orang-orang yang saat ini tergila-gila dengan kesukuan mereka, yang karenanya sampai membunuh orang lain, dan bahkan membakar mereka hidup-hidup, akan memahami betapa tak berdaya dan tergantungnya mereka, apa pun ras mereka.

◉ Ciri khas fasisme lainnya yang membedakan adalah kecenderungannya akan kekerasan. Kaum fasis memandang kekerasan, penggunaan kekuatan kasar, perang dan konflik sebagai konsep-konsep keramat. Hal ini tidak mungkin ada pada orang yang hidup menurut Al Quran. Misalnya, seorang Muslim disuruh untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Allah berfirman tentang ini dalam salah satu ayat suci:

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. “ (QS. 41: 34)

Tidak mungkin bagi seseorang yang berperilaku sesuai dengan ayat di atas untuk bersimpati kepada logika dan metode fasis, atau untuk menunjukkan kecenderungan sedikit pun kepada fasisme.

◉ Ciri lainnya dari moralitas fasis adalah kemampuannya untuk mengorbankan ribuan orang tidak bersalah tanpa ragu-ragu demi tujuan-tujuan yang mereka anggap suci. Kaum fasis, yang berpendapat bahwa “tujuan menghalalkan cara”, melakukan segala jenis kebrutalan untuk sebuah tujuan yang jelas-jelas tak dapat dibenarkan. Bagaimanapun, Al Quran menyebutkan bahwa menyerang orang lain secara tak adil dan membunuh orang yang tidak bersalah adalah kejahatan besar. Menurut fasisme, nyawa manusia tidak ada nilainya, sedangkan agama memandang bahkan nyawa dari satu orang pun sangat penting. Allah memerintahkan:

“…barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al Maa’idah, 5: 32)

Mengingat pembunuhan seorang yang tak bersalah sama artinya dengan membunuh keseluruhan umat manusia, jelaslah betapa besarnya dosa dari semua pembunuhan, pembantaian, dan pembersihan etnis yang dilakukan oleh kaum fasis. Allah mengungkapkan apa yang menunggu kaum fasis yang kejam itu di hari akhirat.

Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. “ (QS. 42: 42)

◉ Telah disebutkan juga bahwa kaum fasis sangat pemanas, sehingga mereka gampang dihasut, dibuat marah, dan dipanas-panasi untuk melakukan kekerasan. Kelompok-kelompok fasis cenderung beroperasi dalam bentuk kelompok jalanan, terpancing amarah bahkan oleh kejadian kecil, dan segera terlibat dalam perkelahian karena sedikit provokasi. Sudah jelas, kekerasan yang dipicu secara emosional ini sama sekali bertentangan dengan perintah Al Quran. Al Quran membicarakan tentang orang-orang yang cerdas, berwatak halus dan moderat yang dapat menahan diri jika marah. Tidak ada yang dapat membuat mereka agresif atau marah:

“Orang-orang yang menafkahkan , baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.“ (QS. Ali ‘Imran, 3:134)

◉ Kecenderungan lainnya yang dimiliki kaum fasis adalah mentalitas kelompok. Banyak orang muda yang jahil dan tak terdidik di dalam kelompok fasis.

Mereka bahkan tidak tahu mengapa mereka melakukan sesuatu, terbawa-bawa oleh semacam emosi histeris di bawah pengaruh massa, slogan-slogan, dan lagu-lagu perang. Mereka terbawa oleh mentalitas gerombolan dan terlibat dalam kejahatan kelompok yang tak akan pernah mereka lakukan dari keinginan bebas mereka sendiri. Mereka dapat menyerang seorang asing tanpa alasan, atau menjarah sebuah tempat kerja. Kebanyakan orang yang terlibat dalam berbagai aksi demikian melakukannya karena mereka telah menjadi bagian dari “gerombolan”, salah satu saja dari psikologi kelompok, karena kemauan dan kesadaran mereka lemah. Tetapi Allah memperingatkan manusia akan penyimpangan oleh mayoritas.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” (QS. Al An’aam, 6: 116)

Karena itulah, alih-alih mengikuti orang banyak, orang yang beriman bertindak cerdas dan sesuai dengan kesadaran mereka yang lebih baik. Hal ini hanya mungkin dengan menjalani hidup menurut Al Quran.

Perbedaan lainnya antara agama dan fasisme adalah persyaratan Al Quran akan perdamaian dan persetujuan bersama. Konsep-konsep ini bertolak belakang dengan fasisme, yang menganjurkan agresi, penaklukan, perang, kekuatan kasar, dan penindasan. Allah melarang semua ini, yang disebutkan di dalam Al Quran sebagai kekejaman. Sebaliknya, Allah menyuruh manusia untuk hidup sesuai dengan apa yang baik dan membina silaturahmi di antara sesama.

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisaa’, 4: 114)

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, ketika kita meneliti dasar dari fasisme, kita menemukan sebuah sistem etika yang sama sekali bertolak belakang dengan kebajikan yang terdapat di dalam agama, seperti cinta, kasih sayang, belas kasih, kerendahan hati, kerjasama, dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Namun, fasisme merupakan sekolah pemikiran yang menyusun kebalikannya, dan, di bawah pengaruh Darwinisme, menggambarkan dirinya sebagai suatu pendekatan yang rasional dan “ilmiah”. “Kekejaman”, yang senantiasa dikutuk oleh agama, dipuji dan disucikan secara sistematis oleh fasisme.

Ideologi yang kejam dan bengis ini telah menjadi akar dari aksi-aksi pembunuhan etnik yang dilakukan Hitler, penaklukan-penaklukan Mussolini yang zalim, perang saudara berdarah yang dikobarkan Franco, kebrutalan Pinochet, pembunuhan yang dilakukan Saddam Hussein atas 5000 rakyat sipil dengan gas saraf, kebiadaban yang tak berperikemanusiaan yang dilakukan Milosevic kepada bangsa Bosnia dan Albania, dan banyak lagi kekejian lainnya sekarang.

Ideologi fasis memainkan peranan, tidak hanya dalam bentuk kekerasan oleh negara, sebagaimana disebutkan di atas, tetapi juga dalam contoh-contoh sehari-hari. Penikaman, pemukulan, atau pembunuhan karena kesalahpahaman sederhana adalah produk dari budaya yang memandang dan menggambarkan kekerasan sebagai sebentuk kepahlawanan. Sumber dari mentalitas ini adalah pengaruh gagasan “perjuangan untuk bertahan hidup”, yang suatu ketika dinyatakan oleh ideolog-ideolog semacam Darwin dan Nietzsche.

Penyebab penyakit ini adalah tiadanya agama pada orang-orang ini. Mereka mungkin saja menyatakan diri sebagai religius jika ditanya, tetapi mereka tidak mempunyai gambaran sedikit pun tentang keindahan dan kemuliaan yang dilimpahkan agama kepada manusia. Dan untuk alasan yang sama, obat bagi penyakit ini adalah agar manusia mempelajari arti sebenarnya dari moralitas Qurani, juga memahami dan hidup dengannya.

 

Catatan Kaki

102. Jerry Bergman, "Darwinism and the Nazi race Holocaust," Creation Ex Nihilo Technical Journal, 13 (2): 101–111, 1999.

103. Daniel Gasman, The Scientific Origins of National Socialism: Social Darwinism in Earnest Haeckel and the German Monist League, American Elsevier Press, New York, 1971, p. 168.

104. Adolf Hitler, Hitler's Secret Conversations 1941–1944, With an introductory essay on The Mind of Adolf Hitler by H.R. Trevor-Roper, Farrar, Straus and Young, New York, p. 117, 1953, cited by Jerry Bergman, "Darwinism and the Nazi race Holocaust," Creation Ex Nihilo Technical Journal, 13 (2): 101–111, 1999.

105. Albert Speer, Inside the Third Reich, Bonanza Books, New York, p. 95.

106. Gottfried Feder, Das Programm der NSDAP und seine weltanschaulichen Grundlagen, p. 49; cited in Wilhelm Reich, The Mass Psychology of Fascism, Farrar, Straus and Giroux, New York, 2000, p. 117.

107. Adolf Hitler, Mein Kampf, (Translated by Ralph Manheim), Pimlico, London, 1997, p. 306-307.

108. Adolf Hitler, Mein Kampf, (Translated by Ralph Manheim), Pimlico, London, 1997, p. 260.

109. Adolf Hitler, Mein Kampf, (Translated by Ralph Manheim), Pimlico, London, 1997, p. 297.

110. The International Military Tribunal, Nuremberg, Nazi Conspiracy & Aggression, Office of United States Chief of Counsel For Prosecution of Axis Criminality, vol. II, p. 930.

111. Stewart W. Herman, Jr., It's Your Souls We Want, AMS Press Inc., 1943, pp. 157-8.

112. The International Military Tribunal, Nuremberg, The Trial of German Major War Criminals Sitting at Nuremberg, Germany, Session 2, November 21, 1945, (Part 4 of 8), p. 60.

113. Scott Lively, Kevin Abrams, The Pink Swastika, Founders Publishing Corp., Oregon, 1997, Foreword, p. viii.

114. Denis Mack Smith, Mussolini, Paladin Grafton Books, London, 1987, p. 2.

115. Denis Mack Smith, Mussolini, Paladin Grafton Books, London, 1987, p. 8.

116. Denis Mack Smith, Mussolini, Paladin Grafton Books, London, 1987, p. 8.

117. Denis Mack Smith, Mussolini, Paladin Grafton Books, London, 1987, p. 8.

118. Denis Mack Smith, Mussolini, Paladin Grafton Books, London, 1987, p. 9.

119. Denis Mack Smith, Mussolini, Paladin Grafton Books, London, 1987, p.11.

120. Denis Mack Smith, Mussolini, Paladin Grafton Books, London, 1987, p.12.

121. Denis Mack Smith, Mussolini, Paladin Grafton Books, London, 1987, p.13.

122. Angelica Balabanoff, My Life as a Rebel, London, 1938, p. 60, cited in Denis Mack Smith, Mussolini, Paladin Grafton Books, London, 1987, p.13.

123. Denis Mack Smith, Mussolini, Paladin Grafton Books, London, 1987, p.15.

124. Denis Mack Smith, Mussolini, Paladin Grafton Books, London, 1987, p.15.

125. Denis Mack Smith, Mussolini, Paladin Grafton Books, London, 1987, p.18.

126. Denis Mack Smith, Mussolini, Paladin Grafton Books, London, 1987, p.17.

127. Çağdaş Liderler Ansiklopedisi (Encyclopedia of Modern Leaders), Vol. 4, p. 1467.

128. Çağdaş Liderler Ansiklopedisi (Encyclopedia of Modern Leaders), Vol. 4, p. 1469.

129. Çağdaş Liderler Ansiklopedisi (Encyclopedia of Modern Leaders), Vol. 4, p. 1474.

130. T. Kakınç, Franco Kimdir? Falanjizm Nedir? (Who is Franco? What is Falangism?), pp. 70-73.

131. Charlie Hore, Duncan Hallas, Andy Durgan, İspanya 1936 Baharı (Spain 1936 Spring), Z yayınları, p. 26

132. George Orwell, Homage to Catalonia, p. 4

6 / total 10
Anda dapat membaca buku Harun Yahya Menyingkap Tabir Fasisme secara online, berbagi pada jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter, download di komputer Anda, menggunakannya untuk pekerjaan rumah Anda dan tesis, dan mempublikasikan, menyalin atau memperbanyak pada website atau blog Anda sendiri tanpa perlu membayar biaya hak cipta apapun, selama Anda mengakui situs ini sebagai referensi.
Presentasi| tentang situs ini | Buat homepage Anda | tambahkan ke favorit | RSS Feed
Semua materi dapat dikopi,dicetak, dan didistribusikan berdasarkan situs ini
(c) All publication rights of the personal photos of Mr. Adnan Oktar that are present in our website and in all other Harun Yahya works belong to Global Publication Ltd. Co. They cannot be used or published without prior consent even if used partially.
© 1994 Harun Yahya. www.harunyahya.com
page_top
iddialaracevap.com adnanoktarhaber.com adnanoktarhukuk.com adnanoktargercekleri.net
ARKADAŞIMIZ EMRE BUKAĞILI'NIN SN. FAZIL SAYIN AÇIKLAMALARINA CEVABI
SÜLEYMAN ÖZIŞIK KARDEŞİMİZİN DE CEMAATLERİN MİLLETİMİZ İÇİN DEĞERİNİ ÇOK...
ADNAN OKTAR OLMASAYDI...
SAYIN ERGUN YILDIRIM’IN “YENİ MEHDİLER” BAŞLIKLI KÖŞE YAZISINA...
NORMAL VE LEGAL BİR YAŞAMDAN YAPAY SUÇLAR ÜRETİLEREK "HAYALİ BİR SUÇ...
SAYIN ADNAN OKTAR’IN TUTUKLANMASININ ARDINDAN...
CÜBBELİ AHMET HOCAMIZ MÜSLÜMANLARA ATILAN İFTİRALARA İTİBAR ETMEMELİDİR
ODATV GENEL YAYIN YÖNETMENİ SN. BARIŞ PEHLİVAN'A AÇIK MEKTUP
KOMPLOCULAR, KORKUTARAK "SÖZDE" İTİRAFÇI YAPTIKLARI ARKADAŞLARIMIZ...
CUMHURİYET GAZETESİNE AÇIK MEKTUP
GENİŞ HAYAL GÜCÜ İLE KURGULANAN DAVA DOSYASI
MODERNLİK İSLAM’IN GELİŞİP YAYILMASINDA EN ETKİLİ YÖNTEMDİR
SN. ENVER AYSEVER’İN PROGRAMINDA GÜNDEME GELEN İTHAMLARIN CEVAPLARI
SN. ADNAN OKTAR: "ALLAH'IN VERECEĞİ KARARI TALEP EDİYORUM"
MİNE KIRIKKANAT GİBİ AYDIN VE DEMOKRAT BİR HANIMA HUKUKUN TEMEL İLKELERİNE...
Adnan Oktar: "Allah’ın vereceği kararı talep ediyorum."
Adnan Oktar: "Allah’ın vereceği kararı talep ediyorum."
YENİ AKİT GAZETESİ VE ODA TV’DE YER ALAN “UYAP’TAN SANIĞIN ADI SİLİNDİ”...
SAYIN BİRCAN BALİ'YE CEVAP
SAYIN AVUKAT CELAL ÜLGEN'E AÇIK MEKTUP
SAYIN ALİ İHSAN KARAHASANOĞLU'NA CEVAP
SAYIN ADNAN OKTAR VE CAMİAMIZA YÖNELİK MANEVİ LİNÇ
SN. DOĞU PERİNÇEK VE SN. PROF. DR. ALİ DEMİRSOY'UN ÖNEMLİ OLDUĞUNU...
SAYIN PROF. DR. NURAN YILDIZ'A AÇIK MEKTUP
SN. ADNAN OKTAR VE ARKADAŞLARININ İSRAİL VE MUSEVİLERLE OLAN...
CAMİAMIZA YÖNELİK "YURTDIŞI LOBİ FAALİYETLERİ" İSNADI İLE İLGİLİ...
FETÖ'YE KARŞI EN GÜÇLÜ ELEŞTİRİLERİ SN. ADNAN OKTAR YAPMIŞTIR
DELİL VE ŞAHİT OLMADAN SUÇSUZ İNSANLARI CEZALANDIRMAK KUR’AN’A UYGUN...
ARKADAŞLARIMIZ MUAZZEZ VE YILDIZ ARIK’IN DURUŞMADAKİ GERÇEK DIŞI...
İNSANLARA NEREDE VE KİMLERLE YAŞAYACAKLARINA DAİR BASKI VE DAYATMADA...
ARKADAŞIMIZ BERİL KONCAGÜL’ÜN DURUŞMADAKİ GERÇEK DIŞI İDDİALARINA...
KANAL D'NİN UYDURMA HABERİ
MERVE BOZYİĞİT'İN DURUŞMADAKİ AÇIKLAMALARI KUMPASI GÖZLER ÖNÜNE SERDİ !!!
ARKADAŞLARIMIZ ALTUĞ ETİ, BURAK ABACI VE CEYHUN GÖKDOĞAN'IN...
KUMPASÇILARIN ARKADAŞLARIMIZA BASKI VE TEHDİTLE DAYATTIĞI GERÇEK DIŞI...
"NORMAL HAYATIN SUÇMUŞ GİBİ GÖSTERİLMESİ" ANORMALLİĞİ
ARKADAŞIMIZ ÇAĞLA ÇELENLİOĞLU'NUN DURUŞMADAKİ İDDİALARINA CEVABIMIZ
YENİ ŞAFAK VE GÜNEŞ GAZETELERİNDEKİ GERÇEK DIŞI İDDİALARA CEVAP
SAVUNMA HAKKIMIZ NASIL ENGELLENDİ?
ARKADAŞIMIZ ECE KOÇ'UN DURUŞMADAKİ İDDİALARINA CEVABIMIZ
ARKADAŞLARIMIZ MUSTAFA ARULAR VE EMRE TEKER'İN DURUŞMALARINDAKİ...
ARKADAŞIMIZ AYÇA PARS'IN DURUŞMADAKİ İDDİALARINA CEVABIMIZ
KAMU VİCDANI YALANI
DEVLETİMİZİN VERDİĞİ SİLAH RUHSATLARI CAMİAMIZA DUYDUĞU GÜVENİN AÇIK BİR...
ASIL HEDEF İSLAM ALEMİ, TÜRKİYE, SAYIN ERDOĞAN VE AK PARTİ HÜKÜMETİ
GERÇEK MODERNLİK İSLAM DİNİNDEDİR
TV PROGRAMLARINDA SEVGİ DİLİ ESAS ALINMALIDIR
"Allah'tan tahliyemizi istirham ediyorum"
AKİT GRUBUNA AÇIK MEKTUP
"....Allahvar.com sitesi kapatıldı, düşmanım bu siteyi yapmış olsa...
GARDIROP YALANI
SAYIN DOĞU PERİNÇEK'E AÇIK MEKTUP
'CRACKED.COM' SİTESİNDEKİ İDDİALARA CEVAP
1999 KAN KAMPANYASI TAMAMEN MEŞRU VE LEGAL BİR ORGANİZASYONDUR
HAKİM VE SAVCILARIMIZ YALNIZCA KANUN, HUKUK VE VİCDANI ESAS ALMALIDIR
HARUN YAHYA KÜLLİYATININ İMHASI ÇOK VAHİM VE TARİHİ BİR HATA OLUR
DİYANET İŞLERİ BAŞKANLIĞI RAPORUNA CEVAP
İLERİ DERECEDE MODERN GÖRÜNÜM VE DEKOLTE GİYİM TARZININ NEDENLERİ
"Adnan Bey’in çevresindeki her insan hayat dolu, mutlu, cıvıl cıvıl.”
SUÇSUZ BİR GENÇ KIZ DAHA HUKUKSUZ OLARAK TUTUKLANDI
SÖZDE İTİRAFÇI VEYA MÜŞTEKİ OLMAYA ZORLANMIŞ KARDEŞLERİMİZE ACİL KURTULUŞ...
YENİ BİR SAFSATA DAHA
"Müslümanlar Kardeştir..."
"Biz silahlı suç örgütü değiliz"
MEHDİYETİ GÜNDEME GETİRMEK LİNÇ KONUSU OLMAMALI
"Zorla alıkonma, İzole bir hayat yaşama iddialarını asla kabul etiyorum"
"Adnan Bey bizi çok sever, hep onore eder"
MEDYANIN ZORAKİ "BENZERLİK KURMA" TAKTİĞİ
"Ortada silahlı suç örgütü değil sadece birbirini çok seven arkadaş...
AYÇA PARS CANIMIZ GİBİ SEVDİĞİMİZ, MELEK HUYLU, MÜMİNE KARDEŞİMİZDİR
ÇOK DEĞERLİ BİR SİYASİ BÜYÜĞÜMÜZE AÇIK MEKTUP
"ALIKONMA" SAFSATASI
KUMPASÇILARIN KORKUTARAK İFTİRACI DEVŞİRME YÖNTEMLERİ
BERİL KONCAGÜL TEHDİT ALTINDADIR, CAMİAMIZA İFTİRAYA ZORLANMAKTADIR!
TAHLİYE OLAN ARKADAŞLARIMIZ HİÇ KİMSE İÇİN HİÇBİR ZAMAN BİR BASKI UNSURU...
AV. CELAL ÜLGEN ADİL VE DÜRÜST OLMALI
AKİT TV SUNUCUSU CANER KARAER HAKKINDA ÖNEMLİ BİLGİLENDİRME
MASUM İNSANLARIN TAHLİYESİ TAMER KORKMAZ'I DA SEVİNDİRMELİDİR
"Adnan Bey için ailelerimizle arasının iyi olmadığına dair iftiralar...
"Türkiye ve İslam Dünyasını zayıflatmak istiyorlar.."
"Adnan Bey`den ASLA ŞİDDET VE BASKI GÖRMEDİM..."
"Allah rızası için 40 yıldır Türk-İslam Birliği için çabalıyoruz"
"...En ufak bir suça dahi şahit olmadım..."
"Hakkımızda çok fazla SAHTE DELİLLER ÜRETTİLER..."
"Biz FETÖNÜN ANTİSİYİZ...."
“Bu dava sürecinde.... sözde dijital delillerin ibraz edilmemesi gibi pek...
"Zaten biz birbirimizi bu kadar çok sevdiğimiz için buradayız..."
"Biz bir arkadaş grubuyuz..."
"...Biz Vakıf faaliyetlerimiz ile her zaman Devletimizin yanında olduk"
"Biz kimseyle ilgili karalama faaliyeti yapmadık..."
"...Sözde tecavüz için mi buradaki arkadaşlarımla biraraya geleceğim?!"
"...Faaliyetlerimiz herkese hitap ediyor ..."
"Bizim amacımız şatafat içinde yaşamak değil, hiç kimsenin hitap edemediği...
"İnancım gereği ben insanlara yardım ederim"
"Ne yapsa "zorla" diyorlar. Zorla Gülümsüyor, Zorla, Zorla olur mu?"
"Bizim bir arada olma amacımız örgüt kurmak değil. ilmi mücadele...
"Biz birbirimizi Allah için seven.. arkadaşlarız"
"Polisler geldi, hangi eve operasyon yapacağız derlerken, balkona çıkıp...
"Biz örgüt değiliz"
"Devletimizi desteklediğimiz çok hayırlı faaliyetlerimiz var, Bunlar...
"Biz Allah`tan Razıyız Allah da Bizlerden Razı olur inşaAllah"
"İddia edildiği gibi katı bir ortam olsa 40-50 yıl niye kalalım?"
"Neden cömertsin?" diye soruyorlar
"İngiliz Derin Devleti bunu duyunca çıldırdı..."
"Biz Milli değerler etrafında birleşmiş bir sivil toplum kuruluşuyuz"
"Bir imza atıp dışarı çıkmayı ben de bilirim. Ama iftira büyük suçtur."
"Ben varlıklı bir aileden geliyorum, Saat koleksiyonum var"
"Silahlı suç örgütü iddiası tamamen asılsızdır, yalandır, iftiradır."
"Bizim yaptığımız tek şey Allah'ın yaratışını anlatmaktır."
"Almanya'da İslamofobi var, İslam düşmanları var..."
Bir örgüt olsak devlet bizimle faaliyette bulunur mu?
DAVAMIZ METAFİZİKTİR – 1. BÖLÜM
DAVAMIZ METAFİZİKTİR – 2. BÖLÜM
MAHKEME SÜRECİNDE SİLİVRİ CEZAEVİNDE YAŞANAN EZİYET VE ZULÜMLER
"Ben Sayın Adnan Oktar `dan hiçbir zaman Şiddet, Eziyet, Baskı görmedim."
DAVA DOSYASINDAKİ CİNSELLİK KONULU İDDİALAR TÜMÜYLE GEÇERSİZDİR
DURUŞMALARIN İLK HAFTASI
"İNFAK" SUÇ DEĞİL, KURAN'IN FARZ KILDIĞI BİR İBADETTİR
GERÇEK TURNİKE SİSTEMİ GENELEVLERDE
Adnan Oktar davasının ilk duruşması bugün yapıldı.
AVK. UĞUR POYRAZ: "MEDYADA FIRTINA ESTİRİLEREK KAMUOYU ŞARTLANDIRILDI,...
Adnan Oktar'ın itirafçılığa zorlanan arkadaşlarına sosyal medyadan destek...
Adnan Oktar suç örgütü değildir açıklaması.
Adnan Oktar'ın cezaevinden Odatv'ye yazdığı mektubu
Adnan Oktar'dan Cumhurbaşkanı Sayın Recep Tayyip Erdoğan'a mektup
Casuslukla suçlanmışlardı, milli çıktılar.
TBAV çevresinden "Bizler suç örgütü değiliz,kardeşiz" açıklaması
Bu sitelerin ne zararı var!
Adnan Oktar ve arkadaşları 15 Temmuz'da ne yaptılar?
Sibel Yılmaztürk'ün cezaevinden mektubu
İğrenç ve münasebsiz iftiraya ağabey Kenan Oktar'dan açıklama geldi.
Adnan Oktar ve arkadaşlarına Emniyet Müdürlüğü önünde destek ve açıklama...
Adnan Oktar hakkında yapılan sokak röportajında vatandaşların görüşü
Karar gazetesi yazarı Yıldıray Oğur'dan Adnan Oktar operasyonu...
Cumhurbaşkanı Sayın Recep Tayyip Erdoğan'dan Adnan Oktar ile ilgili...
Ahmet Hakan'nın Ceylan Özgül şüphesi.
HarunYahya eserlerinin engellenmesi, yaratılış inancının etkisini kırmayı...
Kedicikler 50bin liraya itirafçı oldu.
Adnan Oktar ve arkadaşlarına yönelik operasyonda silahlar ruhsatlı ve...
FETÖ'cü savcının davayı kapattığı haberi asılsız çıktı.
Adnan Oktar ve arkadaşlarının davasında mali suç yok...
Cemaat ve Vakıfları tedirgin eden haksız operasyon: Adnan Oktar operasyonu...
Tutukluluk süreleri baskı ve zorluk ile işkenceye dönüşüyor.
Adnan Oktar’ın Cezaevi Fotoğrafları Ortaya Çıktı!
"Milyar tane evladım olsa, milyarını ve kendi canımı Adnan Oktar'a feda...
Adnan Oktar davasında baskı ve zorla itirafçılık konusu tartışıldı.
Adnan Oktar ve arkadaşlarının davasında iftiracılık müessesesine dikkat...
Adnan Oktar davasında hukuki açıklama
Adnan Oktar ve Arkadaşlarının Masak Raporlarında Komik rakamlar
Adnan Oktar ve Arkadaşlarının tutukluluk süresi hukuku zedeledi.
Adnan Oktar'ın Museviler ile görüşmesi...
Adnan Oktar ve arkadaşlarına yönelik suçlamalara cevap verilen web sitesi...
Adnan Oktar ve arkadaşlarına karşı İngiliz Derin Devleti hareketi!
Adnan Oktar iddianamesinde yer alan şikayetçi ve mağdurlar baskı altında...
Adnan Oktar iddianamesi hazırlandı.
SAYIN NEDİM ŞENER'E AÇIK MEKTUP
Adnan Oktar ve Nazarbayev gerçeği!
En kolay isnat edilen suç cinsel suçlar Adnan Oktar ve Arkadaşlarına...
Adnan Oktar kaçmamış!
BİR KISIM MEDYA KURULUŞLARINA ÇAĞRI !!!
FİŞLEME SAFSATASI
İSA TATLICAN: BİR HUSUMETLİ PORTRESİ
MÜMİNLERİN YARDIMLAŞMASI VE DAYANIŞMASI ALLAH'IN EMRİDİR
SİLİVRİ CEZAEVİNDE YAŞANAN İNSAN HAKLARI İHLALLERİ
GÜLÜNÇ VE ASILSIZ "KAÇIŞ" YALANI
ABDURRAHMAN DİLİPAK BİLMELİDİR Kİ KURAN’A GÖRE, ZİNA İFTİRASI ATANIN...
YALANLAR BİTMİYOR
SAÇ MODELİ ÜZERİNDEN KARA PROPAGANDA
TAHLİYE EDİLENLERE LİNÇ KAMPANYASI ÇOK YANLIŞ
MEDYA MASALLARI ASPARAGAS ÇIKMAYA DEVAM EDİYOR
Adnan Oktar ve Arkadaşlarının ilk duruşma tarihi belli oldu.
AKİT TV VE YENİ AKİT GAZETESİNE ÖNEMLİ NASİHAT
YAŞAR OKUYAN AĞABEYİMİZE AÇIK MEKTUP
KARA PARA AKLAMA İDDİALARINA CEVAP
Adnan Oktar ve FETÖ bağlantısı olmadığı ortaya çıktı.
TAKVİM GAZETESİNİN ALGI OPERASYONU
Adnan Oktar ve Arkadaşlarına yönelik suçlamaların iftira olduğu anlaşıldı.
"Bizler Suç Örgütü Değiliz..."